Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 323 Mencari Keturunan Andhakara


__ADS_3

Sementara itu, di pulau Kelelawar, Pangeran Andhakara masih terkejut dengan ucapan Yuri, bahwa Samara telah melahirkan sepuluh anaknya. Para iblis biasanya akan bertelur untuk menghasilkan keturunan. Jumlah telur bisa berbeda-beda, yakni satu hingga ribuan telur dalam satu proses kehamilan.


“Sejak kapan Samara melahirkan anak-anakku? Dimana mereka sekarang?” Berbagai perasaan aneh berkecamuk dalam benak Andhakara.


Yuri masih terdiam. Ada rasa ragu untuk mengatakan kepada Andhakara atau tidak. Yang pasti, ia akan semakin tersisihkan.


“Yuri, kumohon, katakanlah padaku…!!” pekik Andhakara.


“Sudah pasti kau akan semakin meninggalkanku jika aku mengatakannya. Ah, sudahlah. Aku tak peduli jika kau mencampakkanku lagi. Aku sudah cukup senang kau mengingatku. Sungguh, aku sangat senang kau datang ke sini meski aku bersikap demikian kasar padamu. Jikapun kau meminta nyawaku, akan aku berikan padamu. Kau ingin tahu keberadaan kakakku? Samara berada di gunung es utara. Kami tak pernah bertemu lagi sejak aku mengantarkannya ke sana setelah ia melahirkan telur-telur berisi anak-anakmu itu,” kata Yuri.


“Aku tak akan meninggalkanmu, Yuri. Ikutlah denganku ke sana. Kita akan pergi bersama Ogha dan Rodya. Semoga kau tak keberatan dengan itu…” kata Andhakara.


“Tapi…aku…” suara Yuri tertahan.


“Aku bersumpah akan membawamu ke istanaku, bersama Ogha, Rodya, dan Samara jika ia mau kembali. Kalian setara, meski Ogha adalah ratu yang membawa darah iblis abadi dalam tubuhnya. Aku harap kau mau mengerti, hanya dengan ini aku tak akan pernah kehilanganmu lagi,” kata Andhakara.


Lebih baik iya daripada tidak. Akhirnya Yuri luluh juga. Ia mengikuti sang pangeran kegelapan keluar dari dalam goa. Ogha dan Rodya menatap mereka dengan tatapan sinis dan penuh cemburu. Tapi ada hal yang lebih pelik yang harus disampaikan kepada Andhakara.


Ogha dan Rodya telah melihat cahaya biru dari langit. Mereka berdua tahu, bangsa raksasa telah turun ke dunia tengah.


Andhakara merasa tidak enak dengan Ogha dan Rodya. Tetapi saat ini ia harus bersikap terbuka dan siap menerima segala akibatnya. “Ogha, Rodya, kita akan pergi ke gunung es utara. Yuri akan ikut bersama kita!”


“Siapa lagi yang akan kau temui di sana?!” Rodya menyalak dengan nada penuh kekesalan. Ogha kali ini mendukung Rodya. Ia juga tak mau kalah kesal dengan saingannya itu.


“Samara ada di sana. Ia telah…melahirkan…anak-anakku!” Ucapan pangeran Andhkara terdengar bagai petir di siang bolong, terlebih bagi Ogha. Ia merasa kecewa sebab bukan dirinya yang menjadi ibu dari anak-anak pertama Andhakara.


Ogha sangat marah hingga tak sanggup berkata-kata lagi. Sementara Rodya menyalahkan Yuri.


“Yuri! Kenapa kau sungguh bodoh. Pasti kau yang memberitahukan soal kakakmu itu kan? Kau menambah pesaing di antara kita!” Rodya tak mau menahan diri. Ia tak peduli dengan ucapannya sekalipun ada Andhakara di sana. Yuripun diam-diam menyesal. Ia membenarkan kata-kata Rodya. Tetapi semua sudah terlambat.

__ADS_1


“Sebelum kita ke sana, aku ingin memberitahumu satu hal! Bangsa raksasa sudah datang ke dunia ini!” kata Rodya kepada pangeran Andhakara.


Kejutan! Wajah Andhakara terlihat semakin buruk. Usahanya untuk berkuasa semakin banyak menemui masalah.


Mereka berempat masing-masing dengan suasana hati yang tidak bagus terbang melesat menuju gunung es utara untuk mencari Samara, sang iblis kelelawar putih.


Pada hari ke dua menempuh perjalanan panjang itu, mereka berempat melintasi pulau Siwarkatantra. Dari jauh, pangeran Andhakara telah merasakan kehadiran bangsa raksasa di pulau itu, tepatnya di wilayah Siwandatakara yang bersebelahan dengan negri Siwandawala.


Sama halnya dengan yang terjadi di Mahabhumi, ribuan bangsa raksasa yang dipimpin oleh raja Kalahitam itu sedang membangun kerajaan yang besar.


“Sembunyikan kekuatan kalian, kita akan mengintai sejenak situasi yang terjadi di sana.” Kata pangeran Andhakara. Ketiga iblis perempuan pangeran itu patuh. Dalam situasi semacam itu, mereka dengan sendirinya bisa akur dan bekerja sama dengan baik.


