
Suasana yang terjadi di perguruan Bulan Sabit itu cukup canggung. Para murid lelaki di perguruan itu tak bisa menyangkal bahwa sosok yang ada di hadapannya itu layaknya seorang bidadari. Hanya saja, mereka belum sepenuhnya menyadari bahwa bidadari itu tidaklah turun dari khayangan, melainkan datang dari pulau Neraka.
Energi hitam yang dipancarkan oleh Vidyana cukup pekat dan berhasil dengan baik untuk membuat semua orang yang terpesona padanya tetap waspada.
“Selamat datang di peguruan kecil kami. Apakah ada yang bisa kami bantu?” tanya Ki Jaga Urip mencoba melunakkan suasana yang kaku itu.
“Kami datang untuk menguji kemampuan kami, paman. Bila diperbolehkan, izinkan kami belajar di sini barang sejenak.” Kata Vidyana tenang dan sopan, tanpa menunjukkan sikap yang angkuh dan bengis seperti yang dilakukan oleh para pendekar aliran hitam pada umumnya. “Saya Vidyana dan lelaki kecil ini adalah Nala, adik saya. Kami datang dari pulau Neraka.”
Ketika nama pulau itu disebut, keringat dingin mulai menetes di dahi Ki Jaga Urip. Siapapun yang telah keluar dari pulau Neraka untuk bertarung di dunia luar, tentu bukanlah pendekar sembarangan.
“Kami tidak memiliki kemampuan yang baik, nona. Tapi jika berkenan, sayalah yang akan menjadi lawan tanding nona. Tetapi, jika nanti saya mati, mohon kebaikan hati nona untuk meninggalkan tempat ini tanpa harus ada korban lainnya.” Kata Ki Jaga Urip. Mendengar perkataan dari sang guru, semua murid perguruan Bulan Sabit mendadak pucat.
“Dengan senang hati, paman. Mari kita bertarung.” Kata Vidyana tanpa berbasa-basi. Ia melepaskan seluruh pancaran energinya. Hentakan energi itu membuat benda-benda kecil di sekitarnya berhamburan.
Ki Jaga Urip melakukan hal yang sama. Kedua tangannya mengeluarkan cahaya biru berbentuk bulan sabit, sebuah senjata energi andalannya yang ia gunakan untuk menciptakan jurus pedang sabit kembar. Ia tak mau main-main menghadapi lawannya saat itu. Ia kerahkan seluruh energi yang ia miliki untuk bertarung.
Ki Jaga Urip langsung mengerahkan serangan-serangannya yang sangat cepat dan mematikan. Vidyana masih dengan sikap tenang, diam tak bergerak menunggu Ki Jaga Urip mendekatinya. Ki Jaga Urip mengayunkan pedang sabitnya ke arah leher Vidyana. Pedang itu menebas lehernya. Seketika sosok Vidyana yang terkena tebasan itu berubah menjadi asap tipis.
__ADS_1
Pancaran energi Vidyana tak menghilang. Artinya, tebasan pedang sabit Ki Jaga Urip tadi hanya mengenai udara. Semua orang kebingungan mencari dimana sosok Vidyana berada. Tiba-tiba, berbagai kerikil dan bebatuan di sekitar pelataran perguruan Bulan Sabit itu bergerak sendiri, berkumpul dan membentuk sebuah patung batu berukuran besar berbentuk aneh.
Kumpulan kerikil dan bebatuan yang terbentuk menjadi makhluk aneh itu bergerak cepat menyerang Ki Jaga Urip. Lelaki tua itu juga tak kalah gesit menghindari serangan-serangan dari makhluk aneh yang belum selesai membuatnya terheran-heran itu.
Ki Jaga Urip mengayunkan tebasan pedang sabitnya dengan kekuatan penuh tepat membelah tubuh makhluk batu itu. Seketika bebatuan yang berubah menjadi monster itu pecah berhamburan. Ki Jaga Urip belum bisa tenang sebab begitu monster aneh itu hancur, seketika kepingan-kepingannya bergerak kembali dan berkumpul menjadi sebuah monster baru dengan wujud yang berbeda dari sebelumnya.
