Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 276 Mencari Bahan Senjata


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala telah berada di dalam perut bumi yang gelap. Mereka terpaksan menyalakan api di tangan mereka untuk menerangi kegelapan.


“Perut bumi di dunia kita sungguh berbeda dengan dunia tiga rembulan,” kata Nala.


“Kau benar, di sana perut bumi masih diterangi oleh dinding-dinding kristal api. Sementara di sini, kita hanya bisa menemukan kepingan-kepingan kecil dari kristal api yang tak bisa menerangi goa ini,” kata Batari Mahadewi.


“Sepertinya goa ini dulunya adalah sungai api, lalu berganti menjadi jalur air yang terdorong ke atas menjadi air terjun,” kata Nala.


“Sampai sejauh ini kita belum menemukan sungai utama dan menemukan jalur yang masih dilewati api,” kata Batari Mahadewi.


“Mungkin kita harus menelusuri lagi hingga benar-benar ke dasar untuk menemukan sungai api,” kata Nala.


“Itu tidak mungkin Nala. itu sama saja kita harus menjebol lapisan-lapisan goa ini. Dan jika kita melakukannya, maka lahar itu akan terdorong keluar dan menjadi gunung api baru di Cemara Seribu,” sahut Batari Mahadewi.


“Kau benar. Lalu bagaimana dengan bahan yang kita perlukan?” tanya Nala.


“Jika dulu goa ini pernah menjadi jalur api, maka bahan yang kita butuhkanpun sudah ada di sini tanpa kita harus turun lagi lebih jauh ke dalam bumi. Ambillah kristal api atau kristal apapun dan batu-batu mustika yang menurutmu memiliki kekuatan yang bagus. Aku akan memilih logam terbaik di sini,” kata Batari Mahadewi.


Kedua pendekar tanpa tanding itu sibuk membongkar dinding dan lantai goa untuk mencari berbagai bahan untuk membuat senjata pusaka.


“Kurasa cukup, Nala. Kita akan bawa bahan-bahan ini ke atas. Semua yang kita dapatkan ini bisa untuk membuat sekitar lima belas atau dua puluh senjata,” kata Batari Mahadewi. Ia memadatkan dan menyatukan bongkahan logam kecil itu agar mudah dibawa.


“Lhat Tari, aku menemukan barang bagus!” kata Nala. Ia bergegas membawa sebongkah batu besar bercahaya hijau-emas.


“Ini seperti berlian tapi berwarna hijau keemasan. Bagus, kita teliti bahan-bahan yang kita peroleh nanti di atas,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Ayo, aku butuh udara segar,” kata Nala. Keduanya bergerak dengan cepat dan lincah menyusuri lorong-lorong sempit yang gelap.


Ketika hampir mendekati mulut goa, barulah mereka berdua bisa bernafas lega. Batari Mahadewi dan Nala meletakkan semua bahan yang mereka dapatkan di area mulut goa yang biasanya dipergunakan untuk meditasi. Di sanalah, mereka berdua berencana menciptakan senjata. Selain sejuk dengan tempias air terjun, tempat itu juga memiliki energi yang bagus.


“Ternyata hari sudah sore, Nala. berarti kita telah seharian berada di perut bumi,” kata Batari Mahadewi.


“Kita memang sangat lama mencari bahan-bahan tadi. Tapi tak terasa lama. Kau nanti akan pulang ke rumah?” tanya Nala.


“Ya, aku akan menemani ibuku,” jawab Batari Mahadewi.


“Bagaimana jika aku tinggal di sini bersama kakak dan kakek Gading?” tanya Nala.


“Sebaiknya begitu,” jawab Batari Mahadewi.


*****


“Kenapa teman-temanmu tidak ikut makan malam di sini?” tanya sang ibu.


“Mereka ingin tinggal di padepokan untuk sementara waktu,” jawab Batari Mahadewi.


“Hahaha, ibu tak paham pemikiran para pendekar. Mereka tidak betah berada di rumah. Sudah pasti padepokan Ki Gading lebih menarik daripada di sini kan? Kata sang Ibu.


“Tidak juga, ibu. Mereka hanya sungkan dan tak mau terlalu merepotkan ibu saja,” jawab Batari Mahadewi.


