Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 297 Sanggar Seni Laras Bumi


__ADS_3

Sanggar yang didirikan oleh Ki Rangga Suluk ternyata cukup besar dan luas. Di sana tak hanya menjadi tempat latihan, namun juga tempat untuk menggelar pertunjukkan yang biasanya dihadiri oleh kalangan kerajaan. Bahkan, baginda raja Mahatmabhumi pun juga pernah hadir di sana. Oleh karena itulah, sumbangan dari kerajaan mengalir deras setiap tahunnya. Tentu selain untuk melestarikan sanggar tersebut, juga untuk mengikat Ki Rangga Suluk secara tak langsung.


Dalam masa-masa genting, tentu saja kaum pendekar lah yang menjadi tumpuan harapan kerajaan. Seperti pada saat ini, pihak kerajaan telah mengendus pergerakan para pendekar hitam yang akan berulah. Empat orang pejabat kerajaan ditugaskan untuk meminta bantuan kepada Ki Rangga Suluk dan pertemuan itu diadakan di kedai, pada hari yang sama ketika Nala dan Batari Mahadewi sedang makan di sana.


****


Ketika sepasang pendekar itu datang di sanggar yang bernama sanggar seni Laras Bumi, mereka melihat anak-anak hingga orang dewasa yang sedang belajar bersama. Sebagian besar sedang belajar musik dan tari.


Kedua murid Ki Rangga Suluk itu mengajak Batari mahadewi dan Nala menuju ke bangunan paling belakang yang merupakan satu-satunya area yang dipergunakan untuk berlatih beladiri dan juga menjadi tempat kediaman Ki Rangga Suluk. Tak banyak murid beladiri yang diangkat oleh Ki rangga Suluk dan semuanya merupakan orang-orang dewasa.


Beberapa pendekar murid Ki Rangga Suluk yang ada di sana merasa sedikit kaget ketika menangkap aura dari kekuatan hitam Nala. Namun ketika dua murid senior pendekar Seruling Emas itu mengawal mereka berdua, maka kecurigaan mereka pun mereda, meski masih ada sesuatu yang mengganjal dalam benak mereka.


Begitu Batari Mahadewi dan Nala dipersilahkan masuk ke dalam ruang tamu kediaman sang guru, maka tahulah mereka semua bahwa Batari Mahadewi dan Nala memang datang sebagai tamu sang guru. Lantas mereka melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


“Jika nanti kita telah selesai dengan Ki Rangga Suluk, sebenarnya masih ada satu tempat lagi yang ingin kukunjungi, yakni altar suci Gerbang Surga. Aku penasaran dengan sosok kakek Lokatara, teman kakek Agrapana,” kata Batari Mahadewi. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu setelah murid Ki Rangga Suluk pamit untuk mengurus sanggar.


“Jika kau ingin berkunjung ke sana tak masalah, tetapi apakah kau tahu dimana tempatnya?” tanya Nala.


“Aku belum tahu. Nanti kita tanyakan saja kepada Ki Rangga Suluk,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


Ketika hari menjelang malam dan sebagian murid sanggar telah pulang, Ki Rangga Suluk baru tiba. Di malam hari, sanggar itu hanya dihuni oleh beberapa pendekar murid sang guru, serta beberapa seniman yang tak memiliki tempat tinggal dan akhirnya memilih untuk menumpang di sana. Ki Rangga Suluk bermurah hati untuk menjadikan beberapa gedung di sanggarnya sebagai tempat bermukimnya para seniman di Mahatmabhumi. Mereka bisa tinggal dengan gratis. Sebagai gantinya, mereka tak pernah menolak jika Ki Rangga menyuruh mereka membantu membuat acara seni.


“Maafkan aku telah membuat kalian berdua menunggu terlalu lama. Pihak kerajaan sangat dikejutkan dengan ulah para pendekar hitam di kedai tadi, sehingga saya diminta membantu Mahapatih untuk mempersiapkan keamanan kerajaan,” kata Ki Rangga Suluk.


“Tidak apa-apa paman. Tidakkah paman ingin beristirahat dulu barang sejenak?” kata Batari Mahadewi.


“Oh, tak masalah. Aku sudah terbiasa menerima tamu di sela-sela kesibukan semacam ini. Dan tentunya, pasti ada suatu hal yang membuat kalian ingin berkunjung ke sini dan bertemu denganku, bukan? Oh iya, maafkan, aku lupa nama kalian.” Ki Rangga Suluk terkekeh. Ia tak sempat mengingat nama dua pendekar muda itu karena kesibukannya.


“Nama saya Nala, dan ini rekan saya, Batari Mahadewi,” kata Nala kembali memperkenalkan diri.


“Sebentar…Batari Mahadewi...apakah nona adalah pendekar perempuan yang kabarnya telah mengusir para pendekar Tirayamani itu? Sungguh tak kusangka, akhirnya kita bertemu di sini,” kata Ki Rangga Suluk. Ia yakin gadis misterius itu adalah sang legenda baru, sebab belum pernah seumur hidup ia melihat seseorang mengobati racun semudah memetik daun singkong.


