
Belum tegak Batari Mahadewi berdiri, Buma sudah melesat dengan kecepatan tinggi untuk menyerangnya. Monster itu mengayunkan lengan kanannya ke arah kepala Batari Mahadewi. Meski pukulan itu berhasil ditangkis, namun tinju lengan kiri Buma sudah melesak ke perut gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Pukulan menyakitkan itu berhasil membuat tubuh Batari Mahadewi membumbung ke atas. Buma menyusul dan menghujamkan pukulan ke punggung gadis itu sehingga tubuh Batari Mahadewi kembali terjerembab ke bumi dengan keras.
Hal yang menakjubkan dari Buma adalah kecepatannya dalam bertarung. Meskipun iblis, Buma memiliki jurus-jurus bertarung yang menakjubkan. Sementara Batari Mahadewi hanyalah gadis kuat dengan pengalaman bertarung yang tak sebanyak Buma.
Namun kali ini Batari Mahadewi sedikit hafal dengan gaya bertarung Buma. Ia tahu Buma sudah sedang melesat ke arahnya. Dengan posisi masih terbaring di tanah, gadis jelmaan pusaka dewa itu mengerahkan pukulan energi dari kedua tangannya. Cahaya keemasan melesat cepat ke arah Buma. Monster itu terpental setelah serangan Batari Mahadewi meledak di tubuhnya.
Batari Mahadewi segera bangkit dan melesat ke angkasa untuk mempermudah dirinya melihat pergerakan Buma. Sayangnya, tubuh monster itu tak terlihat. Batari Mahadewi semakin meningkatkan kewaspadaannya. Energi Buma masih terpancar kuat dan tak jauh dari dirinya.
Tiba-tiba, Buma telah ada di belakang gadis jelmaan pusaka dewa itu. Semua lidah yang ada di 13 mulutnya itu dengan cepat melilit tubuh Batari Mahadewi.
Gadis cantik itu berusaha meronta, namun ia tetap tak bisa melepskan diri dari lilitan lidah bau yang menjijikkan itu.
Satu-satunya cara yang bisa dia lakukan untuk melepaskan diri dari jeratan lidah itu adalah dengan memancarkan seluruh kekuatannya. Dalam satu helaan nafas, Batari Mahadewi memancarkan seluruh energi tubuhnya dan membuat Buma terpental jauh.
Lidahnya yang melilit Batari Mahadewi putus, lalu hancur menjadi serpihan-sepihan kecil.
Tubuh Batari Mahadewi memancarkan cahaya keemasan dengan selubung listrik yang berpijar-pijar. Seluruh ototnya membesar dan mengeras, kedua pupil matanya juga berubah menjadi keemasan.
Buma yang semula hendak melenting dan melancarkan serangan balik dengan tiba-tiba akhirnya membatalkan rencananya. Ia hanya melayang sembari menatap perubahan Batari Mahadewi dan mengukur seberapa kuat energi lawannya itu. Perlahan-lahan lidah monster jelek itu tumbuh kembali.
“Tak kusangka kau menyembunyikan kekuatanmu ini. Ada berapa dewa yang bersembunyi di dalam tubuhmu?” Buma masih memikirkan cara untuk menyerang Batari Mahadewi tanpa membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dalam ingatannya, bertarung melawan tiga dewa sekaligus bisa jadi lebih mudah jika dibandingkan dengan bertarung melawan nona cantik yang mulai marah itu.
“Cukup banyak untuk melenyapkanmu selamanya,” Batari Mahadewi tiba-tiba menghilang dari pandangan Buma. Dalam sekejab, tubuh Buma serasa diserang dengan ratusan pukulan kuat.
Tanpa di sadari oleh monster itu, Batari Mahadewi telah menghujamkan pukulan-pukulan dengan kecepatan kilat ke tubuh Buma.
Monster jelek itu tak berdaya dan hanya bisa pasrah ketika tubuhnya dihujani pukulan. Ia hanya berharap Batari Mahadewi melakukan kesalahan.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu menghujamkan pukulan energi di kepala Buma sebagai pukulan terakhir. Buma melayang jatuh ke bumi tanpa kepala. Batari Mahadewi hanya menyaksikannya dari atas. Namun inilah kesempatan Buma. Ia tak mati. Begitu tubuhnya mendarat di bumi dengan ledakan dan debu beterbangan, Buma menghilang.
