Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 136 Manusia Api Dan Manusia Setengah Elang


__ADS_3

Asap dan debu mengepul memenuhi udara sesaat setelah dua sosok bercahaya itu jatuh dari langit. Batari Mahadewi dan Nala belum bisa melihat wujud asli kedua sosok itu, namun kedua sosok itu masih memancarkan energi yang besar, tanda bahwa mereka masih sedang akan melanjutkan pertarungan.


Batari Mahadewi dan Nala hanya terdiam dan waspada. Tak ada niat untuk mencampuri urusan itu, dan bukan waktu yang tepat untuk tiba-tiba meninggalkan pulau kecil itu. Keduanya seperti terjebak dalam situasi yang berbahaya. Sayup-sayup, suara sosok yang baru saja datang di pulau kecil itu terdengar.


“Kali ini aku tak akan membiarkanmu lolos!”


“Hahaha, kau pikir kau cukup tangguh untuk membunuhku? Tak sadarkah kau, aku hanya berpura-pura kalah agar aku bisa membawamu mengikutiku hingga ke sini, dengan begitu pertarungan kita tak terganggu oleh siapapun.”


“Kau selalu pintar memungkiri kenyataan! Aku masih memberimu kesempatan untuk hidup jika kau mau mengembalikan barang yang kau curi dari kuil Api Suci.”


“Kau hanya bisa mengambilnya dariku jika kau membunuhku. Tak usah berunding lagi dengan kata-kata, sebaiknya kita selesaikan hal ini dengan pertarungan!”


Kedua sosok itu mulai terlihat jelas. Yang satu berwujud manusia api, yang satunya lagi berwujud manusia berwarna perak yang memiliki kedua sayap besar di punggungnya dengan sepasang kaki yang menyerupai kaki elang. Bisa dikatakan sosok yang kedua itu merupakan perwujudan manusia setengah elang. Ukuran tubuhnya dua kali lipat dari sosok yang pertama.


Dari penampilan kedua sosok tersebut, dengan mudah Batari Mahadewi dan Nala bisa menebak, siapa yang disebut sebagai pencuri di kuil Api Suci. Sosok yang mengejarnya sudah pasti adalah sang manusia api. Sekilas, sosok tersebut mirip dengan perubahan wujud Jalu ketika ia mengeluarkan seluruh kemampuannya. Bedanya, api yang dipancarkan sosok itu berwarna biru, dan tentu saja ia memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi yang setara pendekar berkekuatan dewa jika ia berada di dunia satu rembulan.


Kedua sosok itu melanjutkan pertarungan. Keduanya belum menyadari bahwa dua pasang mata yang menyembunyikan kekuatannya sedari tadi memperhatikan mereka bertarung.


Batari Mahadewi dan Nala tak berani menunjukkan pancaran energi mereka berdua. Keduanya menyadari, sosok yang sedang bertarung itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi dan belum tentu kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu sanggup mengalahkan salah satu dari mereka meski dengan mengeroyoknya.


Pertarungan berlangsung sengit. Beberapa kali sosok manusia api itu melontarkan pukulan-pukulan apinya dan manusia setengah elang itu masih bisa dengan mudah menangkisnya. Tubuhnya yang berwarna perak itu seolah tak merasakan panas meski pada jarak yang agak jauh, Nala dan Batari Mahadewi dibanjiri keringat karena suhu di pulau kecil itu meningkat drastis akibat pertarungan dua sosok pendekar itu.

__ADS_1


“Hanya itu saja kemampuanmu?! Sungguh menyedihkan, kau tak layak menjadi salah satu dari sembilan penjaga kuil Api Suci yang katanya tak terkalahkan itu!” sosok manusia setengah elang itu memancing emosi lawannya.


“Coba tahan yang ini!” balas manusia api. Kemudian ia menciptakan puluhan sorot api dari kedua tangannya yang meluncur seperti sinar laser, menghujam cepat dan tepat ke arah manusia setengah elang.


Namun, manusia setengah elang itu masih bisa menangkis serangan dahsyat itu dengan mudah. Kedua telapak tangannya menciptakan perisai berwarna perak yang membuat sorot api itu memantul ke segala arah dan membakar sebagian besar dari pulau kecil itu.


Mau tak mau, Batari Mahadewi dan Nala harus menciptakan perisai energi agar tak terkena dampak dari ledakan api itu. Dengan demikian, kehadiran kedua pendekar dunia satu rembulan itu akhirnya disadari oleh dua sosok yang sedang bertarung itu.


“Hah, rupanya ada pengintai! Kalian mengenakan pakaian dari Madapala, tapi kalian bukan berasal dari sana! Siapa kalian?” tanya manusia setengah elang dengan nada tidak bersahabat. Ia bisa mengenali pakaian terluar yang dikenakan oleh Batari Mahadewi dan Nala.


“Maaf, kami tak sengaja berada di sini. Yang pasti, kami tak akan ikut campur.” Kata Batari Mahadewi sedikit gugup untuk yang pertama kali dalam seumur hidupnya.


“Kalian sudah melihat kami berdua, dan mendengar apa yang kami bicarakan, maka kalian tak akan kubiarkan lepas begitu saja!” kata manusia setengah elang. Baru saja ia selesai bicara, sebuah serangan api mendarat di tubuhnya dengan cepat. Manusia elang terpental jauh di sertai dengan ledakan ketika tubuhnya menyentuh tanah dengan keras.


