
Tengah malam, di sebuah menara kecil di dalam istana, Jalu memandang langit malam seorang diri. Ia belum bertemu kedua adik seperguruannya. Hatinya terlalu galau dengan situasi yang ia hadapi hingga ia tak sadar jika Batari Mahadewi telah ada di belakangnya. Hanya adiknya itulah yang bisa menemukannya dengan mudah.
“Kak Jalu.” Kata Batari Mahadewi pelan. Jalu kaget setengah mati dengan kemunculan adik seperguruannya yang tiba-tiba itu.
“Hampir saja jantungku copot.” Kata Jalu.
“Aku mendengar semua yang disampaikan oleh ayahmu.” Kata Batari Mahadewi, “Mungkin kakak butuh teman bicara.”
“Di mana Niken?” tanya Jalu.
“Kak Niken sudah tidur, lalu aku ke sini.” Kata Batari Mahadewi.
“Adik belum menceritakan kepadanya?” tanya Jalu.
“Mana mungkin aku bisa.” Jawab Batari Mahadewi.
“Aku benar-benar bingung. Aku tak mau meninggalkan Niken, tapi aku belum menemukan alasan yang tepat, cara yang tepat, untuk menyelamatkan kedua orang tuaku jika Sri Maharaja murka.” Kata Jalu.
“Awalnya aku berfikir demikian. Tapi apakah kak Jalu kenal baik dengan watak Sri Maharaja?” tanya Batari Mahadewi.
“Tentu tidak. Sejak umur 9 tahun aku sudah meninggalkan istana dan pada waktu itu, aku sama sekali belum mengerti tentang banyak hal di sini. Terlebih, aku sangat jarang melihat paduka raja.” Kata Batari Mahadewi.
“Apakah kakak mengenal putri Kumala?” tanya Batari Mahadewi.
“Ia dan kedua adiknya dan beberapa anak kerabat kerajaan adalah teman sepermainanku ketika kami masih anak-anak. Aku tak pernah melihat lagi putri Kumala sejak aku berguru ke padepokan Cemara Seribu.” Kata Jalu.
“Belum tentu baginda raja akan marah jika kakak tak menyetujui rencana pernikahan itu. Lagipula, jika akan terjadi, maka perikahan itu masih dua tahun lagi kan?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, adik benar. Jadi, menurut adik, apa yang harus aku lakukan?” tanya Jalu.
“Aku tak tahu kak. Apakah kak jalu akan menyampaikan hal ini kepada kak Niken?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku sungguh tak bisa dan tak mau menyakiti perasaannya. Tapi aku khawatir jika ia tahu hal ini justru tidak dariku.” Kata Jalu.
__ADS_1
“Tak usah khawatir soal itu. Aku bisa menjelaskan kepadanya. Mungkin, besok pagi kita harus segera bertemu dengan pamanmu. Setelah itu, kita menyibukkan diri lagi dengan jalan pendekar kita. Sehingga, keluarga kakak ataupun keluarga kerajaan tak punya kesempatan membicarakan hal ini lagi. Mereka akan memaklumi segala hal yang terjadi selagi kakak masih bersikeras menempuh jalan pendekar.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, mungkin sementara itu adalah jalan yang bisa ditempuh. Jadi, kita tak perlu memberi tahu Niken tentang hal ini, bukan?” kata Jalu.
“Ya, tidak usah. Dan, kakak harus bersikap seperti biasanya. Untuk menghindari percakapan antara Niken dengan kedua orangtua Kak Jalu, yang mungkin saja ayah kak Jalu akan menceritakan rencananya kepada kak Niken atau kepadaku karena kami adik seperguruan kak Jalu, maka mungkin ada baiknya aku dan kak Niken tidak tinggal di dalam istana.” Kata Batari Mahadewi.
“Baiklah, semoga besok pagi kita menemukan cara untuk menghindar dari masalah ini setelah kita bertemu dengan pamanku.” Kata Jalu.
####
Jalu, Niken dan Batari Mahadewi berjalan menuju wisma tamu keprajuritan setelah ketiganya tak menemukan Mahapatih Siung Macan Kumbang di kediamannya di wisma kepatihan. Sang prajurit penjaga mengatakan kalau sudah dua hari sang Mahapatih masih di perumahan prajurit dan kemungkinan besar menginap di wisma tamu karena beliau sedang menyambut banyak tamu.
Begitu Jalu, Niken dan batari mahadewi keluar dari gerbang istana, mereka melihat Mahapatih Siung Macan Kumbang sedang berbicara dengan lima orang bawahannya. Wajahnya tampak tua dan lelah. Rambutnya yang memutih tergelung rapi di kepalanya. Meski telah berumur, namun tubuh Mahapatih Siung Macan Kumbang yang tinggi dan besar itu masih tampak gagah, seolah tak akan roboh meski ditendang oleh 20 orang anak buahnya secara bersama-sama.
“Paman!” Jalu memanggil.
“Jalu, keponakanku, kapan kau datang nak? Wah, sudah besar kamu ya!” kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Kemarin, paman. Setelah utusan paman memberikan undangan, kami buru-buru datang ke sini. Oh iya, ini adik-adik seperguruanku paman, Niken dan Batari Mahadewi.” Kata Jalu.
