
Batari Mahadewi dan Nala terdiam menunggu jawaban dari kakek Zotha. Wajah tua yang mula-mula hening itu akhirnya membuka suara, meski bukan jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Batari Mahadewi sebelumnya.
“Sejauh mana kalian bisa mempelajari kitab rahasia yang kalian bawa ini?” kata kakek Zotha.
“Kami bisa mengubah tubuh kami menjadi api, dan juga hal-hal dasar mengenai jurus-jurus api, sesuai yang tertulis dalam kitab itu dari awal sampai akhir.” Kata Batari Mahadewi.
“Jika begitu, barangkali kalian bisa menyerap energi dari sumber utama yang tersimpan di bawah kuil ini. Tanpa bekal pengetahuan dari kitab tersebut, atau bekal pengetahuan tentang ilmu api, maka kalian tak akan mungkin bisa menyerap energi tersebut, sebab energi yang bersumber dari kristal utama pulau api merupakan energi panas di atas permukaan kawah api yang terletak di dalam tanah, tepat di bawah kuil ini. Sehingga, kalian tentu tak bisa merasakan pancaran dari sumber energi itu dari sini.” Kata Zotha.
“Kami akan melakukannya, kakek. Tak ada pilihan lain selain mencobanya agar kami bisa kembali ke dunia kami.” Kata Nala.
“Kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian. Semakin cepat semakin baik karena kalian butuh waktu lama agar bisa sampai di sumber energi utama itu, dan masih butuh waktu lama untuk menyerap energi tersebut, dan menyesuaikannya dengan tubuh kalian.” Kata kakek Zotha.
“Baik kakek.” Kata Nala dan Batari Mahadewi bersamaan.
“Semoga saja manusia-manusia perak itu belum tiba di kota ini sewaktu kalian masih sedang menambah kekuatan di bawah sana. Kalian telah mendengar tentang serangan manusia perak itu kan? Mereka juga mengincar sumber energi yang kalian cari. Aku masih bisa menahan serangan manusia-manusia perak itu bersama dengan para penjaga kuil Api Suci lainnya, juga para pasukan kerajaan. Namun jika mereka datang dalam jumlah besar dan dengan kekuatan besar, maka aku tak tahu apakah kami bisa bertahan atau tidak.” Kata kakek Zotha.
__ADS_1
“Kami akan membantu setelah kami selesai menyerap energi yang kami perlukan, kakek.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, aku percaya kalian bisa membantu. namun ketahuilah, kalian butuh waktu setahun atau kurang dari itu untuk menyempurnakan energi api kalian.” Kata kakek Zotha. Batari Mahadewi dan Nala sangat kaget. Keduanya tak menyangka jika proses yang dibutuhkan akan selama itu.
“Jangan heran. Sebab, wadah energi dalam tubuh kalian sangat besar dan kalian butuh waktu lama untuk menyelesaikan seluruh tahapan yang harus kalian lalui. Maka dari itu, kalian harus tahu bagaimana caranya. Nanti akan aku ajarkan. Sekarang, ayo ikuti aku.” Kakek tua itu mengajak Batari Mahadewi dan Nala pergi ke suatu ruang.
Ruangan itu merupakan ruang dengan pintu yang hanya bisa dibuka melalui mantra. Zotha mengerahkan energi sembari merapalkan mantera untuk membuka pintu baja itu. Perlahan, pintu besar yang berwarna hitam itu terbuka dan dibalik pintu itu adalah goa yang mengarah ke dalam bumi.
Zotha mengantarkan Batari Mahadewi dan Nala hingga ke suatu ruangan yang luas di dalam goa itu. Meski berada di dalam tanah dan tak ada cahaya matahari, namun goa itu banyak sekali menyimpan kristal-kristal api yang memancarkan cahaya remang-remang, sehingga cukup untuk membuat mata bisa melihat sekeliling isi goa itu dengan baik.
