
Di dunia satu rembulan, kerajaan Swargadwipa sedang dalam masa-masa genting. Perang besar telah menanti di depan mata. Kerajaan Swargabhumi telah memindahkan sebagian besar prajuritnya di daerah perbatasan. Pada saat yang sama, Mahapatih Siung Macan Kumbang juga telah menyiapkan pasukan dalam jumlah besar di kota Mutiara Biru; kota yang semula penuh dengan kedamaian dan keindahan itu sebentar lagi akan menjadi medan laga yang mengerikan.
Sebagian besar warga sipil telah dipindahkan ke wilayah lain, ke desa-desa kecil dan pemukiman sementara untuk menghindari timbulnya banyak korban. Sebagai gantinya, kota Mutiara Biru telah menjadi tempat tinggal bagi puluhan ribu prajurit gabungan dari Swargadwipa, Swargaloka dan Madyabhumi. Gabungan pasukan itu dipimpin langsung oleh Mahapatih Siung Macan Kumbang.
Sementara Mahapatih Siung Macan Kumbang berada di kota Mutiara Biru, tugas-tugas yang harus ia selesaikan di kerajaan Swargadwipa diambil alih oleh Bujang, yang cukup mahir dalam hal strategi dan pertahanan kerajaan. Jalu lebih memilih untuk terjun langsung di lapangan.
Bersama dengan Niken, Jalu memimpin tigapuluh ribu prajurit yang ditempatkan di kota Dhyana, sebab kota itu merupakan kota tua yang harus dilindungi, sekaligus menjadi jalur yang akan mungkin dilewati oleh pasukan Swargabhumi jika ingin sampai ke Swargadwipa tanpa harus menembus hutan lebat yang sudah pasti akan menyulitkan mereka meski jalur itu adalah jalur yang lebih dekat.
Ada rasa lega dalam benak Jalu sebab ia bertugas di kota Dhyana, selain ia telah mengenal baik kakek Agrapana, dalam situasi darurat, kuil suci kota Dhyana bisa menjadi tempat yang paling aman untuk melarikan diri karena di sana, kakek Agrapana adalah penguasanya.
Anjani, Cendana, dan Pradipa bertugas untuk membantu Buyung mengatur sistem pertahanan terakhir di istana Swargadwipa. Di sana telah tersedia ratusan ribu prajurit gabungan, jumlah paling besar yang dikerahkan oleh ketiga aliansi kerajaan itu sebab jika Swargadwipa runtuh, maka kerajaan Swargaloka dan Madyabhumi juga bisa dipastikan akan runtuh.
Sikap diam dari kerajaan Mahatmabhumi membuat geram kerajaan-kerajaan aliansinya sebab dengan tak memberikan dukungan apapun, itu sama halnya kerajaan Mahatmabhumi telah menyalahi kesepakatan aliansi keempat kerajaan wilayah timur. Tentunya berita itu juga terdengar oleh kerajaan-kerajaan pihak barat dan hal itu akan menjadi keuntungan besar yang artinya perang tersebut akan menjadi perang antara tiga kerajaan melawan lima kerajaan. Sungguh kekuatan yang tidak sebanding dalam hal jumlah kekuatan.
__ADS_1
Jauh-jauh hari sebelum pemindahan prajurit ke wilayah perbatasan, Ki Gading Putih telah melanglang buana ke seluruh wilayah kerajaan yang ada di pulau Mahabhumi untuk bersepakat kepada seluruh pendekar aliran putih golongan tua untuk tidak ikut campur dalam peperangan yang akan terjadi. Semua sepakat dan hal itu membuat lega Ki Gading Putih.
Alasan yang membuat para tetua pendekar aliran putih dari semua perguruan di Mahabhumi bersepakat untuk tak turun ke medan laga bukan karena semata-mata Ki Gading Putih bisa membuat mereka yakin bahwa kelak akan ada bangsa raksasa yang menyerang, namun untuk menjaga nafas perguruan aliran putih ketika jumlah mereka berkurang banyak akibat perang. Setidaknya, mereka masih punya tiang penyangga perguruan yang akan berjaga-jaga dari serangan aliran hitam yang selanjutnya. Dengan kata lain, para sesepuh aliran putih itu tak ingin perguruan yang mereka dirikan ikut punah seiring dengan peperangan yang akan terjadi.
