Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 118 Menemukan Peradaban Di Dunia Tiga Rembulan


__ADS_3

“Ayo Nala, lompat ke atas!!” teriak Batari Mahadewi. Keduanya hendak melompat, namun kedua kaki mereka seperti terjerat sesuatu yang tak kasat mata. Kekuatan yang menjerat itu mengayun-ayunkah tubuh Batari Mahadewi dan Nala, lalu melemparkan keduanya dengan keras hingga tubuh mereka menghantam tanah.


“Apa yang baru saja menyerang kita?” tanya Nala sambil berdiri bersiap. Kedua pendekar muda beda aliran itu memancarkan energi mereka dan berusaha menangkis serangan apapun yang akan datang kapanpun.


“Aku tidak tahu, bersiap-siaplah. Pancaran energi ini berada di sekeliling kita. Rasakan baik-baik tiap pergerakannya.” Kata Batari Mahadewi.


Keduanya menunggu, tapi tak ada serangan susulan. Hanya saja, pancaran energi itu masih belum hilang.


“Apakah kita harus seperti ini terus?” tanya Nala.


“Mari kita coba bergerak.” Batari Mahadewi mengerahkan serangan tenaga dalamnya ke berbagai arah. Nala melakukan hal yang sama. Bola-bola energi itu menghantam bebatuan dan pepohonan di seliling mereka. Suara ledakan bergemuruh disertai dengan tumbangnya beberapa pohon besar di sekitar mereka berdua.


“Tidak ada balasan.” Kata Batari Mahadewi.


“Coba kita terbang lagi dan tinggalkan pulau ini.” Kata Nala. Batari Mahadewi mengangguk, lalu keduanya melompat ke angkasa. Sekali lagi, kedua kaki mereka terjerat sesuatu yang menarik mereka hingga jatuh ke bawah dengan keras dan menghasilkan dentuman besar. Tubuh keduanya penuh dengan debu.


“Ini sungguh mengesalkan!” kata Nala.


“Tunggu. Sekarang, coba kita tak memancarkan tenaga kita. Lalu kita duduk-duduk saja. kita lihat apa yang akan terjadi.” Usul Batari Mahadewi.


Keduanya menghilangkan pancaran energi dan mencoba untuk santai. Tak ada serangan apapun. Namun pancaran energi yang mengelilingi mereka masih ada. Seolah selalu mengawasi.


“Kita di serang jika kita mau pergi dari sini. Lalu kita akan mati dengan sendirinya di sini.” Kata Nala.


“Sepertinya aku mengetahui sesuatu.” kata Batari Mahadewi.


“Apa?” tanya Nala.


“Apakah kau yakin jika ini adalah pulau? Bagaimana jika pulau ini adalah semacam makhluk?” tanya Batari Mahadewi.


“Sedikit tak masuk akal. Lalu apa tujuannya menahan kita di sini?” tanya Nala.

__ADS_1


“Itu yang aku tak tahu. Tapi lihatlah tulang belulang itu? Sebagian besar masih utuh.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau berfikir bahwa sebaiknya kita hancurkan saja pulau ini?” tanya Nala.


“Kenapa tidak! Aku akan menyerap energinya sebanyak mungkin, tapi aku curiga makhluk ini akan menyerang. Bisakah kau melindungiku dengan membuat perisai tanah yang tak tertembus oleh energi tak kasat mata itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Kita coba saja.” Jawab Nala.


Batari Mahadewi duduk bersila. Lalu ia mengheningkan pikirannya, mengalir bersama segala suasana, meleburkan diri menjadi satu dengan sekelilingnya. Ia mulai menyerap energi di sekitarnya dengan seluruh tubuhnya yang mulai memancarkan cahaya keemasan. Nala menciptakan perisai tanah yang tebal dan ia jaga dengan energinya. Kedua pendekar muda itu berada dalam perisai tanah yang berbentuk seperti mangkok terbalik berukuran besar.


Dugaan Batari Mahadewi benar, energi tak kasat mata itu mulai menyerang, menyambar-nyambar perisai tanah yang diciptakan Nala. Sambaran-sambran energi itu menciptakan ledakan-ledakan di permukaan perisai tanah dan membuat Nala cukup kerepotan untuk mengerahkan energinya dan mempertahankan benteng pertahanan mereka berdua.


“Apakah masih lama, Tari?” tanya Nala yang sudah mulai kelelahan. Batari mahadewi tidak menjawab. Matanya masih terpejam dalam posisi duduknya itu. Tak lama kemudian, gadis jelmaan pusaka dewa itu menghujamkan kedua tangannya ke tanah, dan melepaskan seluruh energi yang ia serap.


