Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 241 Kota Gerbang Naga


__ADS_3

Orang-orang kota yang semula berjejer-jejer di pinggir jalan untuk menyaksikan rombongan prajurit itu kemudian kembali lagi ke tempat mereka semula setelah rombongan prajurit itu tak lagi terlihat.


Batari Mahadewi berjalan menemui dua orang prajurit yang sedang berjalan melakukan patroli. Sudah hal lumrah bagi kota kerajaan manapun menugaskan prajurit patroli yang tersebar di berbagai titik kota untuk menjaga keamanan.


“Maaf tuan, saya hendak bertanya. Tadi rombongan prajurit yang melintas di jalan ini, bukankah mereka adalah prajurit kerajaan Siwandaraka?” tanya Batari Mahadewi.


“Benar nona,” jawab Prajurit itu.


“Apakah di negri ini sedang ada peperangan?” tanya Batari Mahadewi.


“Nona bukan orang sini ya?” prajurit itu balas bertanya.


“Benar, tuan. Saya berasal dari Mahabhumi dan baru sampai di wilayah Siwandaraka belum lama ini.” Jawab Batari Mahadewi. Kedua prajurit itu hanya manggut-manggut. Mereka hanya pernah mendengar nama pulau Mahabhumi dan belum pernah sekalipun ke sana atau bertemu dengan orang-orang sana. Betapa tidak, jarak Siwarkatantra dengan Mahabhumi sangatlah jauh dan hanya bisa ditempuh dengan kapal besar.


“Hubungan Siwandaraka dengan Siwandawala sedang kurang baik, nona. Para prajurit tadi dikirim ke perbatasan untuk berjaga-jaga,” kata prajurit itu.


“Baiklah kalau begitu. Terimakasih tuan.” Batari Mahadewi pergi meninggalkan kedua prajurit yang masih terpesona itu.


“Baru kali ini aku melihat orang Mahabhumi. Apakah gadis-gadis di sana secantik nona itu?” tanya prajurit itu kepada rekannya.


“Kurasa tidak. Kurasa nona itu berbeda dengan perempuan lainnya. Aku yakin ia adalah pendekar. Mana ada perempuan dari Mahabhumi sampai di sini seorang diri? Mana ada perempuan biasa yang tertarik untuk bertanya soal perang?”

__ADS_1


“Betul juga! tapi tidak juga!” Dua prajurit itu melanjutkan patroli sambil memperdebatkan Batari Mahadewi.


Sementara itu, Batari Mahadewi telah sampai di sebuah kedai sekaligus penginapan yang cukup besar. Ia memesan sejumlah makanan yang membuat banyak orang melongo dengan banyaknya porsi yang dipesan oleh gadis cantik itu.


“Apa makanan itu untuknya semua?” bisik salah satu pengunjung kedai kepada temannya. Batari Mahadewi hanya melirik orang itu. Ia bisa mendengar dengan jelas semua percakapan orang di sana. Pergerakan prajurit itu sungguh membuatnya tertarik untuk tahu lebih banyak. Dan di kedai semacam itu, tak sedikit orang yang membahas soal hubungan antara Siwandaraka dengan Siwandawala.


Batari Mahadewi memesan sebuah kamar setelah ia menghabiskan semua makanan yang terhidang di mejanya. Ia ingin sedikit bersantai malam itu untuk pertama kalinya ia mengembara seorang diri. Namun pikirannya tak bisa lepas dari cerita orang-orang mengenai peperangan yang akan terjadi.


Dari yang ia dengar, kerajaan Siwandawala memang berniat untuk menyerang Siwandaraka. Hubungan dua kerajaan ini telah memanas sejak sepuluh tahun terakhir. Kerajaan Siwandawala menuduh Siwandaraka telah menutup jalur perdagangan dari pelabuhan selatan Siwandaraka menuju Siwandawala. Padahal, fakta lain menunjukkan bahwa Siwandawala juga menutup jalur perdagangan antara Siwandaraka dengan Siwandacara.


Tuduhan Siwandawala tak memiliki dasar kuat sebab tak mungkin Siwandaraka menutup jalur perdagangan, sementara kerajaan itu butuh kerjasama dagang dengan kerajaan lain yang semua jalurnya adalah wilayah Siwandawala. Dengan kata lain, Siwandawala memang ingin melemahkan Siwandaraka, lalu kemudian menguasai wilayah itu. Tujuan utamanya adalah untuk merebut pelabuhan strategis yang dimiliki oleh Siwandaraka.


Dengan begitu, apabila berhasil, maka Siwandawala akan menjadi negri yang kuat dan kaya, sebab semua barang dari wilayah selatan akan masuk ke pulau Siwarkatantra hanya melalui pelabuhan Siwandaraka.


