Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 88 Kedatangan Nala Dan Vidyana


__ADS_3

Batari Mahadewi, Jalu dan Niken pamit dari perguruan Lentera Langit setelah mengantarkan titipan dari Ki Gading Putih. Seperti yang pernah mereka rencanakan sebelumnya, seusai menyelesaikan tugas dari sang guru, mereka bertiga ingin berkunjung ke kota kerajaan Swargadwipa. Niken dan Batari Mahadewi sangat penasaran dengan suasana di dalam istana. Setidaknya, melalui Jalu, mereka memiliki tiket masuk gratis ke dalam istana.


Ki Cakra Jagad mengantar kepergian ketiga murid Ki Gading Putih hingga di depan gerbang perguruan Lentera Langit.


“Sekali lagi, terimakasih banyak telah bersusah payah hingga sampai di sini. Aku yang sudah tua ini tidak tahu bagaimana membalasnya. Sampaikan salamku untuk gurumu. Semoga satu saat kita bisa bertemu lagi.” Kata Ki Cakra Jagad.


“Kami juga berterimakasih banyak, paman. Kami sungguh merasa terhormat mendapatkan sambutan yang istimewa dari perguruan Lentera Langit.” Kata Jalu.


“Suatu hari kita semua pasti akan bertemu lagi paman.” Kata Batari Mahadewi.


“Sampai jumpa, paman.” Kata Niken. Ketiga pendekar muda yang mulai dibicarakan banyak kalangan di dunia persilatan itu mulai melangkah meninggalkan perguruan Lentera Langit. Cerita mengenai pertarungan di perguruan Tongkat Sakti itu telah terdengar juga oleh Ki cakra Jagad. Ia sedikit kecewa karena tak bisa melihat sendiri kesaktian serta keunikan dari jurus-jurus ketiga murid padepokan Cemara Seribu itu.


Hari menjelang siang ketika mereka telah keluar dari kota Mutiara Biru. Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken mulai melakukan perjalanan dengan kecepatan tinggi. Sesekali mereka melayang dan sesekali mereka melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Di sebuah hutan yang gelap dan lembab, mereka berhenti sejenak untuk memulihkan energi. Dalam perjaanan itu, Jalu menangkap tiga ekor kelinci hutan untuk makan siang.


“Berapa lama kita bisa sampai ke kota kerajaan Swargadwipa, kak Jalu?” Tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Paling cepat seminggu perjalanan dengan kecepatan seperti ini. Itu kalau kita tak mendapatkan halangan di jalan.” Kata Jalu.


“Apakah kakak masih diingat oleh para penjaga? Bagaimana jika kakak tidak bisa masuk ke dalam istana?” tanya Niken.


“Tentu tak prajurit penjaga yang ingat. Pastinya, penjaganya juga sudah ganti. Tapi ada sandi yang tak akan diganti, yang dimiliki oleh anggota keluarga kerajaan.” Jawab Jalu.


“Sepertinya kelinci ini sudah matang.” Kata Batari Mahadewi, membolak-balik daging kelinci yang sedang ia panggang di atas bara api, lalu ia cuil sedikit dagingnya.


“Aku bisa membuatnya cepat matang kalau kalian mau ikut caraku.” Kata Jalu.


“Tidak mau!!” Kata Niken dan Batari Mahadewi bersamaan. Mereka lebih suka menahan lapar sedikit lebih lama daripada harus makan daging hangus.


Sementara itu, beberapa pendekar aliran hitam dari pulau Neraka sudah mulai berdatangan di pulau Mahabhumi. Mereka tidak datang bergerombol, namun dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari satu atau dua orang saja tiap kelompoknya. Hal itu tidak akan menyolok perhatian dan mereka memang para pendekar yang punya harga diri tinggi yang lebih suka mengembara seorang diri atau bersama satu atau dua orang lainnya untuk mencari pertarungan dengan pendekar lain.


Bisa dibilang, para pendekar aliran hitam dari pulau Neraka tidak seperti kebanyakan para pendekar aliran hitam dari Swargadwipa yang sering melakukan pengeroyokan dan pertarungan dengan cara curang.

__ADS_1


Pendekar aliran hitam dari pulau Neraka lebih menyukai bertarung secara terhormat layaknya pendekar aliran putih. Mereka lebih senang mati daripada menang dengan cara licik.


