Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 134 Meninggalkan Sekolah Guru Rapapu


__ADS_3

Tak terasa, sudah 3 tahun Batari Mahadewi dan Nala telah berada di dunia tiga rembulan. Di dua tahun terakhir itu, mereka berdua masih berada di sekolah guru Rapapu. Keduanya masih bertahan di sana karena guru Rapupu berbaik hati untuk membantu mereka meningkatkan energi dengan cara yang lebih cepat. Batari Mahadewi dan Nala harus memiliki energi yang lebih besar lagi agar bisa selamat ketika mereka berangkat ke pulau Api.


“Kalian masih jauh dari cukup untuk bisa menghadapi segala rintangan di pulau Api. Yang akan kalian hadapi bukanlah monster-monster kuat tapi bodoh seperti di pulau iblis ketika kalian pertama kali sampai di dunia ini, namun para petarung pulau Api yang tak akan begitu saja mengizinkan kalian untuk menyerap sumber energi utama yang ada di sana.” Kata guru Rapapu.


“Jadi, apa lagi yang harus kami lakukan sekarang, guru?” tanya Batari Mahadewi. Meski selama dua tahun ini, Ia dan Nala telah berburu sumber-sumber energi yang tersedia di negri Madapala, namun sumber energi yang tersedia sebenarnya jauh lebih kecil dari yang bisa mereka dapatkan di pulau Iblis. Sehingga, Batari Mahadewi belum bisa membuka segelnya yang ke tujuh dan Nala juga tak mengalami banyak perkembangan, bahkan ia juga belum menguasai ilmu perpindahan tubuh.


Hal baiknya, selama keduanya berpetualang di Madapala dan sesekali kembali ke kota Parapiriri untuk bertemu dengan guru Rapapu, Batari Mahadewi dan Nala telah mempelajari banyak hal yang akan sangat berguna untuk perjalanan mereka berdua ke empat pulau yang memiliki sumber energi utama penyokong dunia tiga rembulan.


“Gadis kecil, aku ingin bertanya satu hal saja kepadamu, kenapa kamu tidak mau menggunakan kristal energi yang kalian dapatkan dari perburuan yang kalian lakukan?” tanya guru Rapapu.


Batari Mahadewi dan Nala sedikit kaget karena kekek tua itu tahu, setiap kristal yang mereka dapat, selalu dipergunakan oleh Nala, dan gadis jelmaan pusaka dewa itu tak pernah mau menggunakannya.


“Tubuhku menolaknya, guru. Aku bisa menyerapnya, namun begitu energi itu aku dapatkan, energi itu akan selalu keluar, seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya.” Kata Batari Mahadewi.


“Lalu bagaimana caranya kau meningkatkan energimu?” tanya guru Rapapu.


“Beberapa perubahan dalam diriku terjadi saat aku menyerap energi bumi, atau bertarung hingga melampaui batasan tubuhku. Saat itulah tubuhku dengan sendirinya menyerap banyak energi alam. Namun dalam keadaan seperti ini, aku hanya bisa memulihkan energiku, tak bisa menambah jangkauan kekuatanku.” Kata Batari Mahadewi.


“Ah, aku tahu sekarang. Kenapa kau tak bercerita sejak dulu?! Kalau begitu, tidak akan ada gunanya kalian berlama-lama ada di sini. Aku mengizinkanmu jika kau ingin berangkat ke pulau Api. Namun kalian jangan terburu-buru untuk datang ke sana. Nikmatilah perjalanan kalian, dan carilah sebanyak mungkin sumber energi yang bisa kalian dapatkan.” Kata guru Rapapu.

__ADS_1


“Guru yakin akan hal ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Kurasa iya, sebab kalian tak akan pernah bisa berkembang pesat di sini.” Kata guru Rapapu.


“Baiklah kalau begitu, guru.” Kata Batari Mahadewi.


“Kalian akan memerlukan ini.” Kata guru Rapapu sambil memberikan gulungan kain kecil, “ini adalah salinan gambar seluruh pulau di dunia ini. Gunakan itu, sehingga kalian tahu arah mana yang akan kalian tuju. Aku juga punya hadiah lain buat kalian. Tunggu sebentar.” Guru Rapapu masuk ke salah satu kamar di dalam ruangannya itu. Tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa satu kotak yang telah berdebu.


