Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 305 Memusnahkan Makhluk Iblis Libu


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala memasang sikap waspada. Makhluk itu memiliki keberanian sebab ia tahu, pangeran kegelapan belum pulih kekuatannya.


“Apakah kau yakin bisa melawanku, Libu?” tanya Nala sekali lagi, berusaha mengacaukan keyakinan makhluk iblis itu.


“Pangeran benar-benar lupa ternyata. Aku berada di jajaran pasukan iblis terkuat yang selalu pangeran andalkan dalam banyak tugas berbahaya. Aku bisa melawan lima dewa sekaligus, jadi untuk melawan pangeran dan dewa di kecil itu, aku tak akan mundur sedikitpun!”


“Baiklah kalau begitu. Mari bertarung,” kata Nala. Lelaki itu menghilang dari peredaran. Pancaran tenaganya berada di mana-mana. Sementara, Batari Mahadewi memancarkan kekuatannya mengimbangi pancaran kekuatan yang muncul dari makhluk iblis itu.


Makhluk iblis itu menyeringai menatap Batari Mahadewi. Seolah ia sangat haus dendam. Sebab, gara-gara para dewa yang datang mengeroyoknya di masa lalu, ia telah menderita selama seribu tahu lebih.


“Aku tidak tahu dewa macam apa kau ini, tetapi aku tidak takut meski dalam tubuhmu tersimpan beberapa kekuatan dewa!” Makhluk itu melesat cepat dan mengayunkan capit besarnya itu ke arah Batari Mahadewi.


Dengan tangkas, gadis itu berkelit, lalu membalas serangan itu dengan tendangan yang menghujam dada lawannya. Makhluk tinggi besar itu hanya mundur beberapa langkah saja. Artinya, tendangan semacam itu tak berarti apa-apa baginya.


Nala melanjutkan serangan kekasihnya. Dalam bentuk partikel energi, Nala menyelubungi makhluk itu dan dalam waktu singkat, tiba-tiba Nala telah berubah menjadi pijaran lahar yang membungkus tubuh lawannya.


Tak di sangka, awalnya Nala berfikir bisa menaklukkan makhluk itu dengan cepat, membakarnya hingga menjadi debu. Sayang sekali, begitu Nala menyergapnya, makhluk iblis itu juga dengan cepat berubah menjadi kepulan asap. Dengan cara itu ia meloloskan diri dari serangan Nala.


Gumpalan asap itu berkumpul kembali dan menjadi wujud Libu. Dengan ganas, Libu mengerahkan pukulan energi yang terlontar dari mulutnya. Pukulan energi dalam bentuk kilasan cahaya itu menyapu tubuh Nala yang tak berbentuk hingga pijaran api itu tercerai berai.


Batari Mahadewi memanfaatkan kelengahan Libu, dengan kecepatan kilat ia melesat dan menghujamkan kukunya di tubuh makhluk iblis berwarna merah itu. Seketika tubuh besar itu terbelah, namun juga dalam waktu singkat tubuh itu menyatu kembali.


Tanpa jeda, begitu tubuh Libu bersatu kembali, ia langsung mengerahkan capitnya untuk menyerang Batari Mahadewi. Capit itu merupakan bagian tubuhnya yang paling berbahaya yang bisa memotong logam keras dengan mudah.


Nala yang telah tercerai berai dengan cepat menyatukan tubuhnya kembali. Dari belakang, ia menyerang Libu dengan kekuatan es. Lama tak bertarung dengan lawan yang kuat, Nala sangat berambisi. Tubuh Libu membeku seketika.


Tetapi Makhluk iblis itu tetap melakukan perlawanan. Tubuhnya memancarkan hawa panas yang bisa dengan cepat mencairkan es yang menyelubungi dirinya.


“Lakukan serangan petir bersama-sama, Tari!” teriak Nala.


Batari Mahadewi dan Nala dengan cepat menghujamkan serangan petir ke tubuh Libu yang sedikit lagi akan terbebas dari es. Telapak tangan Nala menghujam punggung Libu, sementara Batari Mahadewi menyerangnya di bagian dada.

__ADS_1


Dua pukulan petir dalam waktu yang sama itu menghancurkan Libu menjadi serpihan-serpihan kecil. Hanya saja, pancaran energi Libu masih terasa. Artinya, makhluk iblis itu belum mati.


“Sial. Sulit sekali membunuh makhluk iblis ini!” keluh Nala.


Belum sempat Nala dan Batari Mahadewi menghancurkan serpihan tubuh Libu, dengan cepat potongan-potonga daging itu kembali menjadi asap, lalu menyatu dan berubah wujud kembali menjadi sosok Libu.


“Pangeran jangan kaget. Seandainyapun kekuatan pangeran telah sepenuhnya pulih, tak akan mudah bagi pangeran untuk mengalahkan aku. Pangeran harus tahu bahwa aku lebih dahulu tercipta ribuan tahun sebelum pangeran ada. Pangeran bisa mengalahkan aku jika pangeran bisa mengingat dimana kelemahanku. Sayang sekali, ingatan pangeran belum kembali, bukan? Hahahaha!” Suara tawa Libu terdengar begitu mengerikan.


Nala dan Batari Mahadewi cukup bingung menghadapi Libu. Makhluk itu sudah pasti tidak bisa mengimbangi kekuatan Batari Mahadewi dan Nala. Tetapi untuk memusnahkan makhluk itu juga bukanlah hal mudah.


“Nala, ciptakan pasukan sihir untuk mengalihkan perhatiannya. Aku butuh sedikit tahu untuk mengamati kelemahan makhluk itu,” kata Batari Mahadewi.


