Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 152 Perang Meletus


__ADS_3

Senopati Welang menangkap pancaran energi Mahapatih Siung Macan Kumbang yang datang mendekat ke arah benteng dan puluhan senopati beserta puluhan ribu prajurit yang mengejarnya. Ia lantas menyuruh para pasukan pemanah untuk menyiapkan panah-panah api, dan juga pasukan pelontar batu untuk bersiap dengan ratusan kereta pelontar batu yang siap menembakkan bebatuan khusus sebesar buah kelapa yang akan meledak dan menyebarkan api jika jatuh ke tanah.


Mahapatih Siung Macan Kumbang langsung melompat ke dinding benteng lalu bergegas ke arah menara dan menyiapkan para senopati dan pasukannya untuk menyambut pasukan musuh jika mereka berhasil membobol satu-satunya gerbang benteng.


Mahapatih Siung Macan Kumbang menyiapkan cara yang paling kejam, yakni membakar hidup-hidup siapapun yang berhasil masuk baik dengan cara memanjat benteng maupun membobol gerbang benteng. Patih itu memiliki cadangan minyak yang melimpah yang juga disiapkan di tembok benteng, terutama tepat di atas gerbang masuk. Minyak itu akan ditumpahkan ke tubuh para prajurit yang berdesak-desakan memasuki benteng.


Para prajurit Swargabhumi akhirnya terlihat. Karena terlalu bernafsu dan terbakar emosi, puluhan ribu prajurit itu digerakkan dengan cara yang paling ceroboh. Ketika mereka telah sampai di arena terbuka, ratusan langkah kaki jaraknya dari benteng, barisan paling depan harus mencicipi jebakan-jebakan yang telah disiapkan oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Jebakan-jebakan itu tak hanya berupa lubang dengan tombak bambu yang menanti di dasarnya, namun juga bola-bola racun yang akan pecah dan menyebar ketika diinjak-injak ribuan prajurit. Mahapatih Siung Macan Kumbang terpaksa juga harus menggunakan cara seperti itu mengingat ia kalah jauh dalam hal jumlah pasukan.


Jebakan-jebakan itu setidaknya menelan korban hampir sepuluh ribu prajurit yang berada di barisan depan, dan membuat sisanya merasa cemas akan nasib buruk yang menimpa mereka. Begitu para pasukan musuh itu telah berjarak dua puluh langkah kaki, pasukan pemanah Swargadwipa menghujani pasukan yang tak siap itu dengan panah-panah api, serta ribuan panah biasa, yang di susul dengan serangan lontaran batu api yang mencerai beraikan barisan pasukan musuh.

__ADS_1


Serangan jarak jauh itu setidaknya telah menghabisi separuh dari jumlah pasukan musuh yang terpancing untuk mengejar Mahapatih Siung Macan Kumbang. Namun separuh pasukan lainnya berhasil melewati segala rintangan. Sang patih menyuruh prajuritnya untuk membakar parit dan ketika barisan pasukan musuh berusaha berenang menyeberanginya.


Kobaran api di dalam parit itu menelan banyak korban. Namun prajurit musuh tak sedikit juga akhirnya memilih untuk menyeberangi parit dengan satu-satunya jembatan kayu yang sengaja tak di tenggelamkan oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang untuk membuat para prajurit itu bergerombol di depan pintu gerbang.


Ketika jumlah prajurit yang bergerombol semakin banyak dan berdesak-desakan, mencoba membobol pintu gerbang, Mahapatih Siung Macan Kumbang memerintahkan pasukannya untuk menjatuhkan minyak dan membakar ppara prajurit itu hidup-hidup. Ribuan anak panah dan batu api masih menghujani para prajurit musuh. Dalam sekejab jumlah pasukan musuh tinggal tersisa kurang dari sepuluh ribu jiwa. Mereka semua berlari mundur dan berdiri di luar jangkauan anak panah dan batu api. Lalu senopati mereka memerintahkan untuk mundur dan kembali ke pangkalan mereka.


