
Tujuh orang pendekar hitam itu sebelumnya telah membunuh tiga pendekar muda aliran putih di suatu tempat yang lain. Pergerakan mereka kali ini berbeda dengan sebelumnya yang memilih cara untuk menyerang perguruan-perguruan aliran putih.
Mereka semua tergabung dalam kelompok-kelompok kecil dan menghabisi para pendekar muda yang jumlahnya lebih sedikit dari mereka di luar perguruan. Namun yang mereka lakukan sebenarnya bukanlah acara sembunyi-sembunyi, meski tak sepenuhnya terang-terangan. Tujuannya adalah memancing para pendekar aliran putih untuk keluar perguruan dan mencari para pembunuh yang telah membunuh anggota mereka.
Kali ini, para pendekar hitam tidak mengincar istana. Mereka murni bertindak atas dasar balas dendam kepada para pendekar aliran putih. Entah apa untungnya acara balas dendam itu. Tapi yang pasti, ada rasa senang yang mereka dapatkan ketika berhasil menghabisi golongan putih. Kesenangan, itulah yang menjadi alasan bagi mereka untuk membenarkan perilaku mereka.
“Kalian datang untuk kami berdua?” tanya Jalu kepada para perampok itu.
“Ya, untuk bersenang-senang dengan kalian. Sepertinya nona cantik ini tak keberatan berbagi tubuh dengan kami, hahahaha!” kata salah satu dari gerombolan itu yang tampaknya adalah pendekar hitam dari pulau Neraka. Wajahnya khas seperti pendekar pulau Neraka pada umumnya, yakni pucat dan memancarkan aura kematian.
“Kabar yang aku dengar, saat ini para pendekar hitam, termasuk kalian, sedang memulai pergerakan baru. Benar begitu kan?” pancing Jalu menyelidik. Dari rumor yang tengah beredar itu, baru kali ini ia dan Niken dihadang oleh sekelompok pendekar hitam dalam masa tenang setelah kepergian pasukan Tirayamani.
“Ya, kau tak salah. Jadi kabar tentang yang kami lakukan sudah terdengar juga oleh kalian. Baguslah kalau begitu. Kami tak perlu menjelaskannya lagi!” kata salah satu dari gerombolan itu.
“Tidak sadarkah kalian, kami sengaja menunggu kedatangan orang-orang dungu seperti kalian!” Jalu mencoba memancing emosi mereka.
“Kau pikir siapa dirimu?!” kata orang itu.
“Bukankah kalian yang tersisa dan melarikan diri setelah gagal menyusup ke istana Swargadwipa kan? Seharusnya kalian mengenaliku,” kata Jalu asal-asalan. Meskipun demikian, kata-kata itu sedikit membuat gerombolan sesat itu menjadi ragu.
“Kalian benar-benar tak memiliki harga diri sebagai pendekar yang terhormat. Sungguh! Kalian lebih cocok menjadi berandal daripada menjadi pendekar.” Sambung Jalu.
“Hentikan omong kosongmu!” kata orang itu.
“Aku tidak membual. Jika memang kata-kataku salah, seharusnya kalian berani bertarung satu lawan satu!” kata Jalu. Jika mereka setuju, maka menghabisi mereka semua tidaklah sulit. Jalu mengincar pendekar terkuat di antara mereka untuk ditaklukkan terlebih dahulu. Dengan begitu, sisanya hanya akan terasa seperti remah-remah.
__ADS_1
“Baik jika kau ingin seperti itu. Siapa yang kau pilih menjadi lawan pertamamu?” tantang orang itu.
“Sepertinya kau yang terkuat diantara mereka, bagaimana jika kau bertarung denganku?” kata Jalu.
“Baiklah, dengan senang hati! Bersiaplah!” kata orang itu.
Jalu melangkah ke arah Niken dan berbisik, “Bersiaplah jika mereka menyerang tiba-tiba saat aku bertarung.” Jalu berkata demikian sebab para pendekar hitam biasanya dengan licik menyerang dengan senjata rahasia beracun.
“Baik kakak, aku akan mengawasi mereka,” kata Niken dengan berbisik.
Sebuah pertarungan klasik akan sedang terjadi. Pendekar hitam yang menjadi lawan Jalu itu mulai memperlihatkan kekuatannya, demikian pula dengan Jalu. Kekasih Niken itu belum ingin menunjukkan tubuh api miliknya, kecuali nanti jika lawannya itu lebih kuat dari yang ia perkirakan.
Keduanya bertukar puluhan jurus untuk saling menekan. Dulu, barangkali Jalu akan kesulitan untuk menghadapi satu pendekar pulau Neraka. Namun setelah kekuatannya meningkat pesat, pendekar semacam itu masih bisa ia atasi dengan baik. Lagipula, pendekar itu meskipun dari pulau Neraka, tak terlalu memiliki kemampuan hebat. Dalam waktu singkat, pendekar hitam itu telah terdesak dan beberapa pukulan Jalu berhasil mendarat dengan mulus di bagian wajah dan beberapa bagian tubuhnya.
