
Sebulan telah berlalu sejak peristiwa penyerangan di istana Swargadwipa yang dilakukan oleh para pendekar aliran hitam. Pemeran utama dalam penyerangan itu, pendekar Harimau Merah, kini sedang berada di kerajaan Swargabhumi.
Pendekar itu menyamarkan dirinya selama dalam perjalanan dari Swargadwipa menuju Swargabhumi. Padahal, tanpa melakukan penyamaranpun, dia tak akan dikenali lagi, sebab sebagian wajahnya telah ditandai dengan luka bakar yang cukup parah ketika ia bertarung melawan Jalu pada pertempuran malam hari itu.
Pendekar Harimau Merah membulatkan tekad untuk memberanikan diri menemui Sri Maharaja Segara Biru meski resikonya sangat besar, yakni nyawanya bisa saja melayang. Raja Segara Biru memuntahkan amarahnya kepada Harimau Merah di ruang pertemuan rahasia di dalam istana.
“Bedebah! Kenapa kau sungguh ***** sekali! Aku sudah menghabiskan banyak biaya untuk mendukungmu. Semestinya kau harus lebih hati-hati dan mengumpulkan sebanyak mungkin informasi sebelum kau mulai menyerang.” Kata Raja Segara Biru.
“Maaf beribu maaf, paduka. Hamba dalam situasi yang serba sulit. Serangan itu harus segera dilakukan karena desakan dari para pendekar pulau Neraka. Seandainya saja, pada malam hari itu tak ada pendekar berkekuatan dewa yang sedang ada di istana, kami akan dengan mudah menguasai kerajaan.” Kata pendekar Harimau Merah.
“Maksudmu, raja Srengenge Ireng turun tangan?” tanya raja Segara Biru.
“Apa! Eh…Mohon maaf…Hamba tidak mengerti, paduka.” Kata Harimau Merah.
“Siapa lagi pendekar berkekuatan dewa yang ada di sana selain Srengenge Ireng! Jika kau tak tahu hal itu, maka kau benar-benar makhluk bodoh yang kupercaya! Hah! Bedebah!” raja Segara Biru sangat geram. Ia melempar gelas tembikarnya hingga pecah berantakan.
“Maksud hamba, pendekar berkekuatan dewa yang ada di sana itu adalah seorang anak gadis kecil. Yang ia tahu, ia bersama-sama dengan saudara-saudari seperguruannya dari padepokan Cemara Seribu. Saya yakin, jika mereka taka da di sana, kami bisa menang saat itu. Gadis kecil itu juga yang membuat rencana saya di danau Rembulan merah gagal total.” Kata Harimau Merah pucat pasi.
“Jika gadis itu masih ada di sana, ditambah lagi dengan Srengenge Ireng. Hampir tak mungkin jika bagiku untuk menyerang kerajaan itu. Kau tak tahu, Srengenge Ireng itu dulunya adalah pendekar. Hanya sedikit orang yang tahu tentang hal itu. Jadi, kalian bahkan tak sempat masuk ke benteng istana?” tanya Raja Segara Biru.
“Belum sempat, baginda.” Jawab Harimau Merah.
__ADS_1
“Dan kau melarikan diri?” lanjut sang raja.
“Be…be…benarr…ppa…paduka…” Harimau Merah sangat ketakutan. Ia bukan takut mati, melainkan takut menerima siksaan dari sang raja, “Tapi…tapi ada hal baik, baginda….”
“Apa hal baik itu?” tanya sang raja.
“Gadis kecil itu telah lenyap sewaktu bertarung dengan salah satu pendekar misterius dari pulau Neraka.” Kata Harimau Merah.
“Jadi, saat ini kerajaan itu hanya kehilangan banyak prajurit dan beberapa pendekar kerajaan?” tanya raja Segara Biru.
“Betul sekali paduka. Saya bisa jamin, kerajaan Swargadwipa telah kehilangan seperempat lebih dari jumlah pasukan yang mereka miliki dalam penyerangan malam hari itu.” Kata Harimau Merah.
“Butuh waktu lama untuk memulihkan kekuatan kerajaan. Sebetulnya ini kesempatan yang bagus. Tapi aku butuh alasan untuk melakukan serangan sehingga aku mendapatkan seluruh dukungan dari berbagai perguruan aliran putih di Swargabhumi. Tanpa itu, mustahil kita bisa mengalahkan kerajaan Swargadwipa.” Kata raja Segara Biru. Amarahnya telah mereda, dan dengan begitu, leher Harimau Merah masih akan tetap berada pada tempatnya.
“Apakah kau masih memiliki anak buah?” tanya sang raja.
“Tidak, paduka. Semua sudah mati. Beberapa yang selamat hanyalah para pendekar dari pulau Neraka yang masih berkeliran di Swargadwipa. Tapi hamba masih bisa mencari pasukan untuk menyusun kekuatan baru. Saya akan mengganti identitas saya.” Kata Harimau Merah.
“Baguslah kalau begitu. Aku punya rencana. Tapi kali ini, kau tidak boleh gagal menjalankan tugasmu. Jika kau gagal, aku tak akan mengampunimu seperti hari ini.” Kata sang raja.
