Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 87 Kerajaan Swargadwipa


__ADS_3

Anjani, Cendana dan Buyung sebenarnya bisa langsung melakukan perjalanan ke arah selatan untuk menuju desa Cemara Seribu yang terletak di bagian ujung selatan kerajaan Swargadwipa tanpa harus melewati kota kerajaan yang membuat mereka harus sedikit menyerongkan arah perjalanan. Namun karena tugas mereka telah selesai, mereka tak terburu-buru untuk langsung pulang dan bertemu dengan guru mereka, Ki Gading Putih. Ketiganya ingin mampir terlebih dahulu ke kota kerajaan Swargadwipa untuk sekedar mencari hiburan, mengingat ketika mereka berangkat ke wilayah utara, mereka tak melewati kota kerajaan.


Istana kerajaan Swargadwipa merupakan sebuah istana yang megah. Istana itu terletak di kota Swargadwipa yang dilindungi dengan tujuh lapis benteng. Sehingga, jika ada yang ingin berkunjung ke istana, dari gerbang masuk pertama kota Swargadwipa, mereka masih harus melewati enam gerbang lagi.


Bagian gerbang paling luar dikelilingi oleh parit raksasa dan hanya ada empat jembatan yang terletak masing-masing di depan gerbang utara, timur, selatan, dan barat. Keseluruhan tata kota dan istana Swargadwipa, sama halnya dengan kerajaan lainnya, menggunakan konsep mandala dimana istana akan berada di tengah pada posisi yang paling tinggi. Semua bangunan yang mengelilinginya tak boleh lebih tinggi dari bangunan istana.


Tiap lapisan tembok raksasa yang menjadi benteng akan memiliki empat gerbang dari empat penjuru mata angina. Jarak antar satu tembok dengan tembok lainnya setara dengan satu desa kecil. Di sanalah bermukim para penduduk kota kerajaan yang menjalankan roda kehidupan dengan cara berdagang, mendirikan penginapan, rumah makan, dan lain sebagainya. Yang pasti, tak ada area peternakan, pertanian, dan perkebunan di dalam tembok kota Swargadwipa.


Di balik tembok ke enam, seluruh wilayahnya merupakan perumahan para pegawai kerajaan mulai dari perumahan para prajurit hingga pejabat-pejabat kerajaan lainnya. Sementara para petinggi kerajaan akan tinggal di dalam istana kerajaan Swargadwipa yang sangat luas itu. Bangunan istana itu sendiri dibagi menjadi beberapa bagian, yakni untuk sang Sri Maharaja dan keluarganya, serta bagian lain untuk para kerabat penting kerajaan seperti keluarga Mahapatih dan para menteri, para penasehat raja, serta para prajurit khusus.

__ADS_1


Diluar tembok kota swargadwipa terhampar area peternakan, persawahan dan perkebunan milik kerajaan yang dikelola oleh para petani. Ribuan petani dan peternak yang bekerja untuk kerajaan bermukim di beberapa titik di area produksi tersebut. Perumahan para petani itu sudah tampak seperti desa sehingga di setiap sektor terdapat kepala wilayah yang bekerja layaknya pemimpin desa.


Area setelah lahan produktif di empat penjuru luar tembok kota Swargadwipa merupakan hutan yang luas yang memisahkan wilayah kota Swargadwipa dengan kota lainnya yang masih termasuk dalam bagian wilayah kerajaan Swargadwipa.


Anjani, Cendana, dan Buyung telah sampai di seberang tembok paling luar kota Swargadwipa. Ketiganya harus menyeberang jembatan kayu dan melewati pos penjagaan sebelum bisa masuk ke dalam kota. Siapapun bisa memasuki benteng lapis pertama tersebut, kecuali pada saat genting, misalnya kerajaan Swargadwipa sedang dalam masa perang dengan kerajaan lain, penjagaan dan pemeriksaan akan diperketat dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa keluar dan masuk gerbang kota Swargadwipa.


Ketika ketiganya melintasi jembatan, dan melewati pos penjagaan, para prajurit penjaga hanya menanyakan tujuan ketiga murid Ki Gading Putih itu. Tak ada pemeriksaan khusus, dan ketiganya bisa masuk dengan leluasa, menikmati kemegahan kota Swargadwipa.


“Bagaimana kalau kita makan di sini?” tanya Cendana, murid ke 2 Ki Gading Putih.

__ADS_1


“Pilihan yang bagus. Mungkin sedikit mahal, tapi tak tak masalah. Sesekali kita perlu memanjakan lidah.” Kata Buyung, murid pertama sekaligus yang tertua di Padepokan Cemara Seribu. Ia merupakan anak istimewa yang lahir di desa Cemara Seribu. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya, dan ayahnya juga menyusul ibunya ketika usianya baru lima bulan. Selebihnya, ia diasuh oleh tetanganya hingga berusia lima tahun. Di usianya yang ke lima itulah, Ki Gading Putih mengangkatnya sebagai murid pertama.


Anjani, yang merupakan murid ketiga, selalu tak pernah mengajukan pendapat soal apa dan dimana mereka harus makan. Ia suka makanan enak, tentu saja, namun tak pernah memilih-milih dalam hal makanan. Tubuhnya rampingnya yang membuat semua lelaki menoleh padanya itu seakan tak pernah melar meski ia bisa menghabiskan makanan dalam jumlah banyak, yang tak habis dimakan oleh lima orang lelaki dewasa.


Meski cantik dan memiliki tubuh yang bagus, Anjani masih belum berniat memiliki pendamping hidup di usianya yang telah menginjak kepala tiga. Ia juga tak sudi jika suatu hari harus menikah dengan pendekar lelaki yang ilmunya jauh di bawahnya. Tentu saja hal itu tidak mudah mengingat kemampuan beladirinya mengerikan.


Ketiganya memasuki rumah makan itu dan memesan makanan terbaik yang ada di sana. Beberapa pengunjung rumah makan itu merupakan orang-orang kaya. Setidaknya, kekayaan yang mereka miliki terpantul dari kemegahan pakaian yang mereka kenakan. Orang-orang semacam itu biasanya adalah keluarga pejabat atau saudagar kaya yang menjalankan bisnisnya di kota Swargadwipa dengan penduduk yang padat, yakni lebih dari satu juta jiwa.


Penampilan ketiga murid pertama ki Gading Putih itu menjadi pemandangan yang tak lazim di rumah makan yang cukup mewah itu sehingga tak heran jika semua pengunjung sering kali mencuri pandang ke arah mereka bertiga.

__ADS_1


Selagi ketiga pendekar dari padepokan Cemara Seribu itu menikmati makanan mereka, tiba-tiba ketiganya menangkap pancaran energi yang melesat cepat dari arah timur menuju ke barat. Siapapun pemilik pancaran energi itu, ia adalah orang yang sangat sakti yang mampu terbang di bawah awan dengan kecepatan tinggi sehingga tak terlihat oleh mata biasa.


__ADS_2