Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 236 Makhluk Iblis Buma


__ADS_3

Dari puluhan pendekar hitam kerajaan Tirayamani yang pingsan itu, Batari Mahadewi menyisakan satu yang masih sadar dengan luka di beberapa bagian tubuh yang membuatnya tak bisa kemana-mana lagi.


“Aku hanya ingin bertanya sesuatu yang pastinya tak akan sulit untuk kau jawab. Sejak kapan kalian datang ke pulau ini?” Batari Mahadewi jongkok di samping pendekar yang tak berdaya itu. Namun tampaknya, pendekar itu tak mau buka mulut. Ia pura-pura kesakitan hingga tak bisa bicara.


“Ayolah, pukulanku tak mungkin membuatmu bisu. Baiklah, jika kau tak bisa bicara, aku akan sedikit memberikan bantuan agar kau lancar bicara,” Batari Mahadewi menancapkan kuku runcingnya perlahan di tempurung lutut pendekar itu. Seketika, pendekar hitam itu memekik kesakitan.


“Bbbaiiikk nona…tolong hentikan itu…” pendekar hitam itu memelas kesakitan.


“Cepat katakan!” bentak Batari Mahadewi.


“Kurang lebih setahun yang lalu, nona.”


Apakah kalian membunuh raja di kerajaan ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak nona, raja itu menyerah sebelum kami menyerang. Ia memberikan kami hak untuk tinggal dan mendapatkan apapun di sini,” kata pendekar itu.


“Lalu di mana ratu kalian saat ini berada?” tanya Batari Mahadewi.


“Kami tak tahu. Kami hanya ditugaskan untuk berada di pulau ini.” Tubuh pendekar itu menggigil menahan sakit. Batari Mahadewi belum melepaskan kukunya dari tempurung lutut pendekar yang tak berdaya itu.


“Siapa yang memimpin kalian di sini?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak ada nona,” kata pendekar itu.

__ADS_1


“Sepertinya kau mulai berbohong! Aku jadi meragukan kebenaran jawabanmu yang tadi,” Batari Mahadewi menjentikkan kukunya dan membuat tempurung lutut pendekar itu tak lagi berada pada tempat yang seharusnya.


Pendekar itu menjerit kesakitan. Barangkali, dialah yang paling sial diantara yang lain.


“Kita mulai lagi. Tentu kau tak ingin kehilangan kedua kakimu, bukan? Maka jawablah dengan benar. Apa tujuan kalian datang kemari?” tanya Batari Mahadewi.


“Kami hanya menjalankan perintah sang ratu, nona. Kami sungguh tak tahu apa yang ia rencanakan. Tapi di sini kami harus menjaga tubuh Buma yang masih sedang bertapa di dalam istana,” pendekar itu mengatakan sesuatu yang lumayan berguna.


“Siapa itu Buma?” tanya Batari Mahadewi.


“Makhluk iblis kuno,” jawab pendekar itu. Setelah selesai menjawab, pendekar itu menjadi yang pertama yang kehilangan seluruh kemampuan hitamnya, disusul kemudian oleh para pendekar yang telah pingsan. Batari Mahadewi meninggalkan mereka begitu saja.


Buma adalah makhluk iblis kuno yang dipenjara oleh para dewa di pulau itu. Tubuhnya dibelah menjadi tujuh bagian dan dikurung di tempat-tempat yang berbeda. Ratu Ogha berhasil menemukan ketujuh bagian tubuh itu, lalu menyatukannya kembali. Namun Buma perlu menyerap banyak energi untuk pulih seperti sedia kala.


Energi Buma yang sedang bertapa di istana itulah yang tertangkap oleh Batari Mahadewi. Kadang-kadang pancaran energi Buma muncul dan tiba-tiba hilang. Itu tandanya, bahwa makhluk itu memang belum pulih secara sempurna.


Raja Kamandapala tak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu, ia tak memiliki kekuatan untuk menghadapi kedatangan ratu Ogha dan pasukannya. Oleh karenanya, ia menyerah begitu saja. Ia dan seluruh rakyatnya akan selamat apabila mereka menuruti semua keinginan dan kebutuhan pasukan sang ratu kegelapan itu.


Buma bertapa di salah satu ruang bawah tanah yang ada di dalam istana. Setiap beberapa hari sekali, pasukan Tirayamani harus menangkap pendekar yang ada di Kamandapala sebagai santapan. Buma akan menyerap seluruh energi dan jiwa pendekar itu untuk menyempurnakan kekuatannya.


