Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 8 Ilmu Raga Membelah Bumi


__ADS_3

Hari telah lewat siang hari. Mereka beristirahat di sebuah hutan kecil di wilayah padepokan. Niken dan Batari Mahadewi duduk di bebatuan, sementara Jalu pegi mencari sesuatu yang bisa dimakan di hutan.


Setiap murid harus bisa mendapatkan makanan dari alam karena demikianlah mereka harus hidup sebagai pendekar pengelana nantinya sebelum kemudian ia akan selesai dalam pengembaraannya, entah berkeluarga, mendirikan perguruan sendiri, mengabdi kepada kerajaan, atau tetap akan hidup sebagai pengembara.


Selain dari makanan, tiap murid harus bisa bertahan hidup dengan cara menyerap energi bumi. Oleh karenanya, ilmu inilah yang diajarkan oleh Ki Gading Putih untuk pertama kalinya.


”Kakak Niken, sedari kita berkeliling tadi, aku belum melihat kakak pertama, kedua, dan ketiga. Kemanakah mereka?” Tanya Batari Mahadewi kepada Niken.


“Mereka bertiga kini sedang menjalankan tugas dari guru. Di wilayah utara saat ini sedang terjadi kekacauan. Kelompok Ular Hitam mulai membuat keributan di sana. Ketiga kakak seperguruan kita ditugaskan untuk membantu beberapa perguruan aliran putih yang ada di sana untuk menumpas kelompok Ular Hitam.” Niken melanjutkan ceritanya.


“Kalau boleh kakak tahu, bagaimana dengan dirimu sehingga kamu bisa diangkat murid oleh Ki Gading Putih?” Niken bertanya kepada Batari Mahadewi karena ia penasaran, sebab gurunya tak pernah menceritakan latar belakang murid-muridnya.


“Kata ibuku, guru meminta diriku untuk belajar di sini ketika usiaku 10 tahun. Lalu kemarin ibuku membawaku ke sini.” Jawab Batari Mahadewi singkat. Ia tak ingin menceritakan kemampuannya yang ia peroleh dengan cara tak wajar.


“Berarti sekarang kamu berusia 10 tahun?” tanya Niken


“Tidak kakak, usiaku baru 7 tahun.” Jawab Batari Mahadewi


“Apa? Ah, pasti aku salah lihat.” Kata Niken tak percaya. Ia mengira Batari Mahadewi adalah anak gadis yang telah berusia 10 atau 11 tahun. “Kurasa kau cepat tumbuh tinggi untuk anak seusiamu. Baiklah, sekarang aku paham kenapa guru mengangkatmu menjadi murid. Selain ukuran fisikmu, kamu juga memiliki kemampuan bicara seperti orang dewasa.” Lanjut Niken.


“Apakah kakak pernah mendapatkan tugas dari guru seperti yang dilakukan oleh kakak-kakak seperguruan kita?” tanya Batari Mahadewi mengalihkan pembicaraan. Ia merasa tak terlalu nyaman apabila lawan bicaranya membahas tentang dirinya.


“Aku belum pernah. Aku pernah meminta tugas, tapi guru belum mengizinkannya. Katanya aku harus menyempurnakan ilmuku terlebih dahulu.” Jawab Niken.


Tak lama kemudian, Jalu datang sambil membawa buah-buahan dari hutan dan seekor ayam panggang. Batari Mahadewi heran dengan ayam pangang yang dibawa oleh Jalu.


“Bagaimana kakak memperoleh ayam panggang itu?” tanya Batari Mahadewi penasaran.

__ADS_1


Niken dan Jalu tersenyum. Niken selalu berfikir bahwa Jalu beruntung memiliki kekuatannya. Artinya, ia bisa membuat daging panggang sewaktu-waktu di saat hujan sekalipun.


“Aku mendapatkannya di hutan.” Jawab Jalu.


“Ayam panggang?” Batari Mahadewi masih tak percaya.


“Ya, ayam panggang. Kapan-kapan akan aku ajak kau mencari makanan seperti ini. Di padepokan ini, kita harus bisa mencari makanan sendiri atau kita akan kelaparan.“ Jawab jalu.


Setelah mereka beristirahat, mereka akhirnya kembali menuju pondok. Ki Gading Putih tampak duduk sendiri di pendopo. Begitu melihat murid-muridnya tiba, ia kemudian memanggil Batari Mahadewi.


“Batari Mahadewi, kemarilah.” Kata Ki Gading Putih.


“Baik guru. “ Jawab Batari Mahadewi.


“Nak, apakah kamu pernah belajar membaca dan menulis?” Ki Gading Putih bertanya kepada Batari Mahadewi.


“Saya bisa membaca Guru, tapi belum pernah menulis. Mungkin saya bisa menulis.” Kata Batari Mahadewi


“Baik guru, murid akan belajar dengan baik.” Jawab Batari Mahadewi.


Di perpustakaan itu banyak sekali naskah yang ditulis pada lembaran-lembaran lontar. Sebagian adalah karangan Ki Gading Putih, kitab-kitab yang pernah didapatkan Ki Gading Putih selama ia berkelana menjadi pendekar, dan sebagian lainnya merupakan salinan dari pengetahuan yang pernah dipelajari oleh Ki Gading Putih. Saat ini tulisan adalah hal yang menaik bagi Batari Mahadewi. Melalui tulisan, ia dapat mengetahui hal-hal yang selama ini belum ia ketahui.


