
Pendekar Siluman Buaya meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah Ki Bangun Jiwa yang masih kesulitan untuk menahan racun agar tak menyebar hingga ke jantungnya. Sudah pasti ia sangat tidak siap dengan serangan pamungkas dari pendekar Siluman Buaya.
“Terima ini, ki sanak!” Tangan kanan pendekar Siluman Buaya yang menyerupai cakar buaya itu menghujam ke arah kepala Ki Bangun Jiwa. Pendekar siluman itu sengaja ingin mencabut nyawa lawannya seketika dengan cakar beracunnya yang ia aliri dengan tenaga dalam tinggi sehingga cakar itu memancarkan cahaya merah darah.
Belum sempat cakar itu menyentuh kepala Ki Bangun Jiwa, tiba-tiba tubuh pendekar Siluman Buaya itu diam tak bergerak. Batari Mahadewi mengerahkan tenaga dalamnya untuk memadatkan udara di sekitar pendekar siluman itu. Jurus itu sering ia gunakan setelah ia mempelajarinya dari altar langit di desa Atas Awan. Semakin tinggi tenaga dalam yang dikerahkan, maka udara yang dikendalikannya akan semakin padat dan tak bisa membuat lawannya bergerak, kecuali lawannya memiliki energi yang lebih besar dari yang digunakan oleh Batari Mahadewi.
Udara yang memadat itu sekaligus membuat pendekar Siluman Buaya tak bisa bernafas. Lehernya seolah tercekik dan tubuhnya seperti terhimpit sesuatu yang berat. Pendekar siluman itu mengerahkan energinya untuk melepaskan diri dari jeratan yang mencengkram tubuhnya. Batari Mahadewi sengaja ingin bermain-main sebentar dengan pendekar siluman itu. Maka ia mengendorkan serangannya sehingga pendekar Siluman Buaya itu bisa bernafa lega. Pendekar itu menatap ke arah Batari Mahadewi. Ia tak menyangka bahwa gadis kecil yang semula ia kira bukan siapa-siapa ternyata memiliki kekuatan yang menakutkan.
“Kau yang baru saja melakukannya?” tanya pendekar Siluman Buaya.
“Ya, mungkin kau ingin bersenang-senang denganku.” Kata Batari Mahadewi.
“Hmm, boleh juga kekuatanmu. Lain kali jangan menyerang dari belakang, itu etika yang harus dipelajari seorang pendekar. Mengerti!? Kata pendekar Siluman Buaya yang masih belum menyadari siapa lawan di hadapannya itu.
“Ya, aku mengerti. Maksudmu seperti ini?” sekali lagi Batari Mahadewi membuat tubuh pendekar Siluman Buaya itu tak bisa bergerak. Berbeda dengan sebelumnya, Batari Mahadewi masih membiarkan pendekar Siluman Buaya itu untuk bebas bernafas dan menggerakkan seluruh anggota kepalanya.
__ADS_1
“Kk…kau! Kalau mau bertarung, jangan seperti ini!” erang pendekar Siluman Buaya menahan rasa sakit karena seolah-olah ada sesuatu yang tak kasat mata, yang menghimpit tubuhnya itu, kini memelintir beberapa persendiannya.
Batari Mahadewi berjalan mendekat. Senyumnya dan tatapan matanya yang berbeda dengan pendekar-pendekar lainnya membuat pendekar Siluman Buaya itu panik. Ia sadar, gadis kecil di hadapannya itu bukanlah lawannya.
Kedua telapak tangan Batari Mahadewi menyentuh kepala pendekar Siluman Buaya yang pasrah itu. Batari Mahadewi sengaja menyerap semua racun yang tertimbun di tubuh pendekar siluman itu. Tubuh pendekar Siluman Buaya bergetar hebat dan ia mengerang kesakitan ketika kedua telapak tangan Batari Mahadewi menyerap racun-racun dalam tubuhnya dan menetralkan energi hitam tersebut dengan mengalirkan energi dewa miliknya.
Tak lama kemudian, Batari Mahadewi melepaskan cengkramannya. Seketika, tubuh pendekar Siluman Buaya itu ambruk ke tanah, nafasnya terengah-engah dan ia telah kehilangan energinya sekaligus ilmu siluman yang ia kuasai itu. Kulit kasar yang menyerupai kulit buaya di sekujur tubuhnya telah sirna, bentuk kuku, gigi, dan mata pendekar itu kembali terlihat seperti manusia biasa.