Batari Mahadewi sadar ia telah tertipu oleh Buma. Monster itu tak akan mati walaupun tubuhnya dicincang halus. Itu yang telah dilupakan oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Batari Mahadewi tahu, Buma masih ada di pulau itu. Namun ia kesulitan untuk menemukan keberadaannya. Makhluk itu bisa lolos dari mata saktinya.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu duduk bersila untuk memulihkan energi secepatnya. Dalam posisi itu, ia tetap membuka seluruh inderanya untuk menjangkau keberadaan Buma.
Sementara itu, Buma yang terluka parah harus segera memulihkan diri. Ia sudah tak berada di sekitar istana lagi, melainkan telah berada di desa-desa pinggiran. Makhluk itu melahap siapapun yang ia temui. Ia bagaikan bunglon. Tiga belas lidahnya bisa bergerak dengan cepat untuk menangkap tiga belas orang dalam waktu yang sama, lalu menjejalkan orang-orang yang ia tangkap ke dalam mulut-mulut di tubuhnya.
Dalam kondisi darurat seperti itu, Buma tidak pilih-pilih siapa saja yang akan ia mangsa. Jika ia beruntung, ia bisa menangkap pendekar kuat untuk meningkatkan energinya. Sementara orang-orang biasa hanya berguna untuk memulihkan luka-lukanya.
Setelah pulih Buma berencana untuk melarikan diri. Bagaimanapun juga, setelah mengetahui kekuatan Batari mahadewi yang sesungguhnya, ia merasa tak bisa mengalahkan gadis itu sendirian. Ia butuh lima atau enam makhluk iblis yang sekelas dengannya untuk bisa mengimbangi kekuatan Batari Mahadewi.
Namun dalam kondisinya yang belum pulih sempurna, ditambah lagi dengan luka-luka setelah bertarung dengan Batari Mahadewi, ia butuh banyak korban. Orang satu desa tidaklah cukup, apalagi desa-desa kecil di Kamandapala hanya dihuni oleh beberapa keluarga saja.
__ADS_1
Perkara melarikan diri dari Batari Mahadewi juga bukanlah hal mudah. Sekalinya ia terbang meninggalkan pulau, ia khawatir gadis itu bisa menangkap pergerakannya.
Jika ia melakukannya sekarang, maka tenaganya tak cukup besar untuk melarikan diri dengan kecepatan penuh. Sementara itu, ia hanya bisa bergerak sehalus mungkin dan membuat pancaran energinya tak bisa diketahui oleh Batari Mahadewi.
Sementara itu, setelah berhasil menyerap energi alam untuk memulihkan tenaganya, Batari Mahadewi melayang ke angkasa. Ia bagaikan elang yang sedang mencari mangsa. Dengan matanya yang tajam, Batari Mahadewi mencoba menyisir tiap sudut pulau itu untuk menemukan keberadaan Buma.
Hingga menjelang malam, Batari Mahadewi juga belum menemukan keberadaan Buma. Ia menyadari satu lagi kesalahannya. Jika ia melayang diangkasa, Buma bisa merasakan keberadaannya dengan mudah dan sudah pasti iblis bau itu akan menghindar.
Maka ia mencoba cara lain, menyembunyikan pancaran energinya lalu duduk bersila untuk menajamkan semua inderanya ke segala penjuru mata angin. Hanya butuh tenang, rileks, dan membangun konsentrasi tinggi untuk menemukan Buma.
Di suatu titik yang jauh, Batari Mahadewi mendengar pekikan histeris dari beberapa orang. ‘Pasti Buma sedang mencari mangsa,’ pikir gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Maka gadis itu menandai arah datangnya suara itu. Dalam satu kedipan mata, gadis jelmaan pusaka dewa itu sudah ada di sana, diantara orang-orang yang panik berlarian menyelamatkan diri dari mulut Buma.
“Kau di sini rupanya!” kata Batari Mahadewi.
“Sial! Kapan kau datang?!” bentak Buma.
“Tepat setelah kau menelan korbanmu yang terakhir itu. Setelah ini, kau tak akan pernah bisa lari lagi dariku!” Batari Mahadewi mengubah wujudnya menjadi manusia api. Hal itu cukup membuat Buma terkejut. Monster itu tak menyangka gadis cantik didepannya itu masih punya kejutan yang merepotkan.
Tak ada pilihan lain, Buma akhirnya mencoba keberuntungan dengan cara melarikan diri secepat yang ia bisa. Monster itu melesat dengan kecepatan penuh meninggalkan Batari Mahadewi yang masih menyala-nyala di belakangnya.
Namun sial, tiba-tiba saja gadis jelmaan pusaka dewa itu telah ada di depannya, mengayunkan pukulan api tepat di wajahnya. Ledakan api dari serangan Batari Mahadewi terlihat seperti berkas cahaya warna-warni yang menghiasi malam.
__ADS_1