Tak hanya itu, tiba-tiba kayu-kayu kering dan pepohonan mati mulai bergerak sendiri ke pelataran perguruan Bulan Sabit, berkumpul dan membentuk satu lagi monster baru. Kedua monster itu bergerak bersama-sama menyerang Ki Jaga Urip yang tengah kebingungan dengan situasi yang ia hadapi.
Kedua monster itu sesekali melontarkan serpihan-serpihan dari bagian tubuhnya ke arah Ki Jaga Urip. Serangan yang bertubi-tubi itu sedikit banyak mulai melukai Ki Jaga Urip. Beberapa bagian tubuhnya mulai tampak tergores dan darah mulai mengalir. Tak ada yang bisa dilakukan oleh lelaki tua itu selain bertahan dan menghindari hujan serangan dari dua monster yang ada di depannya itu. Sekalinya ia mengayunkan sabit dan membuat tubuh monster itu hancur, dengan cepat pula kepingan-kepingan tubuh monster itu kembali berkumpul dan menjadi makhluk dengan bentuk yang berbeda lagi.
Kini tak hanya kerikil dan benda-benda kecil yang terus menerus menghantam tubuh Ki Jaga Urip. Sesekali bongkahan batu besar juga beterbangan ke arahnya, terus menerus dan membuat tenaga tetua desa Lengkung Padi itu terkuras habis. Tubuh tua yang mulai lemah itu akhirnya ambruk ke tanah. “Guruuu!!!” teriak murid-murid perguruan Bulan Sabit, namun tak ada yang berani mendekat.
“Aku mengaku kalah, nona muda. Silahkan bunuh aku kalau kau mau.” Kata Ki Jaga Urip.
“Dengan senang hati, paman. Semoga segala kebaikanmu, segala kerja kerasmu akan dikenang dan dilanjutkan oleh semua muridmu. Matilah dengan tenang dan tentram.” Vidyana mengibaskan tangannya ke atas dan roh Ki Jaga Urip terlepas dari tubuhnya.
Pemandangan yang mencekam itu membuat murid-murid Ki Jaga Urip tak berani bergerak. Semua diam membeku, namun menahan marah yang sangat setelah Vidyana mencabut nyawa guru mereka yang sudah tak berdaya itu.
__ADS_1
“Tak ada yang lebih terhormat selain mati dalam pertarungan sebagai pendekar. Kalian harus bangga dengan guru kalian. Jangan menjadi orang-orang yang lemah. Maafkan kami telah datang dan membuat suasana duka di sini. Adakah diantara kalian yang ingin menuntut balas saat ini juga?” tanya Vidyana kepada murid-murid ki Jaga Urip. Vidyana menatap mata mereka satu per satu. Semua wajah menunduk ketika Vidyana menatap mata mereka. Tak ada satupun yang menjawab, semua hanya diam.
“Kalau begitu, kuanggap tak ada dendam dalam pertarungan hari ini. Kami undur diri.” Kata Vidyana dengan nada dingin. Ia dan Nala kembali melanjutkan perjalanan.
Sore hari, Batari Mahadewi dan kedua kakak seperguruannya telah tiba di desa Lengkung Padi. Mereka tak ada rencana untuk singgah di sana, namun ketika mereka melewati perguruan Bulan Sabit, ketiganya melihat upacara kematian sang guru sekaligus tetua desa. Tentu saja kematiannya membuat seluruh desa berduka, dan seluruh warga desa berada di sana untuk menyatakan rasa hormat kepada pemimpin mereka untuk terakhir kalinya.
Batari Mahadewi menangkap residu energi dari pertarungan Vidyana dan Ki Jaga Urip. Tak tertangkap jelas pastinya, namun dengan cara itu, Batari Mahadewi mengetahui bahwa penyebab duka yang terjadi di hari itu adalah pendekar alirah hitam yang memiliki kesaktian langka.
“Kurasa, pendekar aliran hitam yang mengalahkan tetua desa ini tak jauh dari sini sekarang ini.” Kata Batari Mahadewi kepada kedua kakaknya.
Teman-teman tercinta, sebelum lanjut ke chapter berikutnya, mohon bantuan untuk berbagi like ya. Apabila tak keberatan, tuliskanlah sesuatu di kolom komentar. Terimakasih banyak. Happy Reading.
__ADS_1