“Ogha, dengan kemampuanmu, bukankah kau bisa mengubah raksasa yang lemah itu menjadi pasukan kegelapan, bukan?” tanya Andhakara.


“Sejauh sifat tubuh mereka seperti manusia, aku bisa merubahnya menjadi pasukan kegelapan. Tetapi aku tak tahu bagaimana hasilnya. Mungkin mereka akan jinak dan mungkin juga sebaliknya. Yang pasti, kekuatan mereka akan meningkat pesat setelah aku menyisipkan jiwa kegelapan dalam tubuh mereka,” jawab ratu Ogha. Ia cukup bangga karena diantara perempuan Andhakara, ialah yang bisa menciptakan pasukan kegelapan melalui darah iblis abadi di dalam tubuhnya.


“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Rodya.


“Kita akan ke gunung es utara, setelah itu barulah kita bangkitkan semua iblis yang tersisa.”


****


Sementara itu, di dunia dewa dalam altar Samudra, setelah beberapa hari terbungkus kepompong emas, Batari Mahadewi kembali pulih. Kekuatannya selalu meningkat sekalipun ia belum berhasil membuka kunci energi baru di dalam tubuhnya.


Dewa perang menyuruhnya berlatih kembali. Tentu saja latihan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi lagi.


“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, dewa?” tanya Batari Mahadewi.


“Bertarung lagi dengan bayanganmu sendiri,” jawab dewa perang.

__ADS_1


“Seperti sebelumnya?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak. Kau akan melawan dua bayanganmu. Mereka akan selalu menyerangmu dari arah depan dan belakang. Sekarang berdirilah lagi di depan cermin itu. Setelah bayangan pertama keluar, selanjutnya muncul bayangan kedua yang juga bergerak keluar dari cermin,” kata dewa perang.


“Dua? Yang benar saja!” protes Batari Mahadewi.


“Kau mau cepat selesai dan keluar dari sini atau tidak!” dewa perang berkata dengan galak.


“Ya…ya…mau!!!” Gadis pusaka dewa itu berjalan ke depan cermin. Setelah satu bayangannya keluar, lalu ia menunggu satu lagi. Setelah itu ia melesat menjauhi pintu dan cermin itu tanpa diminta oleh dewa perang. Dua bayangan dirinya itu mengejar dari belakang. Setelah cukup jauh, mereka bertarung habis-habisan.


Batari Mahadewi seperti boneka yang dihajar dari dua arah yang berbeda. Latihan kedua ini jauh lebih cepat selesai dari yang pertama. Tak sampai bertahan setengah hari, Batari Mahadewi telah tumbang dengan kondisi yang sangat parah. Dua bayangan dirinya itu jauh lebih sadis dari sebelumnya.


Setelah tubuh gadis pusaka dewa itu kembali terbungkus dengan selubung kepompong emas, dewa perang mengangkatnya dan membawanya keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan rahasia dewa penempa senjata.


Di dalam ruangan itu telah tersedia bejana emas berukuran besar yang berisi cairan dari berbagai jenis bahan berharga milik dewa penempa senjata. Dengan hati-hati, dewa perang memasukkan tubuh Batari Mahadewi ke dalam bejana itu lalu menutupnya. Tak selesai sampai di sana, dewa perang dan dewa penempa senjata mulai merapalkan mantra dan menyalakan api di bawah bejana emas yang biasanya dipergunakan untuk meleburkan bahan senjata para dewa itu.


“Ini adalah penempaan lanjutan tahap pertama. Dia akan bertambah kuat setelah kita rebus di dalam bejana itu. Tapi mungkin ia masih memiliki pikiran dan perasaannya. Pada penempaan tahap kedua, kau sudah harus siap membuatnya patuh pada perintahmu!” kata dewa penempa senjata.


“Berapa lama ia akan berada di dalam bejana itu?” tanya dewa perang.


“Dua puluh satu hari,” jawab dewa penempa senjata.


“Semoga dewa-dewa lain tak tahu soal rencana ini!” kata dewa perang.


“Jika mereka melihat hal ini, mereka juga tidak akan mengerti apa yang kita lakukan. Mereka hanya tahu kita bertugas untuk menguatkan tubuh senjata dewa ini, lalu membuka kunci kekuatan dalam tubuhnya,” kata dewa penempa senjata.


“Aku sedikit ragu dengan rencana kita ini! Tanpa pikiran dan perasaan, bagaimana ia bisa membuka kunci kekuatan terakhirnya?” tanya dewa perang.


“Tak ada cara lain selain ia harus berada di dunia khayangan dan menyerap kekuatan dari kolam suci di sana. Aku yakin, raja dewa sudah memikirkan caranya. Kita tinggal tunggu saja bagaimana perintahnya. Tak akan ada yang peduli apakah nantinya senjata dewa ini punya pikiran dan perasaan atau tidak. Jika ia masih seperti ini, akan sulit untuk membuatnya berhasil membunuh Kalapati atau bahkan berhasil membuka kunci kekuatan terakhirnya. Aku tahu ini beresiko dan raja dewa melarang sewaktu dulu aku menyampaikan hal ini. Tapi setelah senjata ini tumbuh dewasa, gara-gara dia jatuh cinta, hampir saja usaha kita selama ini sia-sia!”

__ADS_1


__ADS_2