“Saya siap, paduka.” Kata Harimau Merah.
__ADS_1
“Dalam waktu dekat, aku akan membuat kunjungan ke Swargadwipa. Aku akan mengirimkan salah satu putra dari selirku ke sana sebagai wakilku. Kedatangan mereka pasti juga akan mendapatkan pengawalan dari prajurit dan beberapa pendekar di kota Mutiara Biru. Kau akan membantai mereka semua, termasuk putra mahkota yang ku kirimkan sebagai utusan itu. Dengan demikian, aku punya alasan untuk menyerang Swargadwipa, dan mendapatkan dukungan dari banyak pihak, termasuk pihak sekutu kerajaan Swargabhumi.” Kata raja Segara Biru.
“Ide yang sangat bagus, paduka. Jika paduka mendapatkan dukungan penuh, maka paduka akan bisa dengan mudah menguasai Swargadwipa. Kita buat seolah-olah kematian putra selir paduka adalah murni kesalahan pihak Swargadwipa.” Kata Harimau Merah.
“Nah, seperti itu yang kuinginkan. Sekarang pergilah, ambil ini dan carilah pasukanmu.” Raja Segara Biru melemparkan sekantong besar penuh kepingan emas kepada pendekar Harimau Merah.
#####
Sementara itu, di Swargadwipa, Jalu, Niken, Pradipa, Anjani, Cendana dan beberapa pendekar aliran putih yang masih bersedia tinggal di kerajaan sedang sibuk membantu Mahapatih untuk melatih para pendekar muda yang akan menjadi pelatih para prajurit baru. Mahapatih Siung Macan Kumbang harus bisa memulihkan keadaan secepat mungkin.
Sesekali, para pendekar sakti itu turun langsung ke lapangan, untuk memberikan arahan serta wawasan ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu lainnya yang menjadi kebutuhan para prajurit. Buyung bergabung di divisi strategi dan pertahanan kerajaan, sekaligus membantu tugas pimpinan prajurit mata-mata untuk mengumpulkan dan menyusun segala informasi yang mereka dapatkan.
Setidaknya ada dua hal yang menjadi pekerjaan berat kerajaan pada saat itu, yakni memulihkan diri, serta memburu para pendekar aliran hitam yang masih berkeliaran di wilayah swargadwipa yang menciptakan keonaran. Bukan hal mudah untuk melumpuhkan satu pendekar aliran hitam dari pulau Neraka mengingat kemampuan mereka bisa jadi melampaui kemampuan siluman.
Sehingga, Mahapatih Siung Macan Kumbang harus merekrut pendekar sewaan berilmu tinggi untuk memburu mereka. Beberapa diantaranya adalah para pendekar senior dari desa Atas Awan, Lentera Langit, dan pendekar-pendekr sakti dari berbagai perguruan aliran putih di swargadwipa.
Hancurnya kelompok Harimau Merah dengan sendirinya memulihkan keadaan sehingga masing-masing perguruan aliran putih tidak perlu lagi merasa khawatir akan adanya serangan mendadak dari pendekar aliran hitam. Sebaliknya, mereka kini sedang berburu pendekar aliran hitam yang masih tersisa di Swargadwipa.
Jalu bisa bernafas lega karena pada akhirnya, rencana perjodohannya dibatalkan. Untungnya rencana itu belum dikabar-luaskan di semua kalangan petinggi kerajaan. Hanya pihak keluarga raja dan orang tua Jalu. Namun tentu saja, pembatalan itu sangat membuat kecewa orang tua Jalu, terutama ayah Jalu, Balarajasa.
Meski demikian, sang raja sama sekali tidak murka dengan permintaan putri pertamanya itu untuk membatalkan perjodohan. Ia tak pernah memaksakan kehendak apapun kepada putrinya karena ia dan permaisurinya sangat menyayangi putri-putri mereka.
__ADS_1
Sesekali, putri Kumala mengundang Jalu dan Niken untuk makan malam bersama. Niken masih belum mengetahui tentang perjodohan itu sehingga tak ada perasaan tertentu dalam hatinya. Sedangkan, putri Kumala ternyata memberikan dukungan kepada pasangan pendekar itu meski jauh dalam lubuk hatinya, ia menangis. Putri Kumala dalam waktu singkat bisa menjalin keakraban dengan Niken. Sang putri pada akhirnya tahu, kenapa Jalu begitu mencintai gadis pendekar itu dan tak akan melepaskannya meski ditukar dengan tahta.
Sampai sejauh ini, hanya segelintir orang saja yang tahu bahwa raja Srengenge Ireng telah adalah pendekar dengan kekuatan dewa. Dan tak ada yang tahu, bahkan sang permaisuri, jika sang raja diam-diam menurunkan ilmunya kepada putri Kumala. Sang putri memiliki kesaktian, namun ia sama sekali tak berminat dengan kanuragan dan tak pernah sekalipun bertarung, kecuali jika ayahnya memaksanya berlatih di ruangan rahasia. Oleh karenanya, sang putri sama sekali tak pernah mengeluarkan aura pendekar yang ia miliki dan tak pernah memancarkan energinya selain di ruang latihan rahasia. Ia tetap terlihat sebagai bidadari kerajaan yang anggun dan halus.