Batari Mahadewi mangambil satu buah naskah yang paling tebal, lalu ia masuk ke dalam pondoknya. Ia menghabiskan waktnya untuk membaca hingga petang. Batari Mahadewi tak butuh waktu lama untuk membaca naskah setebal itu. Naskah itu merupakan sebuah cerita yang didalamnya terdapat pengetahuan tentang dewa, raksasa, dan manusia.


Menjelang petang, Ki Gading Putih memanggil murid-muridnya untuk berkumpul di pendopo dan mereka akan makan malam bersama. Niken dan Jalu yang mempersiapkan makan malam itu untuk gurunya dan adik seperguruannya yang baru itu.


Seusai makan malam, Niken bertanya sekali lagi kepada gurunya. “Guru, kapan kiranya saya akan mendapatkan tugas seperti yang dijalani kakak seperguruan?”

__ADS_1


Ki Gading Putih langsung menangkap arah pembicaraan itu. Ia tahu betul bahwa Niken sudah tak sabar untuk menguji kemampuannya di dunia pendekar yang sesungguhnya. Namun Ki Gading Putih merasa ada hal yang kurang dalam diri Niken, meski ia tahu, Niken memiliki kekuatan luar biasa yang akan membuat pendekar sakti bergelarpun akan sulit menghadapinya.


“Niken muridku, bersabarlah, dalam waktu dekat pasti aku akan memberimu tugas.” Kata Ki Gading Putih. Lalu ia bertanya kepada Batari Mahadewi, “Naskah apa yang telah kau pilih tadi nak? Apakah kau sudah membacanya?”


“Saya mengambil naskah Cerita Legenda Pedang Langit guru.” Jawab Batari Mahadewi. “Saya sudah selesai membacanya” Lanjutnya.


Ki Gading Putih hampir tersedak. ’Apakah gadis ini bersungguh-sungguh’ Kata Ki Gading Putih dalam hati. “Apakah ada yang menarik dari kisah itu, muridku?” Ki Gading Putih bertanya kepada Batari Mahadewi.


“Banyak sekali guru, tetapi bolehkan murid bertanya satu hal?” tanya Batari Mahadewi.


“Tentu.”


“Apakah guru percaya bahwa raksasa itu benar-benar ada?” Tanya Batari Mahadewi.


“Ya, aku percaya. Aku pernah membunuh beberapa raksasa di masa lalu.” Jawab Ki Gading Putih.


“Bisakah guru menjelaskan bedanya raksasa dengan siluman?” Batari Mahadewi kembali bertanya. Bagi Jalu dan Niken, pertanyaan Batari Mahadewi terdengar seperti pertanyaan anak gadis yang masih polos. Namun begitu gurunya menjawab, mereka memikirkan hal lain.


“Raksasa itu seperti kita, hanya saja mereka buas seperti binatang. Tubuh mereka jauh lebih besar dan menyeramkan. Sedangkan siluman adalah makhluk yang bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang berbentuk manusia, ada yang berbentuk raksasa, ada yang berbentuk hewan, ada yang berbentuk tumbuhan, dan masih banyak lagi.” Jawab Ki Gading Putih.


“Mana yang lebih kuat antara siluman dan raksasa, guru?” Batari Mahadewi kembali bertanya.


“Siluman akan bertambah kuat seiring dengan pertambahan usianya. Sementara raksasa dan manusia akan menjadi kuat, bahkan lebih kuat dari siluman, apabila melatih kekuatan dirinya, tak peduli berapapun umurnya.” Jawab Ki Gading Putih.


“Di mana para raksasa itu tinggal, guru?” Batari Mahadewi bertanya lagi.


“Dulu mereka memiliki kerajaan raksasa, namun setelah para dewa menghancurkannya, mereka menyebar ke seluruh pelosok dunia. Sudah 7 tahun ini aku tidak pernah lagi melihat sosok raksasa. Ini hal yang aneh. Sebelumnya aku masih sering melihatnya, bahkan di Hutan Cemara seribu, terkadang ada raksasa yang keluar dari persembunyaiannya untuk mencari makanan.” Ki Gading Putih bercerita.

__ADS_1


“Lenyapnya para raksasa ini bukanlah pertanda yang baik.” Ki Gading Putih memandang jauh ke langit. Ada kegelisahan dalam hatinya yang tak ia pahami sepenuhnya. Ia merasa bahwa sebentar lagi akan ada bencana, entah apa itu.


Setelah obrolan ringan seusai makan malam, masing-masing dari mereka kembali ke pondok untuk beristirahat. Batari Mahadewi mengetahui sesuatu yang tak ia ungkapkan pada gurunya seusai makan malam tadi. Ia tahu bahwa jika kitab itu dibaca secara terbalik, maka isinya merupakan jurus beladiri Ilmu Raga Membelah Bumi. Salah satu ilmu yang mungkin tak lagi dikuasai oleh pendekar ternama yang masih hidup hingga saat ini.


__ADS_2