“Apa!!!” Kata Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi bersamaan. Ketiganya sangat antusias ingin bertemu.
“Ya, mereka sudah datang lebih dari 10 hari yang lalu. Mereka sedang berkeliling perumahan prajurit saat ini. Nanti pasti akan kembali ke wisma. Nah, sekarang, ayo kita masuk ke ruang pertemuan di wisma, ada hal yang ingin kuceritakan pada kalian.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
Ketiga murid terakhir Ki Gading Putih dan Mahapatih Siung Macan Kumbang memasuki ruang pertemuan wisma tamu. Hanya ada mereka berempat di sana.
“Apakah kalian sudah mendengar pergerakan dari para pendekar aliran hitam?” tanya Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Iya, paman. Kami beberapa kali berurusan dengan mereka, dan beberapa kali menggagalkan serangan mereka di tiap perguruan aliran putih yang kebetulan kami singgahi.” Kata Jalu.
“Apakah kalian bisa menebak, apa kira-kira tujuan akhir mereka berbuat kekacauan?” tanya Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Apakah paman berfikir kalau mereka akan menyerang kerajaan kita?” tanya Jalu.
__ADS_1
“Kenapa tidak?! Itu mungkin sekali. Ini yang harus kau pelajari. Maka itulah, aku mengundang sebanyak mungkin pendekar aliran putih untuk datang ke sini dan memberikan bantuan apabila sewaktu-waktu para pendekar aliran hitam akan menyerang ke sini.” Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Paman benar sekali. Mereka mungkin saja akan menyerang kerajaan. Banyak pendekar aliran hitam dari wilayah lain yang datang ke Swargadwipa. Sebelum kami datang ke sini, kami telah bertarung dengan tiga pendekar pulau Neraka.” Kata Jalu.
“Kalian bisa selamat, artinya kemampuan kalian sudah jauh di atas rata-rata. Aku jadi penasaran dengan perkembanganmu, nak. Setelah ini kau harus menunjukkan padaku kemampuanmu. Bagaimanapun juga, kelak kau akan menggantikanku. Jadi, aku wajib tahu perkembanganmu.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
Jalu sedikit gelisah apabila dirinya diharapkan akan menjadi sesuatu di kerajaan, entah menjadi mahapatih ataupun menjadi suami putri Kumala. Jika keduanya terjadi, ia tak tahu apakah perjalanan cintanya dengan Niken aka berjalan mulus atau tidak.
“Jadi, untuk beberapa hari atau bahkan beberapa bulan ke depan, aku ingin kalian bertiga tinggal dulu di istana. Aku membutuhkan tenaga kalian jika sewaktu-waktu datang serangan. Jika hal itu terjadi, maka serangan itu bukanlah hal sepele. Calon lawan kita adalah para pendekar aliran hitam berilmu tinggi.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Jika mereka datang, mereka pasti dapat kejutan dari sini.” Kata Jalu sambil melirik Batari Mahadewi. Gadis kecil itu melotot ke arah Jalu.
“Hahaha, pasti banyak hal yang tak aku ketahui. Baiklah, mungkin aku yang akan pertama terkejut dengan kesaktian kalian.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang, “Oh iya, apakah kalian bertiga akan tinggal di istana?”
“Kurasa tidak paman. Sejujurnya aku lebih senang di perumahan prajurit. Sebenarnya kami mau meminta ruangan di wisma tamu, paman.” Kata Jalu.
“Ya, tapi kamu jangan sampai juga tidak singgah di wisma ayahmu. Jangan sampai ayahmu mengira aku menahanmu di sini.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Tenang paman. Di sini tempat yang menyenangkan untuk pendekar. Berarti, sudah banyak pendekar yang paman undang datang ke sini?” Tanya Jalu.
“Ya, saat ini mungkin sudah ada sekitar 40 pendekar muda aliran putih. Nanti malam akan ada pertemuan lagi denganku. Kalian bertiga juga termasuk.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
“Baik paman.” Kata Jalu.
“Jalu, bisakah sekarang kita berdua menuju ke balai latihan khusus? Aku ingin berbicara berdua denganmu.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.
####
Paman dan keponakannya itu berjalan menuju ke balai latihan khusus. Tempat itu merupakan bangunan besar dengan tembok yang sangat tebal, dan tak sembarangan prajurit diizinkan masuk karena tempat itu hanya sesekali dipergunakan, khususnya untuk latihan tertentu.
Niken dan Batari Mahadewi menunggu di wisma tamu. Dari kejauhan, Niken melihat sosok Pradipa. Dan di langit, Batari Mahadewi melihat ribuan burung hitam terbang berputar-putar. ‘Pendekar aliran hitam!’ batin Batari Mahadewi.
####
__ADS_1
Ini dulu ya teman-teman updatenya. Aku sedang mempersiapkan lagi buat update lebih dari 2 chapter. Dalam waktu dekat pastinya. Terimakasih banyak masih bertahan membaca cerita sederhana dariku ini. Semoga bisa selalu menghibur teman-teman, dan menemani teman-teman menghabiskan waktu luang.
Sehat selalu ya teman-teman. GBU.