Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 95 Siluman Naga Air Terjun Berkah Langit


__ADS_3

Ketiga pendekar aliran hitam yang baru saja datang di kedai makan itu adalah Kisara sang pendekar Lebah Neraka, Wisa sang pendekar Tiga Siluman, dan Lasa sang pendekar Perayu Kematian. Ketiganya adalah para pemburu siluman yang datang dari pulau Neraka. Mereka datang ke Swargadwipa dengan tujuan untuk mengumpulkan berbagai jenis mustika, termasuk mustika alam dan mustika siluman, untuk menambah kesaktian.


“Aku punya firasat buruk tentang kedatangan mereka di kota ini.” Kata Batari Mahadewi lirih.


“Adik membaca sesuatu dari mereka?” tanya Niken juga dengan suara lirih.


“Mereka memiliki energi siluman yang sangat besar. Sebaiknya kita sebisa mungkin tidak berbenturan dengan mereka di sini. Jika mereka membuat ulah, biarkan saja. Nanti kalau kita sudah jauh dari pemukiman, kita bisa menantang mereka. Kehadiran mereka jelas akan menjadi ancaman bagi pendekar aliran putih.” Kata Batari Mahadewi.


Batari Mahadewi, Jalu dan Niken berniat untuk memata-matai ketiga pendekar itu yang datang di kota Berkah Langit. Ketiga murid Ki Gading Putih itu sengaja tak segera meninggalkan kedai meski makanan mereka telah habis. Mereka menunggu para pedekar aliran hitam itu pergi terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, ketiga pendekar dari pulau Neraka itu beranjak pergi. Pemilik kedai tergopoh-gopoh mengejar mereka.


“Maaf, tuan-tuan, tapi sepertinya tuan lupa belum membayar makanan.” Kata pemilik kedai itu.


Lasa memandang pemilik kedai itu sambil tersenyum, “Benarkah? Coba paman ingat-ingat lagi.” Pandangan mata pemilik kedai itu seketika kosong. Lalu ia menjawab, “maaf, tuan, saya yang lupa. Mohon maaf. Terimakasih kedatangannya. Jangan kapok berkunjung ke sini lagi.”


Setelah itu, ketiga pendekar pulau Neraka itu beranjak meninggalkan kedai. Pemilik kedai yang masih linglung itu kembali masuk ke dalam, menggaruk-garuk kepala sambil mencoba mengingat sesuatu.


Batari Mahadewi mengamati hal itu sejak tadi. “Kak Niken dan kak Jalu harus berhati-hati dengan pendekar yang baru saja bicara itu seandainya nanti kita akan terlibat pertarungan dengan mereka. Energinya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kedua rekannya, tapi ia memiliki jurus yang bisa mengendalikan kesadaran lawannya.”


“Iya, adik. Aku mengerti. Apakah sebaiknya kita ikuti saja mereka?” tanya Jalu.


“Kita pantau saja dari jauh. Aku bisa mengamati dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan dari sekitar sini.” Kata Batari Mahadewi. “Dari pembicaraan mereka yang kudengar di kedai tadi, yang pasti, mereka akan menuju air terjun itu. Jika dugaanku benar, maka mereka akan mencari mustika siluman.”

__ADS_1


“Jika mereka ke sana, berarti mereka mungkin saja akan berurusan dengan siluman naga, bukan?” tanya Niken.


“Pastinya begitu.” Kata Batari Mahadewi.


“Apakah mereka sanggup menghadapi siluman itu?” tanya Niken.


“Seharusnya tidak. Tapi aku yakin mereka memiliki cara untuk menaklukkan siluman. Biarkan saja mereka bertempur dengan siluman itu jika memang mereka hendak ke sana.” Kata Batari Mahadewi


Batari Mahadewi mengikuti Jalu yang akan membayar makanan mereka. Ketika Batari Mahadewi melihat pemilik kedai itu masih linglung, ia menempelkan jari telunjuknya di kening lelaki tua yang berkepala botak itu. Seketika, kesadaran pemilik kedai itu kembali.


“Lho, kemana tiga orang yang belum bayar tadi?” tanya pemilik kedai itu kepada pelayannya.


“Bukankah tadi mereka sudah pamit dengan tuan?” jawab pelayan kedai dengan gemetar.


“Ah, sial sekali hari ini!” pemilik kedai itu menggerutu.


“Ayo kita naik ke menara Lonceng Surga yang ada di sana itu.” Ajak Jalu, “di sana kita bisa melihat seluruh wilayah kota ini dari atas. Kita juga bisa melihat dengan jelas kemana perginya ketiga pendekar tadi.”


