Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 175 Ratu Halilintar


__ADS_3

Batari Mahadewi dan Nala cukup heran karena ternyata tak hanya satu kapal besar yang ada di sana, melainkan dua. Ketika ada sebuah kapal yang turun dari langit, maka kapal satunya yang ada di bawah mulai berangkat naik. Kapal itu berada di sebelah gunung yang tak tampak ujung puncaknya. Gunung besar itu sangat tinggi menjulang ke atas, menembus ke awan.


“Aku mengerti sekarang yang dimaksud dengan dunia bawah dan dunia atas. Aku yakin di puncak gunung itu ada pemukiman yang lain. Kedua kapal itu dipergunakan sebagai kendaraan untuk menuju dunia atas dan dunia bawah.” Kata Batari Mahadewi.


“Menarik sekali. Aku jadi ingin segera bertemu dengan tetua Hannam. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.” Kata Nala.


“Hahaha, bersabarlah. Belum tentu tetua itu mau menemui kita.” Kata Batari Mahadewi.


Setelah berjalan ke tengah kota dan bertanya kepada beberapa orang yang mereka temui di sana, akhirnya mereka sampai juga di kediaman tetua Hannam yang tak jauh dari pelabuhan kapal langit. Tetua Hannam adalah orang yang paling berpengaruh di dunia bawah. Selain bahwa ia adalah pemimpin di dunia bawah, ialah yang menciptakan dua kendaraan seperti kapal yang digunakan untuk mengangku barang-barang dari dunia bawah ke dunia atas, dan sebaliknya.


Beberapa orang tampak sibuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing di kediaman tetua Hannam. Batari Mahadewi bertanya kepada salah satu dari mereka yang sedang sibuk menata sesuatu yang bebentuk tabung berwarna hitam.


“Maaf paman, kami berdua ingin bertamu kepada tetua Hannam.” Kata Batari Mahadewi memohon izin.


“Oh, mari saya antar, nona. Ikuti saya.” Kata orang itu sembari mengajak Batari Mahadewi dan Nala mengikutinya menuju ke dalam bangunan besar yang di dalamnya ternyata ada banyak tumpukan barang dan para pekerja yang lebih banyak dari yang berada di luar. Tetua Hannam sedang sibuk memberi arahan kepada para pekerjanya.


“Tetua, ada yang ingin bertemu.” Kata pekerja yang mengantarkan Batari Mahadewi dan Nala.


“Oh, mari, silahkan ke sini. Maaf, tempatku sungguh berantakan. Beginilah setiap hari yang terjadi di sini. Ayo ke ruanganku.” Kata tetua Hannam. Ternyata ruang tamu tetua Hannam tampak rapi, luas dan nyaman. Tetua itu mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk, lantas ia menyuguhkan beberapa jenis makanan dan minuman.

__ADS_1


“Sudah lama sekali aku tak kedatangan tamu asing. Hmm, kalian seperti warga pulau api?! Tapi aku rasa bukan.” Kata tetua Hannam.


“Kami berasal dari dunia satu rembulan, tetua.” Ujar Batari Mahadewi.


“Hmm…sudah kuduga kalian bukan berasal dari dunia sini. Jadi aku bisa menebak tujuan kalian datang kemari.” Kata tetua Hannam.


“Kami ingin mencari sumber energi utama di pulau Halilintar dan mengambil energi dari sana. Kami membutuhkan kekuatan untuk bisa kembali ke dunia kami.” Kata Nala tanpa basa-basi, mengingat tetua itu pasti memiliki kemampuan tinggi, usia yang sangat tua, serta pengetahuan yang luas.


“Siapapun boleh mengambil energi dari sumber energi utama. Tapi pastinya yang kalian butuhkan lebih dari energi halilintar yang kami simpan dalam tabung-tabung hitam itu bukan?!” kata tetua Hannam.


“Oh, jadi benda itu adalah alat untuk menyimpan energi halilintar?” tanya Nala.


“Benar sekali anak muda, kami para manusia pulau Halilintar tak bisa hidup hanya dengan mengandalkan makanan dan minuman saja. Kami membutuhkan energi halilintar untuk tetap hidup, sementara energi halilintar ini hanya ada di dunia atas. Para manusia di dunia atas yang mengambilnya dan menyimpannya dalam tabung-tabung itu. Kami para penghuni dunia bawah hanya bisa mendapatkan tabung-tabung itu dengan menukarkannya dengan berbagai hasil bumi dunia bawah yang tak bisa di dapatkan di dunia atas.


Akan tetapi, sudah beberapa generasi ini kami tak lagi memiliki kemampuan itu. Sejak pusat sumber energi utama diambil alih oleh ratu Halilintar, kami hanya bisa mendapatkan energi halilintar dengan cara seperti ini.” Tetua Hannam menuturkan gambaran singkat tentang kehidupan di pulau Halilintar.


