
Gorila besar itu telah membuat semua pendekar terpental jauh bersamaan dengan datangnya Vidyana dan Nala yang dalam satu kedipan mata telah ada di tengah-tengah arena pertarungan itu. Batari Mahadewi sedikit terkejut dengan kedatangan mereka berdua, dan bertanya-tanya, ada dipihak manakah kedua pendekar misterius itu. Ia mengenali kedua pendekar itu dari jejak energinya seusai mereka berdua berkunjung ke perguruan Bulan Sabit. Hanya saja, Batari Mahadewi tak sepenuhnya tahu, apa tujuan dua pendekar itu.
Vidyana menghilang tanpa jejak, namun pancaran energinya semakin besar. Satu makhluk berwujud aneh dari benda-benda yang hancur berantakan di arena pertempuran itu mulai muncul dan semakin bertambah besar, mengimbangi ukuran gorila raksasa yang sedang mengamuk itu.
Kini para pendekar dari semua aliran menyingkir dan melihat pertarungan dua raksasa itu dari jauh. Hasrat untuk menguasai istana sudah tidak ada lagi dalam benak para pendekar pulau Neraka yang masih tersisa. Yang ada adalah ketegangan dan penasaran.
Nala tahu kakaknya tak bisa bertahan sendirian melawan gorila raksasa jelmaan pendekar Sayap Kematian yang telah menghisap beberapa pendekar sakti untuk menjadi satu bagian dengannya. Beberapa kali gorila besar itu menyemburkan energi melalui mulutnya dan menghancurkan raksasa ciptaan Vidyana sekaligus menghancurkan rumah-rumah prajurit yang ada di sana.
Ledakan-ledakan energi itu membuat arena pertarungan itu tak hanya rata dengan tanah, namun juga berlubang-lubang karena semburan energi dari jelmaan pendekar Sayap Kematian itu. Nala memancarkan seluruh energinya dan menciptakan dentuman besar di sekelilingnya. Hal itu tak hanya membuat sang gorila raksasa menoleh padanya dan mulai mengincarnya, namun juga membuat seluruh perhatian terarah padanya.
Kesempatan itu digunakan oleh Batari Mahadewi untuk memulihkan energinya. Ia tahu, kedua pendekar misterius yang baru saja datang itu tak akan mampu menghadapi kekuatan gorila besar itu.
Nala membuat tanah yang dijadikan pijakan kaki gorila raksasa itu ambles dan menenggelamkan makhluk mengerikan itu. Dengan cepat, nala menutup seluruh permukaan tanah itu dan menguncinya dengan energinya sehingga tanah yan mengubur jelmaan pendekar Sayap kematian itu mengeras seperti batu.
__ADS_1
Sayang sekali, hal itu tak berlangsung lama, sang gorila raksasa itu tiba-tiba keluar dari dalam tanah disertai dengan ledakan besar yang membuat seluruh arena itu berantakan. Batu-batu yang beterbangan kembali lagi turun ke bumi layaknya hujan.
Nala terbang dan menyerang gorila besar itu dengan pukulan-pukulan tenaga dalamnya, bergerak dengan kecepatan tinggi, menghindar dan menyerang, layaknya seekor capung yang berkelahi dengan monyet.
Gorila besar itu berusaha memberikan pukulan balasan, namun gerakannya terlalu lambat untuk dapat mengenai Nala kecil yang bergerak dan menyerang dengan kecepatan tinggi itu. Sesekali, Nala mengerahkan ribuan pukulan energi ke tubuh gorila raksasa itu, namun monster besar itu tetap tak menunjukkan tanda-tanda mulai melemah.
Sayangnya, gorila besar itu tidak seterusnya bodoh. Ia berhasil memancing Nala dan memukul lelaki kecil itu hingga terpental jauh, dan jatuh di atas sebuah kedai makan yang berada di balik tembok ke empat kota Swargadwipa.
Vidyana sempat mencemaskan adiknya, namun ia memustuskan untuk kembali menyerang monster ganas itu dengan menggunakan makhluk-makhluk lain yang ia ciptakan dari berbagai benda berserakan yang ada di arena pertarungan itu.
Batari mahadewi kembali ke pertempuran. Kini tubuhnya sepenuhnya memancarkan cahaya keemasan yang diselubungi dengan pijaran listrik. Warna hitam di bola matanya telah berubah menjadi warna emas. Ia bisa melihat kelemahan dari gorila itu, yaitu dengan mencabut seluruh mustika siluman yang tertanam di jantungnya. Hanya saja, untuk menembus tubuh gorila besar itu adalah persoalan yang pelik.
Meski demikian, Batari Mahadewi tetap ingin mencobanya. Ia menyerang gorila besar itu sebagaimana yang telah dilakukan Nala. Batari Mahadewi terlihat seperti kunang-kunang, dengan tubuh kecilnya yang bersinar keemasan, ia menerangi arena pertempuran. Wajah dan bentuk tubuh gorila besar itu menjadi tampak lebih jelas dari sebelumnya.
__ADS_1
Sesekali Batari Mahadewi melontarkan pijaran petir dari tangannya, menyambar beberapa bagian dari tubuh gorila besar itu. Hasilnya sedikit lebih baik. Setidaknya telah ada beberapa lubang menganga di tubuh gorila yang sekeras besi itu.
Gorila besar itu semakin mengamuk seiring dengan rasa sakit yang ia alami. Melalui mulutnya yang besar, ia menyemburkan pijaran energi yang tak tentu arah dan menghancurkan apapun yang dikenainya. Hal itu sangat merepotkan. Beberapa orang terbunuh seketika karena tak bisa menghindar.
Dari jauh, cahaya berwarna merah menyala terang dan memancarkan energi sangat tinggi melaju dengan keceatan tinggi dan menabrak kepala belakang gorila besar itu. dentuman kembali terjadi dan gorila itu tersungkur ke depan, tubuhnya jatuh dan membuat bumi bergetar. Nala yang bercahaya merah itu masih melayang di udara. Matanya sejenak menatap lekat mata Batari Mahadewi yang juga melayang di hadapannya itu, lalu ia kembali mengarahkan pandangannya ke tubuh gorila besar yang perlahan mulai bangkit berdiri.
Nala kembali menjerat tubuh gorila besar itu dengan tanah yang ia kendalikan. Tanah di sekitar tubuh gorila itu bergerak layaknya ribuan ular raksasa yang terus merambat naik hingga ke leher dan kepala gorila siluman itu. Batari Mahadewi tak mau menyianyiakan kesempatan itu, ia menggunakan jurus pamungkasnya untuk menembus jantung sang gorila raksasa dan menghancurkan mustika siluman yang bersarang di sana.
“Jurus Raga Membelah Bumi.” Tubuh gadis itu meluncur cepat dan menabrak tepat di dada gorila besar itu. ledakan kembali terjadi. Dada gorila raksasa itu berlubang dan berasap. Lalu makhluk mengerikan itu ambruk di tanah. Tubuhnya menyusut dan kembali lagi ke dalam wujud pendekar Sayap Kematian yang telah mati ditinggalkan jantungnya.
Batari Mahadewi menghancurkan mustika siluman itu secepatnya hingga menjadi debu. Beberapa pendekar aliran hitam menyayangkan hal itu. Namun mereka hanya bisa berandai-andai saja.
Nala yang masih di melayang di atas akhirnya perlahan turun di hadapan Batari Mahadewi. Matanya menyala merah, dan bibirnya menyeringai. “Ayo kita bertarung!” kata Nala dengan suara serak menantang Batari Mahadewi.
__ADS_1