Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 148 Sampai Di Kuil Api Suci


__ADS_3

Setelah berminggu-minggu melakukan perjalanan, dengan melewati desa-desa di pulau Api yang beberapa diantaranya telah hancur karena serangan manusia perak, akhirnya Batari Mahadewi dan Nala sampai juga di pusat kota Pulau Api. Kota yang besar dengan empat gunung api yang mengelilinginya itu sangat ramai, jauh berbeda dengan desa-desa yang telah dilihat oleh Nala dan Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi dan Nala masih berada di puncak bukit di pegunungan api yang mengelilingi pusat kota itu. Dari sana, keduanya mengamati kemegahan pusat kota dan bisa dengan mudah memetakan bangunan apa saja yang ada di sana. Bukit itu tak jauh dari pusat kota, hanya tinggal turun agar sampai di kota yang serba mengagumkan itu.


“Kota itu sangat megah dan jauh berbeda dengan Swargadwipa. Lihatlah itu, banyak sekali bangunan-bangunan yang terbuat dari besi.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar, pulau ini juga kaya akan logam. Manusia pulau api memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk menciptakan benda-benda yang terbuat dari logam.” Kata Nala.


“Jika di dunia kita logam-logam hanya digunakan untuk membuat senjata, maka di pulau ini, kita bahkan bisa menemukan toko yang menjual bola-bola besi sebagai bahan baku bangunan, perabotan, senjata, atau bahkan kerajinan.” Kata Batari Mahadewi.


“Kurasa membentuk logam menjadi benda-benda tertentu adalah keahlian manusia-manusia di pulau api, sehingga warga biasapun, asalkan memiliki kekuatan api, bisa dengan mudah melunakkan besi dan membentuknya sedemikian rupa. Namun untuk menemukan tambang logam, kurasa hanya pihak-pihak tertentu yang memiliki izin dari kerajaan.” Kata Nala.


“Kota ini belum terjamah oleh serangan manusia perak. Aku yakin mereka harus mengerahkan kekuatan dalam jumlah besar sebelum menyerang pusat kota itu. Terlebih, banyak manusia api yang memiliki kemampuan tinggi tinggal di kota itu. Sudah beberapa kali kita melihat manusia api yang terbang di atas kota. Sepertinya hal itu sudah menjadi hal yang biasa di sana.” Kata Batari Mahadewi.


“Lihat itu tari, bangunan dengan menara yang sangat tinggi menjulang ke langit dan dipuncaknya ada nyala api berwarna biru, mungkin itu adalah kuil Api Suci.” Kata Nala sambil menunjuk ke arah barat kota.


“Dan wilayah itu sudah pasti kerajaan, bukan, terdapat benteng logam yang tinggi dan besar, lalu di tengah-tengahnya terapat bangunan yang sangat besar. Bangunan paling besar dan mewah yang ada di kota itu.” kata Batari Mahadewi.


“Meski megah dan serba logam, tapi bentuk tata kota itu sedikit aneh. Jauh berbeda dengan kota Swargadwipa yang telah dirancang sedemikian rupa agar tak mudah ditembus pasukan kerajaan lain yang akan menyerang.” Kata Nala.


“Mungkin karena kota ini ditinggali oleh banyak manusia berkekuatan tinggi, serta hampir semua bangunan terbuat dari logam, mereka tak terlalu memikirkan untuk mendirikan benteng hingga berlapis-lapis, namun mereka jelas memperhatikan soal keindahan.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Sebaiknya kita segera masuk ke kota itu, lalu mencari kuil suci. Mungkin penjaga gerbang kota akan menawarkan bantuan setelah kita memperlihatkan lencana dari guru Xima.” Kata Nala.


“Ayo kita ke sana.” Kata Batari Mahadewi. Keduanya bergegas menuruni bukit dan berjalan menuju gerbang masuk pusat kota. Gerbang itu dijaga oleh puluhan prajurit kerajaan yang mengenakan pakaian logam tahan api, berbeda dengan seragam yang dikenakan oleh prajurit khusus seperti Zura dan bawahannya ketika kedua pendekar dunia satu rembulan itu bertemu di desa tetua Sion.


“Maaf, kalian orang asing, kami harus memeriksa kalian terlebih dahulu. Apa tujuan kalian datang ke sini?” tanya salah satu penjaga gerbang itu dengan nada tegas.


“Kami datang untuk menyampaikan ini ke kuil suci.” Kata Batari Mahadewi sembari menunjukkan lencana guru Xima yang ia bawa. Wajah penjaga itu terkejut. Ia tahu jika lencana itu jatuh ke tangan orang lain, maka guru Xima telah tiada.


“Bagaimana mungkin guru Xima bisa terbunuh? Apakah kalian ada di sana waktu itu?” tanya penjaga itu.