Cahaya perak memancar dari dalam tanah tempat jatuhnya sosok manusia setengah elang itu. Ia begitu murka. Manusia api itu tertegun karena serangannya tak mengakibatkan dampak serius bagi lawannya itu. Batari Mahadewi dan Nala juga tak kalah kaget dengan apa yang mereka lihat itu.


“Pengecut! Sungguh tak tahu malu! Sekarang aku akan mulai menyerangmu!” kata manusia setengah elang.


Jika memang harus terlibat, maka Batari Mahadewi dan Nala tahu kepada siapa keduanya akan berpihak. Setidaknya, manusia setengah api itu tak mengisyaratkan kesan apapun kepada mereka berdua, sementara manusia setengah elang itu sudah pasti akan berurusan dengan keduanya.


Manusia setengah elang itu memancarkan energinya yang membuat Batari Mahadewi dan Nala pun harus bertahan dengan sepenuh tenaga agar tak terpental. Cahaya perak menyilaukan membuat manusia api da kedua pendekar satu rembulan itu sesaat tak bisa melihat apapun. Setelahnya, pendekar setengah elang itu sudah menghajar manusia api dengan pukulan dan tendangan yang menyakitkan.

__ADS_1


Melihat cahaya keperakan itu, Batari Mahadewi teringat dengan salah satu jurusnya yang ia pelajari dari ilmu matahari, yakni menciptakan pijaran cahaya menyilaukan yang membuat siapapun yang tak siap akan buta sesaat. Kini gadis jelmaan pusaka dewa itu tahu bagaimana rasanya terkena serangan yang mirip dengan ilmu matahari yang pernah ia pelajari itu.


“Nala, kita harus membantu manusia api itu. mungkin jika kita bertiga mengeroyok manusia setengah elang itu, kita masih memiliki kesempatan untuk bisa selamat.


“Baiklah, ayo kita serang!” kata Nala. Ia menciptakan sebuah tangan raksasa dari tanah yang bergerak cepat menangkap tubuh manusia setengah elang itu dalam waktu yang sama ketika Batari Mahadewi memadatkan udara di sekitar kedua sosok yang tengah bertarung itu sehingga Nala bisa dengan mudah mencengkram tubuh manusia setengah elang yang akhirnya membuat manusia setengah api lolos dari sebuah pukulan yang hampir saja merenggut nyawanya.


Melihat manusia setengah elang itu masih dalam cengkeraman tangan raksasa dari tanah yang diciptakan oleh Nala, ia sekali lagi tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk menghujamkan pukulan api yang lebih dahsyat lagi. Manusia api itu meluncur dengan cepat dan mendaratkan telapak tangannya di dada manusia setengah elang. Ledakan besar tercipta yang tak hanya membuat manusia setengah elang itu terpental sangat jauh dan tercebur ke laut, namun juga menghancurkan tangan raksasa yang diciptakan Nala.


Sosok manusia setengah elang itu belum menampakkan diri, namun ketiga lawannya masih waspada sebab pancaran energi manusia setengah elang itu bahkan tak berkurang sedikitpun.


Tak lama kemudian, manusia setengah elang itu meluncur ke atas dari dalam laut yang disertai dengan ledakan dan sorotan cahaya berwarna perak. Dari atas, manusia setengah elang itu mengerahkan pukulan-pukulan tenaga dalam dengan bentuk bola-bola energi berwarna perak yang menghujani manusia setengah api, Nala, dan Batari Mahadewi. Seketika seluruh permukaan pulau itu hancur berantakan, termasuk kuil suci Bunga Api Murni.


Manusia setengah api, Batari Mahadewi dan Nala hanya bisa bertahan dengan perisai energi, sementara manusia setengah elang itu masih terus melakukan serangan dari udara.


Batari Mahadewi ingin mencoba peruntungannya. Ia memusatkan perhatiannya ke arah manusia setengah elang itu, lalu ia menghilang dan tiba-tiba muncul di belakang manusia setengah elang itu dengan jurus barunya yang ia pelajari dari guru Rapapu.


Begitu Batari Mahadewi mendadak muncul di belakang manusia setengah elang, dengan cepat pula gadis jelmaan pusaka dewa itu menghujamkan pukulan tapak petir dengan tenaga penuh ke punggung manusia setengah elang itu, tepat di antara kedua sayapnya.


Manusia setengah elang itu langsung jatuh menghujam bumi disertai dengan ledakan hebat. Namun ia bangkit lagi. Salah satu sayapnya patah, dan ia mematahkan pula sayapnya yang masih utuh sehingga ia tak lagi memiliki sayap.


Kekuatan manusia setengah elang itu telah jauh berkurang setelah ia tak lagi memiliki sayap. Namun kemudia ia mengambil kedua sayapnya yang patah itu. Kedua sayap yang patah itu berubah menjadi dua buah pedang perak yang berada di tangan kanan dan kirinya. Sorot matanya masih memancarkan keyakinan bahwa ia bisa memenangkan pertarungan dengan ketiga lawannya itu.

__ADS_1


Manusia setengah elang itu melesat dengan cepat ke arah manusia api dan mengayunkan pedangnya. Ayunan pertama bisa dihindari oleh manusia api, namun ayunan susulan berikutnya yang tak terduga itu berhasil memotong lengan manusia api dan ayunan ketiga berhasil merobek dadanya hingga manusia api itu ambruk ke tanah sambil meraung kesakitan.


__ADS_2