Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 31 Kelabang Iblis


__ADS_3

Di sisi timur, pasukan Kelabang Iblis mulai bergerak. Berbeda dengan Kelompok Kelelawar Hitam, kelompok Kelabang Iblis merupakan kumpulan pendekar hitam yang dikenal sangat bengis dan kejam. Mereka juga sangat menguasai medan pertempuran.


Saat pendekar Kelabang Iblis menangkap pancaran energi dari Kelelawar Hitam, saat itulah ia mulai menyerang. Ia dan anak buahnya melenting melompati tembok sembari melemparkan serangan jarum dan pisau beracun ke arah prajurit yang sedang menunggu mereka.


Para prajurit Balai Kota dibawah komando Jalu yang tak siap dengan kedatangan jarum dan pisau beracun itu langsung menggelepar meregang nyawa. Jalu tak menduga dengan serangan racun itu. Ia sangat marah karena tak bisa melindungi para prajurit yang ia pimpin.


Sebagai balasannya, ia mengerahkan serangan hujan api kepada lawan-lawannya. Tak sedikt dari pasukan Kelabang Iblis yang terbakar sembari melolong panik. Kelabang Iblis tak menyangka bahwa ada pendekar berilmu tinggi yang telah bersiap menungggunya.


“Boleh juga kemampuanmu anak muda, siapa namamu?” tanya Kelabang Iblis.


“Tak ada salahnya memperkenalkan diri sebelum aku membunuhmu. Aku Jalu, Pendekar Tubuh Api, murid ke empat Ki Gading Putih dari Padepokan Cemara Seribu. Senang bisa bertarung denganmu, Pendekar Kelabang Iblis.” Kata Jalu.


“Aku baru kali ini mendengar namamu meski aku tahu siapa gurumu. Baiklah, aku anggap kau pendatang baru. Aku tak akan segan membunuhmu.” Kata Kelabang Iblis.


Kelabang Iblis melesat dengan kecepatan tinggi menyerang Jalu dengan serangkaian pukulan dan tendangan. Jalu menangkis tiap-tiap serangan pembuka itu, lalu ia membalas dengan pukulan-pukulan ringan yang meninggalkan asap mengepul dari arena mereka bertarung.


Meski mereka berdua masih melakukan pemanasan, dan menikmati pertarungan itu, namun Kelabang Iblis tak henti-hentinya menebarkan racun dalam setiap serangannya. Sementara itu, Jalu masih bermain-main dengan tangan apinya untuk mengibaskan racun-racun yang dilontarkan oleh Kelabang Iblis.


“Hanya seperti itukah jurus-jurusmu? Kudengar kau adalah salah satu pendekar hitam yang berilmu tinggi!” Kata Jalu sambil berusaha memancing emosi lawannya. “Jangan sampai kau kalah dengan anak ingusan ini. “ Sambung Jalu.


“Bedebah, jaga bicaramu anak muda. Kali ini aku akan menyerangmu dengan sungguh-sungguh.” Tepat setelah Kelabang Iblis menyelesaikan ucapannya, ia melakukan putaran dengan sangat cepat, menebar racun serta melontarkan ratusan kelabang merah yang membuat Jalu tak habis pikir.


‘Hah…dari mana kelabang-kelabang ini?’ Jalu langsung melompat tinggi, lalu melontarkan gelombang api dan membakar ratusan kelabang yang mengarah padanya. Bau serangga panggang tercium di udara. Begitu ia selesai melenyapkan kelabang-kelabang itu, ia kehilangan sosok Kelabang Iblis yang tadinya ada di depannya.

__ADS_1


Begitu Jalu menyadari sosok kelabang Iblis telah lenyap, ia mendapatkan pukulan yang keras di punggungnya. Ia langsung jatuh dan muntah darah. Racun Kelabang Iblis bekerja dengan kuat. Jalu seketika mengalirkan tenaga dalam untuk menghambat racun yang bersarang di punggungnya itu. Matanya berkunang-kunang.


“Sekarang baru tahu rasanya pukulan racunku, bukan?!” Kata Kelabang Iblis menyombongkan diri. Kelabang Iblis bersiap untuk melakukan serangan keduanya untuk menghabisi nyawa Jalu.


Ketika Jalu dan Kelabang Iblis melangsungkan pertarungan, di area depan, Batari Mahadewi mulai kesulitan menghadapi kesaktian pendekar Bayangan Siluman.


Kesalahan utama pendekar Bayangan Siluman adalah meremehkan Batari Mahadewi sejak awal. Kini ia mulai menyerang dengan berbagai jurus-jurus pamungkasnya. Dengan kecepatan tinggi Bayangan Siluman maju menyerang Batari Mahadewi dan ketika serangan itu ditangkis, seketika bayangan siluman menggandakan diri, satu berada di depan dan satu di belakang.


Batari Mahadewi beberapa kali mendapatkan pukulan bertubi-tubi. Semestinya ia telah mati mendapatkan beberapa pukulan dengan kekuatan tinggi dari Bayangan Siluman. Namun Batari Mahadewi beruntung sebab segel ke empat yang telah terbuka itu memungkinkan tubuhnya untuk bisa bertahan terhadap serangan-serangan bertenaga besar.