Nala tanggap. Dengan cepat ia menciptakan ratusan monster batu yang secara bersama-sama menyerang Libu. Dengan begitu, Libu menjadi sibuk untuk menghancurkan monster-monster yang menyerangnya itu.


“Tari, tidak mungkin makhluk iblis hanya punya satu kemelahan saja. Pasti ada banyak cara untuk membunuh iblis itu. Bukankah jika kau bisa merobek tubuhnya dan mengambil paksa mustika iblis di dalam tubuhnya, maka makhluk itu akan kehilangan banyak kekuatan?” Nala mengutarakan hal bagus yang sempat luput dari pikiran Batari Mahadewi.


“Kau mungkin benar.” Batari Mahadewi menggunakan mata saktinya untuk melihat di manakah mustika iblis itu bersarang di tubuh Libu.


“Pantas saja. Sedari tadi kita menyerang tubuhnya. Mustika iblis itu ada di kedua capitnya. Jika kita potong capit itu dan segera mengambil mustikanya, pasti makhluk itu akan menjadi sangat lemah. Tetapi jika kita tak segera memisahkan mustika itu dari capitnya, maka capit itu pastinya akan berubah menjadi asap dengan sangat cepat,” kata Batari Mahadewi.


“Kalau begitu kita bekukan sekali lagi tubuhnya,” kata Nala.


“Ide bagus. Biar aku lakukan!” Batari Mahadewi melesat dalam satu kedipan mata dan tiba-tiba sudah ada di belakang Libu yang sedang sibuk menghancurkan monster-monster batu satu per satu. Dengan satu pukulan keras, makhluk iblis itu seketika membeku. Ia menambahkan kekuatan dingin yang membuat makhluk itu butuh waktu agak lama untuk meloloskan diri.


Setelahnya, dengan kuku saktinya, Batari Mahadewi memotong capit kanan Libu diikuti Nala yang bergerak cepat memutuskan capit kiri makhluk iblis itu. Dengan cepat pula, sepasang pendekar itu mencabut mustika iblis yang bersemayam di kedua capit itu.


Begitu kedua mustika iblis terlepas, kedua capit itu musnah menjadi abu. Libu juga tampak tak berdaya berada di dalam selimut es.


Batari Mahadewi dan Nala tak segera melenyapkan Libu, melainkan memutuskan jiwa iblis Libu dari kedua mustika itu dan kemudian menjinakkan seluruh energi iblis yang tersimpan dalam mustika berwarna hitam sebesar telur ayam itu. Jika tidak demikian, Libu masih memiliki peluang untuk menarik kembali mustika tersebut dan menyimpannya di tubuhnya.


“Pukulan terakhir kuserahkan padamu, Nala,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


Nala mengerahkan kekuatan api dalam tubuhnya, lalu menghempaskan kekuatan panas yang menyapu Libu dalam selubung es yang mengurungnya. Libu lenyap menjadi abu.


“Akhirnya musnah juga makhluk itu,” kata Nala.


“Pantas saja kekuatannya lumayan menakutkan. Ada dua mustika di dalam tubuhnya,” sahut Batari mahadewi.


“Kita simpan saja mustika ini. Siapa tahu akan berguna,” kata Nala.


“Jika kita satukan mustika ini pada senjata pusaka yang tersisa, bisa jadi senjata itu terlalu kuat untuk digunakan orang lain,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, hanya kita berdua saja yang bisa memakainya,” kata Nala.


“Kau tak ingin memakai pusaka semacam itu dalam pertarungan?” tanya Batari mahadewi.


“Entahlah. Bisa dipertimbangkan lagi. Tetapi aku tidak memiliki jurus-jurus pedang. Hanya bisa mengayunkannya ke arah lawan,” jawab Nala.


“Itu sudah bagus. Yang penting adalah kecepatan, kekuatan dan ketepatan. Tak butuh jurus tertentu untuk menggunakannya. Jika setiap kita mendapatkan mustika iblis dan menambahkannya ke dalam pusaka ini, seharusnya pusaka semacam ini lumayan membantu kita,” kata Batari Mahadewi.


“Kau berminat, Tari?” tanya Nala.


“Hahaha, sayangnya tidak. Kuku di jemari tanganku sudah cukup. Justru mungkin kau saja yang menggunakannya,” kata Batari Mahadewi.


“Baiklah. Bisa dicoba. Kalau malah merepotkan akan aku lepaskan lagi musika-mustika ini.” Kata Nala.


“Menurutmu, apakah hanya satu ini saja makhluk iblis yang ada di pulau ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Ini pulau yang besar. Masih ada kemungkinan bahwa ada makhluk iblis lain di wilayah lainnya. Kita bisa memantaunya dari udara,” kata Nala.


“Masalahnya, makhluk itu terkadang pintar menyembunyikan diri mereka. Tapi sudahlah, kita tak punya banyak waktu berada di pulau ini. Akan kita cari jika kita menangkap pancaran iblis. Jika tidak, kita lewati saja,” kata batari Mahadewi.


“Kalau begitu, ayo kita lanjutkan perjalanan!”

__ADS_1


Batari Mahadewi dan Nala kembali terbang melintasi angkasa. Tubuh mereka berdua terlihat seperti dua titik kecil yang sedang bergerak kea rah selatan. Hanya orang yang benar-benar sakti saja yang bisa melihat bahwa dua titik itu adalah dua orang pendekar yang sedang dalam perjalanan.


__ADS_2