
Jarak antara kota Mutiara Biru dengan kerajaan Swargawana tentu sangat jauh. Batari Mahadewi, Niken dan Jalu harus melewati wilayah dua kerajaan barat, yakni Swagabhumi dan Swargaranu. Butuh berbulan-bulan untuk sampai di sana dengan berkuda. Namun para pendekar berilmu tinggi yang bisa melesat di angkasa hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk menempuh perjalanan dari Swargawana menuju Swargadwipa.
Bagi Batari Mahadewi atau Nala, hanya butuh waktu kurang dari sehari saja, atau mungkin dalam satu kedipan mata.
Meski Jalu dan Niken melesat di angkasa dengan kemampuan terbaik yang mereka miliki, bagi Batari Mahadewi, kecepatan sepasang kedua pendekar itu terasa lambat. Gadis jelmaan pusaka dewa itu berfikir untuk menggunakan kemampuannya berpindah dalam satu kedipan mata. Masalahnya, ia belum pernah membawa serta dua orang sekaligus untuk berpindah dalam satu kedipan mata. Ditambah lagi, ia tak memiliki bayangan tentang tempat yang akan ia tuju. Melacak energi? Bisa saja, tapi ia juga tak tahu energi siapa yang akan tertangkap oleh inderanya.
Solusi terbaik adalah dengan menggendong kedua kakaknya dan terbang dengan kecepatan cahaya untuk bisa sampai di Swargawana dalam waktu singkat. Batari Mahadewi mempertimbangkan hal itu dan ia akan melakukannya setelah kedua kakaknya mengajak untuk beristirahat sejenak.
Batari Mahadewi dan Nala pernah terbang selama dua hari dua malam berturut-turut ketika mereka masih awal di dunia tiga rembulan. Seiring dengan bertambahnya kekuatan dan kemampuan mereka berdua, Batari Mahadewi dan Nala bisa terbang berhari-hari tanpa beristirahat. Kini ia melihat dua kakak seperguruannya; mereka harus memulihkan tenaga setelah kurang dari seperempat hari melintasi angkasa meski kemampuan keduanya bisa dibilang jauh di atas rata-rata para pendekar seusia mereka.
Jalu mengajak Niken dan Batari Mahadewi untuk beristirahat di sebuah hutan di wilayah Swargabhumi. Sepasang pendekar Api dan Es itu terlihat kelelahan. Untungnya mereka berdua membawa beberapa butir mustika alam untuk bekal perjalanan. Hal itu mengingatkan Batari Mahadewi kepada Nala yang juga melakukan hal serupa. Bagaimanapun juga, batu-batu energi itu sangat membantu.
“Aku punya cara lain agar kita bisa lekas sampai di Swargawana, kakak.” Kata Batari Mahadewi kepada kedua kakaknya.
“Bagaimana caranya?” tanya Jalu.
“Kakak pulihkan energi saja dahulu. Setelah itu aku akan tunjukkan caranya.” Jawab Batari Mahadewi. Jalu dan Niken masih heran. Keduanya mencoba memulihkan tenaga secepat mungkin dengan bantuan mustika alam yang mereka bawa.
Seusai memulihkan tenaga, Jalu kembali bertanya.” Nah, kami sudah selesai. Tadi adik bilang kalau kita bisa menuju ke Swargawana dengan cara yang lebih cepat, bukan?”
__ADS_1
“Aku akan menggotong kalian berdua. Jadi siapkan tenaga untuk menahan tekanan udara dan berpegangan erat pada tubuhku.” Jawab Batari mahadewi.
“Apa?!” kata Jalu dan Niken serempak.
“Percayalah, cara ini akan berhasil.” Kata Batari Mahadewi. Lantas, gadis jelmaan pusaka dewa itu berada di antara Jalu dan Niken, memegang pinggang mereka dengan masing-masing lengannya, dan meminta kedua kakaknya untuk berpegangan erat. Setelah itu, Batari Mahadewi melesat dengan kecepatan cahaya, menembus langit yang tinggi.
Kepala Jalu dan Niken terasa berputar-putar ketika adiknya membawa mereka melintas dengan kecepatan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumya. Bahkan Nikenpun, yang pernah mengalami hal ini ketika pendekar Syair Kematian menculiknya, merasa bahwa kecepatan Batari Mahadewi jauh lebih mengerikan.
Tak sampai sehari pejalanan, akhirnya ketiga saudara seperguruan itu tiba di sebuah hutan di wilayah timur kota kerajaan Swargawana. Mereka bertiga bahkan jauh lebih cepat dari Ki Prapanca yang baru saja sampai di wilayah barat Swargabhumi. Batari Mahadewi tak terlihat lelah meski ia telah menggunakan kekuatannya untuk membawa kakak seperguruannya terbang dengan kecepatan tinggi. Sebaliknya, Jalu dan Niken butuh beristirahat untuk menghilangkan pusing di kepala mereka.
