
Nala menyadari kedatangan siluman itu. Meski kali ini bukanlah pertama kalinya ia bertemu siluman, namun Nala merasa harus waspada. Jarang ada siluman yang bisa menjelma menjadi manusia bertubuh sempurna karena hanya siluman sakti saja yang memiliki penyamaran sempurna dan memiliki kemampuan tinggi untuk menyembunyikan hawa siluman yang ia miliki. Hanya yang berkemampuan tinggi saja yang bisa mengetahui ia adalah siluman.
“Selamat datang, pangeran Andhakara. Akhirnya pangeran bisa terlahir kembali dalam wujud sekarang ini,” kata siluman ular merah.
“Namaku Nala, bukan Andhakara. Kau pasti salah orang,” kata Nala datar.
“Tampaknya, kekuatan dan ingatan pangeran belum sepenuhnya kembali. Apakah pangeran benar-benar tak bisa mengingat aku? Di masa lalu, aku adalah pelayanmu,” kata siluman ular itu.
“Sudah ku katakan, aku bukan pangeran yang kau maksud,” kata Nala. Namun dalam hatinya, ia ingin tahu seperti apakah ia di masa lalu.
“Kau tak bisa berbohong pangeran. Aku sangat mengenali auramu. Aura yang sama dan hanya dimiliki oleh satu orang saja, yakni Andhakara, sang pangeran kegelapan.”
“Memangnya apa yang kau ketahui tentang pangeran itu? Apa hubungannya denganmu? Kenapa kau bisa menjadi pelayannya?” tanya Nala yang akhirnya tak bisa menahan rasa penasaran dalam benaknya.
“Kau yang telah menolongku, pangeran. Dan sejak saat itu, aku mengabdikan diriku untukmu, melayani semua yang pangeran butuhkan,” kata siluman ular merah.
“Apakah kau bisa membuktikan kebenaran kata-katamu?” kata Nala.
“Lihat tanda ini, pangeran! Ini adalah tanda yang dimiliki semua siluman yang mengabdi padamu. Tidakkah pangeran mengingat tanda ini?” siluman itu menunjukkan sebuah tanda berwana hitam di lengannya. Nala cukup kaget karena tanda itu juga ada pada makhluk yang ada dalam tubuhnya, yang sesekali menampakkan diri dalam tidurnya di masa lalu.
__ADS_1
“Ketika aku kalah dengan para dewa, kenapa kau tak mengikuti sang ratu?” tanya Nala. Pertanyaan itu sebenarnya hanya karangan yang ia buat berdasarkan cerita kakek dewa. Dengan pertanyaan itu, ia ingin menguji siluman itu. Setidaknya, siluman itu belum tahu apa yang ia alami saat ini.
“Pangeran belum sepenuhnya ingat ternyata. Sang ratu membenciku, dan membenci pelayan-pelayan perempuan lainnya. Maka aku dan para pelayan lain tak berani mengikuti kemana sang ratu melarikan diri,” kata siluman itu. Nala menganggap jawaban itu masuk akal. Betapa tidak, penampilan siluman itu sungguh menggoda dan mungkin sang ratu memang cemburu kepada semua pelayan seperti itu.
“Lalu saat ini apa maumu? Kenapa kau menemuiku? Bukankah kau sudah bukan lagi pelayanku?” tanya Nala yang memulai sandiwaranya.
“Menjadi pelayanmu adalah kehormatan bagiku, pangeran. Apabila pangeran menghendaki diriku, tentu aku masih setia. Hari ini, aku sungguh tak menyangka pangeran telah terlahir kembali dan datang ke sini,” kata siluman ular merah itu.
“Aku mencari seseorang perempuan. Ia memiliki kemampuan seperti ini,” Nala menunjukan hal serupa yang menjadi jurus andalan Vidyana, kakaknya, yakni menghidupkan segala benda menjadi sesosok monster. “Apakah kau pernah menjumpai seseorang dengan kemampuan seperti itu di sini?” tanya Nala.
Siluman merah dalam bentuk perempuan jelita itu berfikir sejenak, mengingat siapa saja yang telah melintas di hutan itu. Ia juga ingat sosok perempuan yang telah bertarung di dalam hutan melawan beberapa pendekar aliran hitam dan memenangkan pertarungan dengan jurus-jurus seperti yang telah ditunjukkan oleh Nala.
