Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 294 Tiba Di Kota Kerajaan Mahatmabhumi


__ADS_3

Batari Mahadewi pamit dari perguruan Selendang Merah. Ia melesat melewati lautan dan langsung menuju ke kota pesisir yang tak jauh dari pulau Perawan itu. Nala masih setia menunggu, seperti patung yang tak tertarik pada apapun, kecuali kedatangan kekasihnya itu.


Begitu Batari Mahadewi sudah datang, barulah ekspresi wajah lelaki itu yang semula tampak dingin berubah menjadi hangat. Entah kenapa, meski sudah menjadi pasangan, jantungnya selalu berdebar-debar jika ia bertemu setelah berpisah sebentar saja. Padahal setelah bertemu, mereka juga tak melakukan hal istimewa.


“Bagaimana? Apakah Nyi itu berhasil menggunakan selendang pusakanya?” tanya Nala.


“Ya, semua berjalan sesuai harapan. Beliau memberikan beberapa mustika sebagai hadiah. Kita bisa menggunakannya nanti untuk entahlah,” kata Batari Mahadewi.


“Di kotak pemberian siluman naga laut ini masih ada banyak persediaan. Kita tak perlu repot-repot lagi mencari benda-benda ini dalam untuk beberapa pusaka baru yang akan kita buat nantinya,” kata Nala.


“Bagus. Tetapi kotak besar ini sungguh menarik perhatian,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, tadi banyak orang yang menanyakannya dan ingin tahu apa isinya. Aku bilang isinya ular beracun. Hahaha, tak masalah, aku bisa menggendong kotak ini di punggungku,” kata Nala. Kotak batu yang seberat dua ekor gajah itu memang menarik perhatian banyak orang, selain bentuknya yang indah, kotak itu juga memancarkan kekuatan yang pasti akan memancing perhatian para pendekar. Namun meski Nala meninggalkannya begitu saja, kotak itu tak akan dicuri orang. Selain berat, kotak itu tak bisa di buka oleh orang-orang yang tak memiliki kekuatan sebesar siluman naga laut.


“Jadi sekarang, kita lanjutkan perjalanan mencari Ki Rangga Suluk,” kata Batari Mahadewi.


“Kau tahu dimana ia tinggal?” tanya Nala.


“Ya, Nyi Lohita memberitahuku. Saat ini ia tinggal di kota kerajaan. Di sana ia dikenal sebagai seniman. Ia tak membuka perguruan beladiri, melainkan membuka sanggar kesenian, mengajarkan tari-tarian dan juga musik. Meski begitu, ia juga mempunyai beberapa murid yang ia jadikan pendekar,” kata Batari Mahadewi.


“Sepertinya ia orang yang menarik, ayo kita segera kesana!” kata Nala penuh semangat.


****

__ADS_1


Wilayah Kota kerajaan Mahatmabhumi memang jauh lebih ramai dari daerah lainnya. Seperti yang mereka duga, peradaban memusat di kota kerajaan itu yang luasnya bahkan jauh melebihi kota kerajaan Swargadwipa.


Selain padat dengan toko-toko, memiliki pasar besar di empat penjuru wilayah, kedai dan penginapan, di sana juga banyak terdapat perguruan beladiri dan sanggar kesenian yang saat itu merupakan semacam sekolah yang umum. Di perguruan beladiri ataupun sanggar kesenian, murid-murid memang tak hanya belajar kanuragan atau kesenian saja, melainkan memperlajari banyak hal yang terkait dengan kehidupan.


“Kota yang menarik. Aku selalu suka suasana seperti ini,” kata Batari Mahadewi.


“Karena banyak kedai makan! Hahaha, aku tahu apa yang kamu pikirkan,” kata Nala.


“Jika sudah tahu, saatnya kau mengajakku ke salah satu kedai yang terlihat meyakinkan. Aku mau makanan enak,” kata Batari Mahadewi.


“Sudah kuduga. Ayolah, di depan sana sepertinya menyediakan masakan enak.” Nala mengajak kekasihnya itu berjalan santai menuju kedai dengan bangunan tingkat tiga. Sebuah kedai yang besar dan selalu ramai.


“Selamat datang tuan dan nona, mari silahkan masuk. Tetapi maaf, lantai bawah sudah penuh, hanya ada lantai paling atas, tetapi ada biaya tambahan untuk tempat itu,” kata pelayan kedai yang tampaknya mata duitan itu. Wajar saja, kedai itu tempat langganan orang-orang kaya dan orang penting saja. penampilan Batari Mahadewi dan Nala memang tampak seperti pasangan yang tidak kekurangan uang, sehingga pelayan itu menawarkan tempat paling mahal meski sebenarnya di lantai bawah juga masih ada ruang tersisa.


“Tak masalah,” jawab Nala singkat. Uang memang bukan masalah semenjak Nala bisa mengubah batu menjadi emas atau perak secara permanen.


“Tunggu sebentar, di atas berlantai kayu, bukan?” tanya Nala.


“Tentu, tuan, apakah ada masalah tuan?” tanya pelayan itu.


“Tidak. Hanya saja, aku ingin menitipkan kotak ini di bawah, apakah boleh?” tanya Nala.