“Apakah tidak apa-apa jika kita naik ke menara itu?” tanya Niken.


“Tidak apa-apa. Siapapun diperbolehkan dan hanya perlu membayar kepada petugas penjaga agar bisa naik ke sana.” Jawab Jalu.


Ketiga pendekar muda itu kemudian pergi ke menara yang tingginya sekitar dua pohon kelapa itu. Di atas menara itu tergantung sebuah lonceng raksasa yang akan dibunyikan pada waktu-waktu tertentu sebagai penanda peristiwa penting yang terjadi di kota Berkah langit.

__ADS_1


Hanya dengan tiga lentingan saja, Batari Mahadewi, Jalu dan Niken telah sampai di puncak. Untungnya saat itu tak ada pengunjung lain di menara itu sehingga di dalam menara, mereka bisa menggunakan tenaga dalam agar cepat sampai di atas.


“Menara seperti ini sebenarnya sangat tidak menguntungkan. Jika ada pihak yang ingin menguasai kota ini, maka mereka bisa memetakan kota ini dari menara ini. Lihat di sana, seluruh area Balai Kota bisa terlihat jelas.” Kata Batari Mahadewi.


“Adik benar. Tapi sejauh ini, tak ada serangan di kota kecil ini.” Kata Jalu.


“Lihat di sana, bukankah mereka adalah tiga pendekar yang tadi? Mereka sudah sampai di air terjun.” Kata Niken.


Kisara, Wisa dan Lasa melepaskan pancaran energi yang mereka miliki untuk menantang siluman naga air yang menjaga air terjun itu. Siluman naga itu terusik dan mulai turun gunung menemui ketiga pendekar dari pulau Neraka itu.


“Wisa, Lasa, kalian serang dari sisi kanan dan kiri. Aku akan menyerang dari sisi tengah.” Perintah Kisara.


“Baik kakak.” Balas keduanya serempak. Ketiga pendekar itu langsung melesat menyerang siluman naga air penunggu air terjun Berkah Langit dengan menggunakan kepungan mantra penjerat siluman.


Tubuh ketiga pendekar itu melayang di atas permukaan sungai mengepung siluman naga air dari tiga jurusan. Tangan ketiga pendekar itu terlentang dan menyalurkan tenaga dalam yang terhubung satu sama lain dan terciptalah jaring tenaga dalam yang mereka balut dengan mantra penjerat siluman. Namun ketiga pendekar itu sedikit terkejut sebab siluman naga itu tak menampakkan tanda-tanda mulai jinak. Sebaliknya, siluman naga air itu berubah wujud menjadi sosok nenek tua dengan rambut putih yang panjang.


Sosok nenek tua jelman siluman naga air itu mengibaskan rambutnya. Seketika, ketiga pendekar aliran hitam dari pulau Neraka itu terpental jauh. Wisa dan Lasa jatuh terbanting ke dalam sungai, sementara Kisara membentur batu besar hingga batu tersebut hancur berkeping-keping.


Ketiga pendekar itu segera bangkit dan membentuk formasi baru untuk menyerang siluman naga air dalam bentuk nenek tua itu. Lasa melafalkan mantra lain yang lebih kuat. Namun, hasilnya sama saja. Sosok nenek tua itu kembali menyerang ketiganya dalam satu hentakan energi yang membuat ketiganya kembali terpental.


“Kalian ingin menangkapku? Jangan bermimpi. Aku jauh lebih tua dari mantra yang kalian gunakan.” Kata siluman naga air.


Kisara mengerahkan energinya kembali lalu ia berubah wujud menjadi jutaan lebah beracun yang beterbangan menyerang siluman naga itu. Wisa tak mau kalah, ia juga menjelma menjadi monster aneh dan dalam bentuk barunya itu, kekuatannya meningkat tiga kali lipat dari sebelumnya. Sementara Lasa tetap pada bentuknya. Ia tak bisa berbuat banyak ketika mantra-mantra yang menjadi jurus andalannya tak berguna menghadapi siluman naga air itu.

__ADS_1


Namun, serangan Kisara dan Wisa membuat sosok nenek tua itu sedikit kewalahan. Beberapa kali nenek tua itu terdorong mundur dan meringis kesakitan ketika jutaan lebah dan hantaman monster aneh itu menerpa tubuhnya. Anehnya, tiap kali siluman naga air itu terkena serangan, curhan air dua air terjun Berkah Langit tiba-tiba mengecil.


Dari puncak menara, Matari Mahadewi menyadari situasi yang terjadi. "JIka siluman naga itu mati, kota ini juga akan menjadi kota mati. Sebaiknya kita harus segera bergegas ke sana."


__ADS_2