Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 213 Paska Perang Di Swargawana


__ADS_3

Hari kekalahan para pasukan kerajaan hitam Tirayamani sekaligus merupakan hari sibuk dan menyedihkan bagi kerajaaan Swargawana beserta sekutunya. Tak sedikit pasukan dan pendekar dari wilayah barat yang menjadi korban kebengisan panglima Kera Api dan prajuritnya itu.


Batari Mahadewi tak membunuh lawan-lawannya, namun beberapa tetap ada yang tak bisa bernafas lagi untuk selamanya. Setelah Batari Mahadewi melenyapkan seluruh kekuatan dan ingatan para pasukan kerajaan hitam itu, ia memberikan kesempatan kedua bagi mereka untuk menjalani kehidupan baru sebagai orang biasa.


Dengan tenaga dalam yang dimilikinya, gadis jelmaan pusaka dewa itu mengucapkan sesuatu yang membuat suaranya bisa didengar oleh seluruh manusia yang ada di kota kerajaan Swargawana, termasuk para pembesar kerajaan-kerajaan barat yang sedang bersembunyi di ruangan khusus sejak panglima Kera Api dan pasukannya datang menyerang.


“Aku tak membunuh orang-orang ini. Mereka sudah tak lagi berbahaya, dan telah kehilangan ingatan mereka. Jika kalian semua adalah manusia yang merasa lebih baik dari orang-orang ini, maka biarkan mereka hidup dan tolonglah mereka jika kalian mampu. Satu hal lagi yang ingin kusampaikan sebelum aku pergi, jangan pernah berfikir untuk menyerang wilayah timur. Aku Batari Mahadewi, pendekar dari Swargadwipa. Jika kalian tak menghiraukan kata-kataku ini, maka kalian tahu kalian akan berhadapan dengan siapa.” Kata Batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu kemudian melayang keangkasa dan terbang perlahan ke arah barat kota kerajaan Swargawana. Jalu dan Niken mengikutinya. Ketiga sosok pendekar mudah dari Swargadwipa itu langsung menjadi topik perbincangan yang pernah membosankan untuk dibicarakan oleh orang-orang di wilayah Barat.


Para pembesar dan raja-raja kerajaan di wilayah barat hanya bisa menelan ludah. Impian mereka untuk menguasai wilayah timur sudah pupus. Mereka juga mengalami kerugian yang tak terkira akibat dari kegagalan penyerangan yang mereka lakukan di wilayah timur, serta serangan dari para prajurit kerajaan hitam Tirayamani.


Yang pasti, setelah peristiwa pada hari itu, tak seorangpun dari wilayah barat yang berminat untuk menyerang wilayah timur. Sebaliknya, banyak dari mereka yang diam-diam ingin pindah ke wilayah timur. Alasannya sederhana, mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik. Bagaimanapun juga, ratu Ogha masih menjadi ancaman bagi wilayah barat. Sedangkan di timur, sosok Batari Mahadewi telah dianggap sebagai penyelamat sejak peristiwa itu.


Batari Mahadewi, Niken, dan Jalu berhenti di sebuah hutan jauh di bagian barat wilayah Swargawana. Mereka butuh istirahat setelah pertarungan yang menegangkan itu, terutama Jalu dan Niken yang telah mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan mereka sewaktu bertarung melawan para monster kerajaan hitam Tirayamani.


“Kak jalu dan kak Niken harus memulihkan tenaga dulu. Setelah itu, kita akan bicarakan lagi apa yang akan kita lakukan nanti.” Kata Batari Mahadewi.


“Aku masih tak percaya dengan pencapaianmu, adik. Apakah tadi adik sudah mengerahkan seluruh kemampuanmu?” tanya Jalu penasaran. Baru kali ini ia melihat satu orang melawan tiga puluh ribu pendekar hitam berkekuatan tinggi.


“Ya, aku mengerahkan seluruh kekuatanku untuk membekukan para pasukan kerajaan hitam itu. Tapi sebenarnya bukan pasukan itu yang aku khawatirkan, kakak. Aku belum bercerita kepada kalian, bahwa sesungguhnya ratu Ogha jauh lebih berbahaya. Ia satu-satunya orang dari masa lalu yang sedang berusaha membebaskan para makhluk iblis yang dipenjarakan oleh para dewa.” Jawab Batari Mahadewi.

__ADS_1


Gadis jelmaan pusaka dewa itu mengingat-ingat lagi cerita kakek dewa, bahwa makhluk-makhluk iblis di dunia satu rembulan bisa jadi jauh lebih berbahaya dari musuh-musuh yang ia hadapi di dunia tiga rembulan. Setidaknya, ia dan Nala telah melihat sebagian kecil dari kengerian yang ditimbulkan oleh beberapa makhluk iblis yang telah dibangkitkan oleh ratu Ogha di pulau lain sebelum ia dan Nala sampai di Swargadwipa.


