
Sebelum cahaya matahari mengusap embun di pucuk dedaunan, Batari Mahadewi, Jalu, dan Niken telah jauh meninggalkan danau Rembulan Merah. Ketiga murid Ki Gading Putih itu telah sampai di desa Gunung Api. Sesuai namanya, terdapat sebuah gunung berapi yang tak pernah berhenti mengepulkan asap di desa itu. Gunung api itu bernama Arnawama Agni.
Desa Gunung Api tak terlalu ramai. Alasannya jelas, tak banyak orang yang mau mengambil resiko untuk mengungsi setiap saat ketika gunung api Arnawama Agni itu memuntahkan lahar panas. Setidaknya, di desa itu masih ada pasar, kedai makan, dan penginapan. Meskipun penduduk desa itu hanya sedikit, namun sebenarnya desa itu sering dikunjungi banyak orang dari berbagai daerah. Tujuan utamanya adalah untuk mencari ilmu atau mencari pesugihan. Di sisi lain, desa Gunung Api memiliki panorama alam yang indah, sehingga banyak musafir yang singgah di desa ini untuk beristirahat.
Seandainya saja di desa Gunung Api tidak rawan dengan bencana alam, maka desa itu pasti akan menjadi salah satu pilihan menarik untuk tinggal menetap. Betapa tidak, tanah di desa itu sangat subur, sumber air melimpah dan tak pernah kekeringan meski dalam musim kemarau panjang. Sehingga, warga yang bertahan di desa itu hidup dengan cara bertani. Selain itu, mereka juga memanfaatkan orang-orang yang berkunjung di desa itu untuk dijadikan sumber rejeki. Tak akan sulit menemukan penjual makanan di desa itu.
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken sangat terkagum-kagum memandangi keindahan di desa itu. Gunung Arnawama Agni tampak terlihat gagah, dengan tebing hitamnya yang tinggi dan curam dengan berhiaskan air terjun raksasa yang tetap tampak jelas meski dilihat dari kejauhan.
“Kurasa di sini adalah tempat sempurna untuk mendinginkan pikiran kita sejauh ini.” Kata Jalu.
“Ya, kakak benar sekali. Tak salah kita tadi memilih untuk melewati desa ini. Kupikir, di sini kita tak hanya akan menemukan siluman naga api, tapi juga pemandangan yang indah sekali.” Kata Niken bersemangat.
“Menurut Adik, apakah di sini ada siluman naga api?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.
“Ya, ada beberapa. Kita pancing saja salah satu yang paling lemah. Aku tak yakin jika kita harus berurusan dengan siluman tertua yang tinggal di dasar kawah gunung itu. Bisa jadi siluman naga api akan jauh lebih kuat dari naga merah yang kita temui di danau semalam.” Kata Batari Mahadewi.
“Adik Niken bisa membuatkan baju dari kulit naga api itu buatku, kan?” tanya Jalu kepada Niken.
“Bukannya aku sudah beberapa kali membuatkan baju untuk kakak!” jawab Niken.
“Ya tapi kan ini bahannya beda.” Tungkas Jalu.
“Pasti bisa. Apa sih yang tidak buat kakak.” Kata Niken.
“Hahaha, kamu tidak bisa memasak.” Kata Jalu menggoda Niken. Keduanya kembali seperti dulu, dekat dan saling ejek, sampai tak tahu bagaimana caranya mengatakan cinta.
__ADS_1
“Ayo kita segera mencari kedai makan.” Kata Jalu. Ketiganya mulai berjalan memasuki desa, melewati pasar, dan menemukan beberapa kedai makan yang tampak ramai oleh orang-orang yang sedang mencari sarapan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang singgah di desa.
“Kami pesan tiga porsi makanan, paman.” Kata Jalu kepada pelayan kedai itu.
“Menu apa yang tuan muda inginkan?” tanya pelayan itu.
“Apa saja paman, yang terbaik untuk sarapan kami.” Jawab Jalu.
“Baik, tuan muda. Mohon tunggu sebentar.” Pelayan itu pergi menyiapkan pesanan Jalu. Wajahnya menyimpan tanda tanya karena melihat pakaian ketiga tamunya itu tampak berantakan, terlebih pakaian Batari Mahadewi yang sudah kacau warna dan bentuknya. Untungnya, pakaian aneh yang dikenakannya itu masih bisa menutupi lengan logamnya yang berwarna keemasan.
Tentu saja, penampilan ketiga murid Ki Gading Putih itu sangat jauh dari rapi karena mereka tak sempat membeli pakaian baru setelah pertarungan di danau Rembulan Merah. Ketiganya memilih untuk mencari makan terlebih dahulu sebelum melakukan hal lainnya, seperti misalnya belanja pakaian baru.
“Sepertinya penampilan kita terlalu menarik perhatian.” Kata Jalu.