Selebihnya, tiap-tiap sesepuh itu hanya boleh terlibat apabila perguruan mereka menjadi sasaran medan pertempuran dan hanya sebatas untuk menjaga perguruan mereka. Tak lebih. Berita itu sudah cukup membuat raja Srengenge Ireng bernafas lega, sebab satu tetua perguruan bela diri saja sudah bisa menelan banyak korban prajurit yang hanya bisa mengumpulkan keberanian untuk menebaskan pedang ke tubuh lawan, atau menyerahkan nyawanya demi bumi pertiwi. Perang selalu menyedihkan dan rakyatlah yang menjadi korbannya.
####
Di kota Dhyana, Jalu dan Niken beserta para senopati yang menjadi bawahan mereka mengajak para prajurit untuk berlatih meditasi. Mereka semua belum tahu kapan perang akan dimulai. Mereka hanya tahu bahwa perang sebentar lagi akan pecah, tinggal menunggu pasukan Swargabhumi bergerak terlebih dahulu sebagaimana telah dititahkan oleh sang Mahapatih bahwa pasukan Swargadwipa beserta aliansinya tak akan menyerang terlebih dahulu.
Dengan latihan meditasi itu, secara mental, pasukan yang dipimpin oleh Jalu dan Niken memiliki keberanian yang lebih untuk menyongsong kematian, serta keyakinan yang lebih bahwa mereka bisa menciptakan kehidupan yang lebih baik. Latihan mental melalui meditasi itu juga secara tak langsung meningkatkan pengetahuan para prajurit untuk lebih mendalami dan memahami ilmu kanuragan dan ilmu perang yang selama ini telah mereka latih.
Perang yang akan terjadi tak akan selesai dalam hitungan hari. Perang besar semacam itu bisa memakan waktu berbulan-bulan, atau bahkan hingga setahun penuh sebab para prajurit akan melumpuhkan satu-per satu kota-kota di area musuh untuk didirikan benteng pertahanan baru dan menghimpun ulang kekuatan sebelum mereka kembali menyerang hingga ke jantung lawan. Perang bisa dikatakan selesai jika kepala salah satu raja yang bersangkutan telah terpenggal, dan kerajaan aliansinya menyatakan menyerah dengan mematuhi segala macam syarat, seperti misalnya menanggung semua biaya perang dari pihak yang menang.
__ADS_1
Jalu dan Niken tak sepenuhnya yakin Swargadwipa bisa lolos dari maut. Namun keduanya tak gentar dengan kematian, apabila keduanya harus mati di medan laga. Di altar suci, Jalu dan Niken sedang berbincang. Sejak kedatangannya bersama para pasukan di kota Dhyana, mereka berdua belum sempat bercakap-cakap lama dengan sang kakek pertapa penghuni kuil suci itu, sebab kakek Agrapana juga ikut serta dalam memberikan arahan dan wejangan kepada Adipati Arcabumi, pemimpin kota Dhyana, untuk mengatur jalannya pemerintahan selama tiga puluh ribu prajurit akan tinggal di sana.
“Kak Jalu yakin kita bisa melewati semua ini?” tanya Niken.
“Aku hanya yakin akan selalu bersamamu. Kita berdua harus selamat. Jangan memaksakan diri untuk mati jika kita memang kalah. Tapi aku yakin, kota ini adalah kota yang tak akan ditaklukkan oleh Swargabhumi.” Kata Jalu.
“Berarti kita tak akan kembali ke kota Swargadwipa jika misalnya pasukan Swargabhumi lebih memilih untuk tak menyerang kota ini?” tanya Niken.
“Dalam perang, kita harus setia dengan tugas kita. Kita di tugaskan untuk menjaga kota ini. Apapun yang terjadi, kita tak boleh membawa pasukan untuk membantu peperangan di kota lain, kecuali kita mendapatkan perintah langsung dari paman patih atau baginda raja. Tentu saja, kita akan kembali ke Swargadwipa jika seluruh kekuatan Swargabhumi telah sampai di sana tanpa melewati kota ini. Kita akan menjadi pasukan yang memukul mereka dari belakang.” Kata Jalu.
“Andai saja adik Tari ada di sini, aku yakin ia akan menjadi panglima perang yang tak akan terkalahkan.” Kata Niken.
“Sebenarnya aku punya rencana, itulah sebabnya aku memilih untuk bertugas di sini, bersamamu.” Kata Jalu. “Kakek Agrapana punya sesuatu untuk kita berdua.”
__ADS_1
Niken masih belum paham. Tapi ia sedikit lega melihat wajah dan sorot mata Jalu yang penuh dengan keyakinan itu. 'Badai pasti berlalu,' kata Niken dalam hati.