Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 289 Kejadian Kecil Di Pesisir


__ADS_3

Nala dan Batari Mahadewi tertegun. Mengantar senjata untuk kebaikan dan kepentingan orang lain saja ternyata tidak mudah.


“Tidak apa-apa, Tari. Kau bisa ke sana sendiri. Aku bisa menunggumu di sini,” kata Nala.


“Tetapi, sepertinya pertemuan dengan Nyi Lohita tak akan bisa selesai dengan cepat, mengingat ia mungkin tak akan bisa menerima pedang pusaka ini,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, tapi tak masalah. Lagipula kau bisa dengan cepat datang ke sini jika memerlukanku, bukan?!” kata Nala.


“Tidakkah kau mencari penginapan saja? itu di sana ada kedai sekaligus penginapan,” kata Batari Mahadewi.


“Yang benar saja, aku tidak butuh tempat menginap dan aku tidak butuh makanan. Sudah, pergilah sana, aku bisa duduk-duduk di sini,” kata Nala.


“Baiklah, aku pergi dulu,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu kemudian melesat menyeberangi laut. Meski pemandangan itu—seorang pendekar terbang, bukanlah hal asing di mata orang awam, namun Batari Mahadewi tetap menjadi perhatian para nelayan dan warga pesisir yang saat itu ada di sekitar sana.


Tinggallah Nala sendirian dan orang-orang memandang ke arahnya setelah Batari Mahadewi sudah tak terlihat lagi. Bapak-bapak tua yang tadi ditanyai itu datang mendekat, “jadi kalian pendekar?” ia bertanya dengan nada polos khas orang awam.


“Ya, bisa dibilang begitu, paman,” jawab Nala singkat.


“Oh, mmm…di sini sangat jarang ada pendekar. Dan kebetulam dua hari ini, ada siluman yang mengganggu kami. Padahal sudah bertahun-tahun tak ada kejadian semacam ini sebelumnya.” kata bapak tua itu.


“Kenapa tak ada yang meminta tolong kepada perguruan Selendang Merah?” tanya Nala.


“Kami belum sempat ke sana. Tadi saya sempat berfikir untuk meminta tolong rekan tuan agar menyampaikan permintaan tolong kami kepada Nyi Lohita, tetapi rekanmu itu sudah pergi terlebih dahulu sebelum aku meminta tolong kepadanya. Eee…jika nanti nona itu datang lagi, bisakah kami meminta tolong kepadanya untuk kembali lagi ke pulau Perawan dan menyampaikan maksud kami? Tentu kami akan menyiapkan imbalan untuk tuan dan nona,” kata bapak itu sungguh-sungguh.


Pantas saja sejak tadi ia melihat ke arah pulau Perawan dan seperti sedang memikirkan sesuatu, pikir Nala. “Bagaimana wujud siluman itu, paman?” tanya Nala.


“Gurita raksasa. Kami yakin gurita itu adalah siluman. Dua malam berturut-turut ia selalu muncul dan memangsa beberapa nelayan yang akan melaut. Jika begini terus, tak ada yang berani untuk pergi melaut. Sebenarnya, hal ini sudah di dengar oleh walikota kami. Tetapi belum ada bantuan datang. Tadi pagi ada sekelompok prajurit kota yang memantau keadaan dan sempat bertanya-tanya langsung kepada kami, semoga saja bantuan dari walikota akan segera tiba,” kata bapak tua itu.

__ADS_1


“Saya akan terus ada di sini menunggu rekan saya tadi, paman. Mungkin saya bisa membantu jika makhluk itu muncul,” kata Nala.


“Apakah tuan yakin? Tuan sendirian saja dan siluman itu berukuran raksasa. Hal ini pula barangkali yang membuat bantuan tak segera tiba. Para pajurit kota sepertinya juga takut. Oleh karena itulah, kami warga yang tinggal di pesisir ini lebih memilih untuk meminta bantuan pendekar sakti yang sudah terbiasa bertarung melawan siluman. Beberapa orang yang kami utus pergi ke kota lain untuk meminta pertolongan dari pendekar sakti juga belum tiba. Mungkin malam ini tak akan ada yang berani mendekat ke tepi laut,” kata bapak itu.


“Akan saya coba, paman. Malam ini saya akan menunggu makhluk itu di sini. Semoga saja makhluk itu muncul,” kata Nala.


“Jika begitu, kami akan mengerahkan para pemuda untuk membantu tuan,” kata bapak itu.


“Tidak perlu paman, akan berbahaya bagi mereka. Jika ingin memantau keadaan, saya sarankan dari jarak yang jauh saja. Jika makhluk itu benar-benar siluman, maka ia tak hanya akan tinggal di dalam laut. Ia juga bisa keluar dan menyerang orang-orang di pemukiman. Tetapi ada hal yang ingin saya katakan, siluman semacam itu tak akan mengganggu manusia jika ia tidak terusik. Apakah beberapa hari ini ada warga yang telah melakukan sesuatu yang sekiranya membuat siluman marah?” tanya Nala.


“Soal itu, saya kurang tahu tuan. Seharusnya memang ada hal yang membuat siluman itu marah dan menyerang kami selama dua malam ini berturut-turut,” kata bapak itu.


“Tidak apa-apa, paman. Semoga nanti malam saya berhasil mengatasinya,” kata Nala.


Bapak tua itu mengobrol dengan Nala hingga sore hari. Bapak tua itu, Ki Janggut, termasuk salah satu nelayan senior yang dihormati di sekitar pesisir itu. Setidaknya, dalam banyak urusan yang menyangkut kepentingan orang banyak, ia selalu dimintai pendapat dan diberi kuasa untuk menentukan keputusan.