“Apalagi aku. Jikalau pakaianku tak kotor sekalipun, aku tetap akan terlihat aneh.” Kata Batari Mahadewi.
“Apakah adik tak berencana memakai pakaian yang biasa saja? Dengan jubahmu itu, kau malah mirip penyihir ketimbang pendekar.” Kata Jalu.
“Serba salah kakak, tanpa pakaian seperti ini, eee…sungguh aku tak bermaksud menyombongkan diri, tapi kak Niken dan kak Jalu pernah bilang kalau aku cantik, bukan?” kata Batari Mahadewi.
“Ya adik, kau harus percaya itu. kenapa kau harus merasa menyembunyikan kecantikanmu?” Kata Niken.
“Aku harus menyembunyikan itu, sekaligus menyembunyikan lengan monsterku ini. Ah, aku sungguh tak menikmati hal ini. Entahlah, tapi aku tak suka menjadi pusat perhatian.” Kata Batari Mahadewi.
“Tapi seperti apapun kamu mendanani dirimu, bahkan dengan baju aneh itu, adik akan selalu menjadi pusat perhatian. Entah kenapa.” Kata Niken.
__ADS_1
“Takdir.” Sahut Jalu.
Makanan telah datang. Ketiga pendekar muda itu makan seperti orang kelaparan. Sesekali mereka bersenda gurau, merayakan rindu, merayakan kembalinya Niken dalam perjalanan itu. Selang beberapa saat, bumi bergoncang pelan namun lama. Semua orang terdiam dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi.
Pemilik kedai menjelaskan kepada para tamunya bahwa hal itu biasa terjadi di desa Gunung Api. Gempa bumi adalah kejadian yang sehari-hari. Semakin sering terjadi, maka sebentar lagi Gunung Arnawama Agni akan memuntahkan api dalam perutnya.
Batari Mahadewi mengalihkan pandangan matanya ke arah gunung yang sedang mengepulkan asap hitam. Ia tak hanya melihat Arnawama Agni yang gagah menjulang ke langit itu, namun juga siluman dan makhluk halus yang sedang berkumpul di sekitarnya.
“Kak Jalu, sebaiknya kita segera ke lereng gunung api itu sebelum terlambat. Tak akan lama lagi, gunung itu akan meletus. Kita akan kesulitan mencari siluman naga api yang masih berusia muda karena raja naga api di gunung itu mungkin saja akan bangun dari tidurnya.” Kata Batari Mahadewi.
“Apa yang kau lihat di sana adik?” tanya Jalu.
“Hanya beberapa siluman naga yang masih kecil dan makhluk halus yang ribuan jumlahnya. Yang menarik perhatianku justru adalah kumpulan makhluk halus itu. Baru kali ini aku melihat yang jumlahnya banyak. Aku ingin tahu apa sebabnya.” Kata Batari Mahadewi. Hanya Batari Mahadewi dan orang-orang yang terlahir dengan mata khusus saja yang bisa melihat hal itu.
“Baiklah kalau begitu. Setelah ini kita akan segera ke sana.” Kata Jalu.
“Kita harus bergerak cepat.” Kata Batari Mahadewi.
Sesaat kemudian, ketiga pendekar muda itu bergegas menuju lereng gunung Arnawama Agni. Mereka melesat dengan kecepatan tinggi melewati ladang dan menembus hutan. Tak ada yang melihat ketiganya berkelebat. Namun begitu mereka sampai di lereng gunung, ketiga murid Padepokan Cemara Seribu itu tercengang dengan pemandangan yang ada di sana. Sajen bertebaran dimana-mana dan beberapa orang tampak duduk bersemedi sambil membakar wewangian.
Orang-orang itu bukanlah pertapa ataupun pendekar. Hanya orang-orang yang datang meminta bantuan roh halus untuk tujuan tertentu. Itulah yang membuat lereng gunung Arnawama Agni menjadi rumah bagi makhluk halus karena di sana mereka selalu mendatkan makanan dari sajen yang dibawakan oleh orang-orang yang datang meminta berkat.
“Lihat ke arah sana, kak Jalu, kak Niken.” Batari Mahadewi menunjuk sebongkah batu raksasa setinggi pohon kelapa, “di dalamnya bersemayan satu siluman naga api yang masih muda. Masalahnya, jika kita memancingnya keluar, maka orang-orang yang ada di sini akan berada dalam bahaya. Lihatlah, disepanjang lereng ini banyak orang bersemedi. Aku yakin meski kita mengelilingi lereng gunung ini, kita akan menemukan hal serupa.”
Bumi bergetar lagi. Kali ini getarannya lebih besar dari yang sebelumnya. Bebatuan dari puncak gunung Arnawama Agni berjatuhan dan membuat beberapa orang yang masih berada di lereng gunung memilih untuk bubar dan menyelamatkan kepala mereka dari bebatuan yang jatuh.
__ADS_1