Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 117 Setahun Di Dunia Tiga Rembulan


__ADS_3

Satu tahun telah berlalu. Sejak segel ke enam Batari Mahadewi telah terbuka, kekuatannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia pun juga tak terlalu kesulitan untuk menghadapi makhluk-makhluk aneh di dunia tiga rembulan.


Nala pun mengalami perkembangan yang pesat. Jika Batari Mahadewi memilih untuk menyerap energi alam untuk meningkatkan kemampuannya, maka Nala menggunakan seluruh kristal energi yang mereka berdua dapatkan dalam petualangan mereka di dunia baru itu.


Tubuh Nala lebih cepat tumbuh besar dan tinggi dalam kurun waktu satu tahun itu. Setidaknya, ia telah sedikit lebih tinggi daripada Batari Mahadewi. Berkat kemampuan luar biasa yang mereka miliki, tubuh mereka jauh melampaui umur mereka. Gadis jelmaan pusaka dewa itu terus menerus mendorong Nala untuk meningkatkan energinya setidaknya agar kekuatan mereka berdua setara.


Perubahan kekuatan Nala juga telah meningkat pesat. Setelah pada hari itu ia menyerap energi dari kristal besar seukuran buah nangka yang didapatkan dari monster yang bentuknya menyerupai gajah, Ia tak hanya bisa menggerakkan tanah dan pasir dalam jumlah besar, namun tubuhnya mulai bisa menyatu dengan tanah. Ia bisa menjelma menjadi butiran-butiran pasir yang beterbangan, berhamburan, lalu menyatu kembali.


Batari Mahadewi sempat terkejut. Namun Nala lebih terkejut lagi. Ia tak menyangka akhirnya hal yang ia benci terjadi juga, yakni mengalami perubahan sifat tubuh seiring dengan peningkatan kekuatan dan kemampuannya.


“Apa yang terjadi denganku!!!” Kata Nala kaget.


“Barusan kau menjadi pasir…aku tak percaya ini…” Kata Batari mahadewi.


“Sial…sungguh sial…aku benci hal ini…” kata Nala.


Keduanya terdiam lama. Batari mahadewi duduk di sebelah Nala yang masih belum bisa menerima keadaan dirinya. Gadis cantik itu menggenggam tangan Nala dengan tangan emasnya.


“Kau tak sendirian, Nala, lihatlah aku. Lihatlah tangan ini sekali lagi. Pada akhirnya kita harus rela jika kehilangan tubuh manusia ini.” Batari Mahadewi mencoba menghibur seseorang yang telah menjadi sahabatnya selama satu tahun ini selalu bersama-sama di dunia tiga rembulan itu.


“Akhirnya aku memahami apa yang kau rasakan ketika tubuhmu berubah. Baiklah, aku memang monster. Takdirku…entah apa yang akan kujalani kelak…” Kata Nala.


“Apa yang kau rasakan ketika tubuhmu menjadi butiran pasir?” tanya Batari Mahadewi.


“Bagaimana menjelaskannya…rohku seperti terlepas…selebihnya aku masih bingung untuk mengendalikan diriku dalam wujud yang lain itu.” kata Nala.

__ADS_1


“Kalau begitu, ayo kita berlatih sekarang, mumpung energimu masih penuh. Kau harus cepat menguasai bentuk tubuhmu yang baru itu dalam pertarungan.” Kata Batari Mahadewi. Gadis cantik itu langsung saja memberikan serangan kepada Nala tanpa aba-aba. Seketika Nala melompat dan mengaburkan tubuhnya menjadi pasir.


Pancaran energi Nala tersebar ke mana-mana. Batari Mahadewi tahu, setiap saat Nala bisa menyerangnya dari segala penjuru. Benar dugaannya, Nala menggerakkan seluruh pasir di sekitar tubuh Batari Mahadewi, lalu mencoba untuk mengepung tubuh gadis jelmaan pusaka dewa itu dengan tanah dan pasir.


Batari mahadewi mengerahkan serangan pusaran angin yang menghalau serangan Nala. Pusaran angin itu menghamburkan serangan tanah dari Nala dan menerbangkannya ke angkasa. Namun dalam waktu singkat, debu-debu diangkasa itu kembali berkumpul, memadat, dan berbentuk seperti naga yang terbang meliuk-liuk di angkasa. Naga pasir itu bergerak dengan sangat cepat ke arah Batari Mahadewi.


