
Malam hari di hutan tidak sesepi yang dibayangkan kebanyakan orang. Suasana malam itu diwarnai dengan suara-suara binatang malam, serangga, dan jeritan siluman serta lolongan arwah penasaran yang membuat bulu kuduk merinding.
Rombongan pasukan pengawal tidak semua akan berjaga. Sebagian harus tidur, dan sebagian lainnya beristirahat. Bagi pendekar-pendekar berilmu tinggi, mereka cukup menyerap energi alam saja untuk memulihkan kondisi tubuh mereka setelah lelah perjalanan, sehingga para pendekar seperti Anjani, Pradipa, empat pendekar Lentera Langit, dan senopati Welang tidak butuh tidur. Mereka lebih senang duduk bersila dan bersiaga, menajamkan seluruh indera mereka agar tak terbius dengan suasana.
Pendekar Seribu Nyawa melesat cepat ke arah rombongan yang tengah beristirahat itu. Beberapa pendekar berkemampuan tinggi dalam rombongan itu mulai menangkap pancaran energi besar yang datang ke arah mereka.
“Semua bersiap!” perintah senopati Welang, “Rapatkan penjagaan di tenda pangeran!”
Begitu pendekar Seribu Nyawa telah berada pada jarak yang cukup dekat, ia menghujani rombongan itu dengan jarum-jarum beracun. Anjani, Pradipa, dan keempat pendekar senior dari perguruan Lentera Langit bersama-sama menangkis jarum-jarum beracun itu dengan tenaga dalam mereka. Jarum-jarum itu berhamburan ke segala penjuru, menancap ke pepohonan dan rerumputan, kemudian berubah menjadi asap tipis. Hal itu menandakan bahwa jarum-jarum itu mengandung racun yang berbahaya, yang bisa membunuh orang biasa dalam sekian kedipan mata.
“Siapakah ki sanak ini yang datang menemui kami dengan cara seperti ini?” tanya senopati Welang.
“Saya pendekar kelana yang hendak mencari kematian, atau sebaliknya, memberikan kalian kematian.” Kata pendekar Seribu Nyawa.
“Paman senopati, biar saya saja yang menghadapi tamu kita malam ini.” Pradipa meminta izin.
“Berhati-hatilah.” Kata senopati Welang.
Tanpa banyak bicara, Pradipa mulai menyerang pendekar Seribu Nyawa dengan kecepatan tinggi. Keduanya bertukar puluhan jurus dalam waktu yang singkat dan belum ada satupun dari mereka yang terkena serangan. Keduanya seperti menari, kadang-kadang di udara, kadang-kadang di ujung rerumputan, dan sesekali mereka beradu tenaga dalam, yang menimbulkan bunyi memekakkan telinga.
__ADS_1
Pendekar Seribu Nyawa tidak mengharapkan pertandingan satu lawan satu. Ia ingin beberapa pendekar sakti yang ada di sana mengeroyoknya. Dengan demikian, perhatian rombongan itu akan berpusat padanya.
Maka, pendekar Seribu Nyawa melompat dan tiba-tiba menyerang para pendekar lainnya dengan jarum beracun, dengan pukulan tenaga dalam, sehingga beberapa pendekar yang ada di sana mulai terpancing dan memberikan serangan balasan.
Pendekar Seribu Nyawa cukup cerdik untuk menciptakan kekacauan. Ia bergerak cepat dan menyerang ke segala arah, tanpa peduli serangannya cukup efektif atau tidak, sebab ia hanya ingin menciptakan suasana hiruk-pikuk sehingga kehadiran kelima rekannya nanti tak kan begitu disadari oleh para pendekar di rombongan itu.
Anjani tak bisa berbuat banyak dalam ruang pertarungan seperti itu. Ia hanya bisa mengandalkan tenaga dalamnya dan memberikan serangan-serangannya untuk membantu para pendekar lainnya. Tanpa air yang melimpah, ia tak bisa bertarung dengan maksimal.
Keempat pendekar Lentera Langit yang awalnya hanya bersiaga di sekitar tenda pangeran ke enam Swargabhumi akhirnya mulai terpancing juga. Mereka berempat bekerja sama menciptakan formasi-formasi serangan yang akhirnya bisa mengepung pendekar Seribu Nyawa dan pendekar itu tak bisa bergerak ke mana-mana lagi selain harus meladeni serangan-serangan beruntun yang datang ke arahnya.
Kombinasi jurus dari keempat pendekar Lentera Langit sungguh memukau. Pendekar Seribu Nyawa tak bisa berbuat banyak selain harus menerima pukulan bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.
