
Jalu langsung membakar habis tumpukan mayat raksasa itu hingga menjadi abu. Seperti yang dikatakan Buyung, jangan sampai bangsa raksasa itu tahu kaumnya sedang dibunuh perlahan-lahan oleh bangsa manusia. Jika ketahuan, manusia belum siap menerima serangan dari para raksasa itu.
“Tak kusangka hanya semudah ini,” kata Jalu.
“Kakak pasti penasaran ingin melawan raksasa ksatria, kan?”
“Hahaha, iya. Hanya untuk mengetahui, seberapa besar kekuatan mereka sebenarnya. Jika hanya seperti ini, apa yang perlu kita takutkan. Dengan senjata dari Nala dan Tari, menumbangkan lima puluh makhluk seperti ini ibarat membunuh harimau,” kata Jalu.
“Tapi kita dilarang mendekat ke wilayah timur, kan?” Niken memperingatkan.
“Apakah kamu tidak penasaran?” goda Jalu.
“Penasaran sih, tapi…” Niken ragu-ragu. Ia juga ingin bertarung. Sejak peperangan dengan kerajaan Swargabhumi, dan memerangi pendekar Tirayamani, mereka tak banyak melakukan pertarungan yang menantang.
“Kalau begitu, ayo kita lakukan!” kata Jalu. Belum sempat mereka beranjak, tiba-tiba terdengar bunyi berdebum di kejauhan.
“Suara apa itu?!” ujar Niken.
“Seharusnya itu suara pertarungan?” balas Jalu
“Di wilayah ini? Siapa yang bertarung?” Niken merasa ada yang ganjil. Apakah ada manusia lain yang sedang bertarung?
“Jangan tunggu terlalu lama, ayo kita ke sana!” kata Jalu. Keduanya lantas bergegas menuju ke arah sumber suara yang mereka dengar itu.
Suara ledakan itu masih terjadi beberapa kali lagi. Ketika mereka berdua telah sampai, tampaklah di sana seorang raksasa yang bertubuh besar, lebih besar dari biasanya, sedang dikeroyok oleh tiga pendekar yang entah berasal dari perguruan mana.
Raksasa besar itu memiliki kesaktian, berbeda jauh dari raksasa yang baru saja dibunuh oleh Jalu dan Niken.
Raksasa dan tiga pendekar itu masih bertarung sengit. Sang raksasa dikeroyok dari tiga arah yang berbeda. Beberapa kali, tubuh besar itu menerima pukulan tenaga dalam yang cukup besar, namun ia masih kokoh berdiri, membalas serangan itu dari hentakan tenaga yang keluar dari mulut besarnya itu.
__ADS_1
Terdengar raungan yang menggelegar dan membuat tiga pendekar yang mengeroyoknya itu terpental jauh, lalu dengan susah payah bangkit kembali dan berusaha menyerang raksasa itu.
“Kak, apakah kita akan membantu mereka?” tanya Niken.
“Tentu saja, jangan tunggu lagi, ketiga pendekar itu mulai terdesak!” Jalu segera melesat cepat ke arah raksasa yang hendak mengakhiri nyawa salah satu lawannya dengan pukulan keras melalui lengannya yang besar itu.
Sebelum pukulan itu memecahkan kepala lawannya, Jalu telah lebih dahulu melontarkan bola-bola api ke tubuh raksasa itu.
Pukulan api dari jalu itu mendarat tepat beberapa kali di punggung lebar sang raksasa. Ia kembali meraung kesakitan. Matanya membelalak menatap Jalu yang baru saja datang itu. Dengan liar namun sedikit lambat, sang raksasa itu melakukan serangkaian serangan berupa pukulan-pukulan dari lengannya yang besar. Jalu masih bisa menghindari pukulan yang kuat namun lambat itu dengan mudah.
Tubuhnya yang ringat melesat kesana-kemari seperti belalang yang sedang dikejar anak kecil. Setiap kali Jalu melepaskan serangan api, raksasa besar itu selalu meraung. Namun Jalu tak menyangka, raksasa itu memiliki jurus yang aneh.
Raksasa besar itu menghirup nafas sangat kuat dari mulutnya, dan yang tersedot bukan hanya udara, namun juga Jalu. Raksasa itu dengan segera menangkap tubuh Jalu dengan kedua tangan besarnya itu. Jalu memberontak, ia segera mengubah wujudnya menjadi manusia api. Tangan raksasa itu terbakar dan begitu saja melepaskan Jalu sembari mengibaskan tangannya.
Tiga pendekar itu terkaugum-kagum melihat keberanian dan kehebatan Jalu melawan raksasa ganas itu sendirian. Sementara Niken masih bersembunyi, menanti waktu yang tepat untuk menyerang dengan telak, sembari mengamati, dimana letak kelemahan dari raksasa besar itu.
