Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 281 Percakapan Ringan


__ADS_3

Nala memperhatikan Batari Mahadewi yang sedang memotong kulit naga dengan menggunakan kukunya. Tak ada pisau atau pedang yang sanggup memotong kulit itu. Jikalau menggunakan senjata pusaka, betapa merepotkan dan hasilnya tak akan rapi. Namun dengan kuku sakti Batari Mahadewi, memotong kulit naga itu semudah memotong daun sawi dengan hasil potongan yang rapi.


“Apakah hasilnya nanti seperti baju yang dipakai oleh kak Jalu?” tanya Nala.


“Itu baju dari kulit naga murni yang tak akan rusak ketika kak Jalu berubah wujud menjadi manusia api. Tetapi untuk menahan serangan manusia iblis, kita akan mengolah kulit naga ini seperti membuat senjata pusaka. Kita akan menyatukan berbagai mustika sakti dan membuat pakaian ini memiliki jiwa. Untuk bentuknya, kita bisa meniru baju perang milik Mahapatih Siung Macan Kumbang yang dilengkapi dengan penutup kepala dan topeng penutup wajah. Untuk penutup kepala dan topengnya, kita gunakan tanduk naga itu,” jawab batari Mahadewi.


Dua tanduk naga yang sebesar pohon pisang itu kira-kira cukup untuk membuat lima puluh penutup kepala dan topeng penutup wajah.


“Jadi kau akan membuat baju perang lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki?” tanya Nala.


“Yang terpenting baju perangnya saja. Soal penutup kepala, hmm, aku tak yakin para pendekar mau mengenakan pentup kepala. Tetapi tak apa-apa. Aku akan tetap membuatnya beberapa saja. Tapi kita butuh berbagai mustika yang bisa dipergunakan untuk menyerap racun iblis, Nala,” ujar Batari Mahadewi.


“Kita bisa mendapatkan mustika itu dari siluman laba-laba, kalajengking, lipan, ular, dan siluman lain yang senjata utamanya adalah racun. Apakah harus siluman berusia ribuan tahun juga?” tanya Nala.


“Sebaiknya begitu. Jikalau tak ada, siluman berumur ratusan tahunpun tak apa-apa. Aku tahu tempat terdekat untuk mencarinya?” kata Batari Mahadewi.


“Di mana itu?” tanya Nala.

__ADS_1


“Di lembah kematian. Dulu aku, kak Jalu dan kak Niken pernah melewatinya ketika pertama kali kami keluar perguruan untuk menjalankan tugas guru,” jawab Batari Mahadewi.


“Aku bisa mencarikannya jika mau. Kau di sini saja membuat baju perang, aku mencari bahan-bahan mustika siluman untuk baju perang ini dan senjata pusaka lainnya itu?” kata Nala.


“Apakah tidak apa-apa jika kau yang pergi mencari?” tanya Batari Mahadewi.


“Tak apa-apa. Kita harus hemat waktu agar semua pekerjaan ini selesai lebih cepat,” kata Nala.


“Kau benar. Untuk menuju ke lembah kematian, kau hanya perlu pergi ke arah sana. Kau pasti akan tahu setelah melewatinya.” Batari Mahadewi memberikan petunjuk arah kepada Nala.


Jika Batari Mahadewi bisa bertarung dengan kecepatan yang tak bisa dilihat mata, maka memotong, merangkai dan menjahit kulit naga dengan kecepatan tinggi bukanlah hal sulit. Hanya saja, sesekali ia butuh mengerjakan beberapa bagian dengan cara lambat untuk memastikan bahwa pekerjaannya benar-benar rapi.


Kulit naga sepanjang dua pohon kelapa itu lebih tebal dan sedikit lebih kaku jika dibandingkan dengan kulit siluman naga yang berusia muda. Namun dari segi kualitas ketahanan, jelaslah bahan yang sedang diolah oleh Batari Mahadewi merupakan bahan terbaik. Hanya kulit naga api saja yang benar-benar tahan dengan serangan api.


Vidyana masuk seorang diri ke dalam goa untuk melihat yang dikerjakan oleh Batari Mahadewi. Ia lebih sering belajar di perpustakaan bersama Ki Gading Putih saat Nala dan Tari sedang sibuk di dalam goa. Lagipula, Ki Gading memang tak pernah mengajarkan jurus-jurus tertentu kepada siapapun yang ia anggap murid. Kakek tua itu lebih senang memberikan petunjuk agar murid-muridnya bisa menciptakan sendiri jurus-jurusnya.


