
Batari Mahadewi berjalan santai menuju ke pusat keramaian kota, pasar. Di sana ia mengamati, dan mencuri dengar segala hal yang dibicarakan orang-orang, dari yang berbicara keras, hingga yang berbisik-bisik meski terpisah jarak yang teramat jauh.
Setidaknya, ada beberap hal penting yang ia tangkap dari pembicaraan rahasia dua orang pendekar aliran hitam yang sedang berada di sebuah gudang di pasar itu. Ada jaringan kelompok aliran hitam di kota ini. Apakah perguruan aliran putih mengetahui hal ini? Batin Batari Mahadewi. Ia terus melangkah, mencari makanan untuk dirinya dan kedua kakak seperguruannya. Di sebuah pojok pasar, ia melihat seorang ibu-ibu penjual makanan di pinggir jalan. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Apa kabar, ibu? Serasa lama sekali aku tak melihatmu.
Niken masih menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Jalu. Keduanya memandang ke arah yang sama, dua ekor burung yang sedang mematuk biji-bijian di bawah pohon. Sesekali sepasang burung itu melompat ke dahan, lalu kembali lagi ke rerumputan.
“Kau tahu, adik, suatu hari aku akan kembali ke istana.” Kata Jalu. Ia kembali terdiam.
“Ya, kakak telah mengatakannya beberapa kali.” Kata Niken. Hati gadis pendekar es itu sekali lagi berdesir. Ia tak tahu lagi harus bagaimana jika kelak Jalu akan meninggalkan perguruan, meninggalkan dirinya.
“Aku ingin kau ikut denganku, Niken.” Kata Jalu. Kalimat pendek itu membuat jantung Niken sesaat berhenti berdetak, lalu kemudian berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, dan terasa hingga ke ujung-ujung jarinya.
“Maksud kak Jalu?” Tanya Niken.
“Niken, berat bagiku untuk meninggalkanmu, bahkan sedetikpun. Jika aku tak mau kembali ke istana, hanya kaulah alasanku. Namun aku akan kembali jika kau mau ikut denganku.” Kata Jalu. Masih canggung baginya untuk mengatakan hal yang lebih sederhana seperti, ‘Aku mencintaimu Niken, maukah kau selalu bersamaku kemanapun aku akan pergi?’
Kini gentian Niken yang membisu. Ia tak tahu harus mengatakan apa meskipun hatinya telah ditumbuhi bunga berwarna-warni, yang jauh lebih banyak dari yang ia lihat di taman itu. Jantung Jalu berdegub ketika ia melihat Niken hanya diam membisu. Ia tahu benar konsekuensi dari ucapannya.
__ADS_1
“Adik, tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Jalu.
Niken masih gugup, dan tak tahu harus mengatakan apa, yang keluar adalah kegelisahan yang selama ini ia simpan. “Kenapa kak Jalu baru mengatakannya sekarang?” tanya Niken.
“Aku—aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya.” Jawab Jalu polos. Niken tersenyum memandang wajah Jalu. Air matanya menetes perlahan. Jemari jalu menggenggam erat jemari Niken. Keduanya membisu, membiarkan perasaan mengalir bersama hembusan angin yang dengan perlahan menggoyang dedaunan.
“Tapi, kak Jalu, apakah aku pantas bagimu? Bagi keluarga kerajaan? Apa yang akan dikatakan oleh kedua orang tuamu? Lalu bagaimana kita mengatakan hal ini kepada guru?” tanya Niken memecah keheningan yang damai itu.
“Soal orang tuaku, kau tak perlu khawatir. Tapi kalau soal bagaimana mengatakan kepada guru, kita pikirkan nanti.” Jawab Jalu.
“Sejak kapan kak Jalu menaruh hati padaku?” tanya Niken penasaran.
“Hahaha, kalau aku menolak kakak, lalu apa yang akan kakak lakukan?” tanya Niken.
“Mencoba lagi, mungkin, hahaha.” Kata Jalu. “Kenapa adik mau?” Jalu gantian bertanya.
“Karena aku tak mau cemburu!” kata Niken sambil tersenyum. Perkataannya sudah lebih dari cukup untuk menyatakan bahwa ia mencintai Jalu.
__ADS_1
Batari Mahadewi datang membawakan beberapa bungkus makanan. Ia tersenyum melihat kedua kakaknya tampak bahagia.
“Selamat ya kakak-kakakku tercinta.” Kata Batari Mahadewi.
“Selamat apanya, adik?” tanya Jalu pura-pura tak tahu.
“Ah, sudahlah, aku bisa mendengar apa yang kalian bicarakan dari pasar itu.” Kata Batari Mahadewi.
“Hah—apa yang tak bisa kami rahasiakan darimu, adik?!” kata Niken.
“Hahaha, tidak ada. Makanya aku tadi pergi mencari makanan. Tempat ini adalah tempt bagus untuk mengutarakan hal yang istimewa.” Batari Mahadewi menggoda kedua kakaknya itu.
Ketiganya makan makanan sederhana yang dibawa oleh Batari Mahadewi itu dengan suasana hati yang berbeda. Diam-diam Batari Mahadewi sedih ketika ia membayangkan hal buruk yang akan terjad di masa depan. Ia sungguh tak rela jika harus kehilangan keluarga kecilnya itu, dan semua orang yang ia sayangi.
“Aku menemukan jaringan aliran hitam di kota ini. Mereka merencanakan sesuatu. Malam ini akan ada serangan di beberapa perguruan kecil. Kurasa kita harus segera sampai di perguruan Lentera Merah dan membicarakan ini dengan paman Cakra Jagad.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiganya kemudian bergegas meninggalkan taman kota itu yang telah menjadi saksi bisu Jalu menyatakan perasaannya kepada Niken. Setelah melewati pasar, ketiganya melewati beberapa blok area rumah perkotaan, lalu sampai pada pinggiran kota yang lebih sepi dan lebih asri. Untuk menemukan perguruan Lentera Langit bukanlah hal yang sulit. Beberapa tanda di pasang di sudut-sudut jalan, menjadi petunjuk bagi pengembara untuk dapat dengan mudah menemukan berbagai lokasi penting di kota itu.
__ADS_1
Ketika ketiga murid ki Gading Putih itu sampai di tepi sungai kecil yang membelah kota dan melewati jalan setapak kecil di pinggir sungai itu, Batari Mahadewi melihat sosok yang terbang dengan kecepatan kilat di langit menuju ke arah barat. Matanya bisa dengan jelas melihat sosok tua dengan pakaian serba putih yang tak disadari oleh Jalu dan Niken.