
Ribuan anak panah menyambut kedatangan para pendekar hitam di sisi timur. Setelahnya, Jalu, Niken, Pradipa, dan puluhan pendekar muda aliran putih bersama-sama dengan para senopati dan ribuan prajurit mengeroyok Harimau Merah dan komplotannya yang telah terlanjur masuk ke dalam benteng keenam.
Sementara itu, di sisi selatan, Batari Mahadewi, Mahapatih Siung Macan Kumbang, Anjani, Cendana, Buyung, dan para pendekar lainnya menyambut kedatangan para pendekar pulau Neraka. Sebagian besar dari para pendekar pulau neraka itu adalah manusia setengah siluman. Ribuan anak panah yang melesat ke tubuh mereka seolah seperti debu yang tak berarti. Begitu memasuki tembok keenam, mereka telah berubah wujud menjadi makhluk setengan siluman.
Dua ratus pendekar setengah siluman yang menyerang dari sisi selatan jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan serangan di sisi timur yang dipimpin oleh Harimau Merah dan Raja Sihir. Ribuan prajurit Swargadwipa bagaikan ranting kering yang beterbangan dalam satu kali hentakan. Setidaknya ada sepuluh jagoan berilmu tinggi dari pulau neraka, termasuk pendekar Sayap Kematian, yang akan sulit ditandingi.
Gerombolan manusia setengah siluman itu seolah tak peduli dengan serangan-serangan yang diarahkan ke tubuh mereka. Para pendekar pulau Neraka itu terus melaju agar cepat sampai di benteng istana, melewatinya, dan memporak-porandakan seisi istana.
Para pendekar aliran putih yang membaca geliat itu tak membiarkan hal itu terjadi. Sebisa mungkin mereka menyerang dan membuat mereka bertahan di kawasan perumahan prajurit. Ribuan nyawa prajurit Swargadwipa telah melayang sewaktu para pendekar aliran hitam itu menebarkan jurus-jurus racun yang mematikan.
Mahapatih Siung Macan Kumbang sangat geram melihat keadaan itu, ia gunakan segala kemampuannya untuk membunuh tiap-tiap pendekar aliran hitam yang ada dalam jangkauannya. Tubuhnya yang tinggi besar itu memancarkan energi penuh. Selubung cahaya biru menyelimuti tubuhnya, dan di kedua tangan kanan dan kirinya telah muncul dua buah gada besar yang ia ciptakan dari energinya.
Dengan kemampuannya yang membuatnya pantas menduduki jabatan Mahapatih itu, ia menghadapi tiga pendekar pulau neraka sekaligus. Usianya yang tak lagi muda masih memiliki kecepatan tinggi dalam menghujamkan serangan-serangannya. Dengan sekali pukulan, dua orang pendekar muda dari pulau Neraka yang nekat menahan pukulan gada ciptaannya itu langsung hancur seperti telur jatuh.
__ADS_1
Batari Mahadewi juga tak mau ketinggalan. Kali ini ia tak mau mengampuni nyawa lawan-lawannya sebab ia merasa situasinya berbeda. Ia harus bergerak cepat dan sebisa mungkin melumpuhkan lawan-lawannya yang lengah dalam sekali serangan. Jurus tapak petir miliknya telah meledakkan setidaknya sepuluh pendekar dari pulau Neraka.
Dari kejauhan, Batari Mahadewi melihat sosok burung raksasa yang mengamuk. Setiap kibasan sayapnya membunuh ratusan prajurit yang mencoba melemparinya dengan berbagai jenis senjata. Pendekar Sayap Kematian itu seperti siluman yang haus darah, ia menikmati tiap-tiap kematian yang ia torehkan. Perumahan pajurit sisi selatan sudah porak poranda dalam waktu sekejap.
Namun pendekar legendaris dari pulau neraka itu tak mau buang waktu lama di arena pertempuran itu. tugas utamanya adalah memasuki istana dan membunuh sang Sri Maharaja Srengenge Ireng meski ia tak benar-benar tahu siapa sosok raja yang hendak ia datangi itu. Pendekar Sayap Kematian terbang tinggi dan melesat menuju ke arah istana.
