Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 221 Siluman Naga dan Elang Putih


__ADS_3

Di sebuah hutan wilayah paling barat di Mahatmabhumi, Nala menghentikan perjalanannya. Ia tahu sejak tadi ada dua energi berbeda yang mengejarnya. Berdasarkan cerita siluman ular merah, ia paham bahwa sangat mungkin ia menjadi incaran para siluman putih.


Dulu barangkali tidak, sebab pancaran tenaganya masih lemah. Namun setelah Nala memiliki kekuatan tinggi, memang tak sulit bagi makhluk-makhluk yang berasal dari masa lalu mengenali dirinya. Hal ini membuat Nala merasa pada posisi yang sulit.


Nala sangat memahami bahwa para siluman putih akan banyak membantu apabila kelak ratu Ogha telah membangkitkan banyak makhluk iblis kuno. Namun Nala juga kesulitan untuk mengatakan bahwa ia saat ini berbeda dengan yang dulu. Ia saat ini berpihak pada aliran putih, berpihak pada hal yang diperjuangkan oleh Batari Mahadewi.


“Andai saja Tari ada di sini, pasti tak akan sulit menjelaskan aku ada di pihak siapa,” batin Nala. Pemuda gagah dan tampan itu bersiap menyambut dua tamunya yang sebentar lagi akan tiba di hadapannya.


Dua cahaya putih melesat dari angkasa dan turun tepat di hadapan Nala. Dua cahaya itu menjelma menjadi dua sosok kakek-kakek yang terlihat serba putih; janggut, rambut, dan seluruh pakaiannya. Wajah kedua sosok itu tampak tenang.


“Kenapa kakek mengejarku?” tanya Nala tenang. Wajahnya tak menunjukkan sikap bermusuhan dengan kedua sosok yang sudah pasti akan meminta nyawanya itu.


“Pancaran kekuatanmu yang membuat kami mengejarmu. Kau adalah pangeran kegelapan.” Kata siluman naga putih.


“Kakek salah, aku Nala. Aku bukanlah pangeran yang kakek maksud,” kata Nala.


“Ya, tentu saja. Jiwa kegelapan masih terkunci di dalam tubuhmu. Seharusnya kau mempertanyakan dirimu, kenapa kau memiliki kekuatan seperti ini. Tak ada manusia biasa yang memiliki kemampuan setinggi yang kau miliki.” Kata siluman elang putih.


Dua siluman putih itu merupakan dua dari sepuluh siluman berkemampuan luar biasa dan banyak membantu para dewa di masa kegelapan.


“Beberapa orang yang bertemu denganku mengatakan hal serupa yang kakek katakan. Tapi sesungguhnya, aku tak berpihak pada kekuatan hitam. Aku tahu, aku memiliki kekuatan hitam. Namun percayalah, aku ada di pihak kalian,” kata Nala.


“Saat jiwa kegelapan dalam tubuhmu telah bangkit. Kau tak akan ingat siapa dirimu. Kau adalah pangeran kegelapan. Justru kami mengejarmu dengan alasan ingin melumpuhkanmu selagi jiwa kegelapan dalam dirimu belum bangkit. Jika kau ada di pihak kami, seharusnya kau merelakan dirimu. Sadarkah kau bahwa kekuatanmu sangat berbahaya bagi kehidupan di dunia ini?” kata siluman naga putih terang-terangan, tanpa peduli apakan Nala memahami kata-katanya atau tidak.


Namun Nala yang telah mengetahui beberapa hal tentang masa lalunya, sudah pasti memahami kata-kata siluman naga putih itu dengan baik. Hanya saja, ia tak rela untuk dibunuh begitu saja. Ia yakin bahwa ia bisa mengendalikan jiwa kegelapan dalam tubuhnya seperti yang ia lakukan hingga saat ini.


“Maafkan aku, kakek. Sayang sekali, aku tak rela jika harus mati begitu saja. jika kakek memaksa, tentu aku akan melawan,” kata Nala.

__ADS_1


“Kami memang sudah menduganya. Jadi memang tak ada jalan lain. Kami harus bertarung melawanmu,” kata siluman elang putih.