Dari buku yang telah ia baca tentang sejarah kerajaan di Siwarkatantra dan juga obrolan orang-orang yang ia dengar, Batari Mahadewi mengambil kesimpulan sementara bahwa pihak Siwandawala adalah pihak yang paling memungkinkan dan beralasan untuk memanipulasi jalur perdagangan dan membuat tuduhan palsu yang dialamatkan kepada Siwandaraka untuk mencari alasan menyalakan sumbu peperangan.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu sulit untuk tak mau ikut campur urusan dua kerajaan itu. Ia berfikir, jika perang pecah, maka yang paling dirugikan adalah rakyat dari kedua belah pihak. Jika gadis itu terpaksa harus ikut campur, ia tak akan turun langsung ke medan laga, melainkan berurusan langsung dengan pemimpin tertinggi kerajaan yang bersangkutan.


Tapi ia tak mau gegabah. Informasi yang ia dengar baru berasal dari satu sudut pandang saja. Oleh karenanya, dalam waktu dekat ia ingin mengunjungi Siwandawala dan mencari tahu situasi yang terjadi di sana.


Maka keesokan harinya, Batari Mahadewi segera meluncur ke wilayah Siwandawala. Ia juga ingin mengintip sejenak situasi yang terjadi di daerah perbatasan antara dua wilayah yang sedang berseteru itu.

__ADS_1


Dengan kecepatan yang diluar batas normal itu, Batari Mahadewi sudah sampai lebih dulu dari rombongan prajurit yang telah diberangkatkan semalam. Kota perbatasan itu bernama kota Gerbang Naga. Pemberian nama kota itu tentunya bersifat politis.


Namun demikian, kota itu tak hanya garang pada namanya saja. Kerajaan Siwandaraka telah membangun pertahanan yang cukup baik di sana. Perguruan beladiri dari aliran putih sebagian besar juga berada di sana. Setidaknya kota itu menjadi tempat tinggal banyak pendekar sakti yang salah satu tugasnya adalah menjaga Siwandaraka dari sisi utara.


Dua perguruan yang paling terkenal di kota gerbang Naga adalah perguruan Mutiara Naga dan perguruan Pedang Naga. Tampaknya naga adalah simbol paling populer di wilayah itu sebab sebagai kota perbatasan, setidaknya makna kekuatan harus dijunjung tinggi agar kerajaan Siwandaraka tak dipandang sebelah mata.


Kota itu terlihat sibuk. Banyak prajurit yang terlihat sedang bekerja cepat untuk menyelesaikan berbagai persiapan perang. Itu artinya, perang sebentar lagi akan meletus dan gadis jelmaan pusaka dewa itu harus bergerak cepat jika tak ingin perang itu terjadi, meski sebetulnya hal itu benar-benar bukan urusannya.


Sebelum beranjak menuju Siwandawala, Batari Mahadewi ingin mendapatkan satu sudut pandang lagi. Kali ini ia ingin berkunjung ke salah satu perguruan terkuat di kota itu, yakni perguruan Mutiara Naga dan bertemu dengan sang guru utama, yakni pendekar Angin Utara.


Perguruan itu banyak memiliki murid. Ketika Batari Mahadewi sampai di gerbang masuk, ia disambut oleh beberapa pendekar dengan sikap yang tak terlalu ramah. Mungkin mereka semua terlalu tegang dengan situasi yang mereka hadapi saat ini.


“Ada perlu apa nona datang kemari?” tanya salah satu dari para pendekar yang menjaga pintu gerbang itu.


“Saya ingin bertemu dengan guru besar, paman,” ucap Batari Mahadewi.


“Siapa nona dan dari perguruan mana nona berasal?” tanya pendekar itu.


“Saya dari sebuah perguruan yang sangat jauh dari sini, di pulau Mahabhumi. Saya hanya ingin mendengar nasehat dari guru besar. Itu saja tujuan saya datang kemari,” jawab Batari Mahadewi.


“Maaf nona, tapi guru kami tak bisa bertemu dengan sembarang orang. Hanya pendekar tingkat tinggi saja yang pantas menemui guru,” kata pendekar itu dengan nada yang tak cukup menyenangkan.

__ADS_1


“Jadi saya tidak pantas bertemu dengan guru besar?” tanya Batari Mahadewi.


Teman-teman, coba tebak, apa kira-kira jawaban yang diberikan oleh para pendekar itu atas pertanyaan Batari Mahadewi? Mungkin salah satu jawaban dari teman-teman akan menjadi bahan penyambung chapter selanjutnya.


__ADS_2