Ia mengayunkan pedang energnya itu ke arah Jalu. Seberkas cahaya merah melesat cepat dan lagi-lagi pendekar api itu bisa menghindarinya dengan mudah. Serangan itu mengenai pepohonan di belakang Jalu dan pohon-pohon itu tak hanya tumbang, melainkan hancur menjadi sepihan-serpihan kayu.
Jalu menjadi lebih serius. Ia mengerahkan serangan api dalam jumlah besar yang meluncur cepat kea rah raksasa itu. Pukulan api itu ditangkis dengan pedang energi dan lagi-lagi tercipta dentuman besar disertai pijaran api yang terpental ke berbagai arah, menyambar pepohonan dan membuatnya terbakar.
Tiga pendekar itu memilih untuk menyingkir. Mereka tahu, mereka sudah tidak bisa membantu lagi. Kekuatan mereka sudah habis dan jika mereka ada di dekat pertarungan itu, justru mereka hanya akan menjadi gangguan.
Raksasa itu menyerang dengan lebih bengis dan membabi buta. Kekuatannya sangat besar dan membuat Jalu akhirnya kewalahan. Beberapa kali ia nyaris kena pukulan raksasa itu. Saat sang raksasa itu sibuk menyerang Jalu, Niken melesat cepat dan menghunuskan pedang pusaka yang telah ia aliri dengan kekuatan es. Pedang itu menancap di bahu sang raksasa, menyebarkan hawa dingin yang kuat sehingga seperempat rubuh raksasa itu membeku dan tak bisa digerakkan.
Dari arah lain, Jalu menebaskan pedang pusaka yang telah ia aliri dengan kekuatan api. Raksasa yang sama sekali tak siap itu akhirnya kehilangan separuh badannya sekaligus seluruh nyawanya.
“Bagus, Niken. Kau menyerang di saat yang tepat!” kata Jalu
“Cepat hanguskan saja mayat ini dan sebaiknya kita harus segera pergi. Aku rasa, akan ada raksasa lain yang datang karena mendengar keributan yang terjadi di sini!” ujar Niken.
__ADS_1
Jalu segera membakar mayat raksasa itu hingga menjadi abu. Tiga pendekar yang ia tolong itu mendekat.
“Terimakasih banyak, pendekar muda. Tanpa pertolongan kalian, kami sudah mati,” tiga pendekar itu memberi hormat.
“Apa yang paman lakukan di sini? Bukankah ini adalah kawasan terlarang?” tanya Jalu.
“Aku sedang mencari adikku yang tinggal di desa yang tak jauh dari sini. Tapi dalam perjalanan, kami berpapasan dengan raksasa besar itu,” kata salah satu dari tiga pendekar itu.
“Jadi paman akan pergi ke desa itu?” tanya Jalu.
“Ya. Tapi aku juga tak yakin jika adikku masih tinggal di sana, atau bahkan masih hidup. Aku hanya ingin memastikannya saja,” kata orang itu.
“Tetapi di sana mungkin berbahaya, paman.” Jalu memperingatkan.
“Kami tahu, tetapi…seandainya saat ini adik kami masih hidup dan memang benar ada di sana, kami akan sangat berdosa jika tak menjemputnya.”
“Dari mana paman datang?” tanya Niken.
“Kami dari perguruan Pedang Perak, Swargaloka. Kalian berdua sangat hebat dan memiliki kekuatan yang langka, dari manakah kalian berasal?” tanya pendekar itu.
“Kami berdua dari padepokan Cemara Seribu, Swargadwipa. Kami sedang bertugas untuk berjaga di hutan di balik bukit itu. Saat ini kami sedang melakukan pengintaian, dan mendengar ada suara pertarungan lalu kami ke sini.” Kata Jalu.
“Sekali lagi kami mengucapkan terimakasih banyak, pendekar muda. Maaf kami tak memiliki apa-apa untuk membalas budi. Semoga suatu saat kita masih bisa berjumpa lagi. Kami harus segera pergi.” Ucap pendekar itu.
“Paman bersikeras ingin ke sana. Bolehkah kami membantu paman? Lagipula, kami juga ingin memeriksa situasi di desa itu,” kata Jalu.
“Oh, sebuah keberuntungan bagi kami, tentu saja kami memang membutuhkan bantuan dari pendekar hebat seperti kalian,” kata pendekar itu.
“Kalau begitu, mari kita segera ke sana, paman.” Jalu dan Niken mengikuti tiga pendekar yang melesat dengan terburu-buru itu. Mereka menembus hutan yang cukup lebat untuk segera sampai di sebuah desa yang bisa dilihat dengan jelas dari puncak bukit.
__ADS_1