Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 302 Bola Kristal Suci


__ADS_3

Sementara itu, Batari Mahadewi dan Nala akhirnya menginjakkan kaki di kota Gerbang Surga. Bentuk kota itu tak jauh beda dengan kota Dhyana. Hanya saja, letaknya ada di puncak gunung.


“Seperti tak asing, bukan?” kata Batari Mahadewi.


“Ya. Dan kau ingin ke altar suci kan? Sungguh mengesalkan jika kakek Lokatara menyuruh kita semedi seperti yang harus kita lakukan di kota Dhyana,” ujar Nala.


“Hahaha, kau tak suka semedi?” tanya Batari Mahadewi.


“Bukan begitu, hanya saja kita tak punya banyak waktu, Tari!” Nala mengusap kepala kekasihnya. Ia tau jika gadisnya itu sudah punya keinginan, maka harus terpenuhi.


“Entah kenapa, Nala, tetapi aku merasa harus bertemu dengan kakek Lokatara,” kata Batari Mahadewi. Jika sudah demikian, tak ada tawar-menawar lagi.


Keduanya melangkah menyusuri jalan-jalan kota kuno yang sepi itu. Bisa dibilang, jumlah manusia yang ada di sana lebih sedikit daripada yang ada di kota Dhyana.


Di pelataran altar suci, Batari Mahadewi dan Nala melihat banyak pertapa yang sedang duduk bersila menghadap ke altar. Tubuh mereka berwarna abu-abu kehijauan. Seperti patung batu yang ditumbuhi lumut. Orang yang benar-benar awam akan mengira jika mereka adalah sekumpulan patung batu yang duduk berjajar membentuk suatu mandala dengan altar suci sebagai pusatnya.


“Apakah menurutmu kita masuk saja dan duduk bersila seperti pertapa itu, atau kita berdiri di sini menunggu seseorang datang?” tanya Nala.


“Tak akan ada yang datang dan mempersilahkan kita masuk, Nala. Ayo kita ke sana, duduk bersila di bagian paling depan,” Batari Mahadewi melangkah memasuki pelataran itu lebih dahulu, Nala mengikutinya.


Mereka duduk bersila dalam sikap semedi, hening, memejamkan mata, lalu menajamkan indera lainnya. Setelah mereka masuk dalam dunia semedi, Lokatara muncul. Kakek itu membawa Nala dan Batari Mahadewi dalam dunia semedi yang sama, bukan sendiri-sendiri seperti di altar suci kota Dhyana.


“Selamat datang di Gerbang Surga. Tak kusangka hari ini aku mendapatkan dua tamu istimewa,” kata Lokatara.


Batari mahadewi dan Nala masih tertegun. Mereka berdua tak mengira akan berada di satu dimensi yang sama bersama dengan Lokatara yang wajahnya sedikit mirip dengan Agrapana.

__ADS_1


“Hahaha, jangan kaget. Aku bukan Agrapana dan aku punya cara lain untuk menyambut tamuku. Agrapana telah bercerita banyak tentang kalian berdua dan ternyata hari inilah kesempatanku bertemu dengan kalian,” sambung Lokatara.


“Kami hanya ingin singgah sebentar, kakek. Sekedar untuk mengenal kakek, mumpung kami sedang ada di wilayah ini,” kata Batari Mahadewi.


“Jika nona Tari menyanyakan dimana letak altar samudera, maka aku sungguh tak tahu,” tiba-tiba Lokatara menyampaikan hal yang bahkan belum diutarakan oleh Batari Mahadewi. Sungguh dan memang, di dunia semacam itu, Lokatara ataupun Agrapana adalah penguasanya, yang bahkan bisa membaca pikiran siapapun yang berada di sana. “Tetapi nona jangan kecewa dahulu, dulu nona pernah melihat kejadian di masa depan melalui kolam suci. Hari ini aku akan mengajak nona melihat sesuatu dari bola kristal suci. Ikuti aku.” Dunia yang serba putih itu tiba-tiba berubah menjadi ruang dalam altar suci.


Batari Mahadewi dan Nala mengikuti kakek itu menuju ke suatu tempat. Di sana terdapat sebuah bola bening berukuran besar, terpajang di tengah-tengah ruangan.


“Jika kalian berdua beruntung, kalian bisa melihat sesuatu melalui bola itu. Tetapi mungkin yang kalian lihat berbeda, mungkin kalian juga tidak melihat apa-apa. Aku tak tahu, tetapi tak ada salahnya mencoba.” Lokatara mempersilahkan mereka berdua.