Kedua siluman putih itu memang bisa membaca energi yang dimiliki Nala, dan bisa melihat jiwa kegelapan yang masih tersegel dalam tubuh Nala. Namun mereka berdua tak benar-benar tahu, kekuatan apa yang dimiliki oleh Nala sejak pemuda gagah itu berada di dunia tiga rembulan.


Oleh karenanya, kedua siluman putih itu sangat percaya bahwa mereka berdua bisa melawan Nala selagi jiwa kegelapan belum bangkit. Padahal, kekuatan yang ada dalam tubuh Nala hampir mencapai sembilan puluh persen untuk mencapai sempurna. Kekuatan Nala akan benar-benar sempurna jika jiwa kegelapan telah bangkit. Namun demikian, kekuatan Nala saat inipun sudah bisa dikatakan setara atau justru lebih besar jika dibandingkan dengan kekuatan pangeran kegelapan di masa lalu.


Siluman naga putih melesat cepat untuk menyerang Nala, sementara siluman elang putih belum bergerak sedikitpun. Nala menghindari serangan-serangan kakek tua yang bergerak dengan kecepatan tinggi itu. Ia belum berniat menunjukkan seluruh kemampuannya dan hanya menghadapi siluman naga itu dengan cara lama sebelum ia terseret ke dunia tiga rembulan.


“Kemampuanmu boleh juga, anak muda. Aku yakin kau belum mengerahkan kemampuanmu. Baiklah, aku akan memulainya terlebih dahulu,” kata siluman naga putih. Ia mengeluarkan pancaran energi yang  dahsyat, lalu tubuhnya yang semula kurus menjadi lebih besar tiga kali lipat dan tampak lebih muda.


Nala mau tak mau juga harus mengimbangi kekuatan besar yang sedang ia hadapi itu. Pendekar muda itu menggerahkan energinya untuk mengendalikan tanah, kemudian ia menciptakan ratusan makhluk yang terbuat dari tanah di sekitarnya. Ia ingin menjelajahi semua kemampuan yang dimiliki oleh dua siluman putih yang menantangnya itu. Dengan begitu, ia memiliki bayangan tentang kekuatan para makhluk iblis dan siluman di masa lalu.


Ratusan makhluk tanah yang diciptakan oleh Nala bergerak bersama-sama menyerang siluman naga putih dan elang putih. Diam-diam, siluman elang putih yang sedari tadi diam telah menyiapkan sesuatu. ia menggunakan mantra siluman untuk melumpuhkan semua makhluk ciptaan Nala dalam sekejap bahkan sebelum makhluk-makhluk itu melepaskan serangan.


Nala tertegun. Dalam benaknya ia tahu bahwa kekuatan kedua siluman putih itu masih jauh di bawahnya. Namun siluman itu seolah tahu kelemahan dari jurus yang baru saja dikeluarkan oleh Nala.


“Tenang saja, kakek. Aku masih memiliki beberaa jurus, yang mungkin tak kumiliki di masa lalu. Nala mengubah wujudnya menjadi manusia api. Hawa panas yang terpancar dari tubuhnya membuat kedua lawannya melompat beberapa langkah ke belakang. Keduanya jelas terlihat heran.


“Kau ternyata memiliki kemampuan ini? Terus terang kami tak menduganya. Baiklah, semoga kami bedua tak mengecewakanmu.” Siluman elang putih merubah wujudnya menjadi seekor elang besar yang merupakan wujud aslinya. Dan dalam wujud itu, maka siluman elang putih bisa mengeluarkan seluruh kekuatannya.


Sementara itu, siluman naga putih menambah pancaran energinya. Kedua telapak tangannya mengeluarkan cahaya putih, lalu kemudian ia melontarkan pukulan energi. Dua cahaya energi menyorot dari kedua tangannya dan melesat cepat ke arah Nala. Pendekar muda itu menahan serangan siluman naga putih dengan salah satu tangannya, seolah energi besar yang dikerahkan oleh siluman naga putih tak berarti apa-apa baginya.


