
Nala dan ketiga kakaknya itu bertemu Jain dan Silu pada suatu kebetulan yang tak terduga. Ketika keempat pendekar itu sedang berburu jejak pasukan Tirayamani dan membasmi mereka dimanapun mereka berada, Jain dan Silu yang kebetulan sedang tak jauh dari sana mampu merasakan energi pertarungan yang cukup menarik.
Kedua makhluk iblis itu melesat ke arah sumber energi yang memancing perhatian mereka. Keduanya kaget dengan yang mereka saksikan; bukan karena Nala yang dengan sangat mudah menghabisi pasukan Tirayamani, melainkan mereka berdua melihat sosok yang telah lama mereka kenal.
“Pangeran Andhakara telah bangkit! Tapi kenapa ia menyerang pasukan kita?” kata Jain kepada Silu.
“Ia tak sepenuhnya bangkit. Jiwanya masih terkunci dalam tubuh pemuda itu. Artinya, pangeran mungkin tak akan mengingat kita,” kata Silu.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?” tanya Jain.
“Jika kita bisa menangkapnya hidup-hidup, kita bisa membawanya kepada sang ratu, lalu kita bisa bersama-sama membebaskan jiwanya dan mengembalikan seluruh kesadarannya sebagai pangeran kegelapan,” kata Silu.
“Dia bisa membunuh para pasukan kita dengan mudah. Artinya, kemampuannya saat ini sudah sangat tinggi. Tapi kita juga tak benar-benar tahu sampai sejauh mana kemampuannya,” kata Jain.
“Jika kekuatannya telah kembali sepenuhnya, kita tak bisa melawannya. Tetapi saat ini jiwanya masih terkunci dan kekuatannya belum sempurna. Seharusnya kita berdua bisa mengimbanginya. Jika terjadi sesuatu yang tak sesuai rencana, aku ada rencana lain,” kata Silu.
“Apa rencanamu?” tanya Jain.
“Kita bisa menggabungkan tubuh kita. Dengan begitu kita mungkin memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari pemuda itu. Apakah kau mau mencobanya?” tanya Silu.
“Kita sudah sejauh ini dan tak menemukan sosok yang diceritakan oleh sang ratu. Mungkin saja ia tak ada di sini. Lagipula, pada akhirnya tujuan kita adalah mencari dan membangkitkan pangeran kegelapan bukan? Itu dia sudah di depan mata!” kata Jain.
“Baiklah, kita coba!” kata Silu.
Kedua makhluk iblis itu meluncur ke arah Nala yang baru saja menyelesaikan pertarungannya. Nala yang sejak tadi curiga bahwa ada sosok kuat yang sedang mengintainya, langsung memasang kewaspadaan tinggi.
“Kau datang juga, aku sudah menunggumu sejak tadi,” kata Nala ketika dua sosok bertubuh tinggi dan besar itu muncul di hadapannya. Jalu, Niken, dan Vidhyana yang berada lumayan jauh dari Nala itupun bisa merasakan kuatnya hawa kegelapan yang dipancarkan oleh dua sosok yang baru saja muncul itu.
__ADS_1
“Apakah pangeran mengingat kami berdua?” tanya Jain mencoba memancing Nala.
“Siapa yang kau maksud sebagai pangeran?” tanya Nala pura-pura tidak mengerti.
“Kau adalah pangeran dan pemimpin kami di masa lalu. Jika pangeran belum bisa mengingatnya, kami berdua bisa membantu pangeran. Kami adalah pelayanmu, pangeran,” Silu mencoba merebut hati Nala.
“Sayang sekali, aku tidak berminat menjadi pangeran. Jadi bagaimana?” tanya Nala.
Jain dan Silu saling berpandangan. Mereka berdua tak punya pilihan lain selain memaksa dan meringkus pangeran itu, lalu membawanya dalam keadaan hidup untuk sang ratu.
“Kalau begitu kami akan memaksa pangeran untuk ikut dengan kami,” kata Jain.
“Dengan senang hati akan kuhadapi kalian berdua,” kata Nala.
Jain dan Silu melepaskan energi mereka berdua. Seketika dorongan energi dari kedua makhluk iblis itu melibas segala sesuatu di sekitar mereka hingga menjadi abu. Nala hanya tersenyum melihat hal itu. Setidaknya, pemuda gagah itu bisa mengukur kekuatan kedua musuhnya itu. Ia yakin bisa menang, meski akan sedikit repot.