Pasukan Swargadwipa bersorak-sorai atas kemenangan serangan pertama itu, namun Mahapatih Siung Macan Kumbang bahkan tidak bisa tersenyum sedikitpun. Ia tahu nanti malam kemungkinan besar akan ada serangan dari pasukan khusus yang ahli dalam penyusupan dan esok pagi pasukan dalam jumlah yang lebih besar lagi pasti akan datang dengan membawa semua peralatan perang jarak jauh yang mereka miliki untuk menghancurkan benteng.


Maka setelah kemenangan itu, tidak ada perayaan sedikitpun. Semua orang sibuk untuk menambahkan jumlah senjata jarak jauh karena hanya itu harapan mereka untuk berperang dengan jumlah yang tak seimbang.


Biasanya, para pendekar sakti yang terlibat perang hanya akan mencari lawan yang seimbang, yakni sesama pendekar yang ada dalam barisan musuh. Keberadaan mereka mudah dikenali sebab mereka tak mengenakan seragam prajurit, melainkan seragam perguruan beladiri mereka masing-masing, tak peduli dari aliran apa.

__ADS_1


Namun dalam hal yang mendesak itu, Mahapatih Siung Macan Kumbang meminta bantuan kepada semua pendekar yang turut bergabung dalam pasukannya untuk menghabisi sebanyak mungkin pasukan musuh.


Malam hari itu tak ada serangan dari pihak musuh. Namun di pagi harinya, sebelum matahari terbit, dua ratus ribu prajurit musuh telah berbaris di medan perang pada jarak di luar jangkauan senjata jarak jauh Swargadwipa. Mereka membawa serta ribuan kereta pelontar batu yang akan digunakan untuk menggempur benteng dari jarak yang jauh.


Semua jebakan di medan perang itu tidak sempat diperbaharui sehingga para musuh bisa melewati lapangan lebar penuh mayat itu tanpa rintangan yang berarti. Mahapatih Siung Macan Kumbang hanya mengandalkan pasukan pemanah, kereta pelontar batu dan parit api untuk menghambat pergerakan musuh.


Kini Mahapatih Siung Macan Kumbang tak bisa bermain-main lagi. Jumlah prajurit musuh yang sangat besar itu sudah pasti akan berhasil memukul mundur pasukan Swargadwipa dan menguasai kota Mutiara Biru. Namun tekad sang patih sudah bulat untuk sebisa mungkin mengurangi jumlah pasukan musuh dengan segala daya yang ia miliki.


Di atas menara kota Mutiara Biru, Mahapatih Siung Macan Kumbang berpidato singkat untuk menyambut serangan musuh. Suaranya yang serak dan berat itu menggema di seluruh penjuru kota.


“Hari ini mungkin kita akan mati. Namun kematian kita adalah mimpi buruk musuh-musuh kita. Kematian kita adalah cinta kepada bumi pertiwi, kepada keluarga yang kita tinggalkan, dan kepada diri kita sendiri. Mari kita songsong maut dengan darah dan ketakutan musuh-musuh kita.”

__ADS_1


Sorak sorai membahana di pagi buta itu dan terdengar hingga barisan musuh paling belakang. Sebelum matahari menyorotkan jari-jari cahayanya, pasukan Swargabhumi telah bergerak maju. Suara bebatuan api yang menabrak dinding benteng bergemuruh hebat, namun diiringi oleh suara jerit pasukan musuh yang terkoyak panah, atau terhempas batu-batu api dari kereta pelontar yang dimiliki oleh Swargadwipa.


Serangan jarak jauh itu tak berlangsung lama. Ribuan kereta lontar yang dimiliki Swargabhumi terus menerus menembakkan batu-batu api dan akhirnya bisa menjebol benteng Mutiara Biru. Dua ratus ribu prajurit yang telah jauh lebih siap dari pasukan sebelumnya itu bergerak cepat ke arah pasukan Swargadwipa. Hentakan kaki dua ratus ribu pasukan yang sedang berlari itu membuat bumi terasa bergetar.


__ADS_2