
Kitab Obat Dewa merupakan sebuah kitab yang pernah ditulis oleh mendiang istri Ki Cakra Jagad lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Istri Ki Cakra Jagad merupakan seorang pendekar perempuan yang bergelar pendekar Nafas Hidup. Julukan itu disematkan kepadanya karena kemampuannya menciptakan berbagai jenis obat untuk bermacam-macam jenis penyakit dan berbagai jenis racun.
“Rupanya guru kalian menapati janjinya. Kitab ini sempat menjadi benda yang diperebutkan di dunia persilatan. Setelah kitab ini selesai ditulis oleh mendiang istriku, pendekar aliran hitam dari berbagai wilayah terus menerus berdatangan untuk merebut kitab ini. Keberadaannya akan sangat merugikan pendekar ilmu hitam yang mengandalkan racun-racunnya untuk mengalahkan lawan.
Suatu hari, ratusan pendekar hitam dari kelompok Raja Iblis datang dan menyerang kami berdua. Kami tak sanggup melawan pendekar sebanyak itu berdua saja. Istriku meninggal pada saat itu dan aku terluka parah. Guru kalianlah yang menyelamatkan nyawaku. Sejak saat itu, guru kalian mengejar kelompok Raja Iblis, menghancurkan kelompok itu dan mengejar pendekar Raja Iblis yang membawa lari kitab Obat Dewa.
Guru kalian berhasil membunuh pendekar Raja Iblis yang mengerikan itu di sebuah bukit di dekat hutan Cemara Seribu. Sejak saat itu, ia memilih untuk tinggal di sana dan mendirikan desa. Ia tak menampakkan diri lagi ke dunia persilatan. Tak kusangka ia menyimpan kitab ini hingga saat ini.” Ki Cakra Jagad menyelesaikan ceritanya. Air matanya meleleh.
Kitab Obat Dewa itu merupakan benda yang sangat berharga baginya. Bukan semata-mata kerena isinya, namun karena kitab itu adalah buah pikir warisan istrinya. Setidaknya, kitab itu mencangkup seluruh pengetahuan tentang berbagai jenis racun dari berbagai perguruan hitam di pulau Mahabhumi dan pengetahuan tentang jenis-jenis bahan yang bisa digunakan untuk menangkal racun.
“Terimakasih, kalian telah menjaga dan mengantarkan kitab ini kepadaku. Jika kalian tak keberatan, menginaplah di sini barang beberapa hari. Aku akan mengenalkan kalian kepada semua muridku di sini.” Kata Ki Cakra Jagad.
Hari beranjak petang. Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya beristirahat di wisma tamu perguruan Lentera Langit. Ketika malam tiba, seluruh murid dan guru di perguruan Lentera Langit mengadakan makan bersama di pelataran utama. Semua meja dan kursi telah tertata rapi. Dengan penerangan dari cahaya lampu minyak kelapa yang ditata berderet-deret, suasana di bawah langit malam yang cerah itu tampak memukau.
__ADS_1
Ki Cakra Jagad membuka acara itu dengan pidato pendek. Ia berbicara perlahan, namun suaranya bisa terdengar sangat jelas oleh semua orang di peguruan Lentera Langit. Acara dadakan itu sekaligus untuk menyambut dan memperkenalkan ketiga murid dari padepokan Cemara Seribu; Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken. Jika bukan karena kitab Obat Dewa, mungkin sambutannya tak akan semeriah itu.
Seusai makan malam, Ki Cakra Jagad mengundang Batari Mahadewi, Jalu, Niken, dan beberapa orang yang merupakan guru pilihan di perguruan itu untuk membicarakan sesuatu di ruang pertemuan rahasia di perguruan Lentera Langit.
“Malam ini, jika benar berita yang disampaikan oleh Batari Mahadewi, maka akan ada serangan dari pendekar aliran hitam ke salah satu perguruan kecil di kota ini. Maka, kita tak bisa tinggal diam. Malam ini aku meminta bantuan kalian untuk menyebar ke beberapa perguruan yang mungkin akan di serang. Jangan gegabah dalam melakukan tindakan. Kita tak tahu seberapa besar kekuatan lawan. Jika kelompok aliran hitam itu menyerang ke perguruan yang kalian awasi, maka segera cari bantuan. Nyalakan benda ini.” Kata Ki Cakra Jagad.