“Apa yang kau lakukan padaku?! Kenapa tak kau bunuh saja aku?!” Rintih pendekar siluman yang kini terlihat tak berdaya itu.
Sejak batari Mahdewi melihat gambaran masa depan dari kolam altar suci kota Dhyana, ia lebih memilih untuk tak menghabisi lawan-lawannya. Jika ia bisa, ia ingin membelokkan pikiran lawan-lawannya. Ia sadar hal itu tak akan sepenuhnya berjalan sesuai dengan yang ia pikirkan.
Bisa saja lawan yang tak ia bunuh esoknya akan membunuh banyak orang. Oleh karenanya, dalam pertarungan, sekiranya lawannya lemah, ia ingin meninggalkan kesan traumatis kepada lawan-lawannya sehingga suatu hari, lawan yang tak ia bunuh akan menjadi orang yang berbeda.
Batari Mahadewi tak ingin menularkan pemikirannya melalui kata-kata, setidaknya untuk Niken dan Jalu, ia lebih memilih mengatakan pendapatnya dengan tindakan, jika kedua kakak seperguruannya itu menanyakan alasan Batari Mahadewi melepaskan lawannya, ia hanya akan mengatakan bahwa suatu hari semua pendekar harus bersatu agar bisa bertahan dari serangan bangsa raksasa.
__ADS_1
Dalam dunia pendekar, konon pendekar aliran putih akan selalu mengampuni lawan-lawannya. Hal itu tak sepenuhnya benar. Tak semua lawan pantas diampuni dan dibiarkan hidup, terlebih setelah kelompok aliran hitam telah menyulut api peperangan di masa lalu. Tak sedikit mereka membantai kelompok aliran putih.
Perbedaan yang paling menyolok dari aliran hitam dan putih adalah dari jenis energi dan ilmu yang digunakan oleh tiap pendekar. Aliran hitam cenderung memanfaatkan energi hitam yang diperoleh dari mustika siluman dan mustika iblis, dan juga senjata racun yang menjadi ciri khas mereka. Energi hitam yang berasal dari siluman dan iblis itu bisa dikatakan selalu akan mempengaruhi watak pendekar yang mempelajarinya. Lambat laun, para pendekar yang mempelajari ilmu aliran hitam akan cenderung menjadi bengis dan kejam.
Sementara itu, pendekar aliran putih bukan berarti bisa dikatakan sebagai pendekar yang selalu baik hati dan suka mengampuni lawan-lawannya. Mereka bisa saja kejam, jahat, kasar, dan merupakan pembunuh berdarah dingin. Hanya saja mereka tak menggunakan energi yang berasal dari siluman dan iblis.
Di era setelah peperangan antara pendekar aliran hitam dan aliran putih, pertarungan yang terjadi antar keduanya selalu memakan korban. Pendekar aliran putih cendrung tak akan mengampuni lawan mereka dari aliran hitam, sebab jika dibiarkan hidup, maka mereka akan menimbulkan masalah bagi orang lain; mereka akan membunuh orang lebih banyak lagi.
Itulah sebabnya, bagi Jalu, Niken, dan hampir semua pendekar aliran putih, tak akan merasa menyesal apabila mereka harus menghabisi nyawa lawan-lawannya, terlebih jika lawannya adalah pendekar aliran hitam berilmu tinggi.
Keputusan Batari Mahadewi untuk tak membunuh pendekar Siluman Buaya itu menjadi perhatian Ki Bangun Jiwa yang sedari tadi melihat apa yang dilakukan oleh Batari Mahadewi. Guru dari perguruan Tongkat Sakti itu hanya bisa duduk bersila untuk menahan racun agar tak menyebar ke dalam tubuhnya. Tubuhnya semakin menggigil dan berwarna biru. Racun dari pendekar Siluman Buaya yang dikenal mematikan itu bekerja dengan sangat cepat dan kuat hingga tenaga dalam Ki Bangun Jiwa tak lagi bisa menahannya.
####
Sebelum teman-teman baca episode selanjutnya, saya mohon bantuan like dan komen dari teman-teman semua ya. Terimakasih banyak. GBU.
__ADS_1