
Sementara itu, di kejaraan hitam, dalam satu bulan itu Andhakara telah berhasil membebaskan semua iblis yang tersisa. Tak lebih dari seratus saja yang rata-rata berkekuatan sedang, dan hanya beberapa saja yang memiliki kemampuan tinggi.
Hal itu tak terlalu membuat Andhakara risau. Gagasan Ogha untuk membuat bangsa raksasa menjadi pasukan hitam merupakan ide cemerlang. Oh, apa kabarnya keempat wanita sang pangeran itu? Apakah mereka akhirnya bisa rukun?
Tentunya. Mereka rukun sejak anak-anak sang pangeran ada diantara mereka semua. Samara berhasil menjadi ibu yang baik. Anak-anak iblis itu mungkin adalah iblis tersopan yang pernah ada meski kekuatan mereka bahkan jauh lebih tinggi dari Rodya, sang naga iblis api. Padahal, umumnya iblis yang kuat akan menjadi sangat sombong dan tidak menyenangkan bagi siapapun.
Hal lain yang membuat mereka rukun adalah keadaan Andhakara yang tak bisa menyentuh satupun dari mereka. Belakangan ini, Nala sering berulah. Kadang ketika jiwa Nala dan jiwa Andhakara sedang berkelahi, tubuh sang pangeran itu terlihat sangat kacau. Seperti makhluk gila yang berbahaya. Tak ada yang benar-benar berani mendekati Andhakara.
Pada hari itu, pangeran Andhakara dan keluarga iblisnya sedang rapat di salah satu ruang dalam istana itu.
“Hari ini kita akan mulai memperlebar sayap kekuasaan kita. Kita akan mulai dari wilayah Siwarkatantra. Beberapa waktu yang lalu, kita menemukan bahwa di pulau itu telah menjadi salah satu istana bangsa raksasa,” kata sang pangeran.
“Ya. Kita bisa memulainya dari sana. Lagipula, kita belum tahu di wilayah mana saja bangsa raksasa itu tinggal. Sementara ini, kita tangguhkan dahulu rencana awal kita untuk datang dan menciptakan istana di Mahabhumi,” kata Ogha.
Anggota keluarga lainnya hanya bisa diam. Mereka tak mengenal medan, sementara Ogha telah menjelajah jauh ke berbagai wilayah, dan ia satu-satunya iblis perempuan sang pangeran yang paling aktif. Maka, layaklah ia disebut sebagai ratu, tanpa harus menimbulkan rasa cemburu seperti di masa lalu.
“Kita akan masuk dari jalur barat, mengubah semua manusia yang ada di sana menjadi pasukan hitam, lalu kita mulai merambah ke kerajaan raksasa itu. Kita tak perlu turun tangan langsung, jika kita berhasil mengubah raksasa menjadi pasukan hitam, maka kita gunakan mereka untuk menyerang bangsa mereka sendiri. Kita hanya perlu memantaunya saja dan tak perlu mendekati wilayah kekuasaan mereka,” kata Andhakara.
“Apakah kita akan membawa semua iblis yang telah kita bebaskan?” tanya Ogha.
“Ya, Bail akan memimpin mereka semua. Sementara kalian akan selalu ada di sebelahku,” kata sang pangeran.
“Saya siap, paduka,” kata Bail yang juga ikut dalam pembicaraan itu. Sementara para iblis yang lain berada di ruang yang lain, bersama-sama dengan para pasukan hitam.
“Kalau begitu, kau siapkan pasukanmu, lalu kita akan segera berangkat!” perintah sang pangeran.
Bail keluar ruangan. Ia memerintahkan semua pasukan iblis berdarah murni itu untuk masuk ke dalam tubuhnya. Hanya Bail yang bisa melakukannya, tubuhnya bisa ditempati oleh ratusan makhluk iblis mulai dari yang berkekuatan rendah hingga yang berkekuatan tinggi. Namun, Bail tak bisa mengambil alih kekuatan mereka sekalipun mereka berada di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Dengan cara itulah, para pasukan iblis yang bergerak itu tak akan bisa dengan mudah diketahui lawannya. Yang terlihat hanyalah Andhakara, empat iblis perempuannya, sepuluh anaknya, dan Bail.
Setelah semua persiapan selesai, mereka semua segera melesat ke arah pulau Siwarkatantra.