“Dua pusaka ini sangat istimewa. Tetapi, sejujurnya saya bukanlah pendekar yang menguasai ilmu pedang. Bukankah sebaiknya kalian berdua menghadiahkannya kepada para pendekar pedang saja sehingga senjata ini bisa dipergunakan dengan lebih baik?” ujar Ki Rangga Suluk.


“Kami memang sudah menduga paman tidak akan cocok dengan golok pusaka ini. Sama seperti Nyi Lohita. Kemarin kami membuatkan selendang pusaka sebagai gantinya. Jadi, kami masih berencana membuatkan pusaka yang tepat untuk paman,” kata Batari Mahadewi.


“Tapi kenapa kalian harus repot-repot seperti ini?” tanya Ki Rangga Suluk.


“Kelak kerajaan Tirayamani tak hanya akan mengerahkan para pendekar hitam saja, paman, melainkan para pasukan iblis kuno. Tanpa senjata pusaka yang tepat, hampir tidak mungkin untuk melawan mereka semua. Jika paman mengizinkan, kami akan membuatkan sebuah pusaka seruling seperti yang paman gunakan tadi di depan kedai,” kata Nala.

__ADS_1


“Ya, tuan muda benar sekali. Serulingku juga tak bisa menaklukkan seorang pendekar Tirayamani. Hmm, maaf tuan muda, bukan bermaksud menyinggungmu. Tetapi, kenapa tuan muda mau membantu kami para pendekar aliran putih?” tanya Ki Rangga Suluk. Ia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, terlebih ia telah menyaksikan sendiri kekuatan Nala yang bisa dengan mudah membuat seorang pendekar Tirayamani berubah menjadi tepung daging dan tulang.


“Saya hanya kebetulan saja lahir dari kekuatan hitam. Apa boleh buat, saya hanya bisa menerima tubuh dan kekuatan ini, paman. Tetapi tujuan hidup saya adalah untuk membantu menciptakan kehidupan yang lebih baik,” jawab Nala.


“Aku mengerti. Maafkan aku, tuan muda. Memang pendekar hitam seperti tuan sangatlah jarang. Sehingga, orang seperti aku selalu kagum sekaligus penasaran. Bagaimanapun juga, di usiaku yang sudah tua ini, aku lebih sering terlibat dengan urusan kesenian daripada urusan para pendekar. Hanya jika situasinya mendesak, aku akan ikut terlibat. Ngomong-omong, siapa yang telah membuat dua pusaka ini?” tanya Ki Rangga Suluk,


“Golok ini adalah ciptaan Nala. Sementara baju pusaka ini adalah buatan saya, paman,” kata Batari Mahadewi.


“Soal senjata pusakaku, seruling emas harus dibuat dengan kekuatan aliran putih. Sebab, kekuatan yang dihasilkan nantinya hanya akan bekerja untuk menekan kekuatan hitam. Pusaka seruling emas ini berusia jauh lebih tua dariku. Pusaka ini berasal dari masa lalu, pemberian dari guru Lokatara. Apakah kalian pernah mendengar tentang guru Lokatara?” tanya Ki Rangga Suluk.


“Ya, kami mendengar ceritanya dari guru Agrapana,” jawab Batari Mahadewi.


“Sudah kuduga, kalian juga pasti mengenal guru Agrapana. Jadi, apakah kalian bisa menciptakan seruling pusaka semacam ini?” Ki Rangga Suluk mengeluarkan seruling emas miliknya untuk dilihat oleh kedua tamunya itu.


“Mungkin saya bisa membuatnya, paman. Hanya saja, saya butuh belajar dahulu tentang seluk-beluk pusaka itu, serta cara kerjanya,” kata Batari Mahadewi.


Ki Rangga Suluk kemudian mulai menjelaskan segala hal terkait dengan senjata pusakanya itu. Batari Mahadewi dan Nala menyimak baik-baik. Ketika menjelang tengah malam, Batari Mahadewi menangkap pergerakan beberapa pendekar aliran hitam yang bergerak membelah malam, menuju ke sanggar Laras Bumi. Tampaknya mereka sangat haus darah dan berniat membantai seluruh orang yang ada di sanggar milik Ki Rangga Suluk.


“Paman, maaf menyela. Sepertinya kita akan kedatangan tamu berbahaya. Tidakkah sebaiknya kita bersiap,” Kata Batari Mahadewi memperingatkan.

__ADS_1


“Jika begitu, mari kita sambut kedatangan mereka, sekaligus aku ingin menguji baju pusaka pemberianmu ini,” kata Ki Rangga Suluk sambil tersenyum. Gairahnya kembali meluap-luap mengingat ia sudah sangat lama sekali tidak bertarung hingga ke titik yang ekstrim seperti yang pernah ia jalani di masa mudanya.


__ADS_2