
Batari Mahadewi dan Nala sangat tertarik dengan hal yang di ceritakan sang nenek yang serba putih itu. Lalu keduanya meminta nenek itu untuk terus bercerita sembari mereka berdua mencoba mempelajari situasi pulau es dari cerita nenek itu.
“Kami mengira, Vauran hanyalah makhluk dalam cerita. Namun setelah ia bangkit dari kematian, kami mempercayai kebenaran dari cerita yang disampaikan secara turun temurun itu. Kami tak benar-benar tahu dari mana makhluk itu berasal, konon ia berasal dari energi jahat yang ada dalam sumber energi utama di pulau ini.
Jadi, menurut cerita, ketika para pendahulu kami mencoba memurnikan sumber energi utama pulau ini, mereka memindahkan energi jahat dari kristal energi es ke dalam sebuah patung es yang berbentuk burung. Beberapa tahun kemudian, patung itu menjadi hidup. Patung itu berubah menjadi seorang putri yang memiliki sayap di punggungnya.
Mula-mula, nenek moyang kami menerima kehadirannya dan menganggapnya seperti putri salju. Mereka menamainya Vauran. Namun ternyata makhluk itu menuntut kematian untuk terus hidup. Ia hanya memakan para laki-laki. Nenek moyang kami tak bisa memusnahkannya, namun mengurungnya dalam kristal es abadi. Setelah itu, Vauran telah dianggap mati.
Setelah ribuan tahun berlaku, kira-kira setahun yang lalu, makhluk itu bangkit. Awalnya kami tak mengenalinya. Namun setelah ia memangsa banyak laki-laki di pulau ini, kami teringat dengan dongeng yang kami dengar. Kami semua belum tahu cara mengatasi makhluk itu. Namun, makhluk itu tak berani mendekat ke pusat kota. Sehingga, sebagian besar dari kami pindah ke sana.” Cerita nenek itu.
“Kenapa Vauran tak mencari mangsa ke pulau lain, nenek?” tanya Nala.
“Ia seperti kami, hanya bisa hidup di pulau es.” Jawab nenek itu.
“Kenapa nenek tidak ikut ke pusat kota?” tanya Batari Mahadewi.
“Hahaha, aku sudah sangat tua dan aku bukan yang diinginkan makhluk itu, jadi aku masih tinggal di sini. Nah, sekarang, ceritakan tentang kalian dan apa tujuan kalian datang kemari.” Ujar nenek itu.
Batari Mahadewi dan Nala menceritakan perjalanan yang mereka lalui hingga akhirnya keduanya sampai di pulau itu. Nenek tua itu memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
“Hmm, Aku tak menyangka dunia satu rembulan itu benar-benar ada, dan tak menyangka ada makhluk sekuat kalian dari sana. Kurasa, kalian jauh lebih tua dari umur kalian yang sebenanya bukan? Setidaknya, seluruh pengetahuan kalian setara dengan manusia pulau es yang bahkan usianya lebih dari seratus tahun. Dan tubuh kalian setara dengan tubuh manusia pulau api yang berusia sekitar dua puluh tahun. Jadi, tentu kalian berdua bukan manusia biasa, bukan?!" ujar nenek itu.
"Kami berdua tak tahu kenapa kami seperti ini, nenek." kata Batari Mahadewi.
"Tak apa. Ada banyak hal yang tak selalu kita pahami. Aku sendiri saat ini telah berusia tiga ratus tahun, dan ada beberapa tetua pulau ini yang usianya lebih dari tiga ribu tahun.” Kata nenek itu.
“Apakah manusia pulau es memang berumur panjang?” tanya Nala.
“Hahaha, tentu saja tidak. Di dunia tiga rembulan, hanya beberapa saja yang bisa berusia lebih dari seribu tahun. Biasanya mereka adalah orang-orang yang memiliki kekuatan besar. Rata-rata kami hanya berusia hingga empat ratus tahun saja.” kata nenek itu.
“Lalu bagaimana cara orang-orang di pulau es bertahan hidup, nek?” tanya Batari Mahadewi.