Batari Mahadewi membantu kedua kakaknya untuk memulihkan diri dengan mengalirkan tenaganya di punggung mereka berdua.
“Kita telah sampai, kakak-kakaku tercinta. Apakah kakak tadi sempat melihat kota kerajaan Swargawana dari atas sebelum kita turun di hutan ini?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku juga.” Susul Niken.
“Hahaha, nanti kakak akan terbiasa.” Kata Batari Mahadewi.
“Bagaimana bisa adik melakukan hal ini?” tanya Jalu.
__ADS_1
“Di dunia tiga rembulan, aku berhasil meningkatkan kekuatan hingga aku berhasil membuka kunci energi ke sepuluh dalam tubuhku. Terakhir kita bersama, aku baru berhasil membuka kunci energi tahap ke lima.” Jawab Batari Mahadewi yang membuat Jalu dan Niken membayangkan berapa besar kekuatan yang telah dicapai oleh adiknya itu.
Beberapa hari sebelum Batari Mahadewi dan Nala tiba di Swargadwipa, Panglima Kera Api telah bergerak dan menggunakan cara lain untuk menaklukkan musuhnya tanpa melibatkan pasukannya secara langsung. Ia sadar bahwa dengan cara yang akan ia lakukan, maka ia akan lebih lambat untuk berhasil menguasai Swargawana. Namun hanya cara itulah yang paling menguntungkan.
Panglima Kera Api memerintahkan lima ribu pasukan penyihirnya untuk menebar ketakutan para prajurit gabungan yang ada di Swargawana. Ketika hari telah menjelang malam, para penyihir itu menciptakan ribuan hantu, siluman, dan iblis yang terus menerus mengganggu para prajurit. Tak jarang ada pendekar kelas bawah yang ketakutan hingga terkencing-kencing kita tiba-tiba muncul sosok yang menyeramkan di sebelahnya.
Serangan lain yang digencarkan oleh Panglima Kera Api adalah dengan menyebarkan racun dan penyakit menular di kalangan para prajurit. Cara itu cukup ampuh sebab luas kota kerajaan Swargawana yang tak lebih besar dari Swargadwipa menjadi padat dan penuh dengan prajurit. Keadaan di sana tentu membuat mutu hidup orang-orang yang ada di sana menjadi menurun; mereka kekurangan air bersih, kekurangan makanan bergizi, serta hidup di lingkungan yang semakin hari menjadi semakin kumuh.
Ketika panglima Kera Api memberikan serangan racun dan penyakit menular, maka ia hanya tinggal menunggu waktu saja sampai musuh akan melemah dengan sendirinya. Maka di hari ketika tiga murid Ki Gading Putih itu sampai di timur benteng kota kerajaan Swargawana, sudah banyak prajurit gabungan kerajaan-kerajaan barat yang melarikan diri untuk mencari selamat. Para pembesar kerajaan tak bisa mencegah hal itu terjadi. Mereka hanya bisa pasrah dan menggunakan kekuatan yang ada untuk melawan musuh yang barangkali tak akan lama lagi akan mulai menyerang kembali dengan kekuatan penuh.
Selanjutnya, di hari yang naas itu, Panglima Kera Api tak mau menunda untuk menyerang selagi mental dan kesehatan musuh menurun drastis. Ia dan seluruh pasukannya kembali menggempur kota kerajaan Swargawana. Lima puluh ribu pasukan hitam itu menjelma menjadi monster ganas yang menyerang membabi-buta. Pukulan-pukulan tenaga dalam yang saling beradu menghasilkan dentuman hebat; seperti badai topan, pasukan kerajaan hitam itu tak hanya menghancurkan kekuatan lawan, namun juga memporak-porandakan semua bangunan yang mereka lewati.
Batari Mahadewi mampu merasakan getaran energi dari pertarungan yang baru saja dimulai itu. Energi hitam dan energi putih saling beradu, hawa jahat menyeruak dan jerit kematian berdenging di telinganya.
“Kak Niken, Kak Jalu, bagian barat dari benteng kota kerajaan ini telah di serang. Aku akan segera ke sana. Jika kakak ingin ikut, aku sarankan untuk berhati-hati. Lawan kita kali ini sangat banyak jumlahnya, dan kemampuan mereka jauh lebih hebat daripada para pendekar hitam dari pulau Neraka yang pernah menyerang Swargadwipa.” Kata Batari Mahadewi.
“Kami akan ikut, adik. Tentu kami akan sangat berhati-hati.” Kata Jalu yang disertai anggukan kepala Niken.
“Baiklah kalau begitu, kita segera bergabung dengan para pendekar wilayah barat.” Kata Batari Mahadewi. Ketiga saudara seperguruan itu terbang melintasi benteng kota kerajaan Swargawana. Mereka terus meluncur ke bagian barat, tempat para pasukan kerajaan hitam mulai beraksi.
__ADS_1