“Pradipa!” Anjani memanggil rekannya itu yang sedari tadi takjub melihat jurus-jurus dari keempat pendekar Lentera Langit yang membuat lawan mereka babak belur. Namun ia lebih takjub lagi menyadari bahwa pendekar aliran hitam itu tak kunjung mati meski telah menerima puluhan jurus pamungkas pencabut nyawa dari keempat pendekar Lentera Langit.
“Kau memanggilku?” tanya Pradipa.
“Ya, pendekar itu tidak sendiri. Ada lima pendekar lainnya yang bergerak ke arah sini. Bisakah kau menggunakan senjatamu untuk membuat lubang di tanah ini? Sedalam mungkin agar aku bisa mengambil air di dalamnya.” Pinta Anjani.
“Dengan senang hati.” Jawab Pradipa. Ia lalu mengeluarkan pusakanya, mengalirkan energi yang besar dan membuat pedang Bintang Timur itu memancarkan cahaya kebiruan. Pradipa menghujamkan ujung senjata itu ke dalam tanah degan tenaga dalam tinggi sehingga tercipta ledakan besar yang mengagetkan banyak orang di sana.
__ADS_1
Lubang selebar dua jengkal telah menganga dan cukup bagi Anjani untuk mengeluarkan air yang tersimpan di dalamnya.
“Cepat habisi pendekar itu!” kata Senopati Welang kepada keempat pendekar Lentera Langit, “Kekuatan lain yang berbahaya datang mendekat!”
Ki Wiraguna menggunakan tenaga dalam besarnya untuk menghujamkan pukulannya di dada pendekar Seribu Nyawa. Tubuh pendekar aliran hitam itu terpental jauh dan hangus. Begitu keempat pendekar lentera Langit itu bersiap untuk menyambut tamu selanjutnya, tubuh pendekar Seribu Nyawa itu bangkit lagi. Tenaganya sudah tak sekuat sebelumnya, namun tetap saja ia adalah pendekar yang berbahaya.
“Sudah kuduga ia memiliki jurus itu!” kata ki Wiraguna.
“Biar aku saja yang meladeni pedekar itu. paman sekalian bersiap saja menghadapi pendekar lain yang semakin mendekat itu.” kata Pradipa. Ia menghujamkan pedangnya ke tubuh pendekar Seribu Nyawa hingga tubuh itu terbelah menjadi beberapa bagian. Dengan cepat pula, tubuh itu kembali tersambung.
“Pendekar muda, pisahkan kepalanya dari tubuhnya. Biar aku yang menyelesaikan sisanya nanti.” Kata ki Wiraguna yang sudah memiliki banyak wawasan tentang berbagai jenis ilmu hitam seperti yang dimiliki oleh pendekar Seribu Nyawa itu.
“Baik, paman.” Pradipa dengan kecepatan tinggi mengayunkan pedangnya ke leher pendekar Seribu Nyawa. Kepala itu jatuh menggelinding dengan tubuhnya yang masih berdiri. Dengan cepat, Ki Wiraguna mengambil kepala itu, merapalkan mantera, dan membawa kepala itu ke puncak pohon yang tinggi dan menggantungnya di sana.
Pada saat yang sama, pendekar Racun Surga dan Racun Neraka datang bersamaan dari arah yang berbeda. Mereka melepaskan tenaga dalam yang mengandung racun ke segala arah. Kedatangan keduanya yang tiba-tiba itu disambut pekikan kesakitan dari beberapa prajurit yang terkena serangan racun itu. Dalam waktu singkat, separuh prajurit pengawal telah tumbang.
Anjani dengan tangkas menghalau dua pengacau yang datang itu dengan serangan-serangan airnya. Ia menciptakan ratusan cambuk dari air yang melesat cepat menyerang ke arah pendekar Racun Surga dan Racun Neraka. Kedua pendekar aliran hitam itu melompat dan menghindari cambuk-cambuk air yang terus mengejar mereka.
Tak lama kemudian, pendekar Laba-laba dan Pendekar Benang Kematian telah tiba. Ratusan laba-laba beracun bergerak cepat menyerang beberapa prajurit yang tidak siaga. Teriakan dan pekikan sakit terdengar memecah udara ketika laba-laba itu menyuntikkan racun ke dalam tubuh para prajurit itu. Sementara, pendekar Benang Kematian dengan mudahnya mencabut nyawa para prajurit dengan benang-benangnya yang tak kasat mata.
__ADS_1
Senopati Welang sungguh geram melihat pasukannya dibantai sedemikian rupa. Ia melesat ke arah pendekar laba-laba dan menghujamkan rangkaian serangan yang mematikan.