“Tak apa-apa, nenek, kami terbiasa hidup dengan menyerap energi alam, jadi kami juga bisa hidup tanpa makan.” Kata Nala sambil melirik Batari Mahadewi. Gadis itu membalas lirikan Nala dengan sengit karena merasa di sindir.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kalian.” Kata Nenek itu. Ia merentangkan tangan kanannya ke arah pintu, lalu bergumpal-gumpal salju perlahan datang memasuki rumah nenek itu. Bahkan tanpa memancarkan energi, nenek tua itu dengan mudah menggerakkan salju-salju dan menciptakan bentuk-bentuk yang beraneka ragam, seolah salju itu tunduk pada perintahnya.
Nenek itu lalu menciptakan sebuah pedang dari salju, lalu ia memancarkan sedikit tenaganya untuk membuat salju itu mengeras menjadi kristal es bening. Tiba-tiba saja Batari Mahadewi teringat dengan kakaknya, Niken, yang kadang melakukan hal serupa, namun bedanya, Niken harus memancarkan energi yang cukup besar untuk bisa melakukan apa yang dilakukan oleh nenek itu.
“Apakah semua manusia pulau es bisa melakukan apa yang nenek lakukan?” tanya Batari Mahadewi penasaran.
__ADS_1
“Ya, tentu saja. Lihat pakaianku, ini adalah salju. Semua salju di pulau ini adalah hal yang membuat kami hidup. Kami bisa melakukan ini semua, semudah manusia api menciptakan api dari tubuh mereka.” Kata nenek itu.
“Luar biasa sekali, nenek.” Kata Nala takjub.
“Kalian akan bisa melakukan apa yang kami lakukan, atau mungkin jauh lebih dahsyat lagi jika kalian mengambil energi murni dari sumber energi utama pulau es.” kata nenek itu.
“Apakah pusat kota masih jauh, nek?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, masih lumayan jauh. Jadi, untuk menuju pusat kota, kalian masih membutuhkan sehari perjalanan lagi. Tapi aku khawatir kalian akan bertemu dengan Vauran, sebab jika kalian terbang, maka pancaran energi kalian akan ia ketahui. Saat ini mungkin ia berada di sekitar pusat kota, menunggu setiap lelaki yang mencoba keluar dari pusat kota.” Kata nenek itu, “Tapi, aku tak tahu, dengan energi api yang kalian miliki, mungkin kalian bisa melawan Vauran. Selama energi api kalian lebih besar dari energi Vauran, maka hal itu akan sangat mungkin. Sebaliknya, kami kesulitan mengatasinya, sebab kami berasal dari sumber energi yang sama, dan energi Vauran bahkan lebih murni dari kami.”
“Kami tak yakin, nek, semoga kami tak bertemu makhluk itu.” kata Batari Mahadewi.
“Aku sendiri juga belum pernah bertemu makhluk itu sebenarnya, jadi yang kuceritakan pada kalian hanya sebatas yang aku tahu dari cerita. Jika kalian berdua berhasil mengambil energi dari sumber utama, aku yakin kalian justru adalah harapan kami untuk menaklukkan makhluk itu, sebab setidaknya kalian telah memiliki unsur api dalam tubuh kalian.” Kata sang nenek.
“Tetapi, mungkinkah kami diizinkan untuk mengambil energi dari sumber utama?” tanya Nala.
“Kurasa kalian akan diperbolehkan. Tapi hal itu sangatlah tidak mudah. Hanya satu orang saja dari kami semua yang masih hidup yang pernah berhasil menyerap energi itu. Ia adalah tetua Ebe, guru besar penjaga kuil suci pulau Es. Yang aku tahu, tempat itu dijaga oleh para roh leluhur kami.” Kata nenek itu.
“Terimakasih banyak atas segala petunjuknya, nenek, kami harus tetap mencobanya, hanya itu satu-satunya harapan kami agar bisa kembali ke dunia satu rembulan.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Kedua pendekar dunia satu rembulan itu akhirnya pamit. Keduanya terbang melintasi hamparan salju dan pegunungan es yang luas dan seolah tak ada habisnya.