Setelah itu, Ki Cakra Jagad membagi murid-murid pilihan yang bersamanya menjadi beberapa kelompok. Ia menyerahkan beberapa bumbung kembang api. Apabila bumbung itu dinyalakan, maka akan terlontar bola cahaya ke langit. Bola itu akan menjadi tanda agar batuan datang ke sana.
Ketiga murid Ki Gading Putih itu berjalan perlahan menyusuri jalan gelap menuju perguruan Bangau Emas, sebuah perguruan yang hanya beranggotakan para pendekar perempuan. Jalanan di wilayah pinggiran kota tak seramai pusat kota. Bisa dibilang saat malam hari, wilayah tepi kota itu sangat sepi. Rumah-rumah tak sepadat pusat kota.
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken telah sampai tak jauh dari perguruan Bangau Emas itu. Ketiganya bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan pohon, menunggu hal-hal yang mungkin akan terjadi.
Tak ada pergerakan yang terjadi selama ketiganya menunggu di sana. Batari Mahadewi menajamkan semua inderanya untuk menangkap aktivitas di dalam perguruan itu. Sunyi, hanya ada beberapa orang saja yang sedang melakukan meditasi. Aroma wewangian yang berasal dari asap kemenyan peguruan Bangau Emas, tipis tercium oleh Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken.
__ADS_1
Wewangian itu sering digunakan dalam meditasi. Tujuannya bukanlah untuk mengundang roh halus, namun untuk menenangkan pikiran dalam meditasi. Meski demikian, tak jarang ada roh halus yang datang. Setidaknya, Batari Mahadewi melihat beberapa jenis makhluk halus yang berputar-putar di sekitar perguruan Bangau Emas. Pemandangan semacam itu sudah biasa ia alami sejak usianya masih dibawah 5 tahun. Namun, ia sangat jarang menceritakan hal yang ia lihat yang tak bisa dilihat oleh orang lain.
Batari Mahadewi menajamkan kembali inderanya ke jangkauan paling jauh yang bisa ia jangkau. Dari arah selatan, Batari Mahadewi menangkap pancaran energi yang bergerak cepat. Ia masih menunggu dan tak hendak memberitahukan yang ia tahu kepada kedua kakaknya itu. Ketiganya sama sekali tak berbicara sepatah katapun agar kehadiran mereka di balik rimbunnya dedaunan pohon itu tak terlacak oleh siapapun, terutama oleh para pendekar Bangau Emas.
Selang beberapa saat kemudian, terlihat bola api berwarna merah melayang diangkasa. Batari Mahadewi, jalu dan Niken langsung tanggap. Ketiganya langsung melesat dengan kecepatan tinggi ke arah bola api yang masih menyala di langit itu.
Lokasi yang diserang oleh pendekar aliran hitam pada malam itu adalah perguruan Tongkat Sakti, sebuah perguruan yang terletak tak jauh dari sebelah selatan perguruan Bangau Emas. Yang cukup mengejutkan, serangan itu dilakukan oleh hampir seratus pendekar aliran hitam yang dipimpin oleh pendekar Buaya Siluman, seorang pendekar aliran hitam yang sebagian tubuhnya merupakan tubuh buaya yang ia dapatkan dengan cara menyerap energi dari mustika siluman buaya.
Dengan tubuh setengah siluman itu, pendekar Buaya Siluman merupakan pendekar tangguh yang kebal dengan berbagai jenis senjata sakti. Ketika Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya tiba di sana, kekacauan sudah dimulai. Beberapa korban telah tergeletak di tanah dan tak akan pernah bisa menghirup nafas lagi untuk selamanya.
####
Terimakasih sudah membaca hingga sejauh ini teman-teman. Apabila tidak keberatan, mohon bantuan like dan komennya ya. Selamat membaca episode berikutnya.
__ADS_1