Batari Mahadewi melesat ke atas dan mencoba untuk menghalangi pendekar Sayap Kematian yang telah menjelma menjadi burung raksasa dan terbang menuju istana. Gadis kecil itu mengalirkan energi penuhnya pada tangan kanannya, dan menghujamkan pukulan petir yang menghanguskan sebagian bulu-bulu sayap kanan burung raksasa itu.
“Aku tak akan mengizinkanmu keluar dari arena ini, kakek tua.” Kata Batari Mahadewi.
“Anak ingusan tak tahu diri!” umpat Pendekar Sayap Kematian.
“Apa lagi yang bisa kau lakukan? Kau tak bisa lagi menjelma menjadi burung yang lucu itu.” Ejek Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Tapi aku bisa berubah menjadi ini.” Pendekar Sayap kematian itu menampilkan sosok dirinya yang lain, yang tak pernah ia perlihatkan sebelumnya. Perlahan-lahan, manusia setengah siluman itu berubah bentuk menjadi mahkluk berkepala dua dan bertangan enam. Monster menjijikkan itu menyerang Batari Mahadewi dengan bola-bola energi yang ia lepaskan dari keenam tangannya.
Batari Mahadewi tak bisa menghindari serangan bola-bola energi itu sebab jika ia menghindar, maka tenaga dalam yang berwujud pijaran cahaya itu akan mengenai para prajurit yang ada di belakangnya. Batari Mahadewi menyilangkan kedua lengannya yang terus menerus memancarkan cahaya keemasan itu untuk menahan serangan pendekar Sayap Kematian.
Debu berhamburan ketika bola-bola cahaya itu meledak ketika bersentuhan dengan Batari Mahadewi. Pendekar sayap Kematian terus melakukan serangan yang sama. Jurus yang ia gunakan sebenarnya hanyalah jurus biasa. Namun akan menjadi berbeda ketika digunakan dengan energi tinggi. Sehingga, ratusan bola-bola cahaya yang terus menghantam Batari Mahadewi itu membuat udara dipenuhi dengan debu.
Batari Mahadewi mencoba melakukan perlawanan. Sambil bertahan, ia memadatkan udara di sekitar pendekar Sayap Kematian. Usahanya sedikit berhasil sebab pendekar tua dari pulau neraka itu masih memiliki energi besar yang bisa melepaskan diri dari jeratan udara padat yang diciptakan oleh Batari Mahadewi. Pendekar Sayap Kematian melompat ke angkasa, namun tak lama setelah itu, gadis pendekar sakti itu menciptakan pusaran angin yang terus bergerak seperti seekor naga yang memburu mangsanya.
Ketika pendekar Sayap kematian itu sibuk menghindari pusaran angin yang terus mengejarnya, Batari Mahadewi melontarkan energi dalam bentuk kilat yang dengan cepat menyambar tubuh pendekar Sayap Kematian. Seketika tubuh pendekar tua itu terpental jauh. Namun begitu gadis kecil itu ingin menyusulnya, pendekar Penghisap Darah dan empat pendekar pulau neraka lainnya mengerahkan serangan dari jarak jauh.
Batari Mahadewi mengelak dengan cepat dan memberikan serangan balik yang sulit terbaca lawannya. Gadis kecil itu menggunakan saah satu jurus ilmu matahari, yakni cahaya matahari menembus samudera yang membuat tubuhnya memancarkan cahaya menyilaukan dalam waktu singkat dan hal itu cukup membuat buta lawan-lawannya, serta semua orang disekitarnya, selama sesaat. Di saat seperti itu, Batari Mahadewi tak mau menyianyiakannya. Kilatan petir menyeruak dari kedua tangannya. Ia meledakkan tubuh kelima lawannya dalam sekali serangan dengan jurus petir menyambar bumi.
Dari Kejauhan, Vidyana dan Nala menyaksikan pertarungan Batari Mahadewi yang menjadi satu-satunya pendekar yang menyita perhatian mereka berdua. Nala tersenyum untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di pulau Mahabhumi.
__ADS_1