Itulah kenapa, para pendekar di pulau Kamandapala jarang sekali terlihat. Hebatnya lagi, para pasukan Tirayamani bisa menangkap pendekar-pendekar itu diam-diam. Sehingga, para pendekar yang tersisa masih belum tahu bahwa mereka akan menjadi korban selanjutnya sebagai santapan Buma.


Batari Mahadewi terbang mendekati istana kerajaan Kamandapala. Di sana, pancaran energi Buma menjadi lebih terasa. Istana itu selain dijaga oleh para prajurit Kamandapala, juga dijaga oleh dua ratus pendekar hitam Tirayamani. Jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan mereka yang datang ke Mahabhumi.

__ADS_1


Kedatangan Batari Mahadewi ke wilayah istana telah diketahui. Pendekar Mata Iblis, salah satu penyihir hitam yang cukup di segani di Tirayamani telah melihat gadis itu ketika ia terbang mendekati istana. Oleh karena itulah, para pendekar Tirayamani telah bersiap.


Berita kedatangan seorang nona sakti yang telah meringkus tiga pendekar Tirayamani di dekat kedai makan telah sampai di telinga para pendekar penunggu istana. Oleh karena itulah, pendekar Mata Iblis menyuruh rekan-rekannya untuk tak menyepelekan gadis cantik itu.


Pendekar Mata Iblis telah menyiapkan lima makhluk raksasa ciptaannya untuk menghadang Batari Mahadewi di luar istana. Seharusnya, lima makhluk hasil sihir pendekar itu tak akan bisa dikalahkan oleh pendekar berilmu tinggi. Namun pendekar Mata Iblis belum benar-benar tahu siapa yang akan menjadi lawannya pada hari itu.


Dulu, monster besar semacam itu adalah lawan yang cukup merepotkan bagi Batari Mahadewi. Namun saat ini, ia bisa menghancurkan monster-monster itu hanya dengan satu pukulan saja. Pukulan gadis jelmaan pusaka dewa itu tak hanya menghancurkan lima monster besar yang berwujud aneh itu, namun juga memukul perasaan pendekar Mata Iblis.


Baru kali ini pendekar mata Iblis melihat pendekar yang bisa membunuh monster ciptaannya semudah menepuk laron. Maka pendekar itu baru menyadari bahwa lawannya sangat berbahaya.


Sebelum jatuh banyak korban, pendekar Mata Iblis mencoba bernegosiasi dengan Batari Mahadewi.


“Nona muda, kami telah mendengar berita bahwa nona telah menghajar rekan kami siang tadi. Lalu nona datang kemari. Kami tahu, kami telah bersikap tidak sopan. Apa yang nona harapkan dari kami sehingga nona sampai datang kemari?” tanya pendekar Mata Iblis.


“Aku kemari bukan untuk mencari kalian. Aku mencari Buma. Jika kalian tak menghalangi, pasti kita tak perlu bertarung,” kata Batari Mahadewi.


“Nona pasti keliru. Tak ada yang bernama Buma di sini,” kata pendekar Mata Iblis berbohong.


“Kau pasti keliru, aku bukanlah pendekar yang biasanya kalian temui. Jika bukan aku yang membunuh kalian, cepat atau lambat, Buma akan membunuh kalian. Percaya atau tidak terserah kalian! Tapi sungguh, hanya Buma yang membuatku tertarik untuk bertarung, bukan berudu kodok seperti kalian,” kata Batari Mahadewi.


“Apakah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini, nona?” tanya pendekar Mata Iblis, ia sedikit tersinggung disebut sebagai berudu kodok.


“Apakah kalian tak memiliki cara lain untuk menyelamatkan diri sebelum aku atau Buma membunuh kalian?” Batari Mahadewi balas bertanya. Sungguh sulit berbicara dengan nona cantik itu. Mata Iblis kehilangan kata-kata dan tanpa sadar ia juga telah kehilangan nyali.

__ADS_1


“Baiklah nona, harga diri kami adalah tugas yang kami jalankan dengan nyawa sebagai taruhannya. Kami di sini memang untuk mati. Mari kita bertarung,” tantang pendekar Mata Iblis.


“Hanya kau yang mau melawanku? Yang benar saja. Puluhan temanmu telah cacat seumur hidup dan mungkin saat ini masih terkapar di hutan sebelah sana. Asal kau tahu juga, tiga puluh ribu lebih temanmu yang datang ke Mahabhumi tak akan lagi bisa mengingat kalian. Oh iya, manusia api pemimpin kalian itu belum sempat menitipkan salam kepadamu sebelum kuhapus ingatannya. Jadi bagaimana menurutmu?” ancam Batari Mahadewi.


__ADS_2