Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 159 Menuju Pulau Es #3


__ADS_3

“Apakah aku tidak salah lihat? Kau juga memperhatikan hal yang sama kan?” tanya Nala.


“Kurasa ia bukan manusia perak yang kita temui di pulau Api. Coba rasakan baik-baik. Pancaran energinya pun jauh berbeda. Ia hanya mengenakan pewarna perak di sekujur tubuhnya. Tapi aku tak tahu dari mana kelompok itu berasal. Yang jelas mereka bukan penghuni asli pulau ini.” Kata Batari Mahadewi.


Keduanya berjalan semakin dekat dan tampaklah sekelompok orang sedang menunjukkan kebolehannya dan berharap akan mendapatkan uang dari para penonton yang bejubel di sana.


“Hiburan semacam itu sangat diminati orang-orang sini.” Kata Nala sambil berbisik.


“Mungkin orang-orang sini jarang melihat keahlian semacam itu.” ujar Batari Mahadewi.


Para penonton bersorak sorai setelah pertunjukan itu berakhir, lalu salah satu dari kelompok penghibur itu berkeliling sambil membawa keranjang. Beberapa orang memasukkan sejumlah uang dalam keranjang itu. Nala memberikan selembar uang ketika orang itu sampai di depannya. Tentu saja, selembar uang pemberian Nala membuat mata orang itu terbelalak, lalu ia bersujud mengucapkan banyak terimakasih. Sejak hari itu, Nala ditandai sebagai orang yang kaya oleh orang-orang yang pada saat itu berada di sana.


“Di mana-mana, uang adalah segalanya. Sejak kau membayar makanan tanpa meminta kembalian, dan sejak kau berikan selembar uang kepada kelompok penghibur itu, kau menjadi perhatian banyak orang.” Kata Batari Mahadewi.


“Ada yang lebih segalanya dari pada uang.” Kata Nala.


“Apa itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Kekuatan.” Jawab Nala. “Dengan kekuatan, kita bisa mendapatkan uang dengan mudah. Tapi dengan uang yang banyak, belum tentu kita mendapatkan kekuatan.”


“Kau pintar Nala.” ujar Batari Mahadewi


“Tentu saja.” jawab Nala sombong. Batari Mahadewi mencubit perut Nala dan ia menyesal telah memuji lelaki itu.


Ketika matahari telah jatuh, warna jingga bertaburan diangkasa menandai datangnya senja. Sebentar lagi tiga rembulan akan menampakkan diri di langit. Batari Mahadewi dan Nala berjalan mencari penginapan. Keduanya menemukan sebuah penginapan sekaligus kedai makan yang mewah yang menyediakan berbagai jenis makanan lezat.


Batari Mahadewi tiba-tiba teringat awal petualangannya bersama Jalu dan Niken di dunia satu rembulan ketika menemukan penginapan semacam itu. Ada rasa rindu yang melilit perasaannya.

__ADS_1


“Kami pesan dua kamar.” Kata Nala kepada pelayan penginapan.


“Mohon maaf, tuan, tapi kami hanya memiliki satu kamar saja yang bisa disewakan saat ini.” Kata pelayan itu. Nala menoleh ke arah Batari Mahadewi, meminta pendapat dari gadis ajaib itu.


Batari Mahadewi berfikir sejenak, lalu ia mengangguk tanda setuju.


“Baiklah, kami ambil kamar itu.” kata Nala. pelayan itu mengantarkan keduanya menuju sebuah kamar yang luas dan mewah yang di desain untuk manusia pulau Luma, sehingga sebenarnya satu kamar itu lebih dari cukup untuk Nala dan Batari Mahadewi. Masalahnya, hanya ada satu ranjang yang ada di sana; ranjang yang mewah dan empuk serta luas dan panjang. Setelah mengantarkan kedua tamunya, pelayan itu pergi.


“Hanya ada satu kamar, kenapa kau mau menginap disini?” tanya Nala.


“Karena kau tidak butuh tidur kan, jadi kau bisa duduk di kursi itu, dan aku tidur di ranjang ini.” Kata Batari Mahadewi sambil terkekeh.


“Kenapa aku terus yang kena sial!” gerutu Nala.


“Karena kamu lelaki, dan aku perempuan. Sudah semestinya lelaki menjaga dan mengalah kepada perempuan.” Ujar Batari Mahadewi dengan nada senang. Ia merasa senang jika ia berhasil membuat Nala sengsara dalam hal-hal seperti itu.


