Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 277 Mustika Langit


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Batari Mahadewi mengeluarkan kepingan mustika langit yang berbentuk persegi. Mustika itu selalu memancarkan cahaya dan semakin bertambah terang ketika gadis jelmaan pusaka dewa itu menyentuhnya.


Di atas telapak tangan Batari Mahadewi, benda kotak itu mengambang lalu memunculkan aksara-aksara rahasia yang berkelindan di sekelilingnya. Aksara-aksara itu menceritakan semua kejadian bagaimana para dewa menciptakan dirinya dan menceritakan semua seluk beluk tentang dirinya.


Hingga menjelang subuh gadis itu terus mempelajari semua aksara yang hadir di hadapannya. Maka tahulah ia tentang banyak hal, dunia dewa, dirinya sendiri, dan kalapati. Sebagian besar pengetahuan yang ada dalam mustika langit itu sudah diketahui oleh Batari Mahadewi selama ia berpetualang. Sedikit terlambat memang ia memperoleh mustika berbentuk kotak itu. Namun bagaimanapun, setidaknya ia tahu banyak hal tentang Kalapati yang akan menjadi lawannya kelak.


Ia juga tahu bahwa ia tak boleh menunjukkan diri terlalu berlebihan sebelum semua segel energi dalam tubuhnya terbuka. Sebab, sekalinya Kalapati tahu bahwa ia adalah jelmaan pusaka dewa, maka raja raksasa itu akan segera memburunya. Tak ada yang lebih menggairahkan raja raksasa itu selain segala hal yang berhubungan dengan para dewa.


Sebelum matahari benar-benar terbit, Batari Mahadewi telah berada di hutan. Ia mendapatkan seekor kijang jantan yang masih muda. Dagingnya lebih empuk dan enak jika dibandingkan dengan kijang jantan dewasa. Kemudian, gadis itu membawa kijang buruannya ke sungai, mengulitinya dan membersihkannya. Membuang yang tidak perlu dan membawa semua yang bisa diolah. Ia sempat tergoda untuk mencari beberapa ekor ikan besar, namun ia putuskan untuk mencari ikan di lain hari.


Nyi Kunyit lumayan kaget mendapati anak gadisnya itu pulang dengan membawa daging kijang. Daging itu cukup untuk menjadi bahan masakan selama beberapa hari ke depan.


“Kau tadi pergi ke hutan, anakku?” tanya Nyi Kunyit.


“Iya, ibu. Sebelum subuh aku sudah mendapatkan kijang ini. Ibu bisa membagikannya sebagian kepada tetangga,” kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, ibu memang berfikir demikian. Mumpung ada yang bisa dibagikan. Ya sudah, ibu masak dulu daging ini untuk sarapan nanti. Kau akan pulang lagi nanti malam kan?” tanya sang ibu.


“Iya, ibu.” Jawab Batari Mahadewi.


“Ajak Nala dan kakaknya untuk makan di sini. Jika Ki Gading berkenan, undanglah juga beliau,” kaya Nyi Kunyit.


“Baik, ibu.”


*****


Seusai sarapan yang nikmat itu, Batari Mahadewi langsung melesat ke padepokan. Di sana Ki Gading Putih sedang menunggu bersama Nala dan kakaknya. Tentu saja, mereka bertiga sungguh penasaran untuk melihat bagaimana gadis cantik itu membuat senjata pusaka.

__ADS_1


“Maaf, aku kesiangan. Tadi membantu ibu memasak daging dulu. Oh iya, ibu mengundang guru, Nala dan kak Vidyana untuk makan malam di rumah nanti,” kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, dengan senang hati. Sudah lama aku tak mengunjungi ibumu,” kata Ki Gading Putih.


Tentu undangan semacam itu terasa menyenangkan. Bagaimana tidak, mereka bertiga tak makan apa-apa selain beberapa buah pisang semalam. Untung mereka semua sudah terbiasa hidup seperti itu.


“Hahaha, ibu pasti senang jika semua bisa datang. Baiklah kalau begitu kita mulai saja membuat senjata pusaka. Nala, Aku nanti butuh banyak bantuanmu. Akan kujelaskan caranya,” kata Batari Mahadewi.


Mereka berempat kemudian bergegas menuju ke dalam goa di balik air terjun Hati Suci. Batari Mahadewi menjelaskan berbagai hal tentang bahan dan kegunaannya, setelah itu ia mulai meleburkan logam-logam pilihan dengan cara yang sama dengan yang ia lakukan di bengkel guru Udhata.


Butuh satu hari untuk membuat satu senjata mentah. Menyaksikan gadis itu membuat senjata bukan perkara mudah. Nala, Vidyana, dan Ki Gading harus pula ikut-ikutan mengerahkan banyak tenaga untuk bertahan dengan panas dari tangan api Batari Mahadewi yang meleburkan dan menempa logam-logam super keras itu.


Sesekali Nala membantu kekasihnya itu untuk menempa senjata dengan kekuatan api yang ia miliki.


Ketika Batari Mahadewi dan Nala telah selesai, barulah Ki Gading dan Vidyana berani mendekat.


“Belum, ini baru setengah jadi. Tapi senjata ini juga sudah bisa digunakan, hanya saja belum memiliki jiwa dan kekuatannya. Butuh tambahan mustika siluman atau iblis yang berkekuatan bagus,” jawab Batari Mahadewi.