“Kakak sendirian saja? Mana guru?” sapa Batari Mahadewi ketika Vidyana melangkah masuk ke dalam goa.

__ADS_1


“Kakek Gading tadi mengatakan kalau mau pergi sebentar ke suatu tempat. Kemana Nala?” Vidyana balas bertanya.


“Dia sedang berburu mustika siluman,” jawab Batari Mahadewi. Ia agak grogi berbicara empat mata dengan Vidyana dan inilah pertama kalinya. Yang ia tahu, sang bidadari kematian itu memang cenderung pendiam. Lebih banyak mendengar daripada bercerita.


“Sejak mengenalmu, adikku itu selalu tampak bersemangat. Dulu ia adalah pembunuh berdarah dingin. Ia sangat jarang bicara dan hampir tak memiliki keinginan apa-apa. Ia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Jika aku dalam masalah besar, ia selalu menyelesaikannya dengan cepat. Pertama kali kulihat ia bersemangat sekali adalah ketika kalian berdua pertama kali bertemu di wilayah istana Swargadwipa. Waktu itu ia datang dan menantangmu bertarung. Ya, aku ingat, ia sangat bersemangat. Mungkin karena waktu itu, ia tak benar-benar pernah bertemu lawan yang bisa mengalahkannya, jadi ia sangat senang ketika melihat kemampuanmu,” Vidyana bercerita sambil sesekali tersenyum geli ketika mengingat masa kecil Nala.


Di mata Batari Mahadewi, sosok Vidyana adalah perempuan yang benar-benar cantik. Wajar saja jika ia dikenal sebagai bidadari kematian. Entah bagaimana paras ibunya, tetapi sang ibu itu berhasil melahirkan anak-anak yang rupawan, Vidyana dan Nala.


“Hahaha, aku ingat waktu itu ketika pertama kali kami berdua terlempar di dunia tiga rembulan, Nala sangat membenciku dan selalu ingin menantangku bertarung. Mungkin ia sakit hati karena aku siuman lebih dahulu dan membantunya berdiri. Tapi pada akhirnya, kami tak pernah lagi bertarung. Kami harus bekerja sama untuk bertahan hidup. Tanpa kerjasama, mungkin kami telah mati diserang makhluk-makhluk buas di dunia asing itu.” kata Batari Mahadewi.


“Sifat Nala sungguh jauh berbeda. Kau berhasil mengubahnya menjadi seorang lelaki yang baik. Bahkan ia tak terlihat seperti pendekar hitam yang haus darah,” Vidyana sebenarnya penasaran dan ingin bertanya langsung soal kedekatan Nala dan Batari Mahadewi. Namun gadis itu ternyata juga masih merasa canggung untuk bertanya langsung. Ia hanya menunggu celah yang tepat untuk bertanya.


“Di tahun pertama kami bersama, Nala masih merupakan pendekar yang selalu membunuh dengan cara kejam. Seolah-olah membunuh adalah sebuah kenikmatan. Tapi entah bagaimana, lambat laun ia memiliki cara lain untuk membunuh lawannya, seganas apapun lawan itu. Awalnya ia memang sangat pendiam, tapi lama kelamaan ia akhirnya mau terbuka dan berbagi cerita. Mungkin karena ia tak tahan juga selalu mendengarkan aku yang banyak bercerita,” kata Batari Mahadewi sambil tertawa. Gadis itu jelas tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya dan hal itu terlihat oleh Vidyana.


“Di mataku, kalian berdua terlihat serasi. Sama-sama pendekar tak terkalahkan,” Vidyana mulai sedikit mengarahkan pembicaraan ke hal lain untuk mencari celah atau sekedar memancing agar Batari Mahadewi menceritakan hal-hal yang bersangkutan dengan perasaan. Meski ia sama sekali tak paham dan belum pernah jatuh cinta, namun ia penasaran dengan apa yang ia lihat dari adiknya itu.


Batari Mahadewi seperti tersengat listrik mendengar kata-kata Vidyana. Itu serasa restu yang diberikan secara tak langsung. Tetapi sungguh, gadis jelmaan pusaka dewa itu tak tahu harus berkata apa untuk menanggapinya. Entah kenapa wajahnya berubah merah merona. Andaikan ada Jalu dan Niken, maka habislah ia dibuat malu oleh kedua kakaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2