Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 100 Dijodohkan


__ADS_3

Jalu memasuki area istana. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah menemui kedua orang tuanya. Ayahnya, Balarajasa, adalah seorang mahamantri kerajaan. Bisa dibilang jabatan itu merupakan jabatan tertinggi kedua setelah raja. Biasanya jabatan ini akan dimiliki oleh putra raja. Sayangnya, sang Sri Maharaja Srengenge Ireng tak memiliki putra mahkota, namun ia memiliki tiga puteri cantik yang masih seumuran dengan Niken.


Ibunda Jalu, Dewi Kenanga, juga merupakan orang penting. Ia membantu Sri Ratu untuk mengatur segala urusan rumah tangga istana.


Jalu memasuki salah satu bagian ruangan kerajaan yang menjadi tempat tinggal ayah dan ibunya. Kebetulan ayah dan ibu Jalu sedang berada di ruangan itu dan keduanya tampak terkejut dengan kedatangan Jalu yang tiba-tiba. Jalu sungkem kepada orang tuanya. Batari Mahadewi dan Niken memperhatikan kakak seperguruan mereka dari belakang.


“Ayahanda, Ibunda, saya membawa kedua adik perguruan untuk berkunjung kemari. Kami baru saja selesai mengemban tugas dari guru dan ingin mampir ke sini, sekalian kami ingin bertemu paman patih untuk membicaraka hal penting.”


“Beristirahatlah dulu.” Kata Ibu Jalu. “Oh, kami belum berkenalan dengan ananda berdua.” Kata Ibu jalu kepada Niken dan Batari Mahaewi.


Hati Niken berdebar tak karuan. Ia sangat kikuk bertemu dengan kedua orang tua Jalu, meski tentu saja kedua orang tua Jalu sama sekali tak tahu apa yang terjadi antara Jalu dan dirinya.


“Saya Niken, murid ke lima Ki Gading Putih.”


“Dan saya Batari Mahadewi, murid ke enam Ki Gading Putih.”


“Kalian semua beristirahatlah dulu, nanti setelah itu kita bisa bercerita panjang lebar. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan kamar dan makanan untuk kalian.” Ibu Jalu beranjak memanggil pelayan.


####


Sementara itu, di balik tembok istana, Mahapati Siung Macan Kumbang sedang mengadakan pembicaraan tertutup dengan beberapa pendekar aliran putih yang telah memenuhi undangannya di ruang pertemuan wisma tamu keprajuritan. Mahapatih itu belum mendengar kabar kedatangan keponakan kesayangannya itu.

__ADS_1


Di dalam ruang pertemuan itu, setidaknya telah ada tigapuluh pendekar muda termasuk Anjani, Buyung, dan Cendana. Pradipa, yang secara tak sengaja bertemu dengan utusan Mahapatih, pada akhirnya memenuhi undangan tersebut. Ia berada di ruangan itu dan ketampanannya cukup menyita perhatian beberapa pendekar perempuan, termasuk Anjani meski murid kedua Ki Gading Putih itu tak tertarik untuk menjalin hubungan dengan siapapun. Ia hanya memandangi Pradipa layaknya menikmati pemandangan yang indah, tanpa ada rasa ingin untuk memilikinya.


“Sekali lagi, saya ucapkan banyak terimakasih kepada rekan-rekan pendekar sekalian karena mau bergabung untuk sementara waktu di sini. Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, kami belum tahu sampai kapan hal ini akan berlangsung. Tapi selama rekan-rekan semua ada di sini, kami menjamin segala keperluan rekan-rekan semua. Apabila dari yang saya paparkan tadi masih ada yang kurang jelas, mohon kiranya untuk mengajukan pertanyaan.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Gusti patih, saya hendak bertanya.” Kata Pradipa.


“Silahkan.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Selama kami di sini, apa saja yang sebaiknya kami lakukan dan apa yang sebaiknya tak kami lakukan?” tanya Pradipa.


“Rekan-rekan semua diperbolehkan berada di semua wilayah di dalam dinding kota Swargadwipa, bisa menikmati semua fasilitas di wisma tamu. Saya hanya berpesan satu hal saja. Jangan sampai orang lain mendengarkan apa yang saya sampaikan. Bahkan tidak untuk para prajurit atau pejabat istana. Rekan-rekan bisa mengatakan kalau undangan ini bertujuan untuk penyelenggaraan pelatihan keprajuritan.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


####


Jalu keluar dari ruangannya. Ia berjalan menuju ruangan kedua orang tuanya. Meski hubungan mereka terasa kaku sebagaimana umumnya hal tersebut terjadi dalam keluarga kerajaan, namun demikian Jalu sangat menyayangi dan menghormati kedua orang tuanya.