Ki Gading Putih juga ikut mencoba memainkan senjata itu. Ia menekan perlahan mata pedang itu pada sebongkah batu goa. Tanpa butuh tenaga dalam, dan hanya meletakkan dan memberikan sedikit tekanan pada pedang, maka batu itu terbelah sempurna.


“Ini senjata paling menakjubkan yang pernah kulihat!” Ki Gading Putih tersenyum penuh rasa kagum.


“Nala, bukankah kau masih menyimpan mustika dari siluman naga hitam?!” kata Vidyana. Nala teringat pertarungan waktu itu. ia masih menyimpan mustika berwarna hitam itu, mengeluarkannya dan memberikannya kepada Batari Mahadewi.


“Aku butuh waktu sekitar dua atau tiga hari untuk menyatukan mustika ini dan beberapa kristal api, berlian, mustika alam, dan bebatuan sakti lainnya dengan senjata ini. Jadi, mungkin kita bisa melakukannya lain waktu jika kita semua siap. Sementara, kita buat saja dulu bahan-bahan ini menjadi senjata setengah jadi,” kata Batari Mahadewi.


“Baik guru Tari,” goda Nala.

__ADS_1


“Besok giliranmu membuat senjata semacam ini, Nala. Aku tahu kau memiliki selera dan kemampuan seni yang jauh lebih baik dari aku. Jadi seharusnya, bentuk senjata yang kau ciptakan besok akan jauh lebih bagus dari ini,” kata Batari Mahadewi.


"Akhirnya kau mengakuinya, Tari, hahaha," kata Nala bangga sebab dalam hal estetika, Nala jauh lebih mumpuni.


“Kenapa kita harus menggunakan banyak sekali mustika untuk satu senjata?” tanya Vidyana.


“Memang banyak senjata pusaka yang hanya berisi satu jenis mustika saja sebagai isiannya, namun senjata itu hanya berfungsi dengan baik untuk melawan manusia. Lawan kita adalah makhluk iblis. Tanpa senjata pusaka yang kuat, kita tak bisa membelah tubuh makhluk itu,” jawab Batari Mahadewi.


“Kau benar, Tari. Di pulau lain, aku mendapatkan cerita bahwa banyak sekali pendekar sakti seusiaku yang gugur ketika melawan iblis itu. Mereka juga menggunakan senjata pusaka. Tapi mungkin senjata itu belum mampu membunuh makhluk iblis,” kata Ki Gading Putih.


“Sayang sekali saya sudah memberikan beberapa senjata yang sudah jadi kepada beberapa pendekar sakti yang saya temui di Siwarkatantra, guru,” kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, tidak apa-apa. Justru memang seharusnya begitu. lagipula, kau bisa membuatnya lagi di sini. Ah, semoga kita bisa melewati masa-masa suram ini,” kata Ki Gading Putih.


Mereka berempat beranjak meninggalkan goa. Batari Mahadewi ingin memberitahukan yang ia tahu dari mustika langit kepada Nala seorang, maka sebelum mereka bersama-sama menuju ke rumah Nyi Kunyit, gadis pusaka dewa itu mengajak Nala berbicara empat mata.


Mereka berempat beranjak meninggalkan goa. Batari Mahadewi ingin memberitahukan yang ia tahu dari mustika langit kepada Nala seorang, maka sebelum mereka bersama-sama menuju ke rumah Nyi Kunyit, gadis pusaka dewa itu mengajak Nala berbicara empat mata. Batari Mahadewi menceritakan masa lalu Kalapati sekaligus masa lalu dari dunia satu rembulan yang tertulis melalui aksara rahasia dalam mustika langit kepada Nala.


“Jadi, menurutku, bangsa raksasa itu tak seburuk yang kita bayangkan. Takdir yang mereka miliki adalah memiliki kemampuan berfikir yang sangat terbatas, namun memiliki kekuatan yang besar. Raksasa paling lemah bisa dibilang memiliki kekuatan setara dua ekor gajah. Mereka buas hanya karena lapar dan mereka sesungguhnya tak memiliki kemampuan sebaik manusia untuk mengolah alam dan menciptakan peradaban yang lebih baik tanpa harus merusak keseimbangan alam.


Oleh sebab itulah, bangsa raksasa kemudian banyak dibinasakan oleh para dewa. Sebab keberadaan mereka tak hanya mengancam keseimbangan alam, namun juga membahayakan bangsa manusia apabila jumlah mereka terlalu banyak.


Perang antara bangsa raksasa dan bangsa dewa berlangsung sangat lama. Ketika dua bangsa itu bertarung, bangsa iblis sengaja tak menampakkan diri dan diam-diam menyusun kekuatan untuk menjadi penguasa baik di dunia atas, tengah ataupun bawah.


Nah, tentang Kalapati, ia adalah putera raja raksasa di istana tengah yang merupakan istana terbesar waktu itu dan menjadi kerajaan raksasa pertama yang dihancurkan oleh bangsa dewa. Waktu itu ia masih bayi. Ketika bangsa dewa datang menyerang, Kalapati dilarikan kehutan, dirawat oleh raksasa perempuan dari kaum jelata. Seluruh keluarganya dan istananya habis oleh serangan dewa.” Kata Batari Mahadewi. Nala mendengarkan kekasihnya itu bercerita dengan penuh perhatian. Jika tidak, cubitan maut akan mendarat di pahanya.


 

__ADS_1


 


__ADS_2