Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 258 Kabar Dari Khayangan


__ADS_3

Di dunia khayangan, seperti yang pernah dikatakan oleh raja dewa sepuluh tahun yang lalu tepat ketika Kalapati memindahkan seluruh bangsanya ke sana, berbagai sumber hidup perlahan mulai menipis.


Bangsa raksasa yang menempati empat penjuru istana langit, yakni langit timur, utara, barat dan selatan mulai menampakkan pertikaian. Kalapati yang menempati istana langit tengah yang merupakan istana pusat dari seluruh dunia langit, mulai tak senang.


Sebelum bangsa raksasa pindah ke dunia langit, mereka tinggal di dunia tengah, bersaing dengan para manusia dan tentu saja, juga bersaing dengan bangsa mereka sendiri.


Sebelum Kalapati mempersatukan seluruh bangsa raksasa di bawah panji kepemimpinannya, para raksasa itu hidup terpisah di segala penjuru dunia tengah. Masing-masing kelompok memiliki istana mereka sendiri.


Di masa lalu, sebelum bangsa manusia berkembang pesat dan menjadi penguasa dunia tengah, bangsa raksasa merupakan bangsa yang besar. Tak jarang bangsa raksasa itu menyerang ras mereka sendiri dari satu kerajaan ke kerajaan raksasa lainnya untuk berebut kekuasaan. Sama persis seperti yang dilakukan oleh bangsa manusia.


Bangsa raksasa juga tak sepenuhnya rukun dengan bangsa iblis dan bangsa siluman sehingga ketika mereka berperang, bangsa manusia merupakan pihak yang paling terancam. Oleh sebab itu, para dewa turun tangan untuk mengurangi jumlah bangsa raksasa dan bangsa iblis.


Bangsa yang pertama-tama diperangi oleh bangsa dewa adalah bangsa raksasa. Alasannya, kebutuhan hidup mereka jauh lebih besar dari bangsa manusia atau bangsa iblis dan siluman. Bangsa raksasa yang pemalas itu mengandalkan sumber daya alam untuk hidup. Semakin banyak jumlah bangsa raksasa, maka semakin cepat punah semua sumber daya alam yang tersedia di dunia tengah.


Ketika para dewa berhasil mengurangi dua pertiga dari seluruh bangsa raksasa, dan hal itulah yang membuat Kalapati dendam dan menjalani tapa seribu tahun, bangsa iblis menjadi penguasa di dunia tengah.


Sejatinya, bangsa iblis merupakan bangsa yang menghuni dunia bawah. Hanya karena mereka senang memangsa manusia dan menelan jiwa mereka, maka itulah alasan bagi bangsa iblis untuk naik ke dunia tengah.


Bangsa iblis merupakan ancaman serius bagi manusia sebab bangsa iblis tak menyukai tanaman dan tentu saja tak begitu suka dengan binatang. Lalu bagaimana dengan bangsa siluman? Tidak semua bangsa siluman merugikan manusia. Hanya siluman tertentu yang gemar memangsa manusia layaknya bangsa iblis.


Untuk menghindari punahnya bangsa manusia, maka bangsa dewa pada akhirnya juga mengurangi jumlah bangsa iblis sebagaimana yang mereka lakukan terhadap bangsa raksasa. Setidaknya selama lebih dari seribu tahun, sebelum Kalapati selesai dalam pertapaannya, kehidupan bangsa manusia berkembang pesat.


Kini para dewa sedang kehilangan taringnya. Bangsa iblis mulai bangkit perlahan, dan bangsa raksasa yang berkembang biak sangat cepat di khayangan ingin kembali di dunia tengah untuk mendapatkan sumber kehidupan.


Kalapati memanggil keempat raja raksasa yang menjadi pemimpin di istana langit timur, utara, barat dan selatan untuk berunding di istana tengah, membicarakan solusi atas berkurangnya sumber kehidupan di dunia langit seiring dengan perkembangan bangsa raksasa.


Ya, mereka sangat cepat berkembang. Sekali melahirkan, satu raksasa betina bisa melahirkan seratus anak lebih. Dalam waktu tiga tahun saja, anak-anak raksasa itu sudah tumbuh hingga tubuh mereka sebesar sapi dewasa. Maklum, mereka adalah raksasa. Tubuh mereka lebih besar sepuluh kali lipat dari tubuh manusia.


“Paduka, persediaan sumber kehidupan di wilayah kami mulai menipis. Kami tak mungkin bisa bertahan dalam waktu setahun ini,” kata Kalahitam kepada Kalapati.


“Benar paduka, wilayah kamipun mengalami hal serupa,” kata Kalamerah.

__ADS_1


Kalahijau dan Kalajingga mengekspresikan hal serupa. “Bila seperti ini terus keadaannya, kekacauan tak akan bisa dihindari, paduka.”


Kalapati kesal mendapatkan laporan itu. Yang membuatnya kesal bukan semata-mata karena kondisi dunia langit yang sedang terjadi, tetapi karena ternyata yang dikatakan oleh raja dewa benar adanya.


Namun, Kalapati juga tak bisa mengelak dari kenyataan itu. Lagipula, sumber kehidupan di istana tengah tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua bangsa raksasa di empat penjuru istana langit. Sehingga, otaknya yang tak terlalu cerdas itu benar-benar mau meledak.