Keadaan di pulau itu lebih kacau balau dari yang terjadi di Mahabhumi. Bangsa raksasa yang berada di wilayah tengah membuat para penghuni pulau hanya bisa pindah ke sisi barat dan sisi timur saja. Mereka terpisah menjadi dua kelompok besar.
Wilayah barat adalah wilayah yang paling mengenaskan setelah bencana alam yang terjadi ketika Batari Mahadewi dan sang pangeran bertarung pada waktu itu. Di tambah lagi dengan kedatangan bangsa raksasa, orang-orang yang tinggal di wilayah sana serasa kehilangan semangat hidup.
Sang pangeran dan keluarganya, serta Bail tiba di wilayah barat Siwarkatantra. Mereka menyaksikan wajah-wajah putus asa yang kelaparan. Justru manusia dalam situasi seperti itulah yang mudah untuk disisipi jiwa kegelapan. Sebaliknya, manusia yang berjiwa kuat dan memiliki semangat hidup tinggi seperti halnya kebanyakan para pendekar putih, tak akan semudah itu berubah menjadi pasukan kerajaan hitam.
Ratu Ogha segera melakukan tugasnya. Ia mengucap mantra sembari mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya. Asap hitam itu merambat pelan dan merasuki semua manusia yang ada di sekitar pelabuhan yang setengah hancur itu.
Mula-mula, semua manusia yang telah terkena jerat kekuatan hitam itu tampak seperti kehilangan kesadaran. Namun kemudian muncul kesadaran baru, yakni kesadaran yang diciptakan dari kekuatan iblis.
Manusia-manusia tersihir itu menjadi bertambah kuat beberapa kali lipat dari sebelumnya. Mereka juga memiliki kemampuan bertarung yang cukup tinggi, layaknya para pendekar Tirayamani yang telah punah itu. Bedanya, para pasukan hitam yang baru itu sepenuhnya dikendalikan oleh sang ratu atau pangeran kegelapan. Mereka sama sekali tak memiliki akal sebagaimana pasukan Tirayamani yang masih memiliki kesadaran sebagai manusia, meski dalam wujud pendekar aliran hitam.
Seketika itu pula, manusia-manusia berjiwa hitam itu bersujud kepada sang pangeran kegelapan. Selebihnya, sang pangeran menyuruh mereka menyebar dan membagikan jiwa kegelapan yang mereka bawa kepada manusia lain yang belum terjerat dalam pengaruh kekuatan iblis itu. Mereka layaknya zombie yang menularkan virus kepada yang lain agar menjadi pasukan kegelapan.
Kengerian mulai berlangsung di wilayah barat. Sang pangeran tak perlu turun tangan langsung, melainkan hanya perlu menunggu semua manusia yang ada di sana menjadi pasukannya.
Di bagian barat itu, sang pangeran mendirikan sebuah istana hitam yang baru yang akan menjadi basis kekuatannya di wilayah Siwarkatantra.
Dalam waktu sehari, puluhan ribu manusia telah berubah menjadi manusia kegelapan dengan jiwa iblis yang mengendalikan kesadaran mereka.
“Pangeran, usaha kita di sini tak ada halangan satupun. Selanjutnya, apa yang akan pangeran rencanakan?” tanya ratu Ogha.
“Tunggulah sejenak, ratuku. Tak perlu terburu-buru. Kita akan melihat semua manusia di wilayah ini akan menjadi pasukan hitam. Dulu kita sulit mewujudkan hal semacam ini, sebab para dewa menjadi gangguan utama. Kini, ketika bangsa dewa tak menampakkan diri, kita hanya perlu melawan bangsa raksasa yang bodoh itu. Cepat atau lambat, kita akan menguasai mereka,” kata Andhakara.
__ADS_1
“Tetapi aku tak bisa memastikan bahwa kekuatan hitam bisa merenggut jiwa raksasa golongan ksatria, sama halnya kekuatan ini tak mempan untuk pendekar-pendekar aliran putih yang berilmu tinggi,” sahut ratu Ogha.
“Maka dari itulah, setelah kita selesai dengan wilayah ini, kita akan mengerahkan mereka untuk menyerang bangsa raksasa di wilayah tengah. Biarkan saja mereka bekerja, kita menonton saja. Ini adalah hiburan langka. Aku ingin melihat bangsa raksasa kebingungan dengan wabah jiwa kegelapan yang menyerang mereka semua,” ucap Andhakara.
