
Bagi pendekar pemuja otot dan kekuatan, ia bisa ditundukkan dengan mudah melalui kekuatan yang lebih besar daripada yang dimiliki olehnya. Bagi para pemikir, untuk mengalahkannya hanya dengan cara mematahkan kebenaran yang ia yakini dengan kebenaran baru. Namun untuk mengalahkan pendekar sekaligus pemikir, itu hal lain.
Pendekar yang tak memiliki otak berkapasitas besar untuk berfikir sangat banyak jumlahnya, termasuk si penjaga gerbang itu. Ciri-cirinya, ia cenderung melihat satu hal dengan satu sudut pandang saja sebagai ukuran kebenaran mutlak. Jika sudah demikian, ia hanya bisa patuh kepada yang ada di atasnya, dan menindas yang ada di bawahnya. Ia sombong sekaligus penjilat. Sebenarnya kasihan, sebab orang seperti itu tak memiliki dasar pijakan hidup yang ia ciptakan sendiri.
Setelah melihat sang nona jelita yang tak tampak seperti pendekar sakti itu bisa dengan mudah mengangkat senjata super berat seperti mengangkat ranting kering, barulah si penjaga gerbang dan dua rekannya itu gemetar.
Ada dua hal, setidaknya, yang membuat para penjaga gerbang itu merasa cemas. Pertama, hukuman dari sang guru, dan yang kedua adalah jika Nala masih marah. Yang ada dalam pikiran para penjaga gerbang itu, Nala pastinya lebih mengerikan daripada nona cantik itu, sebab sebelumnya Nala menggendong semua buntalan pusaka di punggungnya.
“Tuan dan Nona, maafkan kami. Kami hanyalah murid pemula di sini, tak paham dengan luasnya dunia. Kami akan segera menyampaikan kedatangan tuan dan nona kepada guru kami. Silahkan menunggu di balai tamu kami yang ada di dalam.” Penjaga gerbang itu tiba-tiba ramah.
Nala dan Batari Mahadewi tak ingin memperpanjang masalah itu. Maka keduanya masuk ke perguruan dan menunggu di balai tamu. Salah satu dari penjaga gerbang itu berlari terburu-buru untuk memanggil sang guru besar, Ki Raga Bumi.
“Kenapa selalu ada pendekar semacam itu! mengesalkan sekali!” kata Nala jengkel.
“Setiap perguruan besar yang memiliki banyak murid, pasti akan selalu ada yang seperti itu. Artinya, perguruan semacam ini tak mempertimbangkan bakat calon murid, namun lebih mementingkan jumlah murid,” kata Batari Mahadewi.
“Semacam menjual ilmu, begitu kan?!” kata Nala.
“Ya, tetapi kita tak bisa menyalahkannya. Setiap pendekar memiliki keyakinannya sendiri-sendiri. Bukan berarti, dalam hal semacam ini, Ki Raga Bumi adalah pendekar yang belum bisa lepas dari urusan duniawi. Bisa jadi ia menghidupi banyak keluarga dengan mendirikan perguruan ini. Coba pikirkan, berapa jumlah guru yang mengajar di sini? Jika mereka memiliki keluarga, bukankah ia juga harus bisa menghidupi keluarganya. Dalam hal ini, ilmu beladiri bisa menjadi jalan rejeki,” kata Batari Mahadewi.
“Tetapi perguruan semacam ini, aku yakin, hanya bisa menghasilkan empat atau lima pendekar saja dalam setiap angkatan. Atau mungkin hanya satu saja. Lingkungan seperti ini tak akan cocok untuk melahirkan pendekar yang benar-benar pendekar,” Nala berkomentar.
“Jangan samakan mereka dengan aku, kamu, atau saudara-saudara kita. Sejak lahir aku dan kamu sudah memiliki keunikan tersendiri. Sementara mereka hanya manusia biasa,” kata Batari Mahadewi.
“Bukan itu yang aku maksudkan, Tari. Aku memikirkan tentang bagaimana seharusnya menuntut ilmu di jalan pendekar. Perguruan seperti ini, seharusnya hanyalah pijakan awal, hanyalah hal kecil. Tetapi kecenderungannya, perguruan semacam ini malah diartikan sebagai yang utama dan yang dibangga-banggakan. Terlebih, jika perguruan ini memiliki nama besar dan guru yang merupakan pendekar besar. Padahal, seorang pendekar akan benar-benar belajar jika ia sudah meninggalkan perguruan, jika ia sudah berkelana, bertukar ilmu, bertarung dengan pendekar lain, membaur dengan kehidupan,” kata Nala.