Jalu dan Niken belum terlalu paham atas apa yang baru saja dikatakan oleh adik mereka itu. Namun mereka percaya, bahwa apa yang dikatakan oleh Batari Mahadewi selalu benar.


Ketiga murid ki Gading Putih itu memulihkan energi mereka ditengah hutan yang baru saja dilewati oleh sisa-sisa pasukan panglima Kera Api yang melarikan diri ke arah barat. Batari Mahadewi tak berniat mengejar para pasukan yang ketakutan itu. Ia justru berharap, para pasukan itu akan kembali kepada ratu mereka dan melaporkan apa yang telah terjadi di Mahabhumi.


Jika sang ratu mendengar kabar itu, ada kemungkinan ia akan menunda kedatangannya di Mahabhumi. Sementara itu, orang-orang di Mahabhumi memiliki waktu untuk mempersiapkan banyak hal sebelum malapetaka berikutnya terjadi.


Setelah kekuatan ketiga pendekar muda dari Swargabhumi itu pulih, mereka kembali membicarakan beberapa hal yang akan mereka lakukan.


“Apakah adik memikirkan sesuatu yang akan kita lakukan nanti?” tanya Jalu.


“Ya, yang pertama adalah memikirkan pakaian baru. Aku merasa aneh dengan pakaian ini. Namun aku membutuhkannya. Pakaian ini tidak akan terbakar saat aku berubah wujud menjadi manusia api.” Kata batari Mahadewi.


“Ya. Mau kutunjukkan?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya!” jawab Niken dan Jalu serempak. Keduanya selalu penasaran dengan segala kemampuan yang dimiliki oleh adiknya itu.


“Baiklah, aku akan menjauh dari kakak.” Setelah melesat ke angkasa, Batari Mahadewi mengubah wujudnya menjadi manusia api. Berbeda dengan Jalu, tubuh api Batari Mahadewi berwarna hitam kebiru-biruan. Hawa panas yang dipancarkan sangat menyengat. Jika ia melakukannya di hutan, sudah pasti pepohonan disekitarnya akan terbakar. Gadis jelmaan pusaka dewa itu tak mau lama-lama memperlihatkan kekuatannya. Sebentar kemudian, ia kembali ke wujud aslinya dan turun mendekat ke arah Jalu dan Niken yang terbengong-bengong.


“Tapi sepertinya, aku tak akan menggunakan tubuh Api dalam pertarungan, kecuali benar-benar terpaksa.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Kenapa memangnya?” tanya Jalu.


“Tubuh api atau tubuh es jika digunakan di tempat yang jauh dari sumber api dan sumber es, justru malah akan menghabiskan banyak tenaga. Aku lebih senang bertarung seperti tadi.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, lagipula adik membutuhkan banyak pakaian jika harus berulang-ulang menggunakan tubuh api.” Kata Niken sambil tertawa, “Mungkin adik membutuhkan pakaian seperti kak Jalu.” Kata Niken.


“Tidak. Pakaian ini sudah cukup, tapi aku butuh pakaian pelapis agar penampilanku tidak aneh.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar, adik. Pakaianmu itu membuat para laki-laki akan tergila-gila melihat tubuhmu.” Kata Jalu. Niken yang mendengar itu langsung mencubit perut Jalu sekuat tenaga dan membuat pendekar api itu menjerit kesakitan. Batari Mahadewi hanya tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah kedua kakaknya.


“Nanti jika kakak bertemu Nala, kakak akan menyaksikan kekuatan yang tak kalah mengerikan. Tak akan aku ceritakan, tapi lihat saja sendiri nanti.” Kata Batari Mahadewi.


“Lelaki yang bersamamu di dunia tiga rembulan itu kan?” tanya Jalu pura-pura lupa, “kemana ia sekarang?”


“Mencari kakaknya. Semoga saja ia lekas kembali dan bergabung dengan kita.” Kata Batari Mahadewi.


“Tapi adik, bagaimanapun juga, ia adalah pendekar aliran hitam…” kata Niken tak menyelesaikan kata-katanya.


“Tenang saja, aku yakin ia akan berada di pihak kita.” Kata Batari Mahadewi. Entah kenapa, gadis jelmaan pusaka dewa itu selalu merasa senang jika ia membicarakan tentang Nala. Jalu dan Niken melihat hal yang mencurigakan dari raut wajah adiknya itu ketika ia membicarakan Nala.


 

__ADS_1


 


__ADS_2