Batari Mahadewi dan Nala menyusuri lorong goa yang sempit itu, dan ternyata lorong itu mengantarkan mereka berdua ke sebuah sungai bawah tanah. Sungai itu terlihat jelas dari cahaya yang dipancarkan oleh kristal-kristal api di dinding-dinding goa. Seharusnya, ruangan itu sangat dingin. Namun karena ruangan itu dekat dengan kawah api, maka yang terasa adalah hawa panas.
“Kakek Zotha tadi mengatakan kalau kita harus menyelam di sungai ini, dan menemukan jalur bawah tanah yang akan mengantarkan kita ke pusat energi api di bawah sana.” Kata Batari Mahadewi.
“Ayo kita lakukan.” Kata Nala.
__ADS_1
“Jangan terburu-buru. Kita tak tahu seberapa dalam danau ini dan seberapa lama kita akan menyelam di dalamnya. Siapkan dulu energimu. Kita tak akan bernafas dalam waktu yang cukup lama.” Kata Batari Mahadewi memperingatkan.
“Ya, aku tahu. Mari kita bersiap.” Nala dan Batari Mahadewi mengerahkan energinya. Keduanya akan bergerak cepat di dalam air agar cepat sampai di bilik goa yang lainnya, dan menemukan jalur yang akan mengantarkan keduanya ke kawah api, tempat sumber energi utama yang menyokong pulau Api itu berada.
Nala dan Batari Mahadewi menceburkan diri ke dalam sungai yang airnya hangat itu. Keduanya harus bergerak cepat ke bawah untuk mencari tahu jalur goa yang mereka tak tahu. Sungai itu lebih dalam dari yang mereka duga, namun semakin ke bawah, mereka tetap tak kesulitan untuk melihat karena bebatuan di dalam sungai itu masih memancarkan cahaya.
Batari Mahadewi dan Nala harus berusaha keras, sebab keduanya juga harus melawan arus sungai dan menemukan jalur goa secepat mungkin sebelum keduanya tak sanggup lagi menahan nafas. Meski keduanya memiliki kemampuan hebat untuk menyerap energi alam, namun menahan nafas dalam waktu yang lama adalah hal yang berbeda.
Belum sempat mereka menemukan jalur goa, sekelompok ikan api penghuni sungai itu mulai terlihat. Ikan-ikan seukuran meja makan itu terlihat lapar, tubuh mereka yang memancarkan cahaya itu perlahan mendekati Batari Mahadewi dan Nala.
Tentu saja hal itu di luar dugaan mereka berdua. Bukan hal sulit sebenarnya melumpuhkan ikan-ikan itu, namun jumlah mereka yang puluhan akan menjadi masalah serius, sebab Nala dan Batari Mahadewi masih harus menahan nafas.
Batari Mahadewi menarik Nala untuk berenang menjauh. Keduanya sudah hampir tak sanggup menahan nafas dan di tambah pula ikan-ikan lapar itu mulai mengejar. Ketika keduanya sudah benar-benar tak kuat lagi untuk bertahan di dalam air, keduanya telah sampai di suatu pusaran air yang dengan cepat menyedot tubuh mereka. Kedua pendekar muda itu berputar-putar terseret dalam arus air bawah tanah.
Batari Mahadewi dan Nala tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dihanyutkan aliran air itu. Ketika keduanya telah putus asa, mereka tiba-tiba terlempar dan jatuh ke sebuah danau di dalam tanah. Pusaran air itu jatuh ke danau seperti air terjun bawah tanah. Dengan sisa tenaga yang mereka miliki, Batari Mahadewi dan Nala berenang ke tepi danau itu, lalu terbaring tanpa daya dan tanpa sadar bahwa ada hewan bawah tanah lainnya yang mencium kedatangan mereka berdua, dan binatang itu perlahan merayap mendekati kedua tubuh yang terbaring dan mencoba untuk memulihkan tenaga itu.
__ADS_1