“Jalu, kesinilah nak. Ada hal yang ingin kami sampaikan.” Kata Ayah Jalu.


Jalu mendekat dan duduk berhadap-hadapan dengan kedua orang tuanya. “Ada apa, ayah?”


“Kau sudah semakin dewasa. Beberapa bulan terakhir, kami berfikir untuk menjemputmu. Begini, anakku, ayah dan ibumu memang belum pernah membicarakan kepadamu, namun jauh sebelum hari ini, ketika kamu masih belajar di padepokan, Sri Maharaja pernah berbicara kepada ayah tentang masa depanmu.” Kata Ayah Jalu.

__ADS_1


Jalu berfikir bahwa masa depan yang dimaksud oleh ayahnya adalah karirnya dalam bidang militer sebab kelak ialah satu-satunya calon pengganti Mahapatih Siung Macan Kumbang yang usianya sudah mulai menua. Namun ia masih merasa bahwa ia terlalu muda untuk menjadi patih dan ia masih sangat kurang pengalaman dalam bidang militer serta trategi perang.


“Sri Maharaja ingin menjodohkanmu dengan putri Kumala. Ini kesempatan bagus buatmu, anakku.” Kata Ayah jalu.


Hati Jalu bagaikan tersambar pertir ketika mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia tak menyangka, dan sama sekali tak pernah mengira bahwa dirinya akan dijodohkan dengan putri raja yang pertama, Putri Kumala. Parasnya memang cantik dan membuat semua lelaki bermimpi untuk meminangnya. Namun ia anak seorang raja, dan hanya lelaki istimewa saja yang berhak melamarnya, putri Kumala yang berhak memutuskannya.


Jalu diam tak bisa berkata apa-apa. Di satu sisi, ia sangat mencintai Niken dan di sisi lain, ia sangat menghormati ayahnya. Ia tahu, jika ia menolak perjodohan itu, maka sikapnya akan sangat melukai kedua orang tuanya. Tak hanya itu, hubungan Sri Maharaja dengan ayahnya bisa rusak. Namun sungguh, perasaannya telah mendarat di hati Niken dan ia adalah lelaki sejati yang tak mau mengingkari janjinya. Hanya saja, Jalu belum tahu harus bagaimana menghadapi situasinya saat itu.


“Putri Kumala dua tahun lebih muda darimu. Ia juga menyetujui perjodohan ini, anakku. Jadi jalan yang akan kau tempuh sama sekali tidak ada kesulitan. Tentunya, kelak kau akan memimpin kerajaan ini di masa depan. Jika kau setuju, maka pada usiamu yang ke 20 tahun nantinya, kita bisa bicarakan lagi soal rencana pernikahan ini. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan kecewakan ayahmu.” Kata ayah Jalu.


Batari Mahadewi yang sedari tadi bisa mendengarkan pembicaraan tersebut dari dalam ruangannya bersama Niken, pada akhirnya bisa memahami situasi serba sulit yang dihadapi oleh Jalu. Batari Mahadewi tahu, Jalu tak mengatakan sepatah katapun dalam pembicaraan itu. Diam-diam, air mata Batari Mahadewi meleleh. Niken yang memperhatikan adik seperguruannya itu menjadi bingung.


“Kau menangis, adik? Ada apakah gerangan?” tanya Niken.


Batari Mahadewi tak bisa menjawab pertanyaan itu. Ia memeluk tubuh kakak seperguruannya itu, lalu ia menangis sesengukan.


****Sampai di sini dulu, teman-teman. maaf hanya bisa 3 chapter saja. Mata ga kuat lagi buat nulis. Semoga setoran kali ini tak terlalu buruk buat teman-teman semua. **


T****erimakasih banyak ya, sudah sejauh ini mengikuti TBM. Terimakasih banyak atas segala bentuk suportnya. Semoga Tuhan selalu memberi kita semua keselamatan dan kebahagiaan, rejeki dan kesehatan, iman dan imun dalam menghadapi kenyataan**.


Sampai jumpa besok lagi ya, teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2