Batari Mahadewi dan Nala tidak berkata apa-apa. Keduanya terlalu canggung. Kakek Lokatara bahkan menemui mereka dengan cara seperti ini. Sepertinya, tubuh asli kakek itu memang sedang tidak ada di sana, entah di mana. Dan mereka berdua hanya bertemu dengan bayangan hidup dari kakek penjaga altar suci itu.


Nala tak melihat apapun di dalam bola kristal itu. Padahal, ia sangat penasaran. Ia membayangkan bisa melihat sesuatu seperti yang ia lihat di kolam iblis di istana siluman ular merah.


Sementara, Batari Mahadewi tercenung lama memandangi bola itu. Raut wajahnya berubah. Ia melihat sebuah pulau yang tanahnya berwarna hitam dan sebuah istana besar dari batu dengan sebuah menara yang menjulang tinggi hingga ke langit.


Kemudian bola kristal itu tak menampakkan apa-apa lagi. Batari Mahadewi tahu, yang baru saja ia lihat adalah pulau Tirayamani dan sosok sang ratu kegelapan.


“Kau berhasil melihat sesuatu?” tanya Nala.


Batari Mahadewi mengangguk. “Apakah kau juga meliha sesuatu?”


“Tidak,” jawab Nala, “apa yang kau lihat?”


“Kerajaan Tirayamani. Kurasa aku tahu dimana letaknya. Kita bisa mencarinya, Nala. Kurasa, bola itu ingin mengatakan padaku bahwa aku harus ke sana,” jawab Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Bola itu sama dengan kolam suci, nona Tari. Bayangan yang nona lihat adalah gambaran di masa depan. Jadi, saat ini belum terjadi sesuatu yang sama dengan gambaran di dalam bola itu,” kata Lokatara.


“Apakah itu artinya aku harus segera ke sana, kakek?” tanya Batari Mahadewi. Ia bimbang.


“Entahlah, aku tidak tahu. Yang pasti, apa yang dimunculkan oleh bola itu sekaligus merupakan kegelisahan hatimu. Nona sangat penasaran dengan kerajaan itu dan rasa penasaran nona melebihi apapun saat ini. Sehingga, itulah yang muncul. Sekarang nona telah memiliki gambaran tentang keberadaan dan situasi di sana. Selanjutnya, terserah nona ingin bertindak bagaimana,” kata Lokatara.


“Ikuti kata hatimu, Tari. Aku akan selalu menemanimu,” kata Nala.


“Baiklah, Nala. kita segera selesaikan urusan kita di Mahabhumi, lalu kita akan langsung saja menuju ke Tirayamani. Kurasa kita tak perlu lagi membuang waktu untuk pergi ke pulau-pulau lain. Jika kita berdua bisa memusnahkan kerajaan itu, maka kita juga telah menyelamatkan pulau-pulau lain dari ancaman kekuatan kerajaan itu,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, memang seharusnya begitu. Jadi, sudah saatnya kalian kembali,” kata Lokatara. Tubuhnya menghilang bersamaan dengan dunia dalam semedi itu. Batari Mahadewi dan Nala kembali lagi di pelataran altar suci. Tak ada Lokatara di sana.


“Jadi, hanya begini saja?” tanya Nala.


“Hahaha, mau bagaimana lagi. Lagipula, kakek Lokatara sudah memperlihatkan isi di dalam altar suci. Jadi kita tak perlu lagi melihatnya ke sana. Kurasa, tubuh kakek itu memang tidak ada di sini. Sedari awal aku sudah menduganya,” kata Batari Mahadewi.


“Aku masih tak mengerti. Tapi ya sudahlah, ayo kita pulang ke Cemara Seribu,” ajak Nala.


“Ya, pulang ke rumah kita, Nala,” kata Batari Mahadewi, “Kelak jika kekacauan ini semua sudah selesai, apakah kau tak keberatan kita tinggal di sana?”


“Terserah padamu, selama kau ada di sisiku,” kata Nala.


"Sebelum berangkat, aku mau mengatakan bahwa...bahwa wajah ratu Ogha yang kulihat di bola kristal itu...mirip wajahku," kata Batari Mahadewi.


"Hmm... Percayalah Tari, aku bisa membedakan antara dirimu yang sebenarnya atau orang lain yang menyamar sebagai dirimu." Kata-kata Nala terdengar begitu menenangkan di benak kekasihnya itu.

__ADS_1


Keduanya melesat cepat menembus langit. Keduanya tak pernah tahu, apakah kisah mereka akan berakhir dengan bahagia atau sebaliknya. Yang pasti, kekacauan yang sebenarnya belum terjadi.


__ADS_2