“Lelakiku, kau menceramahiku. Kemajuan. Simpan pendapatmu tadi untuk kita sendiri. Tidak semua murid yang belajar di sini ingin menjadi pendekar yang sesungguhnya. Hampir di semua perguruan yang punya nama besar, sebagian besar murid yang belajar di sana bertujuan untuk mencari kebanggaan dan mencari rasa aman. Ilmu yang dipelajari tak sepenuhnya berguna untuk banyak orang, tapi cukup untuk memuaskan dirinya sendiri, minimal sebagai bekal untuk bercerita bahwa ia pernah belajar di sana hingga lulus. Padahal, tak ada kelulusan sejati. Ilmu tak pernah selesai dipelajari, bagaimana bisa lulus?” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Ki Raga Bumi akhirnya datang juga. Penampilannya mengisyaratkan wibawa dan kesederhanaan, jauh berbeda dengan murid-murid perguruan yang terlihat berlalu lalang sementara Nala dan Batari Mahadewi menunggu.
“Maafkan saya telah membuat tuan dan nona muda menunggu lama. Saya adalah Raga Bumi, pemilik perguruan ini. Sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya, bukan?” Ki Raga Bumi menyambut dan memperkenalkan diri.
“Saya Batari Mahadewi dan ini adalah rekan saya, Nala. Saya dari padepokan Cemara Seribu, murid Ki Gading Putih,” Batari Mahadewi memperkenalkan diri.
“Oh, jadi inikah sosok legenda muda itu? Sungguh suatu kehormatan bagiku, masih sempat bertemu di usiaku yang tak lagi muda ini,” kata Ki Raga Bumi.
“Guru besar terlalu menyanjung. Kedatangan kami kali ini untuk mempersembahakan pusaka untuk guru, sekaligus untuk menyampaikan beberapa hal apabila guru belum mendengar kabar ini sebelumnya,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu kemudian membuka buntalan pedang dan baju pusaka lalu memberikannya kepada Ki Raga Bumi.
“Oh, pusaka ini…belum pernah aku melihat yang seperti ini. Darimanakah kalian mendapatkannya?” tanya Ki Raga Bumi.
“Pedang itu buatan Nala, dan saya yang membuat baju pusaka itu, guru. Semoga guru besar sudi menerimanya dan menggunakannya,” kata Batari Mahadewi. Wajah pendekar Pedang Dewa itu berkerut-kerut seolah sulit percaya, karena semestinya pusaka semacam itu tak dibuat oleh manusia. Tapi ketika ia teringat cerita tentang kesaktian Batari Mahadewi yang mengusir tiga puluh ribu pendekar hitam Tirayamani layaknya mengusir lalat, barulah ia bisa mempercayainya.
“Ini tak ternilai bagi saya. Terimakasih banyak untuk hadiah ini, aku sungguh tak bisa memberikan hadiah yang setimpal dengan pusaka ini untuk kalian berdua,” kata Ki Raga Bumi.
“Tetapi, jika ada kalian berdua, tentu seberapa besarpun kekuatan mereka, kalian bisa menanganinya dengan mudah, bukan?!” Ki Raga Bumi menyanjung Batari Mahadewi dan Nala.
“Tidak cukup, guru. Saat ini situasinya lebih mengerikan lagi. Jika dulu yang datang kemari hanyalah para pendekar hitam, maka di lain hari, mereka akan membawa pasukan iblis. Oleh sebab itulah, kami membagikan puluhan senjata pusaka ini kepada semua tetua pendekar di Mahabhumi. Kelak, jika suatu hari mereka datang pada saat kami sedang berada di negri lain, maka Mahabhumi sudah memiliki persiapan untuk melakukan perlawanan,” kata Batari Mahadewi.
Ki Raga Bumi merasa banyak ketinggalan berita. Sejak berita hancurnya pasukan Tirayamani di wilayah barat, para tetua pendekar dari Mahatmabhumi lebih memilih untuk pulang daripada menyimak perkembangan situasi berikutnya. Hal itu membuat Batari Mahadewi dan Nala harus menceritakan banyak hal yang cukup untuk membangkitkan gairah bertarung sang guru tua itu. Tampaknya ia sudah lama sekali tak pernah lagi benar-benar merasakan pertarungan yang sesungguhnya.