“Ya, kami sempat berbicara sebentar sebelum beliau meninggal karena terluka parah sewaktu menghadapi seorang manusia perak yang memiliki sayap di punggungnya.” Kata Batari Mahadewi. Pengawal itu akhirnya yakin bahwa kedua orang yang ada di hadapannya itu tidak berbohong.


“Terimakasih banyak, paman. Sudah semestinya paman menjalankan tugas sehingga harus bersikap demikian. Jalan manakah yang harus kami lewati agar bisa segera sampai ke kuil suci?” tanya Nala.


“Tuan dan nona adalah tamu kami yang membawa kabar dan hal penting. Kami wajib mengantarkan tuan dan nona sekalian.” Kata penjaga itu, lalu ia menyuruh salah satu rekannya untuk melakukan sesuatu. Tak lama kemudian, sebuah kereta besi dengan dua ekor kuda berkepala singa telah datang.


“Silahkan tuan dan nona menaiki kereta itu. Kami akan mengantar tuan dan nona ke kuil Api Suci.” Kata penjaga itu. Setelah Batari Mahadewi dan Nala naik, kereta itu kemudian melaju dengan kencang.


Dengan naik kereta itu, Batari Mahadewi dan Nala bisa merasakan asiknya perjalanan sambil duduk dan menikmati pemandangan dari jendela. Meski jauh lebih lambat jika dibandingkan dengan melompat atau terbang dengan kecepatan tinggi, tapi ternyata perjalanan dengan kereta itu tak butuh waktu lama untuk sampai di kuil Api Suci.


Dua orang penjaga kuil Api Suci menyambut Batari Mahadewi dan Nala dengan cara berbeda sebab keduanya diantarkan dengan kereta khusus tamu penting.

__ADS_1


“Selamat datang, tuan dan nona, adakah yang bisa kami bantu?” tanya penjaga itu.


“Kami mengantarkan lencana ini dan kami ingin bertemu dengan guru besar untuk menyampaikan sesuatu yang penting.” Kata Batari Mahadewi.


Penjaga itu langsung berubah raut mukanya ketika melihat lencana milik guru Xima. Air matanya menetes, lalu ia minta maaf dan mempersilahkan Batari Mahadewi dan Nala untuk menunggu di ruang tamu. Tak lama kemudian, sosok yang sangat tua namun memancarkan wibawa besar dari raut wajahnya menyambut kedatangan dua tamunya itu.


Tanpa banyak bertanya, dan seolah sudah tahu hal penting apa yang akan disampaikan, sosok tua itu mengajak Batari Mahadewi dan Nala mengikutinya ke suatu ruangan khusus di dalam kuil itu.


“Perkenalkan, nama saya adalah Zotha dan saya adalah guru besar dari Sembilan penjaga utama kuil suci ini.” Kakek tua itu memperkenalkan diri. Senyumnya yang teduh menghiasi wajahnya yang tampak keriput.


“Kami berasal dari dunia satu rembulan, kakek, dan tanpa sengaja ada di dunia ini. Sebenarnya kami memang bermaksud untuk datang ke pulau ini untuk meminta bantuan. Namun dalam perjalanan kami tanpa sengaja melihat pertempuran guru Xima dengan manusia perak. Kami ikut terlibat dalam pertempuran itu, sayang sekali, guru Xima gugur dan menitipkan dua benda ini untuk disampaikan kepada kakek.” Batari Mahadewi menyodorkan lencana guru Xima dan kitab rahasia kuil Api Suci.


“Kalian telah mempelajari kitab ini?” tanya kakek Zotha.


“Maafkan kami yang telah lancang membuka kitab itu dan mempelajari isinya.” Kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, tidak apa-apa. Kitab semacam itu ditulis memang untuk dipelajari. Terimakasih sudah berbaik hati mau mengantarkan lencana dan kitab ini. Sebagai balas budi dari kami, apa yang bisa kami berikan kepada kalian berdua? Tadi kalian berkata kalau tujuan kalian datang, mula-mula, adalah untuk meminta bantuan, bukan?” tanya kakek Zotha.


“Agar bisa kembali ke dunia asal kami, maka kami harus meningkatkan energi kami, kakek. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan guru Rapapu di kota Parapiriri, di negri Madapala. Guru Rapupu yang memberikan petunjuk kepada kami agar kami menyerap energi dari sumber energi api di pulau ini.” Kata Batari Mahadewi langsung pada pokok tujuannya.


Kakek itu memandang kedua tamunya itu, lalu ia menimbang untuk beberapa saat. Wajah tuanya itu seolah telah mengetahui banyak hal ketika melihat kedua tamunya itu. Namun kakek itu tak ingin mengutarakan apa yang ia ketahui dari Nala dan Batari Mahadewi.

__ADS_1


__ADS_2