“Sepertinya perempuan yang pangeran maksud memang pernah melewati hutan ini, beberapa bulan yang lalu, tapi aku tidak tahu kemana ia akan pergi,” kata siluman ular merah.
“Ke arah timur, pangeran. Ia seperti pendekar yang tak memiliki tujuan. Ia hanya membunuh beberapa pendekar yang sedang bertapa di sini, lalu ia pergi begitu saja. Kenapa pangeran mencarinya?” tanya siluman ular merah.
“Aku ada urusan penting dengan orang itu. Terimakasih banyak, yang kau katakan cukup membantuku,” kata Nala, “kalau begitu aku bisa melanjutkan perjalananku.” Nala tak ingin berbicara lama-lama dengan siluman merah yang berpakaian cukup menggoda itu.
“Pangeran, kurasa aku bisa membantumu menemukan orang itu,” kata siluman ular.
__ADS_1
“Bagaimana caranya?” tanya Nala.
“Aku bisa bertanya kepada kolam iblis di tempat tinggalku. Ayo ikuti aku, pangeran,” siluman ular itu melesat cepat. Nala sempat ragu untuk mengikutinya, namun akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti siluman itu dan berharap dengan bantuannya, ia akan menemukan keberadaan kakaknya dengan lebih mudah.
Siluman ular merah itu sampai di batu besar yang terhimpit dua pohon raksasa. Pada batu itu, terdapat celah kecil. Siluman ular itu dengan mudah masuk ke dalamnya. Beruntung Nala bisa merubah wujudnya menjadi partikel energi dan ikut masuk melewati celah batu yang kecil itu.
Nala cukup kaget karena yang ia lihat setelah ia berada di dalam batu itu ternyata sebuah kerajaan yang sangat besar. Siluman ular merah itu menunggunya.
“Kukira, pangeran tidak bisa memasuki celah batu itu,” kata siluman ular merah. Sebelumnya ia memang ingin menguji kemampuan Nala. Dan ia yakin, pangeran di hadapannya itu hampir sepenuhnya pulih. Hanya saja ia tak habis mengerti, kenapa pangeran itu belum bisa mengingat banyak hal di masa lalu. “Jangan-jangan, jiwa kegelapannya masih terkunci di dalam tubuhnya yang baru,” batin siluman ular merah.
“Inikah tempat tinggalmu? Sebuah istana, lengkap dengan prajurit siluman. Siapa kau sebenarnya?” tanya Nala.
“Saat ini aku ratu siluman di hutan ini, pangeran. Sejak pangeran kalah oleh dewa, aku tinggal di sini dan menjadi siluman tertua. Mari, pangeran, kita masuk ke dalam istana. Pangeran tak usah khawatir, para pelayanku akan mengurus semua kebutuhan pangeran,” kata siluman ular merah.
Nala merasa ada yang aneh dan tak semestinya ia berada di sana. Namun ia masih penasaran dengan banyak hal tentang masa lalunya. Dan ia juga ingin segera menemui kakaknya. Maka Nala akhirnya mau masuk ke dalam istana sang ratu ular merah.
Istana yang besar dan megah itu ditempati oleh berbagai jenis siluman. Namun tak satupun dari siluman yang ada di sana menampakkan wujud siluman. Semua berwujud manusia, meski tak semua memiliki bentuk sempurna menjadi manusia.
Meskipun istana yang dilihat Nala adalah istana siluman, namun kesan yang tampak sungguh berbeda; umumnya, siluman yang bertubuh kotor dan menjijikkan tinggal di tempat-tempat yang mengerikan. Istana itu berbentuk indah, memiliki banyak hiasan emas dan permata, dan bahkan banyak sekali mustika alam yang ada di sana, berserakan layaknya batu kerikil yang menghiasai taman kerajaan.
__ADS_1
Yang membuat Nala sedikit gugup, di dalam istana itu banyak sekali pelayan yang merupakan siluman perempuan dengan wujud cantik dan berpakaian serba tipis. Di dalam istana itu, bau harum menyeruak. Lelaki gagah itu benar-benar diuji kesabarannya. Betapa tidak, tubuhnya yang telah dewasa itu menuntut banyak hal sebetulnya, layaknya lelaki normal pada umumnya.
Namun entah kenapa, ia merasa bahwa hati dan tubuhnya untuk satu orang saja, meski ia merasa sungguh tak layak jika ada di sisinya.