Beberapa hari setelah kedatangan pendekar Sayap Kematian, Penghisap Darah, dan Tulang Besi, ada dua pendekar lagi yang tak kalah mengerikan telah melakukan perjalanan ke arah Swargadwipa. Kini kedua pendekar itu berada di sebuah desa setelah hutan yang sedang dilalui oleh Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya.


Dua pendekar aliran hitam dari pulau Neraka itu adalah kakak beradik. Sang kakak, Vidyana, adalah pendekar perempuan berparas cantik dan berambut hitam memanjang hingga tulang ekornya. Ia sama sekali tak tampak seperti pendekar dan tak berpakaian layaknya pendekar. Ia terlihat anggun meski sebenarnya ia memiliki kemampuan untuk membuat benda-benda di sekitarnya bisa bergerak dan seolah bernyawa, yang akan melakukan semua perintahnya.


Sementara, adik lelaki dari pendekar perempuan itu, Nala, masih seusia Batari Mahadewi. Lelaki kecil itu juga sama sekali tidak memiliki penampilan seperti pendekar. Ia cenderung pendiam dan tak akan mengatakan apapun jika kakaknya tak bertanya sesuatu kepadanya. Meski masih kanak-kanak, ia memiliki kemampuan yang luar biasa. Ia bisa menghidupkan tanah dan pasir sebanyak yang ia mau dan oleh karenanya, ia dijuluki sebagai pendekar Tanah Hidup.


Berbeda dengan kebanyakan pendekar aliran hitam yang memperoleh kemampuan dari menyerap energi mustika siluman, kedua kakak beradik itu memiliki kemampuan menghidupkan benda mati dari rahim ibu mereka. Sang ibu menanamkan seratus mustika siluman ke seluruh tubuhnya. Pada suatu ketika, tanpa pernah ada lelaki yang menyentuhnya, ia hamil dan melahirkan bayi perempuan yang ia beri nama Vidyana. Sepuluh tahun kemudian ia melahirkan bayi lelaki yang ia beri nama Nala. Kedua anak dari sang ibu itu merupakan bentuk baru dari mustika siluman di dalam tubuhnya yang lahir sebagai manusia.


Sehari setelah melahirkan Nala, ibu itu meninggal dunia. Seluruh kekuatan dalam dirinya telah terserap oleh bayi lelakinya. Vidyana yang masih berusia sepuluh tahun, harus mati-matian merawat dan membesarkan adiknya itu. Vidyana menyadari kekuatan besar dalam dirinya sejak ia berusia lima tahun. Di usianya itu, ia sudah memiliki kemampuan yang mengerikan. Sementara Nala, seharusnya ia memiliki kekuatan yang lebih besar lagi. Namun ada sesuatu yang mengunci energi dan seluruh kemampuannya. Sedikit banyak, ia mirip dengan Batari Mahadewi.


Kedua pendekar itu juga tak mempelajari ilmu apapun. Keduanya hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan unik yang telah ada dalam diri mereka. Sehingga, mereka berdua tak terikat atau berhutang budi dengan siapapun, tak memiliki guru, dan hidup sesuka hati kemanapun mereka mau pergi.


Tujuan mereka berdua datang ke Swargadwipa, tak lain karena mereka ingin melihat dunia baru, ingin bertarung dengan pendekar-pendekar dari wilayah lain. Di desa itu, kedua kakak beradik dari pulau Neraka sedang berhadapan dengan tetua desa sekaligus guru dari perguruan Bulan Sabit, satu-satunya perguruan aliran putih yang ada di desa kecil yang bernama desa Lengkung Padi.

__ADS_1


Vidyana dan Nala menghentikan langkah mereka ketika keduanya melewati depan perguruan Bulan Sabit yang waktu itu sedang ada latihan tanding. Mula-mula, kedua kakak beradik itu hanya melihat dari jauh. Namun setelahnya, Vidyana memancarkan energinya untuk mengisyaratkan sebuah tantangan kepada Ki Jaga Urip, sang guru dari perguruan Bulan Sabit.


Kedua mata pendekar itu bertemu, Vidyana tersenyum cantik. Namun kecantikannya tak tampak sebagai keindahan, melainkan sesuatu yang menakutkan yang membuat semua orang di perguruan itu menghentikan aktivtas mereka. Ki Jaga Urip berdiri, lalu mempersilahkan kedua tamu yang tak diundang itu memasuki pelataran perguruan Bulan Sabit.


__ADS_2