“Lalu bagaimana?” tanya Kalapati.


“Kami tak tahu, paduka,” kata Kalamerah.


“Kenapa kita tidak kembali ke dunia tengah, paduka?” tanya Kalahitam.


Kalapati teringat perkataan raja dewa, bahwa solusi untuk mengatasi hal itu adalah dengan mengurangi jumlah bangsa raksasa. Tetapi itu berkebalikan dengan apa yang ia perjuangkan.


“Bukankah paduka telah berhasil mempermalukan para dewa dan menghabisi mereka?! Lalu kenapa kita harus tinggal di sini?” kata Kalajingga.


“Tinggal di khayangan adalah kehormatan yang selama ini aku perjuangkan! Dengan berada di sini, kita menjadi bangsa paling terhormat!” kata Kalapati.


“Aku akan pikirkan hal ini. Sementara waktu, kalian tetap tinggal di wilyah kalian masing-masing. Jangan sampai aku dengar lagi kalian saling ribut satu sama lain!” kata Kalapati.


Keempat raja raksasa itu undur diri. Mereka kembali ke wilayah mereka masing-masing dengan perasaan jengkel, namun mereka tak berani menunjukkannya kepada sang raja agung Kalapati.


Selepas keempat raja itu pergi, Kalapati kembali berbicara dengan raja dewa yang ia penjarakan di dalam cincinnya.


“Raja dewa! Raja dewa! Aku ingin bicara!” kata Kalapati.


“Berisik sekali!” kata raja dewa.


“Jika kau tak mau bicara, aku akan terus memanggilmu!” kata Kalapati. Sejengkel apapun Kalapati kepada raja dewa, ia tak bisa membunuhnya. Raja dewa memiliki kesamaan dengan Kalapati, yakni tak bisa di bunuh. Sekalipun Kalapati sangat kuat dan bisa menghancurkan raja dewa berkali-kali, namun raja dewa tetap akan hidup lagi.


“Apa yang mau kau bicarakan? Bukankah kau tak pernah mau menuruti nasehatku!” kata raja dewa.

__ADS_1


“Sumber kehidupan khayangan akan habis!” kata Kalapati.


“Apa peduliku! Urus saja sendiri!” kata raja dewa.


“Kau! Baiklah, jika kau tak memikirkan caranya, aku akan terus mengganggumu!” ancam Kalapati.


“Bedebah *****! Sudah kukatakan, jika kau memenjarakanku seperti ini, aku tak bisa membantumu!” kata raja dewa.


“Kau tak bisa mengelabuhiku, jika aku membebaskanmu, kau akan melarikan diri!” kata Kalapati.


“Ya sudah kalau begitu! Pikirkan sendiri!” kata raja dewa.


Kalapati sangat marah. Ia membaca mantera untuk menyiksa raja dewa. Di dalam cincin itu, api menyala membakar tubuh raja dewa. Pemimpin para dewa itu hanya bisa mengumpat dan berteriak kesakitan.


“Bagaimana, apa kau mau membantuku?!” kata Kalapati.


“Bunuh saja bangsamu, masalah selesai!” kata raja dewa.


Kalapati sungguh tak suka jawaban itu. ia membaca mantera lagi untuk menyiksa raja dewa.


“Keparat kau Kalapati!” jerit raja dewa.


“Apa susahnya membantuku. Lagipula kau tak ingin dunia khayangan yang kau bangun ini hancur, bukan?!” kata Kalapati.


“Ancamanmu sungguh tidak berbobot. Tapi dengarkan aku. Memang tak ada yang bisa memulihkan sumber kehidupan selain aku dan beberapa dewa yang lain. Sayang kau telah membunuh mereka. Jadi, jika kalian lapar, belajarlah seperti manusia. Jangan hanya makan apa yang ada, tapi buatlah makanan!” kata raja dewa.


“Jika kau memang tidak bisa, maka sebagian dari kami harus kembali ke dunia tengah,” kata Kalapati.


Raja dewa berfikir keras. Ia sama sekali tak tahu kabar pusaka dewa yang ia kirimkan ke dunia tengah. Jika hanya sebagian dari bangsa raksasa saja, maka kemungkinan besar pusaka dewa itu akan selamat. Tetapi masalahnya, bangsa raksasa akan berperang dengan manusia atau bahkan bangsa iblis.


Tiba-tiba raja dewa teringat satu hal. Jika saat ini bangsa dewa sedang dalam keadaan lemah, berarti bangsa iblis mulai bangkit. Ya, ide bagusnya adalah membiarkan bangsa raksasa turun ke dunia tengah dan membiarkan bangsa raksasa menekan keberadaan bangsa iblis. Sementara, ia sendiri akan berusaha membujuk Kalapati untuk tetap tinggal di istana khayangan sampai tiba waktunya nanti.

__ADS_1


“Ya, kau benar Kalapati. Biarkan sebagian bangsamu turun ke dunia tengah. Kelak bangsa kalian akan bersaing dengan manusia dan bangsa lainnya. Kau jangan terlalu ikut campur. Kau tetap di khayangan dan biarkan saja bangsamu hidup dengan kemauan mereka sendiri. Jika kau selalu melindungi mereka, percayalah umur dunia ini tak akan lama,” kata raja dewa.


__ADS_2