Gadis sakti itu menciptakan tameng udara yang tak kasat mata. Naga itu seketika hancur dan menjadi debu beterbangan ketika dengan keras menghantam tameng udara yang diciptakan Batari Mahadewi melalui pancaran energinya. Namun Nala telah ada sangat dekat dibelakang Batari Mahadewi. Seketika tubuh Nala telah menjelma menjadi pasir dan menempel di seluruh tubuh Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu dengan cepat melompat terbang ke angkasa, mengerahkan sekian jurus angin untuk menepis tanah dan pasir yang menempel di tubuhnya.


“Cukup, Nala.” kata Batari Mahadewi. “Kau melakukan kesalahan yang fatal. Aku bisa saja menyerap energimu jika kau menyerangku seperti itu tadi.”


“Akupun bisa menyerap energimu dengan cara seperti itu.” kata Nala.


“Kenapa tak kau lakukan?” tanya Batari Mahadewi.


“Jangan menyepelekan latihan. Lagipula, aku mengizinkamu melakukan serangan paling serius sekalipun.” Kata Batari Mahadewi.


“Tunggu saja saatnya nanti. Aku bahkan belum pernah menggunakan jurus-jurusku yang lainnya kepadamu.” Kata Nala yang tak mau Batari Mahadewi terlalu mendiktenya.


“Jurus apa itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Kau lupa, setiap pendekar hitam berbekal racun dalam darahnya. Aku masih memilikinya.” Kata Nala.


“Baiklah. Aku akan menunggunya. Aku ingin tahu, apakah racunmu bisa melumpuhkan aku.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Tubuhmu memang bisa menyerap racun. Tapi entahlah, kita coba lain kali. Aku sungguh sedang tak ingin berlatih saat ini.” Kata Nala.


Batari Mahadewi tak ingin memaksa Nala untuk berlatih. Ia tahu, suasana hati Nala sedang memburuk setelah ia mengalami lonjakan kemampuan yang sangat pesat.


“Menurutmu, kapan kita akan mencoba menelusuri wilayah lain? Sudah setahun ini kita telah menjelajahi pulau ini. Aku tak tahu, apakah ada pulau lain jika kita menyeberangi samudera…seharusnya ada, dan semestinya kita akan berjumpa dengan makhluk lain yang berbeda jenisnya.” Kata Nala.


“Sekarangpun aku siap jika kau mau. Aku juga sudah mulai bosan dengan pulau ini. Kita akan bertemu dengan makhluk yang itu-itu saja.” Kata Batari Mahadewi.


Dua sahabat itu terbang ke langit dan melaju ke arah utara. Tenaga mereka sudah cukup besar untuk melakukan perjalanan udara menempuh jarak yang cukup jauh. Perjalanan itu minim gangguan karena sebagian besar penghuni dunia tiga rembulan berada di daratan. Sesekali saja mereka bertemu dengan kawanan burung raksasa ketika mereka melaju di angkasa. Namun burung-burung yang sering mereka temui jarang sekali mau menyerang, kecuali jika mereka tak menemukan makanan sama sekali.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka sampai juga di atas permukaan laut. Pemandangan yang menjadi hiburan tersendiri setelah setahun mereka terus berada di tengah pulau besar di dunia itu.


Lautan yang mereka lihat berwarna jingga. Nala dan Batari Mahadewi tak berani terbang rendah. Keduanya belum tahu, bahaya apa yang tersembunyi dibawah permukaan laut yang indah itu. Jika di darat mereka menemui makhluk-makhluk yang sangat merepotkan, tentu di laut akan lebih mengerikan lagi.


“Di sana ada pulau kecil, bagaimana jika kita singgah sebentar sambil memulihkan energi kita?” tanya Nala.


“Ya, kita ke sana saja.” kata Batari Mahadewi.


Keduanya sampai di pulau itu. dari atas, pulau itu tampak cantik. Namun ketika mereka sampai di bawah dan menginjakkan kaki di tanah, mereka melihat banyak sekali tulang-belulang berserakan.


“Tulang-tulang yang aneh sekali. Binatang apa yang memiliki bentuk tulang semacam ini.” Nala menunjuk sebuah tulang yang berbentuk meliuk-liuk seperti tubuh ular.


“Nala…kurasa kita harus pergi secepatnya. Perasaanku tidak enak.” Belum sempat Batari Mahadewi menjelaskan lebih lanjut, permukaan tanah di pulau itu bergetar hebat. Keduanya merasakan pancaran energi yang sangat besar, namun tak menemukan wujudnya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2