“Yang benar saja! kau tak perlu di jaga, bahkan jika orang-orang sepulau ini mengeroyokmu!” kata Nala pura-pura kesal, padahal jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya dan ia merasakan perasaan-perasaan aneh yang mengalir hingga ke jari-jari tangannya karena berada dalam satu ruangan tertutup dengan gadis itu.


“Nanti kau mau makan di sini atau kita pergi ke luar?” tanya Nala mengalihkan pembicaraan.


“Di sini saja, kita bisa pesan dan minta pelayan mengantarkan makanan ke sini.” Jawab Batari Mahadewi.


“Baiklah, gara-gara kamu aku jadi mudah lapar lagi. Aku mau pesan makanan sekarang.” Nala keluar kamar dan memesan makanan terbaik kepada pelayan dan meminta pelayan itu untuk mengantarkan makanan ke dalam kamar. Tak lama kemudian, Nala kembali ke kamar. Batari Mahadewi tak terlihat di sana, namun ia mendengar suara kecipak air di kamar mandi.


Nala membuka jendela kamar dan memandang ke angkasa. Di sana tiga rembulan telah menampakkan diri. Jika ia melihat rembulan, ia selalu ingat kedatangannya di dunia ini untuk pertama kalinya bersama Batari Mahadewi. Kala itu keduanya tidak sekuat sekarang. Jika saat ini mereka berdua berada di pulau Iblis, tentu makhluk-makhluk aneh yang menyerang mereka waktu itu bukanlah masalah yang mengerikan.


Batari Mahadewi keluar dari kamar mandi. Bau harum menempel di tubuhnya.

__ADS_1


“Kau mandi lagi?” tanya Nala.


“Mumpung di sini, kenapa tidak. Kau tak mau mandi? Jika dalam perjalanan lagi, belum tentu kita bisa mandi.” Jawab Batari Mahadewi.


“Aku tak masalah berada di dekatmu meski kau tak mandi selama setahun sekalipun.” Kata Nala.


“Hahaha, tapi dulu aku adalah masalah bagimu kan?” kata Batari Mahadewi menggoda Nala lagi. Belakangan ini, keduanya sering bercanda. Batari Mahadewi tak tahu, apakah hal itu merupakan hal yang tepat atau tidak, tapi Nala adalah satu-satunya hal yang ada saat ini untuk mengobati rasa rindunya kepada kehidupan di dunia satu rembulan.


“Aku heran dengan diriku sendiri. Makin ke sini, aku tak lagi menganggapmu sebagai musuh.” Kata Nala.


“Ya, kau akan menyesal jika terus menerus menganggapku sebagai musuh.” Kata Batari Mahadewi. Nala hanya tersenyum menanggapinya.


Pelayan penginapan datang mengantarkan makanan, lalu keduanya tak mau menunggu lama untuk menyantap hidangan itu, dan tak butuh waktu lama juga untuk menghabiskannya tanpa sisa.


“Kau tak takut menjadi gendut, Tari?” tanya Nala.


“Aku tak mungkin gendut dan aku sungguh tak peduli jika aku gendut. Kenapa lelaki meributkan tubuh perempuan yang gendut?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak, aku tidak mempermasalahkannya. Justru yang banyak terjadi adalah perempuan yang bertambah gendut yang selalu rebut dengan bentuk tubuhnya.” Jawab Nala.


“Aku ingin bertanya satu hal padamu.” Ujar Batari Mahadewi.


“Apa itu?” tanya Nala.


“Jika aku berubah menjadi monster, apa yang ada dalam pikiranmu?” tanya Batari Mahadewi dengan tatapan mata yang serius.


“Entahlah, tapi menurutku, perubahanmu saat ini membuatmu terlihat lebih cantik dari sebelumnya.” Jawab Nala. Batari Mahadewi tak bisa menyembunyikan wajahnya yang berubah menjadi merah.

__ADS_1


####


Sampai di sini dulu ya teman-teman. Aku kasih 2 chapter yang rileks, tanpa perkelahian. Aku sedang bosan menulis adegan perkelahian. Kayaknya aku sedikit punya bakat nulis romance, wkwkwk!!! Semoga update hari ini bisa menjadi hiburan yang tak terlalu buruk buat teman-teman semua. Jaga kesehatan dan sampai jumpa besok lagi. GBU.


__ADS_2