Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 206 Pertemuan Para Pendekar Legenda Wilayah Timur


__ADS_3

Setelah situasi canggung itu berlangsung lama, Ki Prapanca akhirnya membuka suara lagi.


“Sejujurnya, aku tak akan menang menghadapi panglima perang dari kerajaan hitam itu. Betapa tidak, bahkan untuk menghadapi pasukannya saja itu sulit. Kita ada di jalan buntu saat ini. Kurasa, pasukan kerajaan hitam itu sedang memikirkan cara lain untuk menghancurkan kita semua. Tak banyak yang bisa kita lakukan, namun aku akan mencoba menghubungi para tetua pendekar di wilayah timur hari ini juga. Tapi aku tak menjamin akan berhasil merangkul mereka.” Kata Ki Prapanca. Ia bergegas keluar ruangan setelah sebelumnya ia berpamitan kepada tetua pendekar lainnya yang masih ada di sana. Ia tak tahan berlama-lama dengan para penguasa kerajaan barat sebab secara pribadi ia memang tak pernah sepakat jika barat dan timur bermusuhan.


Rapat masih sedang berlangsung sepeninggalan Ki Prapanca. Lelaki tua itu melesat dengan kecepatan kilat menuju ke wilayah timur. Satu-satunya hal yang ada dalam benaknya adalah bertemu dengan Ki Gading Putih, salah satu tetua pendekar di wilayah timur yang punya pengaruh besar di sana.


Sementara itu, kerajaan-kerajaan timur, termasuk kerajaan Mahatmabhumi yang sebelumnya hanya bersifat pasif, akhirnya mencapai satu kesepakatan untuk membangun pertahanan di perbatasan antara wilayah timur dan barat, yakni kota Mutiara Biru.


Berbeda dengan wilayah barat yang menggunakan seluruh kekuatan prajurit biasa dengan jumlah yang luar biasa besar untuk menghalau serangan para pendekar dari kerajaan hitam Tirayamani, maka wilayah timur bersepakat untuk lebih mengandalkan kekuatan para pendekar sebagai barisan garda depan baik para pendekar tetua hingga pendekar dengan kemampuan menengah.


Para penguasa dan petinggi kerajaan timur tak ingin mengorbankan banyak nyawa untuk hal yang sia-sia. Dari pengamatan yang telah dilakukan sejak para pasukan kerajaan hitam mulai bergerak, wilayah timur mengambil kesimpulan bahwa tak ada gunanya mengerahkan prajurit biasa untuk melawan pasukan ratu Ogha itu.


Maka, semua prajurit hanya akan berjaga di wilayah kerajaan masing-masing dan apabila hal buruk terjadi, mereka akan mati di sana bersama junjungan mereka. Selebihnya, keempat kerajaan itu menggabungkan semua pendekar aliran putih yang mereka miliki untuk di tempatkan di Kota Mutiara Biru.


Sejak keputusan itu disahkan, maka perguruan Lentera Langit menjadi pusat kekuatan kedua setelah balai kota Mutiara Biru. Di perguruan itu, semua tetua pendekar aliran putih di wilayah timur berkumpul dan berbagi cerita tentang pengalaman di masa lalu.


Bisa dikatakan, jumlah pendekar legendaris yang menjadi tetua di wilayah timur jumlahnya lebih banyak dari yang ada di wilayah barat. Berkat kelihaian Ki Gading Putih dalam hal mengumpulkan dan menyatukan kekuatan, ia berhasil menyeret dua legenda utama di wilayah timur, yakni pendekar Raja Naga Selatan dan Raja Naga Timur untuk turut membantu meski kedua pendekar berkekuatan dewa itu merupakan pendekar yang awalnya sudah tak mau tahu lagi soal kehidupan dunia.


Pendekar Raja Naga Selatan dan Raja Naga timur merupakan dua pendekar setengah siluman yang selalu membela golongan putih. Tentunya, kekuatan siluman yang mereka miliki berbeda dengan kekuatan siluman pendekar aliran hitam pada umumnya. Keduanya memiliki kekuatan siluman Naga Suci yang dasar energinya merupakan energi putih.

__ADS_1


Jelas saja kedatangan kedua pendekar itu menjadi kejutan bagi para tetua lainnya yang ada dalam kediaman Ki Cakra Jagad.