Pada waktu yang sama, ketika siluman naga putih masih menambah kekuatan serangannya, siluman elang putih menghujamkan serangan energi cahaya dari angkasa. Serangan energi yang berbentuk kepala elang itu melesat dan menghujam Nala, seolah seperti ayam yang mematuk seekor cacing. Dentuman besar tak terhindarkan. Ledakan dari serangan siluman elang putih dan siluman naga putih yang menghantam Nala membuat arena pertarungan itu hancur berantakan.


Nala masih berdiri tegak. Tanah di sekelilingnya telah membentuk lubang yang dalam. Hanya tanah tempatnya berpijak yang masih utuh, seperti tonggak batu yang tinggi.


Dua siluman putih itu tertegun tak percaya. Serangan yang mereka lakukan tidak mempan sama sekali. Mereka menangkap pancaran energi yang lain dari tubuh Nala. Pancaran energi yang bukan berasal dari dunia itu. Pancaran energi yang bukan merupakan energi hitam ataupun putih. Hanya energi murni.

__ADS_1


“Kakek, percayalah, saat ini aku bisa membunuh kakek dalam sekali serangan. Jadi aku mohon, biarkan saja aku pergi tanpa harus mencelakai kalian semua,” kata Nala.


Kedua siluman putih itu masih belum bisa memutuskan apa-apa. Keduanya masih memasang sikap waspada, dengan pancaran energi puncak yang mereka miliki.


Nala ingin menekan keberanian lawannya. Ia mengubah tanah di sekelilingnya menjadi pijaran lumpur api berwarna hitam. Usahanya berhasil. Tanpa melakukan serangan, kedua siluman putih itu akhirnya menghentikan pancaran energi mereka.


Sebelum kedua siluman itu berubah pikiran, Nala berubah menjadi partikel energi yang tak terlihat, lalu ia menghilang dan pergi meninggalkan kedua siluman yang kebingungan itu. Ia sama sekali tak berniat untuk mencelakai dua siluman putih itu. Dalam pikirannya, ia ingin segera bertemu kakaknya, lalu bertemu dengan Batari Mahadewi untuk mencari solusi atas masalah yang ia hadapi saat ini.


“Naga putih, ia jauh lebih kuat dari yang kita perkirakan.” Kata siluman elang putih.


“Setelah ia berubah wujud menjadi manusia api, ia tak memancarkan energi hitam. Begitu pun ketika ia menghilang. Aneh. Seharusnya pangeran kegelapan tak memiliki energi itu. Dari mana ia mendapatkannya?” ujar siluman naga putih.


“Aku jadi ragu. Dengan kekuatannya yang besar itu, seharusnya ia bisa membuka jiwa kegelapan di dalam tubuhnya,” kata siluman elang putih.


“Tampaknya ia memang sengaja mengatur kekuatannya sedemikian rupa agar jiwa kegelapan itu tidak muncul dan menguasai dirinya. Ini hal baik sebenarnya. Jika ia berhasil, kita tak perlu bermusuhan dengan makhluk mengerikan itu. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa jiwa kegelapan dalam tubuhnya itu tak akan bangkit suatu hari nanti?!” kata siluman naga putih.


“Kita tak bisa bergerak berdua saja. Kita harus mengabarkan hal ini kepada delapan siluman putih lainnya,” kata siluman elang putih.


“Aku setuju denganmu.” Kedua siluman putih itu melesat pergi meninggalkan arena pertempuran mereka dengan Nala. Mereka harus menuju ke berbagai tempat di seluruh penjuru dunia itu untuk membangunkan delapan siluman putih lainnya yang artinya sepuluh siluman putih akan bangkit kembali dan bersiap menyambut kebangkitan pangeran kegelapan dan bala pasukannya.


Delapan siluman putih itu adalah siluman gajah putih, siluman harimau putih, siluman kerbau putih, siluman serigala putih, siluman rusa putih, dan terakhir yang paling kuat di antara mereka, siluman gorila putih.


Di zaman kuno, sepuluh siluman itu selalu berperang dengan bangsa iblis atau siluman hitam. Mereka tidak mau berperang melawan manusia, sekalipun manusia itu adalah pendekar hitam. Berbeda dengan para makhluk iblis dan siluman hitam, mereka akan menyerang manusia, terutama para manusia yang berani menginjakkan kaki di wilayah mereka.


 


 

__ADS_1


__ADS_2