“Lelaki itu, Nala. dia sangat gagah dan tampan Tari. Kau juga sangat cantik,” Nyi Kunyit tak melanjutkan kata-katanya. Ya, bagi seorang ibu, sudah pasti akan bahagia jika anak gadisnya yang telah dewasa itu memiliki pasangan. “Tari, meski sekarang ini kau telah menjadi pendekar, taka da salahnya jika kau memiliki pasangan. Banyak pendekar yang tak mau menikah sampai tua. Tetapi ibu merasakan, hidup sendiri itu lebih banyak susahnya. Setiap orang, kadang butuh teman bercerita dan berbagi. Jika kita sendiri, di usia tua, seandainya kita sakit, tak ada yng bisa merawat setiap saat.”

__ADS_1


Kata-kata sang ibu begitu menyentuh perasaan Batari Mahadewi. ia tak boleh lupa bahwa sesekali ia harus menengok ibunya. Bagaimanapun, perempuan itulah yang telah repot merawatnya sejak ia masih bayi.


“Maafkan Tari ibu, baru sekarang ini Tari pulang menemui ibu,” kata Batari Mahadewi.


“Ibu mengerti Tari. Tanggung jawabmu besar. ibu baik-baik saja di sini. Semua tetangga seperti saudara sendiri. Tadi ada beberapa tetangga yang menanyakan siapa dirimu. Ibu jawab itu adalah kau. Mereka tak percaya. Tentu saja, ibu juga tak percaya jika bukan kau sendiri yang bercerita. Nah, sekarang mandilah dulu, lalu kita makan. Setelah itu ibu akan memberitahukan sesuatu padamu,” Kata Nyi Kunyit.


“Baik ibu,” kata Batari Mahadewi.


Makan malam yang tersedia di meja itu sangat sederhana, sayur dan nasi dengan lauk sambal dan ikan asin. Besok pagi sebelum berangkat ke padepokan, Batari Mahadewi berencana berburu kijang di hutan, lalu di awetkan menjadi daging asap yang bisa tahan selama beberapa hari lamanya. Ia ingin memanjakan ibunya, dan tentu saja perutnya sendiri.


Beruntunglah orang-orang di Cemara Seribu, sebab alam masih menyediakan sumber daya yang melimpah. Meski demikian, Nyi Kunyit hanyalah perempuan tua. Ia tak sanggup berburu binatang besar, atau bahkan ikan layaknya para lelaki di desa itu. Yang ia bisa hanyalah mengumpulkan ranting kering, jamur, sayur, buah-buahan, atau akar tanaman obat yang biasanya ia kumpulkan dan ia jual ke pasar di desa sebelah untuk menyambung hidup, membeli beberapa keperluan dapur seperti garam dan ikan asin yang tak mungkin didapatkan di Cemara Seribu.


Dengan menu sederhana itu, sang ibu dan anak makan malam dengan perasaan bahagia dan penuh syukur.


“Nah, inilah yang mau ibu beritahukan padamu.” Nyi Kunyit menyerahkan sebuah benda berbentuk persegi dan pipih setelah ia dan Batari Mahadewi selesai makan. Benda itu adalah mustika langit, salah satu mustika langka yang dipergunakan para dewa untuk tujuan tertentu.


Batari Mahadewi mengamati benda itu. Ia tahu banyak aksara rahasia yang tertulis pada mustika itu. ia berencana untuk mempelajarinya nanti ketika hendak tidur.


“Dari mana ibu mendapatkan benda ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Jadi anakku, sebetulnya ibu menemukanmu ketika masih bayi. Ibu tak tahu darimana kamu berasal, tetapi ibu tahu bahwa sejak bayi kau adalah anak yang istimewa. Seolah para dewa sengaja memberikanmu kepada ibu. Benda ini kutemukan bersamamu dalam sebuah keranjang. Ibu menyimpannya selama ini dan ingin memberitahukanmu ketika kamu sudah dewasa. Kini kamu telah dewasa dan kamu berhak mengetahui hal ini,” kata Nyi Kunyit.


Nyi Kunyit merasa lega. Hal yang selama ini ia sembunyikan telah ia katakan. Air matanya jatuh. Ia takut mengecewakan anaknya. Tetapi gadis itu bagaimanapun adalah titipan dewata. Sejak awal ia tahu, bahwa kelak ia akan berpisah dengan Batari Mahadewi, cepat atau lambat.


Batari Mahadewi tidak kaget dengan hal itu. Ia sudah mengetahuinya jauh-jauh hari dari kakek dewa di dunia tiga rembulan. Dipeluknya sang ibu yang telah berbaik hati merawatnya dengan penuh kasih sayang, “Terimakasih banyak, ibu. Aku akan tetap menjadi anakmu,” bisik Batari Mahadewi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2