“Sungguh suatu kehormatan dan kebahagiaan tersendiri bagiku karena hari ini para legenda dunia persilatan di wilayah timur bisa berkumpul di dalam gubukku. Jika kerajaan Tirayamani tak datang ke pulau ini, barangkali kita semua tak akan pernah bertemu.” Ujar Ki Cakra Jagad membuka percakapan dalam musyawarah pada hari itu.


“Hari ini kita berkumpul dan bertukar pikiran tentu dengan satu tujuan utama, yakni untuk mempersiapkan diri melawan kekuatan kerajaan hitam Tirayamani yang tak kita sangka akhirnya datang juga kemari.” Kata Ki Gading Putih.


“Aku sudah menduganya sejak lama. Kekosongan para dewa membuat ratu itu kembali menampakkan diri.” Kata pendekar Raja Naga Selatan yang telah mengetahui hiruk pikuk khayangan sejak sikian tahun yang lalu. Hanya saja ia tak mengatakan kepada siapapun, kecuali Ki Gading Putih yang datang kepadanya dua tahun yang lalu, tepat setelah Ki Gading Putih mengutus Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi untuk berlatih dalam perjalanan tugas yang mereka emban.


“Kita tak punya banyak pengetahuan soal ratu itu.” celetuk Raja Naga Timur.


“Paman guru Agrapanalah satu-satunya orang yang memiliki pengetahuan di masa lalu. Sayang sekali ia tak akan pernah meninggalkan kuilnya.” Kata Ki Gading Putih.


“Maafkan aku, aku sudah berusaha untuk mencari mereka semua, namun hanya kalian saja bisa kutemui dan bersedia berada di sini.” Kata Ki Gading Putih.


“Tidak usah merasa bersalah, Gading, kau sudah berusaha jauh lebih keras dari yang kami bisa lakukan saat ini.” Kata Ki Elang Langit.


“Untunglah pendeta Liong berkenan datang kemari. Jadi, kami tak perlu khawatir soal serangan racun dari para pendekar hitam itu.” kata Ki Cakra Jagad sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah pendeta Liong yang sedari tadi lebih memilih untuk menyimak pembicaraan yang sedang berlangsung. Ia tak memiliki kemampuan bertarung sebaik tetua lainnya, namun pengetahuannya tentang racun dan obat, ia adalah ahlinya meski ia tak memiliki Kitab Obat Dewa yang saat ini telah berada di tangan Ki Cakra Jagad.


“Hahaha, aku akan membantu sebaik mungkin yang bisa aku lakukan.” Kata pendeta itu merendah.

__ADS_1


“Menurut rekan-rekan semua, apakah kekuatan kita sudah cukup untuk mengimbangi pasukan kerajaan hitam itu?” tanya Ki Ranuwangi, sang pendekar Seruling Sakti dari wilayah Swargaloka.


“Kita tak benar-benar tahu, Ki Ranuwangi. Berita yang kita dapatkan tidak begitu banyak tentang kekuatan yang dimiliki oleh pasukan kerajaan hitam itu.” jawab Nyi Lohita, sang pendekar Selendang Merah dari Mahatmabhumi. Parasnya masih terlihat anggun dan cantik meski seluruh rambutnya telah memutih di usianya yang ke tiga ratus tahun itu.


“Bukankah menurut laporan yang diterima oleh Siung Macan Kumbang, jumlah mereka saat ini tak lebih dari seratus ribu orang?” kata Nyi Nirada, sang pendekar Mantra Sakti dari Madyabhumi. Ia adalah salah satu pendekar dengan kemampuan sihir aliran putih yang dimiliki oleh wilayah timur dan satu-satunya yang menjadi tetua dalam jenis keahlian itu.


“Itu benar. Dan jumlah pendekar yang kita miliki di Mutiara Biru saat ini berkisar kurang lebih sekitar tiga ratus ribu orang saja. Sebenarnya kekuatan yang kita miliki mungkin cukup untuk menghadapi pasukan kerajaan hitam yang saat ini sedang berada di Swargawana. Namun jika ratu Ogha datang, maka kita perlu merasa khawatir.” Kata Ki Raga Bumi, sang pendekar Pedang Dewa dari Mahatmabhumi.


“Saudara-saudaraku sekalian, sebentar lagi sepertinya kita kedatangan tamu.” Kata Ki Gading Putih.


Semua tetua pendekar di dalam kediaman Ki Cakra Jagad itu hening sejenak untuk merasakan pancaran energi yang mendekat ke arah mereka.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2