Hanya saja Batari Mahadewi tak tahu kapan batas energinya akan berakhir jika ia harus menerima pukulan bertubi-tubi dengan ilusi-ilusi yang baru saja ia alami itu. Bagaimanapun juga, Batari Mahadewi masih sangat pemula dalam pertarungan jika dibandingkan dengan Bayangan Siluman yang telah ratusan kali mencabut nyawa lawan-lawannya dan telah puluhan kali hampir mati di tangan lawan-lawannya.


Pendekar Bayangan Siluman itu juga heran dengan kekuatan Batari Mahadewi sebab semestinya pukulan yang ia lontarkan itu sangat mematikan, namun seolah tubuh Batari tak merasakan dampak yang terasa buruk.


Batari Mahadewi seolah sia-sia saja menggunakan jurus-jurusnya meskipun sebenarnya ia bisa mematahkan jurus lawannya dengan ilmu cahaya matahari menembus samudera. Namun konsentrasinya sungguh kacau saat itu sebab ia juga menangkap pancaran energi Niken yang tiba-tiba melemah, serta pencaran tenaga Jalu yang kian meredup.


Di saat yang genting itu, tiba-tiba seberkas cahaya keemasan dengan energi yang sangat kuat menembus serta menepis bayangan hitam yang menyelubungi tubuh Batari Mahadewi. Ki Sura, muncul tepat pada waktunya.


“Paman guru,” pekik Batari Mahadewi.


“Tua Bangka sialan!” Teriak Bayangan Siluman.


“Semestinya kau malu, Bayangan Siluman! Hadapilah lawan yang setara denganmu.” Kata Ki Suro dengan tenang. Tubuhnya memancarkan cahaya keemasan, menandakan puncak pencapaian tertinggi dari Ilmu matahari yang belum sepenuhnya bisa dipergunakan dengan baik oleh Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Sial! Kenapa kau ada di sini?!” Kata Bayangan Siluman.


“Beberapa kali kau meloloskan diri dariku. Kini aku tak akan membiarkanmu hidup.” Kata Ki Suro. “Batari, kau harus segera menyusul saudaramu. Mungkin ia sedang dalam masalah. Akan kutangani makhluk siluman ini.”


“Baik Paman.” Kata Batari Mahadewi. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya dan segera melesat ke sisi timur untuk melihat situasi pertarungan Jalu melawan Kelabang Iblis.


Batari Mahadewi datang tepat ketika Kelabang Iblis melancarkan serangan keduanya untuk mengabisi Jalu. Dengan sigap, Batari Mahadewi melaju dengan kecepatan cahaya sehingga kedatangannya merupakan kejutan bagi Kelabang Iblis.


Batari Mahadewi melancarkan serangkaian serangan jurus matahari menyibak hujan yang tak dapat ditangkis oleh Kelabang Iblis sehingga tubuhnya terpental jauh ke belakang.


Segera saja Batari Mahadewi menghampiri saudaranya yang kehilangan banyak tenaga untuk menangkal racun dalam tubuhnya. Batari Mahadewi menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Jalu. Tak ia sangka, kuku-kuku pada jemari tangannya mendadak mengeluarkan cahaya keemasan dan dengan sendirinya menghisap seluru racun pada tubuh Jalu bahkan sebelum Batari Mahadewi menggunakan energinya untuk membantu Jalu.


Hal itu merupakan pertamakalinya Batari Mahadewi mengetahui fungsi lain dari perubahan dirinya setelah segel ke empat dalam tubuhnya terbuka. Kuku emasnya itu tak hanya menyerap racun, namun juga mengubah racun itu menjadi energi yang bisa ia serap untuk kemudian ia alirkan ke tubuh Jalu.


Kuku emas Batari Mahadewi tak menampakkan fungsinya untuk menyerap racun karena dalam pertarungan sebelumnya melawan Bayangan Siluman, ia sama sekali tak mendapatkan serangan racun karena Bayangan Siluman memang bukan pendekar racun dari golongan hitam.


Kelabang Iblis menggunakan kesempatannya untuk memulihkan energi sewaktu Batari Mahadewi sibuk menolong Jalu. Ia masih belum berniat melarikan diri karena ia yakin bahwa ia tadi hanya tidak siap menghadapi serangan Batari Mahadewi yang begitu tiba-tiba dan sangat cepat.


“Boleh juga kemampuanmu, gadis kecil! Tapi coba lihat, apakah sekarang kau mampu menahan seranganku?!” Kelabang Iblis berniat menggunakan jurus Pukulan Racun Kelabang, yakni sejenis pukulan beracun yang berdaya hentak tinggi. Sekalipun lawan bisa bertahan dengan lontaran tenaga dalam dari pukulan ini, namun racun bertenaga dalam yang dilontarkan bisa menjadi malapetaka.


Batari Mahadewi menangkap pancaran energi yang kuat dari tubuh Kelabang Iblis, ia menduga bahwa kelabang iblis akan melontarkan salah satu jurus andalannya. Batari Mahadewi menghimpun tenaganya dan bersiap menggunakan Pukulan Matahari dengan energi penuh untuk menangkis sekaligus menghancurkan serangan lawan.


“Bersiaplah menyambut pukulanku, gadis kecil!” Kata Kelabang Iblis. Kemudian ia melesat, mengarahkan telapak tangan kanannya menuju Batari Mahadewi.

__ADS_1


__ADS_2