“Dengan senang hati. Akan kami jaga dengan nyawa kami, tuan,” kata pelayan itu. Nala meletakkan kotak batu super berat itu di salah satu sudut lantai bawah, lalu ia mengikuti pelayan itu naik ke lantai tiga. Memilih salah satu tempat yang berada di pinggir sehingga ia dan Batari Mahadewi bisa melihat pemandangan di bawah. Lantai tiga itu sepi, hanya ada mereka berdua. Harganya tentu saja mahal, dan biasanya menjadi tempat para pejabat kerajaan atau orang-orang besar yang punya banyak uang saja yang sedang ingin makan dan mendapat hiburan di sana.

__ADS_1


“Tuan dan Nona ingin pesan apa?” tanya pelayan itu.


“Menu terbaik yang kalian miliki, suguhkan semua di sini,” kata Nala. Gayanya lumayan juga, cocok untuk menjadi bangsawan muda yang sedikit congkak dan hal itu membuat Batari Mahadewi menahan tawa.


“Akan kami siapkan secepatnya, Tuan dan Nona, mohon ditunggu sebentar, saya akan panggilkan para pemusik dan penari kami untuk menghibur tuan dan nona sembari menunggu makanan siap,” kata pelayan itu. Ya, layanan ekstra itulah yang membuat lantai tiga hanya bisa ditempati oleh orang-orang kaya.


“Apa yang kau tertawakan, Tari?” tanya Nala.


“Hahaha, kau mirip pengusaha sombong ketika memesan makanan tadi. Maafkan aku, sayang, aku tak bisa menahan tawa kali ini!” Batari Mahadewi tertawa terpingkal-pingkal sampai sekelompok penghibur itu sampai di atas, berjalan menuju panggung kecil yang ada di sana, lalu mulai memainkan musik. Empat penari muda yang cantik mulai menari dengan gemulai. Jika tamu mereka semua lelaki, pasti penari itu tak hanya menari di sekitar panggung saja.


“Lihat itu Nala, para penarinya cantik semua, dan mengenakan pakaian yang sungguh menggoda. Kamu tak berminat melihatnya?” goda Batari Mahadewi.


“Aku lebih berminat melihat wajahmu,” kata Nala.


“Bilang saja kau takut padaku sehingga kau tak melirik para penari itu!” Batari Mahadewi menyeringai memperlihatkan kedua taring imutnya itu. Dua taring yang belum pernah meminta korban. Dua taring itu sebenarnya adalah senjatanya yang sangat ampuh untuk menghabisi lawannya yang terkuat sekalipun yang pernah ia hadapi. Hanya karena ia jijik menggigit lawan-lawannya, maka kedua taring itu hanya berfungsi untuk menakut-nakuti Nala. Ia kembali tertawa puas melihat lelakinya itu merasa serba salah. Ta terlihat begitu cantik ketika sedang tertawa lepas.


Tak lama kemudian, seorang pelayan masuk mengantarkan hidangan pembuka. Semangkok sup. Hanya kuah saja yang beraroma harum, apabila diminum akan membangkitkan rasa lapar dan selera makan yang hebat. Mula-mula gadis jelmaan pusaka dewa itu kaget karena menu yang dipesan hanya dua mangkok air, namun ia akhirnya mengerti bahwa menu itu hanyalah hidangan pembangkit selera sembari menunggu hidangan utama siap disajikan.


Keempat penari itu selesai membawakan satu tarian. Mereka merasa sungkan untuk mendekati dua tamunya itu terlebih karena ada sosok perempuan yang jauh lebih cantik dari mereka. Setelahnya, mereka tak lagi menari, melainkan menyanyikan lagu-lagu romantis diiringi dengan lantunan alat musik yang dimainkan oleh enam pemain musik laki-laki.


“Nala, sepertinya kita akan membayar cukup mahal untuk hidangan dan hiburan ini,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, mungkin segepok emas. Tenang saja, lagipula aku adalah tambang emas untuk menyenangkan rasa laparmu,” kata Nala.

__ADS_1


Tak lama kemudian, satu rombongan orang naik ke lantai tiga. Ada empat orang yang terlihat seperti pejabat kerajaan, dan seorang lelaki tua yang hanya dengan mengenakan pakaian sederhana namun ia tak bisa menyembunyikan wibawanya. Rombongan itu memilih tempat duduk yang paling jauh dari Batari Mahadewi dan Nala. Mungkin karena tak ingin pembicaraan mereka terdengar oleh orang lain.


Hidangan utama yang dipesan Nala telah datang. Butuh dua meja untuk bisa menampung seluruh hidangan itu. Pelayan kedai tak mau tahu jika kedua tamunya itu tak bisa menghabiskan makanan itu. Yang penting, mereka telah menghidangkan seusai dengan apa yang telah dipesan oleh Nala, yakni semua jenis hidangan terbaik di kedai itu. Tentu saja, makanan di dua meja itu menjadi pemandangan yang janggal bagi rombongan orang yang baru saja tiba itu. Dari sanalah, sosok lelaki tua berwibawa itu mulai memperhatikan Batari Mahadewi dan Nala dengan seksama. Ia tahu bahwa Nala adalah pendekar aliran hitam.


__ADS_2