Pertemuan dengan Ki Raga Bumi tak memberikan kesan yang terlalu mendalam. Sejak awal mereka berdua datang di wilayah Mahatmabhumi, mereka memang merasakan sesuatu yang lain terlepas budaya di wilayah itu memang sangat berbeda dengan kerajaan-kerajaan lainnya di Mahabhumi.
Batari Mahadewi dan Nala pamit meninggalkan perguruan itu dengan sedikit ganjalan di hati meski dari pertemuan itu, mereka berdua bisa menyimpulkan sedikit kesan, yakni orang-orang Mahatmabhumi cenderung tidak terlalu peduli dengan kekacauan yang akan segera terjadi.
Sepasang pendekar muda itu melanjutkan perjalanan ke wilayah Mahatmabhumi bagian utara, menuju ke kediaman Nyi Lohita, sang pendekar Selendang Merah.
__ADS_1
“Terus terang aku sedikit menyesal memberikan pusaka itu kepada Ki Raga Bumi. Meski ia sempat terlihat sedikit bersemangat, namun aku masih menangkap kesan bahwa pendekar itu memang tak terlalu berniat untuk ikut campur. Menurutmu, apakah Nyi Lohita juga akan bersikap seperti Ki Raga Bumi?” tanya Nala.
“Aku juga menangkap hal yang sama sepertimu, Nala. Orang-orang di sini mungkin merasa aman dan enggan untuk beranjak dari rasa nyaman. Secara wilayah, Mahatmabhumi merupakan daerah yang kaya, memiliki pelabuhan besar dan ramai sebagai jalur utama para saudagar yang datang dari berbagai pulau lain. Masalahnya, kita tak benar-benar tahu dari arah manakah kelak pasukan tirayamani itu datang. Sebab, menurut perkiraanku, sang ratu kegelapan itu telah bergerak dan membebaskan para pasukan iblis dari berbagai penjuru bumi,” kata Batari Mahadewi.
“Jadi bagaimana? Apakah kita akan tetap bertemu dengan Nyi Lohita dan Ki Rangga Suluk?” tanya Nala sekali lagi.
“Sudah terlanjur basah, Nala. Sekalian saja kita selesaikan,” kata Batari Mahadewi.
“Baiklah kalau begitu,” sahut Nala.
Keduanya melaju, melewati beberapa desa, hutan, dan kota hingga akhirnya mereka sampai di sebuah kota pesisir utara Mahatmabhumi. Kota itu bernama kota Laut Utara, di mana sebagian besar masyarakat yang tinggal di sana adalah para pedagang dan nelayan.
“Sepertinya sulit untuk menemukan perguruan Selendang Merah. Bagaimana jika kita bertanya kepada bapak tua yang sedang duduk sendirian di sana itu?” tanya Nala.
“Baiklah, aku akan bertanya,” kata Batari Mahadewi. Gadis itu kemudian berjalan ke arah sosok bapak-bapak tua yang sedang duduk di pantai, memandang ke sebuah pulau kecil yang ada di tengah laut.
“Permisi, paman, kami sedang mencari perguruan Selendang Merah. Apakah paman tahu dimana tempat itu berada?” tanya batari Mahadewi.
“Oh, Nona sudah hampir sampai. Lihat pulau itu. Pulau itu bernama pulau perawan. Di sanalah letak perguruan Selendang Merah. Apakah nona akan pergi ke sana dengan teman nona itu?” tanya bapak tua itu.
“Paman benar, saya akan ke sana dengan rekan saya itu,” kata Batari Mahadewi sambil menunjuk ke arah Nala. Kekasih Batari Mahadewi itu datang mendekat untuk ikut mendengarkan petunjuk dari sang bapak tua.
“Sayang sekali, pulau itu tak menerima kedatangan lelaki. Semua penghuni di pulau itu adalah perempuan,” kata bapak itu.
“Meski hanya sebentar tetap tidak bolehkah, paman?” tanya Nala tak percaya.
“Sebelum kau sampai di sana, Nyi Lohita akan menyerangmu, apapun alasannya. Ia tak pernah mengizinkan para lelaki menginjakkan kaki di pulau miliknya itu!”
__ADS_1