“Gantilah pakaian kalian dengan baju perang ini. Hanya sedikit saja yang memiliki baju perang ini di dunia tiga rembulan karena baju ini berasal dari dunia lima rembulan.” Guru Rapapu membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya. Dua buah pakaian yang berbentuk aneh dan terlihat kekecilan.


“Baju perang ini akan menyesuaikan bentuknya dengan tubuh siapapun yang menggunakannya. Meski kalian berubah bentuk dengan ukuran seratus kali lipat, pakaian ini juga akan ikut membesar. Ini merupakan salah satu pusaka yang langka di dunia tiga rembulan, namun hanya benda biasa di dunia lima rembulan. Dengan pakaian ini, kalian akan lebih leluasa bergerak, dan yang paling penting, baju ini bisa meningkatkan kekuatan kalian.” Kata guru Rapapu.


“Menarik sekali, jika kami memakainya, kami akan tampak seragam. Bentuk pakaian ini sama persis.” Kata Nala.


Batari Mahadewi dan Nala bergantian menuju ke bilik kamar mandi untuk berganti pakaian. Guru Rapapu tidak berbohong, Batari Mahadewi dan Nala merasakan lonjakan energi yang jauh lebih besar dari yang mereka miliki sebelumnya setelah keduanya menggunakan pakaian itu.


“Sepertinya kami memang harus melapisi pakaian perang ini dengan pakaian lain, guru, dengan pakaian ini, semua otot tubuhku menjadi kelihatan. Pakaian ini sangat ketat seperti karet.” Kata Batari Mahadewi, wajahnya merah karena malu.


“Terserah kalian, yang pasti, pakaian itu tak akan robek atau terbakar. Namun bukan berarti kalian tak bisa terluka. Serangan bertenaga besar bisa saja menghancurkan tubuh kalian, namun bukan pakaian itu. pakaian itu juga akan ikut menyesuaikan perubahan bentuk kalian saat kalian menggunakan jurus-jurus tertentu, misalnya kau Nala, jika kau berubah menjadi pasir, maka pakaian ini akan menyesuaikan dan berubah menjadi pasir.” Kata guru Rapapu.

__ADS_1


“Terimakasih banyak, guru, pemberian guru ini sangat berguna bagi kami.” Kata Nala.


Keesokan harinya, kedua pendekar muda itu berangkat setelah berpamitan kepada guru Rapapu. Mereka berjalan meninggalkan gedung sekolah setelah sebelumnya meninggalkan dua kantong yang berisi kepingan-kepingan uang kristal bening yang mereka miliki kepada guru Rapapu.


“Untuk apa ini kalian tinggalkan?” tanya guru Rapapu.


“Kami tak mungkin membawanya, guru, dan pastinya tak akan berguna di tempat lain. Jadi uang ini mungkin bisa berguna untuk murid-murid guru di sini.” Kata Nala.


“Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak.” Kata guru Rapapu.


“Sama-sama, guru.” Kata Nala.


Keduanya kemudian terbang melesat meninggalkan kota itu. Keduanya memilih untuk terbang dan sesekali beristirahat di tempat yang tak berpenduduk seperti di hutan, di padang rumput, di tepi sungai, atau di puncak bukit.


Mereka tiba di tepi pantai, daerah paling timur dari negri Madapala, lalu beristirahat. Pantai itu sangat sepi dan di depan mereka terbentang lautan yang luas.


“Untuk menuju pulau api, kita akan melewati beberapa pulau kecil di sekitarnya. Namun jika kita melihat gambar ini, sepertinya kita akan terbang selama beberapa hari agar bisa mencapi pulau kecil itu sebelum kita melanjutkan perjalanan ke pulau Api. Apakah menurutmu kita memiliki cukup tenaga jika kita melanjutkan perjalanan dengan terbang?” tanya Batari Mahadewi kepada Nala.


“Aku tak yakin. Tapi aku masih memiliki beberapa kristal jika kita kehabisan tenaga.” Kata Nala.

__ADS_1


“Hmm, baguslah kalau begitu. Kau bisa menggunakannya, dan aku bisa menyerap energi alam.” Kata Batari Mahadewi.


Keduanya bersiap, lalu melompat sejauh mungkin ke angkasa dan meluncur ke arah timur dengan kecepatan tinggi tanpa henti, siang dan malam, dan setelah tiga hari pejalanan, akhirnya mereka melihat sebuah pulau kecil yang tampak berwarna-warni dari kejauhan.


__ADS_2