“Ratu Halilintar?” tanya Nala.


“Di atas dunia atas masih ada satu tempat lagi, yaitu kuil suci Halilintar. Dulu nenek moyang kami yang menjaga tempat itu, sekaligus menjaga sumber energi utama yang ada di sana. Sejak ratu itu berkuasa dan menjaga kuil suci, maka kami semua tak bisa lagi memurnikan tubuh kami dengan menyerap energi di sana.” Kata tetua Hannam.

__ADS_1


“Lalu bagaimana manusia dunia atas bisa mendapatkan energi halilintar dan menyimpannya ke dalam tabung-tabung itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Pancaran energi halilintar itu kuat sekali dan terasa hingga ke permukaan dataran di dunia atas. Tinggal taruh saja tabung-tabung itu di tempat-tempat tertentu, nanti akan terisi energi halilintar dengan sendirinya.” Kata tetua Hannam.


“Jadi manusia di dunia atas tak membutuhkan tabung-tabung itu untuk mendapatkan energi halilintar, bukan?” tanya Nala.


“Benar sekali. Mereka bisa mendapatkan energi halilintar dari pancaran energi yang berasal dari sumber utama. Sementara kami yang dibawah sangat membutuhkannya, terutama untuk hal-hal yang membutuhkan energi tinggi, misalnya bertarung atau melakukan hal berat. Kami bisa mengeluarkan energi halilintar dari tubuh kami, tapi tentu jumlahnya sepadan dengan energi yang kami serap dari tabung-tabung itu. Kadang kala, banyak makhluk-mahkluk dari luar pulau kami yang datang dan menyerang kami. Jadi, sebenarnya tabung-tabung itu lebih penting sebagai alat pertahanan diri kami dari serangan monster.” kata Hannam.


“Akhirnya kami mengerti, kenapa di pulau lain di sekitar pulau ini tak berpenghuni.” Kata Batari Mahadewi.


“Kau benar, dulu memang berpenghuni, sekarang tidak lagi. Dengan energi halilintar, kami bisa dengan mudah membunuh monster-monster yang datang menyerang. Sementara, untuk mendapatkan energi ini sulit, semua tabung dari sini akan diedarkan ke desa-desa pinggiran kota. Semakin jauh dari kota, maka semakin sulit mendapatkan tabung-tabung ini.” Kata tetua Hannam.


“Menurut tetua, jika kami menginginkan sumber energi utama, artinya kami harus berhadapan dengan ratu halilintar?” tanya Nala.


“Hahaha, tentu saja. Hanya jika kalian bisa mengalahkannya maka kalian bisa mengambil energi itu. Dan jika kalian bisa melakukannya, maka kalian berdua adalah pahlawan bagi kami. Dengan kata lain, kami bisa memurnikan kembali tubuh kami dan menjadi manusia halilintar seperti nenek moyang kami dahulu.” Kata Hannam.


Ada secercah harapan dalam benak Batari Mahadewi dan Nala bahwa untuk menyerap energi di pulau Halilintar tak akan serumit di pulau Api dan pulau Es. Kuil suci Halilintar yang terletak di ujung langit bagi orang biasa merupakan suatu kemustahilan untuk dicapai. Namun, bagi Batari Mahadewi dan Nala yang sebelumnya telah menyerap energi dari dua sumber utama dunia tiga rembulan, hal itu adalah hal yang mudah.


Melawan ratu Halilintar adalah soal yang lain. Keduanya belum tahu seberapa kuat ratu itu, namun keduanya yakin bisa dengan mudah mengalahkannya. Mereka berdua merasa bersemangat dengan kenyataan bahwa jika keduanya berhasil menyingkirkan ratu itu, maka itu sama artinya mereka menolong banyak orang pulau halilintar untuk kembali memiliki takdir mereka sebagai bangsa halilintar sejati.

__ADS_1


“Kalian berdua harus bisa memancing ratu itu untuk turun. Dengan kekuatan es dan api yang kalian miliki, aku yakin pancaran energi kalian akan menarik perhatiannya. Dia tak mau ada pesaing di pulau Halilintar yang menguasai kuil suci.” Kata Hannam.


Batari Mahadewi dan Nala mengangguk setuju. Satu-satunya hal yang sedang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya memancing ratu itu turun dari kuil suci Halilintar. Jika pertarungan berlangsung di sana, ratu itu sudah pasti lebih tangguh. Ditambah lagi, pertarungan akan beresiko merusa kuil suci sekaligus sumber energi utama yang ada di sana.


__ADS_2