Ketika Ki Janggut hendak pamit pulang sebentar lalu akan kembali lagi mengantarkan makanan buat Nala, tiba-tiba ada sekelompok pendekar yang datang bersama beberapa warga pesisir. “Ki Janggut, ada beberapa pendekar yang mau membantu kita,” kata pemuda itu penuh semangat. Sudah pasti ia berharap dengan adanya sekelompok pendekar itu, masalah siluman bisa selesai dan warga bisa kembali melaut.


“Benar, Ki, mereka bersedia membantu kita,” kata pemuda itu.


“Kebetulan sekali, tuan pendekar ini juga akan membantu. Semakin banyak bantuan semakin bagus,” kata Ki Janggut.


Nala sebenarnya mengkhawatirkan nasib para pendekar itu. Kemampuan mereka jauh dari cukup bahkan untuk melawan siluman lemah sekalipun.


“Nama saya Nala, suatu kehormatan bisa bertemu dengan saudara-saudara sekalian,” Nala mencoba untuk beramah-tamah. Jika tidak untuk menghormati bapak tua itu, ia mungkin akan memilih untuk diam saja.


“Oh, sebentar. Sepertinya kamu pendekar aliran hitam kan? Kau tak bisa mengelabuhi kami, ki sanak!” kata salah satu pendekar yang terlihat seperti pemimpin dalam rombongan itu.

__ADS_1


“Ya, dan saya tidak punya maksud apapun dan tidak ingin mencari masalah. Saya kebetulan ada di sini dan kebetulan bertemu dengan bapak ini,” kata Nala.


“Baiklah kalau begitu, jika tak ingin mencari masalah, sebaiknya kamu pergi dari sini,” kata pendekar itu. Ia sungguh sombong. Tetapi memang itulah salah satu cara yang ia miliki untuk mendapatkan pengakuan dan berujung untuk mencari rejeki. Bantuan yang ia berikan tentu saja tidak gratis.


“Maaf, paman, saya tidak jadi membantu. Lagipula, tuan-tuan pendekar ini sudah pasti bisa mengatasi siluman itu,” kata Nala dengan santai dan berusaha untuk tidak menciptakan suasana yang panas. Ia sadar jika ia salah berbicara sedikit saja, maka pendekar-pendekar bodoh itu akan menantangnya bertarung. Tidak ada gunanya sama sekali meladeni orang-orang itu.


Ki Janggut tak bisa berbuat apa-apa. Ia paham, Nala harus pergi sebelum terjadi keributan. “Besok semoga kita bisa berjumpa lagi, tuan pendekar,” kata ki Janggut dengan raut wajah yang tidak enak atas kejadian itu.


“Pasti paman. Lagipula, saya harus menunggu rekan saya. Sekarang saya akan jalan-jalan dulu,” kata Nala. Ia bergegas pergi. Nala mencari tempat yang jauh agar tak terlihat oleh rombongan pendekar itu. Tentu saja, Nala akan melihat perkembangan situasi dari tempat yang tak terlihat.


Sore beranjak menjadi petang. Ki Janggut, beberapa warga lelaki pesisir dan juga sekelompok pendekar itu berjaga di tepi laut. Perahu-perahu berbaris rapi. Obor-obor dalam jumlah banyak sengaja dibuat dan di pasang di sepanjang tepi laut itu. Malam itu terlihat berbeda. Lebih terasa meriah ketimbang menyeramkan. Tak ada satu nelayanpun yang berniat untuk melaut. Mereka lebih memilih untuk memantau keadaan dari jarak yang jauh sembari beharap mereka bisa melihat tontonan seru jika siluman itu datang.


Ketika semua orang sudah bosan menunggu dan mengira bahwa siluman itu tak datang, tiba-tiba seberkas cahaya merah telihat mencuat ke atas dari dalam laut. Sosok yang sangat bersar perlahan menyembul di permukaan laut, bergerak menuju ke tepian. Gerakannya menciptakan gelombang laut yang cukup untuk membuat barisan perahu itu terombang-ambing dan sebagian tenggelam di gulung ombak.


Semua pemuda yang semula ingin membantu para pendekar itu sangat ketakutan dan memilih untuk lari menyelamatkan diri. Ki Janggut mau tak mau juga ikut lari melihat makhluk semacam gurita sebesar satu penginapan perlahan merayap ke tepian.


Tinggallah sekelompok pendekar itu yang secara otomatis merasa ketakutan, namun masih memiliki sedikit harga diri untuk bertahan di sana.


“Bagaimana ini ketua, makhluk itu sangat besar!”


“Aku juga tak menyangka siluman yang menyerang sebesar itu. Sialan! Jika tahu begini, kita seharusnya menolak saja!”


“Lalu apa yang akan kita lakukan?! Apakah tidak sebaiknya kita lari dan menyelamatkan diri saja?”


“Ini sangat memalukan. Jika kita lari, perguruan kita yang akan tercemar!”


“Tapi aku sungguh takut!”

__ADS_1


“Diam! Aku akan mencoba berbicara dengan siluman itu dan menanyai apa maunya. Semoga siluman itu bisa berbicara!”


Untunglah pemimpin itu masih ada sedikit keberanian. Dengan begitu, anak buahnya yang ketakutan itu masih bertahan dan tidak lari, meski tiba-tiba mereka sangat ingin buang air kecil.


__ADS_2