Ledakan besar terjadi dan membuat Nala dan Batari Mahadewi terpental ke angkasa. Gadis sakti itu segera menangkap tubuh Nala yang melayang di angkasa, karena tak siap dengan ledakan besar itu. dengan cepat, Batari Mahadewi memulihkan energi Nala agar ia bisa melayang dengan tenaganya sendiri.


Dari atas, tampak sebuah lubang besar menganga dan masih mengepulkan asap di pulau aneh itu. Pulau itu bergetar-getar,lalu perlahan bergeser dan mulai bergerak naik.


“Kita belum selesai. Lihat itu?” kata Batari Mahadewi.


“Jangan tunggu selesai, ayo kita menjauh.” Kata Nala. Keduanya melesat menjauh. Pulau itu terangkat naik dan ternyata pulau itu adalah tempurung hewan raksasa. Seperti kura-kura, namun bukanlah kura-kura. Lebih tepatnya adalah perpaduan ubur-ubur dengan kura-kura. Makhluk itu pergi untuk berpindah tempat. Gerakannya memnciptakan gelombang besar yang bergulung-gulung menghantam daratan.


“Kita selamat. Ayo kita lanjutkan perjalanan. Seperti yang kuduga, lautan lebih mengerikan daripada daratan.” Kata Batari Mahadewi.


Keduanya melesat cepat dan akhirnya dari jauh telah tampak sebuah pulau yang sangat besar. semakin mendekat, mereka semakin melihat adanya sebuah peradaban yang mirip dengan dunia tempat mereka berdua berasal.


“Apakah kita tidak salah lihat?” tanya Nala.


“Kurasa kakek kecil itu sengaja tak menceritakan hal ini dan membiarkan kita menemukannya sendiri.” Kata Batari Mahadewi.


“Di tengah sana itu tampak sebuah kerajaan. Dan di sekitarnya, hingga ke pesisir, adalah pedesaan. Apakah menurutmu aman jika kita pergi ke sana?” kata Nala.

__ADS_1


“Aku tak tahu, tapi aku penasaran ingin ke sana. Aku ingin melihat apakah penghuninya memiliki tubuh yang mirip dengan manusia di dunia kita.” Kata Batari Mahadewi.


Keduanya meluncur cepat, lalu menapakkan kaki di sebuah hutan di pinggir pantai. Dari jauh, terlihat beberapa rumah yang dengan bentuk yang berbeda dengan dunia asal mereka. Semakin mendekat, keduanya akhirnya bisa melihat makhluk-makhluk penghuni desa itu sedang beraktivitas di ladang, merawat tanaman aneh dengan buah berbentuk bulat dan memancarkan cahaya merah dengan ukuran sebesar kepalan tangan. Para penghuni desa itu memiliki postur tubuh yang sama dengan manusia di dunia satu rembulan. Hanya saja, bentuk kepala mereka berbeda.


Makhluk-makhluk itu berkepala lonjong tanpa sehelai rambut dan kulit mereka seperti kulit telur burung puyuh. Selebihnya, semua sama dengan manusia. Ketika Batari Mahadewi dan Nala berjalan mendekat, semua penghuni desa yang sedang bekerja di ladang itu menatap keduanya dengan tatapan curiga.


Salah satu diantara mereka mengatakan sesuatu. “Tunggu, ada perlu apa kalian kemari?” tanya orang itu.


“Maaf, kami hanya pengembara.” Kata batari Mahadewi.


“Kalian bohong, pasti kalian mata-mata dari wilatah lain!” kata orang itu.


“Sungguh, kami tak bohong.” Kata Nala.


“Tak ada orang dari wilayah sini ini yang memiliki tubuh seperti milik kalian!” kata orang itu.


“Kami tak berbohong dan kedatangan kami bukan untuk maksud yang buruk. Kami tak ingin mencari masalah di sini.” Kata Batari Mahadewi.


“Jika begitu, jika kalian tak punya niat buruk, tentu kalian bersedia ikut kami?” kata orang itu.


“Tak masalah, kami memang tak datang dengan tujuan buruk. Kami hanya mengembara dan kebetulan sampai di sini.” Kata Nala.


Manusia pribumi wilyah itu mengantarkan Nala dan Batari Mahadewi ke salah satu rumah yang paling besar dan luas di antara yang lainnya. Keduanya menduga, pasti rumah itu adalah rumah pemimpin di desa itu.


“Siapa mereka?” tanya pemilik rumah besar itu dengan nada kasar.


“Maaf tetua, kedua orang asing ini tiba-tiba datang di desa.” Kata orang yang mengantar Nala dan Batari Mahadewi ke rumah tetua itu.


“Baik, mari masuk ke dalam.” Nala dan Batari Mahadewi mengikuti tetua desa itu masuk ke ruang tamu. “Katakan sejujurnya, ada urusan apa kalian datang kemari?” tanya tetua desa itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2