Sementara itu, di wilayah timur Siwarkatantra, keadaannya jauh lebih baik daripada wilayah barat. Setidaknya, orang-orang hebat di Siwarkatantra seperti guru Udhata, Tahagatara, dan pendekar seribu pedang serta pendekar-pendekar lainnya yang mendapatkan jatah pusaka dari Batari Mahadewi berkumpul di timur.
Sungai besar yang memisahkan wilayah tengan dengan wilayah timur menjadi benteng alami yang sangat membantu. Sungai itu sangatlah lebar. Bangsa raksasa yang bukan dari golongan ksatria pasti akan kesulitan menyeberanginya, kecuali dengan menggunakan perahu, atau berenang jika mereka benar-benar sangat ingin menuju ke wilayah timur.
Sehingga, hanya sedikit saja bangsa raksasa yang berminat untuk menyeberangi sungai itu. Sekalipun mereka berhasil, para pendekar yang di kerahkan di sepanjang sungai itu telah menunggu. Tak hanya pendekar saja yang ada di sana, namun juga berbagai peralatan perang tercanggih yang mereka miliki, seperti panah raksasa dan alat pelontar batu dengan jangkauan lima ribu langkah kaki yang cukup untuk melemparkan batu berukuran besar hingga ke seberang sungai jika dilontarkan dengan kekuatan penuh.
Semua kekuatan dan peralatan itu tak akan terwujud jika kerajaan-kerajaan di wilayah timur belum mencapai kesepakatan untuk bekerja sama. Namun dalam kurun waktu satu bulan lebih setelah datangnya bangsa raksasa itu, mereka menyadari bahwa tak ada cara lain untuk bertahan selain dengan bersatu.
Guru Udhata sangat sibuk dengan bengkel barunya di wilayah itu. Dengan dukungan dari tiga raja Siwarkatantra, ia mendapatkan bahan-bahan melimpah untuk menciptakan pusaka. Di bantu dengan para ahli senjata lainnya, ia menciptakan sebanyak mungkin senjata pusaka untuk membekali para pendekar yang tengah berjaga untuk menghalau masuknya raksasa di wilayah timur. Entah berapa lama mereka bisa bertahan, sebab mereka tak tahu bahwa yang mereka hadapi kelak bukan hanya raksasa, namun juga iblis yang perlahan-lahan telah menguasai wilayah barat Siwarkatantra.
Sementara itu, di wilayah tengah, raja raksasa Kalahitam telah mendapatkan laporan soal keberadaan bangsa iblis di wilayah barat. Maka ia mengumpulkan seluruh bawahan utamanya untuk membahas hal itu.
“Memang benar, paduka. Kekuatan bangsa iblis itu tiba-tiba menjadi besar dalam waktu singkat. Mereka mengubah manusia menjadi pasukan iblis.”
“Apakah manusia berkekuatan iblis itu kuat?” tanya Kalahitam.
“Mungkin saja begitu, paduka. Tetapi mereka menularkan kekuatan hitam itu kepada manusia lainnya. Kami takut jika mereka juga menularkan kepada bangsa kita. Jika kita tak menyerang terlebih dahulu, mereka akan semakin tumbuh kuat.”
“Kalau begitu, kau siapkan pasukanmu dan pimpinlah serangan itu secepatnya!” perintah Kalahitam kepada pemimpin utama pasukan perang di kerajaan raksasa itu.
Maka, sang pemimpin utama pasukan perang itu langsung memerintahkan bawahan-bawahannya untuk menyiapkan segalanya, yakni pasukan dalam jumlah besar serta peralatan perang yang semuanya berukuran besar.
Yang akan mereka lakukan tentunya bukan menyerang istana Andhakara, melainkan membantai para manusia dengan jiwa kegelapan yang telah menyebar ke segala penjuru. Itulah masalahnya, sekalipun pasukan raksasa itu kuat dan tak akan terjangkiti jiwa kegelapan, namun untuk berburu manusia dengan jiwa kegelapan yang tersebar di wilayah yang sangat luas itu bukanlah hal mudah. Terlebih, bangsa raksasa hanya memiliki pasukan dalam jumlah terbatas.
__ADS_1