Jalu, Niken dan Vidyana tanpa harus diperintah telah pergi menjauh sejauh-jauhnya. Pancaran kekuatan Nala bahkan telah membakar rerumputan hingga di tempat ketiga pendekar itu sebelum beranjak menjauh.
Jain dan Silu sudah menduga bahwa Nala menyembunyikan kekuatan besar. Namun makhluk iblis itu sudah terbiasa dengan hawa panas Neraka, sehingga ketika Nala mengubah suhu udara menjadi sangat panas, kedua makhluk itu masih bisa beradaptasi dengan baik untuk bertarung secara prima.
Jain dan Silu menyerang Nala dari dua arah yang berbeda dengan kecepatan tinggi. Puluhan atau bahkan ratusan cahaya energi berwarna merah meluncur ke arah Nala, menghujamnya dengan sangat keras. Serangan itu menciptakan ledakan luar biasa yang sudah lebih dari seribu tahun tak pernah terdengar di Swargadwipa.
Nala cukup kesulitan untuk menghindari serangan dari dua arah yang berbeda itu. Imbasnya, serangan Jain dan Silu itu membuat tubuh apinya sempat berlubang-lubang. Namun dengan cepat lubang-lubang itu segera menutup.
“Kalian berdua lumayan juga. Sudah lama aku tak merasakan pertarungan yang menarik,” ejek Nala. Ia melesat dalam wujud semburan lahar yang menyerang langsung kepada kedua lawannya yang ada di depan dan belakangnya. Serangan Nala begitu cepat sehingga membuat dua lawannya cukup kelimpungan untuk menghindar, namun masih berhasil menghindar dengan baik ketika mereka berdua mulai mengenali gerakan Nala itu.
Nala yang membelah dirinya menjadi dua bagian itu terus menerus mengejar Jain dan Silu. Tubuh apinya ternyata bukan pilihan tepat untuk menghadapi Jain dan Silu, sebab kedua makhluk iblis itu bisa bergerak lebih cepat darinya.
__ADS_1
Ketika Nala lengah, Dua makhluk iblis itu akhirnya mendapatakan celah setelah sekian saat dikejar-kejar oleh tubuh api Nala. Dengan cekatan, kedua makhluk iblis itu membombardir Nala dengan serangan beruntun dan terus menerus tanpa jeda.
Nala kalah cepat dengan tubuh apinya itu. Terlebih, kedua lawannya adalah makhluk iblis yang sudah ribuan kali bertarung. Dalam posisi bertahan, Nala ahirnya memilih untuk menenggelamkan diri ke dalam tanah dan hilang sama sekali.
Dua makhluk iblis itu terlihat bodoh ketika menghujamkan berbagai serangan dengan sasaran kosong. Asap dan debu mengepul memenuhi udara seiring dengan ledakan yang tiada henti. Namun akhirnya, kedua makhluk itu memutuskan untuk melihat hasil atas yang mereka lakukan.
Tak ada apa-apa di sana selain lubang besar yang sangat dalam hasil terpaan serangan Jain dan Silu. Nala tak ada di sana, namun pancaran energinya masih sangat kuat mengintai kedua lawannya itu.
Jain dan Silu langsung tanggap bahwa mereka baru saja dibodohi lawannya. Keduanya langsung merapat dan saling membelakangi, mengawasi Nala yang tak kasat mata.
“Di mana dia?”
“Entahlah, tapi masih di sekitar kita.”
“Tak kusangka ia tangguh, apakah tak sebaiknya kita menggabungkan kekuatan?”
“Kurasa iya.”
“Kalau begitu ayo!”
Kedua makhluk iblis itu hedak melesat ke angkasa, namun tiba-tiba tubuh mereka ambles ke dalam tanah dan lenyap. Sejenak sunyi. Niken, Jalu dan Vidyana merasa sedikit cemas.
“Ini tak seperti biasanya,” kata Vidyana.
“Apakah sebaiknya kita ke sana?” tanya Jalu.
“Ya!”
__ADS_1
Mereka bertiga melesat menuju ke tempat pertarungan Nala dan kedua makhluk iblis yang kini telah sepi itu. Namun begitu mereka mendekat dan menjejakkan kaki di sana, mereka merasakan tanah yang terus menerus bergetar. Tak lama kemudian, terjadi ledakan besar yang membuat mereka bertiga terpental jauh.