Maka geramlah pendekar hitam itu. Jarang-jarang ada yang berhasil memukul wajahnya. Karena tak mau terus-menerus dipermalukan, pendekar hitam itu menjelma menjadi makhluk setengah siluman khas pendekar pulau Neraka garis keras.
“Jadi ini yang kau banggakan? Apa enaknya menjadi makhluk bau seperti itu?!” ejek Jalu.
“Tutup mulutmu!” kata makhluk hijau itu dengan pelafalan yang tak terlalu jelas. Mulutnya penuh lendir yang muncrat setiap kali ia berbicara.
“Kau saja yang tutup mulut, dasar menjijikkan!” Jalu melesat bersamaan dengan perubahan wujudnya menjadi manusia api. Makhluk itu jelas kaget dengan perubahan Jalu. Sebuah pukulan matahari dengan telak bersarang di dadanya. Makhluk itu terpental sangat jauh setelah bunyi ledakan yang menggelegar.
Sementara itu, Niken dengan cekatan mendahului para pendekar hitam yang semula menjadi penonton beralih hendak menyerang Jalu dengan jarum-jarum beracun. Sebenanya jarum itu akan meleleh sebelum menyentuh kulit Jalu, namun karena cinta, Niken tak mau diam saja. Jarum-jarum es melesat seperti kilat dan menyambar keenam pendekar hitam itu secara tiba-tiba. Keenamnya tak menyangka bahwa perempuan cantik itu adalah pendekar es yang sama-sama berbahaya dengan pendekar api itu.
Pertarungan yang membosankan itu akhirnya selesai juga. Dari semua gerombolan itu, tersisa satu yang masih hidup. Ia benar-benar menderita. Niken menyiksanya dengan mengubah kaki dan *********** menjadi es. Jalu tak mengira kekasihnya jauh lebih kejam untuk urusan semacam itu.
__ADS_1
“Apakah kamu percaya kamu bisa selamat?” tanya Niken. Ia bermaksud untuk memulai interogasinya dengan cara dingin. Benar-benar dingin.
“Ampun nona, saya masih ingin hidup. Saya menyesal telah memilih jalan yang salah…” pendekar tikus sawah itu memelas.
“Aku memang berharap kau ingin hidup. Caranya mudah saja, kau jawab dengan jujur apa yang kutanyakan,” kata Niken. Jalu senyum-senyum mendengar kekasihnya itu beraksi. Diam-diam ia bergidik juga ketika membayangkan jika suatu hari Niken marah dan membekukan pusaka kesayangannya itu. Pasti sakit!
“Baik nona, tanyakan saja nona, saya sudah tidak tahan lagi,” pendekar itu semakin buruk wajahnya.
“Kalian punya markas rahasia?” tanya Niken.
“Di hutan timur Swargadwipa nona, tapi tidak ada siapapun saat ini. Semua berpencar seperti yang kami lakukan saat ini,” jawab orang itu jujur.
Tapi dalam hal itu, bohong atau jujur tetap saja salah, karena kebanyakan, menurut cerita lain, jawaban itu selalu dianggap bohong.
“Yang benar?!” tanya Niken.
“Sumpah, nona, jika ada orangnya pasti saya tidak akan mengatakan keberadaan tempat itu!” kata pendekar apes itu.
“Jawaban yang cerdas! Di mana kelompok lain yang paling dekat dari sini?” tanya Niken.
“Tak jauh, nona. Di kota Dhyana,” lagi-lagi pendekar itu menjawab dengan jujur. Ia tak peduli jika rekan-rekannya mengalami nasib serupa seperti yang ia alami. Lagipula, rombongan di kota Dhyana itu jauh lebih banyak dan kuat. Jadi ia tak perlu merasa berdosa mengatakan hal yang sebenarnya.
Jalu hanya tertawa mendengar jawaban itu. Yang ia tertawakan tentu bukan jawabannya, melainkan keputusan bodoh para pendekar hitam untuk menyambangi kota Dhyana. Umur mereka bakalan pendek jika berurusan dengan Agrapana.
“Sudahlah adik, tak ada gunanya menanyai orang itu. Kita tinggalkan saja dia di sini,” kata Jalu. Maksudnya adalah, tinggalkan orang itu dalam keadaan beku.
__ADS_1
“Baik kakak,” kata Niken. Sepasang pendekar itu melesat pergi meninggalkan pendekar sial itu dalam keadaan beku. Mereka tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan hiburan di kota Dhyana, jadi mereka harus buru-buru untuk segera tiba di sana.